
Sore harinya, Nev meminta Raya membawanya berkeliling ditaman belakang sekedar untuk mengisi kekosongan waktu.
Suasana sore ditaman cukup teduh, hanya tampak seberkas sisa panas matahari yang belum sepenuhnya menghilang, disertai dengan angin sepoi-sepoi yang menyejukkan-- seolah mengayunkan dedaunan dan pohon-pohon sekitar.
Begitu pula dengan riak air kolam yang dipenuhi ratusan ikan koi berwarna-warni, serta adanya semacam air mancur buatan yang memberi suara gemericik-- hingga menyalurkan pada indera pendengaran, dan berakhir pada sebuah ketenangan yang sederhana.
Nev pun memberi makan ikan-ikan hias yang ada dikolam setelah meminta Raya menghentikan laju kursi rodanya dibibir kolam itu.
"Sebelum aku lumpuh, biasanya aku menghabiskan minggu sore dengan jogging atau berenang." celetuk Nev pada Raya yang berdiri dibelakang kursi rodanya-- sembari melemparkan pangan ikan ke kolam yang ada dihadapannya.
Raya mendengarkan cerita Nev, kemudian mengangguki setiap ucapan pria itu, walau Nev tidak bisa melihat anggukannya-- karena pria itu tengah memandang ikan-ikan dibawah sana.
"Sekarang aku harus menjalani hidup yang monoton, tidak bebas dan hanya mengandalkan kursi roda untuk menikmati kesenangan yang terbatas." sambung Nev sembari menyunggingkan senyum kecut di ujung bibirnya.
Raya yang sejak tadi diam, mulai tertarik untuk menjawab cerita yang Nev kemukakan.
"Saya pikir Tuan adalah orang yang optimis. Tapi dari kata-kata Tuan tadi, ternyata Tuan mempunyai jiwa yang rentan," kata Raya pelan.
"Kenapa kamu bisa menilai jika saya orang yang optimis?" tanya Nev.
"Mungkin, karena saya menilai Tuan dari apa yang terlihat," jawab Raya sekenanya.
"Kita tidak pernah bisa menilai orang lain dari sesuatu yang terlihat, Raya. Dan khususnya aku, aku punya sisi terkelam sendiri dalam hidupku. Jadi, tidak salah jika aku mengalami seperti yang kamu bilang tadi, jiwa yang rentan." Nev mengadah ke belakang demi melihat wajah Raya.
Raya tersenyum pada Nev, kemudian sengaja melarikan pandangan untuk menatapi ikan-ikan yang berebut makanan didalam air kolam yang jernih.
Keheningan pun tercipta diantara mereka. Hanya suara riak air yang kembali terdengar mendominasi diantara mereka berdua.
"Apa saya bisa keluar dari zona rentan itu, Raya?" celetuk Nev.
"Pasti bisa," jawab Raya cepat dan yakin.
"Kenapa kamu bisa seyakin itu?" tanya Nev lagi.
"Mungkin karena saya juga sedang mencoba keluar dari zona itu," jawab Raya.
__ADS_1
"Kamu sedang mencoba keluar. Itu artinya kamu belum keluar dari zona itu, lalu kenapa kamu begitu yakin?"
"Karena yang saya yakini adalah diri saya sendiri. Saya yakin kalau saya bisa melewatinya." ujar Raya percaya diri.
Nev tersenyum, namun Raya tentu saja tak bisa melihat senyum itu.
"Kalau saya saja bisa yakin, kenapa Tuan harus pesimis? Kembalilah menjadi Tuan optimis seperti yang saya lihat ada pada diri Anda." kata Raya.
"Aku merasa hidupku sudah tidak sama lagi." aku Nev.
Raya tersenyum, entah kenapa dia ingin sekali memberikan Nev semangat untuk kembali menjadi seseorang yang lebih baik dibalik keterbatasannya.
Secara refleks Raya menepuk pelan pundak Nev yang terduduk didepannya.
"Tuan pasti bisa, tidak ada yang tidak mungkin selagi Tuan yakin dengan diri sendiri." kata Raya masih dengan tepukan lembut dipundak Nev.
Ucapan serta bahasa tubuh yang Raya berikan, semacam mengalirkan energi positif-- yang membuat Nev menjadi punya semangat lagi dalam hidupnya yang sudah serba terbatas.
"Terima kasih, Raya." Nev justru menggenggam tangan Raya yang masih bertengger dipundaknya, namun Raya buru-buru melepasnya saat itu juga.
