
Nev kembali masuk kedalam kamar dan melihat Raya yang tersenyum sendu padanya.
"Kenapa? Kamu butuh apa?" tanyanya pada sang istri.
Raya menggeleng dalam posisinya yang terbaring.
Ia mendekat dan duduk di pinggiran ranjang, mengelus kepala Raya dengan pelan. "Tadi udah makan malam, belum?" tanyanya.
Raya mengangguk. "Udah tapi sedikit," jawabnya.
"Mau makan lagi enggak?"
"Enggak."
"Minum obat penurun panasnya, ya..."
Raya mengangguk dan ia membantu Raya untuk duduk bersandar di headboard ranjang. Kemudian ia memberi obat dan segelas air pada sang istri.
Raya tampak menelan obat dan meneguk airnya sedikit.
"Sekarang lanjut tidur lagi, ya..." katanya mengusap-usap kepala sang istri.
Tiba-tiba Raya mendekat dan memeluk tubuhnya, ia bisa merasakan suhu panas dari tubuh Raya yang menempel di sebagian kulitnya.
"Aku mau tidur dipeluk kamu," kata Raya dengan manja.
Hanya lelaki bo doh yang menolak kesempatan ini kan? Hehehe...
"Dengan senang hati, Sayang..." katanya kemudian membantu Raya berbaring.
Ia menyusul ke ranjang, hingga mereka pun berbaring dalam posisi berdampingan.
"Skin to skin contact itu baik untuk menurunkan panas," gumam Raya tiba-tiba.
Ia terkekeh pelan, "Kalau gitu tunggu ya," katanya.
"Mau ngapain?" tanya Raya, entah benar-benar tak tahu atau berlagak polos.
"Lepas kaos, kan biar skin to skin. Aku suka nih kalo skinship begini..." kekehnya pelan.
Raya terlihat memutar bola matanya. "Iya asal abis itu jangan omes aja," celetuknya pelan.
Ia tersenyum sembari melempar kaos sembarangan.
"Ingat ya, istrinya sedang sakit loh," kata Raya memperingati.
"Iya aku tahu kok, aku gak minta macam-macem, paling satu macem aja," ujarnya mengerling nakal.
Wajah Raya terlihat merona, dari putih menjadi kemerahan, hal yang membuatnya selalu senang bahkan dari sebelum Raya menjadi istrinya.
"Kamu ini..." kata Raya sembari memukul bahunya, pukulan yang tak menyisakan rasa sakit sama sekali padanya.
Ia terkekeh, kemudian beringsut mendekat pada sang istri. Kali ini tangannya hampir menyentuh kancing piyama yang masih Raya gunakan.
"Eh, eh... mau ngapain ini?" tanya Raya terdengar sewot.
__ADS_1
"Kan skin to skin contact, artinya harus sentuhan kulit ke kulit, mana bisa kalau kamu masih pakai piyama begini, Sayang."
Raya menggeleng kuat.
Aneh, kan tadi Raya yang menyarankan metode ini.
"Kan tadi kamu yang menganjurkan, aku pikir itu opsi yang baik selain minum obat. Kan udah minum obat, sekarang tinggal metodenya saja, biar suhu panasnya segera turun," katanya berlagak menerangkan. (Padahal sekalian mencuri kesempatan. ckckck! Nev!! 😏)
Raya terkekeh. "Iya, suhu tubuhnya jadi turun. Tapi nanti kepala kamu yang jadi panas." Raya mencibirnya dengan bibir bawah yanh sedikit dimanyunkan.
"Jadi gimana dong?"
"Peluk aja, gak usah skin to skin, nanti jadi merembet kemana-mana." kata Raya.
"Istriku meski lagi sakit tetap banyak protes ya. Padahal dulu dia gadis yang pendiam," kekehnya sembari memeluk tubuh Raya.
Raya ikut terkekeh pelan, lalu diam dalam pelukannya.
Ia memejamkan mata, tak dipungkiri ia begitu lelah seharian dan akan tidur juga sekarang.
"Nev..." suara Raya memanggilnya.
"Hmm.." ia menyahut dengan gumaman, tak membuka mata, hanya menghidu aroma tubuh istrinya yang memabukkan, membuatnya semakin mengeratkan pelukan.
"Gimana tadi di Polres?"
Pertanyaan Raya itu membuatnya menghela nafas berat. "Kamu jangan mikirin hal itu, biar aku saja yang mengurus semuanya," ujarnya. Ia belum menyampaikan undangan dari kepolisian untuk Raya. Padahal ini akan memperlama proses penyelidikan. Entahlah, ia bingung sendiri. Apalagi Raya sekarang malah demam.
"Aku ingin bertemu Feli dan Roro."
"Aku ingin melihat bagaimana reaksi mereka saat melihatku. Dan juga Roro, aku ingin tahu alasan dia melakukan semua ini padaku," kata Raya lemah.
Ia menggeleng. "Gak!" tegasnya.
"Sayang..."
