PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Belajar menjadi istri


__ADS_3

Dengan dentuman jantung yang sangat keras, Aarav berusaha bersikap wajar didepan Rahelsa. Sebenarnya ia grogi dan malu, apalagi ia tak pernah dekat dengan gadis manapun selama ini, tapi ia tak mau menunjukkan rasa gugup itu didepan Rahelsa, ia ingin semuanya aman dan terkendali meski rasa gugupnya belum bisa ia kendalikan.


"Rav, air hangatnya udah siap. Kamu bisa mandi sekarang," kata Rahelsa yang sudah keluar dari area kamar mandi.


"Iya, kamu temenin aku, kan?" tanya Aarav memberanikan diri.


"Ha-harus?"


"Tadi katanya mau bantuin aku mandi, berarti harus, dong!" jawabnya mencairkan suasana canggung.


"Oh... o-oke."


Rahelsa mulai mendorong kursi roda Aarav sampai kedalam kamar mandi, tapi secara mendadak ia jadi lupa apa yang harus ia lakukan lagi setelah ini. Otaknya buntu seketika.


"Els..."


"Y-ya?"


"Kok bengong? Jadi bantuin, kan?"


"Ja-jadi, dong!" Rahelsa berjalan sedikit hingga ia berada tepat dihadapan Aarav. Ia berlutut, niat awalnya adalah membantu Aarav membuka satu persatu kancing kemeja yang masih melekat di tubuh pemuda yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.


Rahelsa menahan nafas, jarak diantara mereka sangat dekat membuatnya bisa melihat dengan jelas dada bidang Aarav yang masih tertutupi oleh pakaian.


Tangan Rahelsa terulur, secara gemetaran ia membuka kancing kemeja sang suami.


Ayo Rahel, kamu pasti bisa. Sebelumnya juga udah pernah ngelakuin ini meski berujung malu, tapi setidaknya ini bukan yang pertama kalinya, batin Rahelsa.


Dua kancing teratas sudah terlepas, dengan gugup dan ragu akhirnya Rahelsa melanjutkan untuk membuka kancing ketiga yang letaknya tepat didepan dada Aarav.


Belum sempat ia menyentuh kancing itu, tangannya yang gemetaran ditangkap oleh pemuda itu, membuatnya menatap Aarav dengan tatapan kebingungan.


"Els... kalau aku cium kamu, boleh?" Aarav berujar, tapi sembari membawa tangan Rahelsa kedepan bibirnya lalu mengecupnya sekilas.


Ya ampun, kenapa pertanyaan Aarav seperti ini? Tindakannya juga membuat Rahelsa jadi menunduk malu dengan wajah yang tiba-tiba memerah.


"Boleh, nggak?" tanya Aarav lagi sembari membawa jemari Rahelsa untuk mengelus pipinya seolah Aarav lah yang berkuasa mengendalikan jari-jari itu.


Secara refleks, Rahelsa kembali mengadah pada sang suami.


"Aarav ...."


"Boleh?" tanya Aarav menaikkan sebelah alisnya, ia masih menuntut jawaban dari bibir istrinya.


"Ki-kita sudah menikah..."


"Lalu?"


"Ja-jangankan mencium, lebih dari itu pun... bo-boleh." Rahelsa mengangkat wajah sembari memasang senyuman seolah menutupi kegugupannya.


Aarav menipiskan bibir sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tak menyangka Rahelsa menjawab seperti itu.

__ADS_1


Secara perlahan tapi pasti, tangan Aarav menyentuh dagu Rahelsa, memajukan tubuh dan melenyapkan jarak diantara mereka.


Naluri Rahelsa membimbingnya untuk memejamkan mata, menunggu, diiringi detak jantung yang semakin berdetak tak beraturan.


Cup!


Bibir Aarav akhirnya berlabuh tepat di bibir sang istri, awalnya hanya berniat untuk uji coba atau istilah kerennya test drive only, tapi entah kenapa dia malah larut dalam ciuman itu dan ingin melanjutkan mengeksplor lebih dalam lagi, apalagi setelah mendapati bibir istrinya yang terasa manis seolah meruntuhkan pertahanannya.


Rahelsa sendiri merasa lututnya melemas, cumbuan Aarav di bibirnya membuatnya seakan lupa daratan dan melayang, kupu-kupu didalam perutnya merentangkan sayap laksana riang menyambut taman bunga impian.


"Aarav," ucap Rahelsa terengah-engah saat Aarav memberi se-centi jarak diantara mereka.


Aarav tak menjawab, hembusan nafasnya saja yang terasa berkejaran dan menderu dikulit wajah Rahelsa. Namun, raut pemuda itu nampak telah dipenuhi oleh ga i rah yang tak terbantahkan.


Aarav membawa kedua tangan Rahelsa untuk melingkari lehernya, kemudian dia membersihkan bibir Rahelsa yang tampak basah dengan ibu jarinya.


"Lagi?" tanya Aarav lembut pada Rahelsa. Rahelsa menunduk malu, sementara Aarav jadi tertawa pelan.


