PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
77 - Terlalu egois


__ADS_3

Sementara itu, seorang pria baru saja tiba dikediamannya. Dia baru saja melakukan perjalanan dari Negara seberang. Dia adalah Reka, akibat ulahnya beberapa bulan lalu, Ayahnya harus kembali dirawat intensif, jadi dia harus meluangkan waktu secara berkala untuk terbang dari Indonesia menuju Penang.


Reka belum sempat menemui Raya lagi sejak pertemuan terakhir mereka, entah apa kabar wanita itu sekarang. Tapi tak jarang Reka masih memikirkan Raya, Reka merasa bersalah pada Raya.


Apa Raya bahagia dengan pernikahan dadakannya dengan orang lain?


Sejujurnya, Reka juga tak mengetahui siapa pria yang menikahi Raya, lebih tepatnya belum sempat mencari tahu, karena problem pribadinya juga sangat banyak.


Bagaimana tidak, problem Reka bukan hanya menyangkut kesehatan Ayahnya yang mendadak collaps, tapi juga tentang kehamilan Citra yang tidak dia duga sama sekali.


Itu sebabnya jika sampai sekarang Reka belum tahu siapa pria yang menggantikannya untuk menikah dengan Raya. Reka hanya mendengar jika Raya tetap menikah dengan orang lain dan sempat melihat siluet tubuh pria itu saat ingin menemui Raya beberapa bulan lalu.


Sejak insiden gagalnya pernikahannya dengan Raya, sang Mama juga mendiamkannya dan lepas tangan dengan semua permasalahannya. Reka tahu, jika sang Mama sangat amat kecewa dan menyerah padanya.


Untunglah skandalnya dengan Citra masih bisa ditutupi dan belum tercium awak media sampai saat ini. Jika tidak, mungkin karir dan nama baiknya juga akan tercemar bahkan hancur berantakan.


Itu semua karena Citra mau mendengarkan permintaannya, atau lebih tepatnya wanita masa lalunya itu berkorban untuknya? Entahlah ...


Yang jelas, saat dia memberi pengertian pada Citra, wanita itu cukup paham untuk tak membuka aib mereka didepan publik. Citra mengalah dan membatalkan tuntutan cerainya pada suami sah-nya, dengan dalih bahwa dia hamil dan kehamilan itu disebabkan oleh suaminya.


Sebenarnya Reka pun tak yakin jika yang dikandung Citra adalah anak Reka, karena saat itu Citra dan suaminya belum pisah ranjang sama sekali, walau Citra sudah ingin mengajukan klaim tuntutan perceraian.


Tapi ada satu sisi dalam diri Reka, yang juga mengatakan jika anak yang dikandung Citra adalah darah dagingnya. Seperti perasaan tarik-ulur yang berlawanan arah.


Reka mengakui dalam dirinya, bahwa dia adalah pria egois, tapi dia pun tidak bisa mengakui begitu saja tentang perbuatannya.


Apa jadinya karir dan nama baiknya jika dia memutuskan bertanggung jawab pada Citra? Sementara Citra masih berstatus istri orang?

__ADS_1


Untunglah disini Citra yang berkorban untuk Reka, dengan memilih kembali pada suaminya demi nama baik Reka dan tentu demi nama baik Citra sendiri.


Permasalahan pelik yang melingkupi Reka pun, satu persatu mulai teratasi, meski dia tetap menjalin komunikasi dengan Citra terkait kehamilan wanita itu. Reka telah berjanji, apabila itu memang anaknya, dia akan bertanggung jawab pada anak itu, jadi dia tak lepas tangan begitu saja.


Tapi untuk saat ini, Reka dan Citra tetap memendam hal ini sampai keadaan membaik dan Citra akan melanjutkan proses perceraiannya saat telah melahirkan anak itu. Tentunya dengan pengacara pengganti pula, karena Reka tidak mau terjebak dalam situasi yang sama bersama sang mantan.


Jadi intinya, kembalinya Citra pada suaminya semata-mata untuk menutupi skandal mereka saja.


Reka memasuki kediamannya dengan langkah gontai, menyikapi hal dalam banyak situasi adalah keahliannya sebagai pengacara, juga menyiapkan alibi untuk problemnya, tak begitu sulit untuknya karena Reka sudah terbiasa akan hal itu.


Tapi, ada hal yang membuatnya amat lelah yakni perkara hati. Hatinya teramat lelah, bahkan lebih lelah dari mengatasi segala problem orang lain yang biasa memakai jasa pembelaan nya.


