PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Cewek yang kamu suka


__ADS_3

Abrine terbahak setelah sempat melongo beberapa detik akibat ucapan Wildan.


"Kenapa ketawa? Ada yang lucu?" tanya Wildan yang dalam mode serius sembari masih fokus menyetir mobilnya.


"Lo... bercanda, kan? Lo mau ngerjain gue, kan? Yang bener aja!" kata Abrine masih terkekeh.


Wildan menghela nafas sejenak. "Oke, gini... gue lagi ngehindari cewek aneh yang ngejar-ngejar gue! Jadi, gue mau lo jadi pacar gue! Kalau lo gak mau jadi pacar beneran ya jadi pacar bohongan juga gak apa-apa, yang penting gue terhindar dari cewek aneh itu!"


"Oh, jadi lo mau manfaatin gue, gitu?" kekeh Abrine.


"Ya gak sepenuhnya juga, kan lo juga masih ada hutang tanggung jawab sama gue, anggap aja ini sebagai bayaran tanggung jawab lo ke gue dan gue anggap semuanya impas kalau misal rencana ini bisa membuat cewek aneh itu gak gangguin gue lagi."


"Ya, boleh deh...." kata Abrine melambaikan tangannya dengan malas.


"Mau, lo? Serius?" Wildan tampak antusias.


"Iya .... jadi pacar bohongan aja, kan? Kalo itu sih gampang." Abrine menjentikkan kuku didepan Wildan menandakan semua yang diminta Wildan adalah hal mudah.


"Kalau jadi pacar beneran, emang mau juga?" tanya Wildan mencoba peruntungan.


"Yeee... gak boleh, lah! Gue belum cukup umur," kata Abrine.


"Masa'? Anak SMP bahkan anak SD zaman sekarang aja udah panggil Ayah bunda!" Wildan terkekeh dengan kalimatnya sendiri.


"EGP..."


"Apaan tuh?"


"Emang gue pikirin!" kata Abrine sambil terkekeh dan memegangi perutnya, ia tak kuasa menahan rasa lucu dengan pembahasan ini.


"Ya udah sih, berarti deal ya kesepakatan kita." Wildan menatap Abrine serius.


"Iya, pacar...." kata Abrine membuat Wildan terdiam beberapa saat. "Tapi bo'ong..." sambungnya sambil terkikik.


######


Rahelsa tiba di kediaman Nev menggunakan taxi. Ia cukup bosan karena telah menghabiskan waktu setengah harian di Apartemen seorang diri.


"Bi' .... Airish dan Abrine, mana?" tanya Rahelsa pada Bi' Asih yang masih sehat diusianya yang baya.


"Neng Airish tadi udah pulang, terus keluar lagi katanya mau kerja kelompok, kalau Neng Abrine belum tiba di rumah karena ekskul karate."


"Kalau... Aarav?" tanya Rahelsa ragu, tentu kejadian malam tadi saat menonton film horor membuatnya malu untuk bertemu Aarav.


"Den Aarav sedang di kamarnya, Neng... biasanya sih main PS," kata Bi' Asih.


Rahelsa mengangguk samar. Ternyata di rumah Nev juga sedang sepi sekarang, Om dan Tantenya pasti sibuk bekerja juga di jam ini, ia jadi bingung harus melakukan apa karena Abrine dan Airish juga tidak ada di rumah, hanya Aarav dan ia terlalu malu untuk bertemu cowok itu.


"Neng mau minum apa? Apa mau Bibi panggilkan Den Aarav untuk mrnemani Eneng disini?" tanya Bi Asih lagi.


"Jangan, Bi! Nggak usah panggil Aarav. Aku tunggu di ruang tv aja, terserah Bibi mau buatin minuman apa," kata Rahelsa tersenyum kecil.


"Oke, Neng...."


Bi Asih berlalu dan Rahelsa menuju ruang Tv dengan langkah kecilnya.

__ADS_1


Rahelsa menyalakan tv dan duduk menonton FTV yang sedang ditayangkan. Ia berusaha rileks walau sebenarnya ia belum terbiasa dirumah ini meski waktu kecil rumah ini adalah tempat bermainnya. Keluarga Nev sudah seperti keluarganya juga, namun tetap saja ia merasa canggung apalagi sekarang ia sudah beranjak dewasa dan rumah ini sudah lama tak ia kunjungi.


Saat Rahelsa fokus menonton televisi, tiba - tiba langkah kaki terdengar mendekat, ia cuek karena mengira itu adalah Bi Asih yang mengantarkan minumannya.


"Diminum, Neng..."


Rahelsa menoleh dan melihat Aarav yang membawakan nampan berisi minuman dan camilan. Cowok itu bahkan berujar layaknya menjadi seorang Asisten Rumah Tangga.


"Kok kamu?" tanya Rahelsa keheranan.


"Emang gak boleh? Ini kan rumah aku..."


"Ya iya sih, tapi..." Rahelsa tak melanjutkan kalimat karena Aarav segera mengambil posisi duduk disebelah gadis itu.


"Nonton apaan sih?" tanya Aarav sembari melirik ke arah Tv guna menyelidik acara yang tengah ditonton Rahelsa.


Rahelsa mencoba bersikap cuek, ia meminum jus jeruk yang disajikan Aarav dimeja, berikutnya ia memakan camilan yang juga ada disana.


"Kamu punya pacar gak sih, di Jerman?" tanya Aarav tiba-tiba, membuat Rahelsa tercekat.


"Apa? Kenapa?"


"Aku tanya... kamu punya pacar gak di Jerman?"


"Memangnya kenapa?"