"Sure, kamu boleh menanyakan apapun padaku." kata Nev lalu memutar kursi rodanya agar menghadap pada Raya.
"Kenapa Tuan memperlakukan saya seperti ini?" tanya Raya dengan intonasi terendah.
Nev mengedikkan bahu. "Entahlah, ku pikir aku menyukaimu." jawab Nev terus terang namun terkesan sangat santai.
Sedangkan Raya yang mendengar itu, cukup takjub karena pengakuan Nev-- yang dia fikir tidak mungkin diakui pria itu begitu saja dengan mudahnya.
Raya menggeleng dengan mata membulat sebagai jawaban atas pernyataan Nev tadi.
Nev mengulumm senyuman. "Aku tahu, kamu tidak akan tertarik pada lelaki lumpuh seperti aku." jawab Nev sembari tersenyum kecut kemudian.
Raya menggeleng lagi, jelas bukan hal itu yang menghalanginya tapi...
"Tuan, sebaiknya Anda mengingat status Anda. Rasanya itu tidak pantas." kata Raya tertunduk.
__ADS_1
Nev mengerti apa yang Raya maksudkan, dia juga mengingat statusnya. Hanya saja, dia merasa tak salah jika dia berkata jujur pada Raya tentang perasaannya.
Nev tidak berharap Raya membalas hal yang sama padanya. Dia hanya ingin mengakui saja dan tak mau menutupinya lagi dari wanita yang ada dihadapannya ini.
"Saya tidak tahu dan tidak ingin tahu tentang permasalahan rumah tangga Anda, Tuan. Tapi apabila kehadiran saya dirumah ini justru membuat Anda dan Feli semakin menjauh, ada baiknya saya mengundurkan diri." kata Raya yang kini menatap Nev lekat. Entah keberanian darimana dia bisa mengucapkan hal itu sembari membalas tatapan pria itu.
Nev terperanjat dengan ucapan Raya, dia tidak menyangka pengakuannya justru mengakibatkan hal seperti ini.
Dalam waktu singkat, Nev pun mengingat ucapan Jimmy pagi tadi. Dan didetik yang sama, dia menyesali tentang pengakuannya beberapa menit lalu-- pada Raya.
"Aku tidak bisa merubah keputusanmu, Raya. Tapi mungkin aku bisa merubah perasaanku dan penilaianku padamu." ucap Nev memaksakan tersenyum pada Raya.
Tapi, kenapa mendengar Nev ingin merubah perasaannya membuat Raya tidak rela?
Jauh didalam lubuk hatinya, Raya ingin meralat kata-katanya tadi-- agar Nev kembali mempertimbangkan, tentang merubah perasaannya.
Sebenarnya Raya ingin Nev tetap pada perasaan yang sama terhadapnya. Tapi, itu tidaklah mungkin, karena sekali lagi Raya mengingat status yang masih terjalin diantara Nev dan Feli.
Aku tidak tahu apa bisa merubah perasaan ini atau tidak, Raya. Aku mengatakannya agar kamu mengurungkan niat untuk mengundurkan diri, aku ingin kamu tetap disini. Aku menyesal mengakuinya sekarang. Seharusnya aku mendengar nasehat Jimmy baik-baik.- Bisik hati Nev.
"...Tetaplah menjadi pengasuhku dirumah ini, soal perasaan yang ku katakan tadi, lupakan saja. Anggap itu sebagai angin lalu." sambung Nev mencoba bersikap biasa saja pada Raya, dia hanya tak sanggup jika Raya benar-benar mengundurkan diri karena kejujurannya tadi.
Raya terdiam, tak menyahuti ucapan Nev.
Disaat mereka sama-sama terdiam dengan gejolak perasaan masing-masing, tiba-tiba mereka merasakan kehadiran orang lain diantara mereka.
Membuat keduanya yang saling berhadapan, harus mengalihkan atensi-- kepada ambang pintu rumah yang menampilkan dua sosok wanita berbeda era.
Ternyata disana sudah ada Feli beserta Nenek Nev, yang tersenyum pada keduanya.
"Apa kabar cucuku?" Sapa Nenek pada Nev yang masih bergeming dan mungkin belum menyadari keadaan dihadapannya.
...Bersambung .......
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, komentar, vote, hadiah...semua sangat berarti untuk penulis receh seperti saya 🙏🙏🙏🙏 Jangan lupa tekan Love untuk dijadikan favorit juga ya. Supaya kalau novel ini update, akan masuk ke pemberitahuan kamu 🤗💕
__ADS_1