"Selesaikan dulu tugas yang tertunda," kata Aarav merujuk pada kemejanya yang belum tertanggalkan.


Rahelsa tersenyum malu. Ia mengangguk tanpa protes. Kemudian memulai lagi aktifitas membukakan kemeja Aarav.


Blush


Semakin merona saja wajah Rahelsa saat melihat Aarav sudah berte lanjang dada.


"Belum apa-apa udah merah gitu sih," goda Aarav.


Rahelsa menggigit bibir. Kemudian refleks membalik badan saat Aarav membuka sabuk dan kancing celananya.


"Hmm?" sahut Rahelsa tanpa menoleh ke arah Aarav.


"Maaf merepotkan kamu, aku mau masuk bathub sekarang."


"Gak apa-apa, Aarav," jawab Rahelsa yang akhirnya berbalik untuk membantu Aarav lagi, namun seketika itu juga ia langsung membuang pandangan saat mendapati Aarav yang ternyata kini hanya mengenakan underwear saja.


Aarav terkikik sementara Rahelsa bingung harus bagaimana.


"Tadi aku cium kamu biar gak canggung, aku udah gak canggung lagi, kok kamu masih malu aja, sih!" kekeh Aarav.


"Si-siapa bilang? Aku--aku gak apa-apa kok. Cuma belum terbiasa aja!" kata Rahelsa segera mendekati Aarav lagi, ia menahan rasa gugup itu, mau bagaimanapun Aarav akan membutuhkannya dalam hal ini, jika tak dimulai dari sekarang, maka kapan lagi? Bukankah ia ingin belajar menjadi istri yang baik?


Dengan perlahan, Rahelsa membantu Aarav untuk memasuki bathub. Canggung ia melingkari pinggang Aarav yang polos.


Tapi sekarang, setelah Rahelsa berusaha sekuat mungkin untuk membunuh rasa canggungnya, justru Aarav yang mendesis, sebab sentuhan tangan sang istri dikulitnya yang terbuka.


"Kenapa?" tanya Rahelsa khawatir, dia pikir Aarav merasa kesakitan.


"Enggak," sanggah Aarav.


Akhirnya pemuda itu berhasil masuk kedalam bathub berisi air hangat, cukup bisa merilekskan tubuhnya.

__ADS_1


"Kamu butuh apa lagi?" tanya Rahelsa masih dengan ke-kaku-an-nya.


"Gak ada, cuma butuh kamu aja."


"Apaan, sih!" Rahelsa tertawa pelan.


"Kamu udah mandi, ya?" tanya Aarav sambil mengambil botol shampo disisinya.


"Udah."


"Pantes wangi," ujar Aarav jujur.


"Kalau bau entar kamu kabur," kekeh Rahelsa yang duduk dipinggiran bathub.


"Mana mungkin."


"Mana mungkin kabur?"


"Bukan, mana mungkin kamu bau. Kamu selalu wangi kok," kikik Aarav.


Rahelsa hanya tertawa pelan menanggapi Aarav.


"Kok ketawa? Gak percaya? Sini deketan, biar aku buktiin kalau kamu itu wangi."


Rahelsa mendekatkan diri kearah Aarav dengan polosnya, Aarav menyunggingkan senyum miring.


"Kok sekarang agak bau ya?" kata Aarav tanpa rasa berdosa.


"Hah? Serius?" Rahelsa mengendus aroma tubuhnya sendiri.


Aarav mengulumm senyum. "Kayaknya kamu harus mandi lagi, deh!" kata Aarav sembari menarik pinggang Rahelsa sampai sang istri ikut masuk ke dalam bathub yang sama, tepatnya diatas pangkuannya.


"Aarav!" keluh Rahelsa sembari mencubit lengan Aarav. Aarav membiarkan saja Rahelsa mencubitinya, ia malah tertawa kesenangan.


"Aku jadi basah, kan!" protes Rahelsa.


"Udah sini aku bukain bajunya yang basah," ucap Aarav sembari mengedipkan sebelah matanya.


Rahelsa mencebik, tapi akhirnya dia terkekeh juga. "Dasar kamu modus banget sih!" ujarnya.


Rahelsa masih cekikikan sampai tangan Aarav yang melingkari pinggangnya berhasil membuatnya bungkam.


"A-aarav..." suaranya berubah bergetar.


"Enjoy, our first night ...." ucap Aarav lirih sambil mengelus pipi Rahelsa yang merona.


*****


Fyi alias for your info, orang yang lumpuh gak selamanya i m p o t e n yah, guys... mereka bisa e r e k s i, kok✌️


Tapi dalam kondisi itu, ada hal-hal lain yang membuatnya gak segampang orang sehat. Gitu ajalah ya, mau tahu lengkapnya silahkan searching sendiri😅😅

__ADS_1


Btw, makasih loh udah ada yang vote kemarin plus kasi hadiah juga. Ada juga yang kirimin KOIN buat apresiasi karya othor... wah terhura, eh terharu... semoga kita sehat semua dan lancar rezekinya yah🥰🥰🥰


Love banyak-banyak buat Readers akuh🧡🧡🧡🧡🧡🧡


__ADS_2