"Ya kan di Luar Negeri pasti pergaulannya lebih bebas dari disini," kata Aarav cuek sembari ikut memakan camilan pula.


"Ya bukan berarti aku punya pacar, kan..." kata Rahelsa.


"Belum, lagipula aku gak mau pacaran sebelum tamat sekolah!"


"Bagus deh!" Aarav mengacak rambut Rahelsa dengan gemas.


Perlakuan Aarav membuat Rahelsa melting. duh...


"Memangnya kenapa? Kok bagus?" tanya Rahelsa menoleh pada Aarav.


"Ya, itu tandanya kita sepemikiran. Aku juga belum kepikiran untuk hal pacaran seperti itu."


"Kalo belum kepikiran pacaran, jangan - jangan mikirin nikah lagi," ejek Rahelsa.


"Huahahaha... ya enggaklah," jawab Aarav cepat.


"Tapi ada dong cewek yang kamu suka?" goda Rahelsa lagi. Ia memang ingin tahu tentang hal ini.


"Ada sih," jawab Aarav seadanya.


Entah kenapa, niat awal Rahelsa yang hanya ingin menggoda Aarav jadi sedikit kecewa karena mendengar ada cewek yang disukai oleh cowok itu. Kenapa?


"Pasti teman sekolah kamu, ya? Sekelas?" tanya Rahelsa dengan menguatkan hati. Entah kenapa ia ingin tahu lebih lanjut meski perasaannya menjadi tak karuan dengan menanyakan hal seperti ini terhadap Aarav.


"Aku lagi suka sama Bu Siska, sih! Tapi kamu jangan bilang ke Mama Papa aku, ya!" kata Aarav mewanti - wanti Rahelsa.


"Bu Siska?"

__ADS_1


"Iya, dia guru pengganti di sekolah aku."


"Guru?" Rahelsa terkejut dengan kejujuran Aarav, masa' Aarav menyukai gadis yang usianya lebih tua, jika itu guru disekolah Aarav sudah jelas guru itu usianya pasti lebih tua, kan? Tak perlu dipertanyakan lagi karena itu sudah amat jelas.


Aarav mengangguk mantap.


"Rav ... kamu ... gak salah?" tanya Rahelsa memastikan, entah kenapa sekarang rasa hatinya seperti terpotek sebab mengetahui selera gadis yang Aarav sukai.


"Ya gitu deh, lagipula Bu Siska gak tua - tua amat, Hel... dia baru 25 tahun dan masih single. Ada sih pacarnya, tapi pasti bakal putus sebentar lagi," ucap Aarav penuh keyakinan.


"Kenapa kamu seyakin itu guru kamu itu bakal putus sama pacarnya?"


"Entahlah," Aarav mengangkat bahu. "Aku merasa Bu Siska gak akan bertahan lama sama pacarnya yang suka main tangan."


"Oh..." Rahelsa paham maksud Aarav, ia tak tahu lagi hendak berkata apa karena mengetahui fakta ini rasanya ia kehilangan kata dan juga kehilangan kepercayaan diri didepan Aarav.


"Kalau kamu? Ada yang disuka juga, gak?" tanya Aarav.


"Ada, Rav... yang aku suka itu kamu!" ucap Rahelsa dalam hati tak berani mengutarakan rasa yang ternyata bertepuk sebelah tangan itu.


"Hel?" Aarav mengguncang pelan lengan Rahelsa karena cewek itu tampak melamun.


"Ya?" kata Rahelsa tersadar.


Aarav tersenyum kecil. "Aku tadi tanya, kalau kamu... ada dong cowok yang kamu suka?"


Rahelsa menggeleng pelan.


"Masa' gak ada?" kekeh Aarav.


"Ya, aku kan udah bilang gak tertarik dan gak mau pacaran sebelum tamat sekolah, jadi aku menghindari suka sama cowok!" dusta Rahelsa.


Aarav tertawa pelan, ia menjadi punya pemikiran untuk mengerjai Rahelsa dengan pertanyaannya kali ini. "Ini kalau ya, Hel... kalau nih... misalnya, kamu disuruh menikah saat masih SMA begini, gimana?" tanyanya mengulumm senyum.


"Ya gak mungkin lah, Rav!" jawab Rahelsa cepat.


"Ya kan aku bilang kalau!"


"Kalau kamu gimana?" Rahelsa justru bertanya balik pada Aarav.


"Kalau aku, jika memang gak ada pilihan lain ya, ayo! Tapi kalau bisa ... ya nanti dulu, minimal sampai aku punya penghasilan sendiri dan pemikiranku lebih matang lagi."


"Kalau dinikahkan sama Bu Siska itu, kamu mau?" tanya Rahelsa ingin tahu.


"Ya gak nolak lah, Hel...." kata Aarav semangat.


"Oh gitu, ya?" Rahelsa mendadak insecure karena nada yakin dari jawaban Aarav itu.


Aarav menganggukkan kepalanya.


"Tapi... apa Bu Siska itu mau sama kamu? Kamu kan masih bocah?" tanya Rahelsa mencoba mengejek Aarav padahal perasaannya sudah semraut sekarang.


"Pasti mau lah! Aku kan cowok baik, penyayang, rajin menabung, suka menanam pohon... emmm, apa lagi ya?" Aarav tampak berpikir sejenak. "Nah, aku juga setia dan gak suka mukul perempuan! Urusan aku masih bocah atau enggak itu hanya soal waktu, ntar juga aku bakal dewasa, kan!" sambung Aarav enteng dan membuat Rahelsa tertunduk saat itu juga.


*****

__ADS_1


__ADS_2