Jika Raya sudah memelas seperti ini, ia menjadi lemah.
"Buat apa bertemu para penjahat itu? Sudah jelas mereka itu iri sama kamu. Coba kamu pikir, hanya karena 1 kata itu, mereka tega berbuat begini sama kamu," paparnya.
Raya menghela nafas panjang. "Baiklah, aku akan menurut. Aku gak akan menemui mereka lagi," kata Raya terdengar pasrah.
Ia mengecup dahi istrinya dengan lama. "Jangan memikirkan mereka. Pikirkan saja diri kamu sendiri. Atau kamu sakit begini karena memikirkan mereka? Oh Sayang... jangan buang-buang energi untuk hal semacam itu," katanya kemudian.
Raya mengangguk. "Iya, aku tidak akan memikirkan hal itu lagi..." ujarnya.
"Good girl.. yang perlu kamu pikirkan dihati dan kepala kamu hanya aku, suami kamu. Tidak boleh ada yang lain. Kalaupun ada, isi itu dengan memikirkan orang-orang baik disekitar kamu saja dan hal baik yang ingin kamu raih kedepannya."
"Iya, Sayang..."
...♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️...
Pagi-pagi sekali, Nev terbangun dan mendapati sisi ranjangnya telah kosong. Ia melihat Raya yang baru keluar dari kamar mandi.
"Kamu mandi?" tanyanya.
__ADS_1
Raya mengangguk.
"Sepagi ini? Kamu masih demam," protesnya.
"Kan mandi air hangat, lagipula kan mau subuhan, gak afdol kalau gak mandi."
Deg ...
Kenapa ucapan Raya itu seperti menamparnya?
Selama enam bulan ini, dalam rentang waktu pernikahan mereka, ia selalu melihat Raya beribadah sendiri, meski terkadang Raya selalu membangunkannya dan mengingatkannya, tapi ia jarang menggubris.
Terkadang beribadah juga, walau lebih sering meninggalkan aktifitas itu. Dalam arti lain, tidak full 5 waktu. Bukankah itu kewajibannya dan hukumnya juga wajib?
Ia pun mengingat kilas balik kehidupan barunya bersama Raya, bahwa selama pernikahannya, belum pernah sekalipun ia mengimami Raya dalam beribadah.
Ya ampun ...
Tiba-tiba, lintasan ingatannya terngiang-ngiang dikepala. Tentang beberapa ujaran para pekerjanya, ART, bahkan beberapa relasi bisnisnya yang mendengar tentang pernikahannya dengan Raya.
"Pak Nev adalah suami paket lengkap. Tampan, mapan dan memiliki segalanya."
"Pak Nevan seorang family man. Istrinya sangat beruntung mendapatkan suami seperti dia."
"Tuan Nev dan Nyonya Raya sangat serasi, Tuan Nev suami yang siap siaga dan sangat menyayangi istrinya. Sempurna."
Hah! Bagaimana bisa semua perkataan itu memujinya? Membuatnya besar kepala. Padahal ia tak lah sesempurna itu, ia memiliki kekurangan dan kekurangan itu amat fatal sebagai pemimpin dalam rumah tangganya sendiri.
Ia bahkan jauh dari kata sempurna itu. Ia tidak lebih baik, karena tanpa ia sadari, ternyata ia sudah menjadi suami yang buruk untuk Raya.
Apa semua yang terjadi padanya karena kurangnya ia mengingat Tuhannya?
Kapan terakhir kali ia bersujud? Kemarin ia bahkan sibuk mengurusi hal di Polres hampir seharian dan meninggalkan kewajibannya sebagai seorang hambaNya.
Ia tersadar, bahwa segala ujiannya yang beruntun ini semata-mata karena Tuhan tengah menegurnya. Ia tidak cukup bersyukur dengan semua yang telah ia miliki.
Sehingga Tuhan mengambil lagi titipan yang sudah mulai bernyawa di rahim istrinya.
"Nev... kamu gak sholat?" Pertanyaan Raya itu menyadarkannya dari lamunan.
Ia tak menjawab, hanya menatap Raya yang berjalan ke pojok kamar, mengambil mukena untuk dikenakan, lalu Raya membentang sajadah untuk melengkapi ibadah wanita itu.
Saat Raya hendak melanjutkan kegiatannya, ia segera memanggil sang istri.
"Sayang, kamu tunggu aku, ya. kita berjamaah saja..." katanya, kemudian ia beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi.
...Bersambung ......
Jadi... Nev itu gak sesempurna yang kita kira ya kan? Pasti ada kekurangannya😂 mudah-mudahan dengan cobaan hidup membuat Nev lebih baik lagi ya...
Ini bukan cerita religi kok, tetap lurus sama romance. Cuma untuk melengkapi momen aja dan biar kita tahu bahwa ujian hidup itu datang silih berganti, tapi tetap wajib untuk mensyukurinya🙏
...Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Hadiah♥️...
...nanti satu bab lagi ya sesuai janji aku🙏🙏🙏...
__ADS_1