
Jadi, kalau gak ada halangan, mulai hari ini sampai hari Minggu... othor bakal up 3 bab/hari, ya.. tolong tinggalkan like/komen disetiap bab nya🙏 Jangan ada yang kelewatan🙏🙏💕💕💕💕
Happy Reading♥️
...________...
Nev memasuki kamarnya, seharian ini rasanya sangat lelah padahal ia tidak berkutat dengan pekerjaan sama sekali, tetapi pikirannya pun ikut letih memikirkan semua kejadian beruntun yang menimpa keluarganya belakangan hari.
Mulai dari Raya yang dicegat oleh seorang pria, kemudian harus bedrest, lalu berlanjut dengan insiden yang mengakibatkan Raya harus keguguran dan menjalani kuretase.
Belum lagi mertuanya yang masuk Rumah Sakit, sedikit banyak itu juga menjadi pikiran baginya karena ia sudah menganggap mertuanya itu sebagai Ibu kandungnya sendiri.
Soal Reka? Ia belum memikirkan tentang pria yang sengaja menyelip masuk dan mendoktrin istrinya. Ia mengesampingkan hal itu dulu untuk sementara waktu meski hatinya terbakar kecemburuan.
Semua terjadi begitu saja, begitu cepat, seolah tak memberinya kesempatan dan ruang untuk bernafas lega.
Ia membuka kemejanya, sembari melirik sekilas pada sang istri yang sudah terlelap dalam posisi meringkuk dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Ia menatap jam di dinding kamar, ini masih terlalu dini untuk tidur, bahkan jam makan malam pun baru berakhir.
"Sayang," sapanya pelan pada sang istri. Ia ingin memastikan apa Raya benar sudah tidur? Karena ketika ia memasuki rumah, Nenek mengatakan jika Raya ingin tidur, sehingga mereka semua meninggalkan Raya sendiri di kamar agar bisa beristirahat.
Hening, tak ada jawaban, membuat dahinya sedikit mengernyit. Tidak biasanya Raya tidur di jam segini.
Ia menanggalkan kemeja setelah semua kancingnya terlepas, kemudian dengan perlahan membuka selimut yang menutupi sekujur tubuh istrinya itu.
Raya memang terpejam dengan posisi meringkuk, tapi ia merasa ada yang janggal karena Raya terlihat menggigil dalam tidurnya.
"Astaga..." gumamnya pelan, kemudian memegang dahi sang istri, benar saja jika suhu tubuh Raya sangat panas.
Ia meraba laci nakas, dan mengambil termometer suhu tubuh disana, meletakkannya di sisi tubuh Raya sampai alat itu berbunyi pelan.
"38°C" gumamnya dengan kaget. Ia pun langsung mengambil ponsel dari dalam saku celana dan menelepon ke telepon rumahnya sendiri.
"Hallo...." suara Bi Asih terdengar menyahut diseberang.
"Bi, antarkan air dan yang lainnya untuk mengompres Raya. Dia panas tinggi," titahnya dengan kalut.
"Ba-baik, Tuan." jawab Bi Asih.
Tiba-tiba Raya bergumam dalam tidur, entah sadar atau bermimpi, ia tak tahu.
__ADS_1
"Nev ..." Raya memanggil-manggil namanya dengan lirih.
"Iya sayang, iya... aku disini," ia tak menyangka suaranya akan bergetar menyahut gumaman tidur sang istri.
"Nev...." kata Raya sekali lagi.
Ia memejamkan matanya sejenak, menggenggam tangan Raya kemudian. "Iya sayang, semuanya akan baik-baik aja. Jangan khawatirkan apapun," sahutnya pada Raya, berharap ucapannya itu dapat menenangkan Raya yang berada diantara ambang kesadaran.
Ia pun mengelap dahi Raya yang mulai dipenuhi titik-titik keringat.
Tak lama, suara ketukan pintu terdengar dan ia membukakan pintu untuk Bi Asih.
Bi Asih ingin membantu mengompres Raya namun ia mengambil alih tugas itu.
"Biar aku saja," katanya pelan dan mengibaskan tangan sebagai isyarat agar Bi Asih segera keluar dari kamarnya.
Ia mengompres Raya dengan kaku. Sepanjang perjalanan hidupnya sampai saat ini, baru sekaranglah ia mengompres seseorang, disertai pula dengan perasaan yang khawatir.
Ia meletakkan kain pengompres di dahi sang istri, dengan doa dalam hati agar itu bisa membantu meredakan suhu panas ditubuh Raya.