Dia sudah terlanjur menaruh hati pada Raya dan ternyata dia menyia-nyiakan kesempatan yang diberi semesta untuknya.


Kesalahan fatal yang menyebabkan Raya tidak bisa menjadi bagian hidupnya.


"Ini teh nya, Den..." seorang pelayan menyajikan teh untuknya diatas meja ruang tamu.


"Hmmm,"


"Kemarin Neng Citra datang kesini cari Aden..." kata wanita paruh baya itu.


"Terus, Bibi bilang apa?" tanya Reka.


"Bibi bilang kalau Aden lagi ke Penang, terus Neng Citra titip sesuatu, sebentar...." Pelayan itu beranjak dan pergi menuju buffet yang ada disisi ruangan.


Reka mengernyit, belum paham apa yang dimaksudkan pelayan itu tentang titipan Citra, sampai akhirnya sang pelayan kembali dengan membawa amplop putih berukuran sedang.

__ADS_1


"Ini titipannya, Den ..." kata pelayan itu sembari menunduk.


"Makasih," kata Reka menyambut amplop putih sembari memberi isyarat agar sang pelayan segera pergi dari hadapannya.


Reka memperhatikan amplop itu sejenak, kemudian membukanya. Dia terdiam begitu melihat isinya.


"Aku terlalu naif jika tidak mengakui anak ini sebagai darah dagingku," lirih Reka sembari menatap isi amplop yang dikirimkan Citra itu, itu adalah foto hasil USG kehamilan Citra yang memasuki bulan ke lima.


Reka mengacak rambutnya frustrasi. "Walau bagaimanapun, Aku dan Citra telah melakukan kesalahan. Anak siapapun dia, harusnya aku bertanggung jawab karena ikut merusak hidup Citra yang sudah hancur. Tapi, kenapa aku belum bisa untuk hal itu," gumamnya.


Jauh didalam lubuk hati Reka, dia ingin mempertanggung-jawabkan anak yang ada dalam kandungan Citra, meski pada kenyataannya nanti, anak itu bukanlah anak kandungnya, tapi dia telah melakukan kesalahan pada Citra dan harus menerima resikonya.


Reka sadar, dia semakin menjerumuskan Citra. Seharusnya sekarang Citra sudah bebas dari rumah tangganya yang toxic, tapi karena perbuatannya dan kehamilan Citra, menyebabkan wanita itu harus kembali pada sang suami demi menyelamatkan nama baik dan karir Reka.


"Apa aku terlalu egois? Seharusnya aku membantunya keluar dari pernikahannya, membantunya terbebas dari KDRT yang dilakukan suaminya, tapi kenapa karena perbuatanku justru membuat Citra seperti ini?" kata Reka menggeram dalam hati.


Ditatapinya lagi kertas hasil USG yang Citra kirimkan, entah kenapa perasaannya menghangat melihat itu. Tapi, dia belum bisa menempatkan Citra untuk kembali ke kehidupannya lagi. Karena sebenarnya ada rasa kecewa yang besar terselip dihatinya jika mengingat wanita itu.


Sedangkan disisi lain, hati Reka juga merasa bersalah pada Raya. Sedikit banyak, berkat dialah Raya harus menjalani pernikahan mendadak dengan pria lain. Reka merasa telah menyakiti Raya secara tidak langsung.


"Tanpa ku sadari, akibat perbuatanku banyak hati yang aku sakiti. Aku menyakiti hati Raya dan Citra, aku juga membuat kecewa orangtuaku dan orangtua Raya," Reka pun bangkit dari duduknya, sepertinya kepala dan tubuhnya harus diguyur air dingin malam ini. Setidaknya mungkin itu bisa menjernihkan pikirannya yang kembali semraut.


...Bersambung ......


Jadi, sebenarnya Reka tuh gak breng sek breng sek banget lah ya... dia mau tanggung jawab sama Citra tapi belum bisa ikhlas melepas Raya. Nah loh, padahal Raya udah bahagia sama Nev loh, Ka... kamu aja yang enggak tahu!๐Ÿ˜†


Nanti deh kalo kita ketemu aku bisikin sama kamu kalo Raya udah gak mikirin kamu lagi loh. Pikirin Citra aja ya sama bayinya๐Ÿ˜ kasian Reka ya, dia banyak masalah sekarang๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

__ADS_1


__ADS_2