Hatinya mencelos lagi, karena ternyata semuanya belum berakhir disini. Ia pikir, jika semua urusan di Polres mengenai tuntutan untuk Feli kelar, maka berakhirlah sudah ujian yang datang bertubi-tubi ini.
Nyatanya tidak, belum. Ujiannya dan Raya baru saja dimulai dan sekarang ia harus membantu memulihkan istrinya. Karena, bukan hanya keadaan fisik istrinya yang sakit, ia menyadari jika psikis Raya pun masih terguncang.
Ia meraih ponsel kembali dan menelepon Dokter keluarga untuk segera datang menyambangi kediamannya.
"Dokternya akan datang sebentar lagi, sabar ya..." bisiknya pelan didekat telinga Raya.
Ia pun bangkit, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sejenak. Setelah itu bersiap dan menanti kedatangan Dokter.
Tak berselang lama, Dokter datang ingin memeriksa kondisi Raya.
Saat itu pula, Raya terbangun karena menyadari suaminya tengah berbicara dengan seseorang di kamar.
"Nev?" Raya memanggilnya dengan tatapan heran.
"Dokter akan periksa kamu," katanya menerangkan pada Raya yang tampak bingung.
Raya pun seolah menyadari, ternyata di dahi sudah ada kain pengompres yang sejuk.
Tanpa banyak bertanya, Raya menurut saat diperiksa seorang Dokter wanita itu. Mulai dari cek tensi sampai cek detak jantung.
__ADS_1
"Sepertinya Ibu Raya hanya demam biasa, Pak. Hanya saja tensinya sedikit tinggi. Saya akan berikan resep obat, nanti tolong tebus di apotek. Untuk sementara ini, saya berikan obat penurun panasnya dulu. Berikan secara teratur, ya, Pak." terang Dokter dengan senyum ramah.
Ia mengangguk paham dan menerima secarik resep obat yang diberi sang Dokter.
"Terima kasih, Dokter Kania..." ujarnya sopan.
Dokter setengah baya itu mengangguk, kemudian segera undur diri karena pekerjaannya telah selesai.
Ia mengantar Dokter sampai ambang pintu kamarnya, namun Dokter menatapnya kembali dengan serius.
"Ada apa, Dokter?" tanya Nev memahami jika sang dokter ingin mengatakan sesuatu.
"Nev, aku akan bicara sebagai Tantemu, bukan sebagai Dokter..." kata Dokter Kania. Dokter Kania memang seperti keluarga baginya, karena wanita itu adalah sahabat almarhum Ibunya yang telah meninggal.
"Kenapa, Tant?" tanyanya kemudian.
"Berita tentang istrimu beberapa hari ini sliweran di tv..."
Ia tidak begitu terkejut mendengar itu, karena tindak kriminal yang Feli lakukan pasti diberitakan di banyak awak media. Meskipun, ia tak pernah melihat berita tv itu secara langsung karena akhir-akhir ini begitu sibuk.
"...Jadi Tante sudah tahu sedikit banyak tentang hal yang menimpa Raya. Tante khawatir jika Raya mengalami traumatik. Kegugurannya terjadi bukan seperti kasus kebanyakan Nev, itu diawali dari kasus penculikan. Apa yang Raya lihat di tempat kejadian dan apa yang telah dilakukan oleh Feli kepadanya saat itu, hanya Raya yang tahu dan merasakannya. Itu pasti menyisakan bekas dihatinya," terang Tante Kania.
"Lalu? Apa yang harus aku lakukan, Tant?" tanyanya dengan suara bergetar lagi.
"Coba ajak dia konsultasi ke psikolog... maaf jika kamu tersinggung, tapi ini untuk kebaikannya juga."
Ia mengangguk.
"Atau, jika itu terlalu ekstrem dan kamu takut Raya tersinggung, kamulah yang harus pasang badan untuk mendengarkan semua ceritanya, Nev. Ajak dia liburan atau apa, agar Raya rileks."
"Aku sudah memikirkan tentang itu, Tant."
"Baguslah, Tante pulang ya..."
"Iya, Tant... makasih banyak ya, Tant."
Tante Kania mengangguk kemudian turun kelantai bawah diantarkan oleh Yana.
Ia menghela nafas pelan setelah kepergian Dokter Kania. Sekarang istrinya tengah down dan sakit. Maka ia lah yang harus lebih kuat daripada sang istri. Jika ia menyerah, apa jadinya semua ini?
...Bersambung ......
__ADS_1
...Like dan hadiah nya jangan lupa....
...Vote nya juga .. ✌️😂...