
Kilas balik sedikit ya, buat yang bertanya-tanya tentang siapa Luisa. Luisa ada dibahas di beberapa Bab sebelumnya, salah satunya di Bab 42. Jadi, dia bukan peran yang tiba-tiba ada, tapi othor udah pernah nyinggung sedikit tentang si Luisa ini ya, jadi gak akan ada peran yang tiba-tiba muncul, kok. Waktu itu, Raya pernah melamar pekerjaan dikantor Luisa dan diantar sama Reka. Itu loh ... zamannya Nev menguntit Raya.
Oke? Udah ingat dong ya? Baeklah😁🙏
...________...
"Mau apa dia mencariku?" tanya Nev pada Bian.
"Dia tidak mengatakan apa keperluannya, Tuan. Tapi sepertinya dia akan kembali kesini untuk mencari Tuan," kata Bian menerka situasi.
Nev tidak tahu apa kemauan Luisa kali ini, pertemuan mereka yang terakhir kali tak terlalu baik, maka dari itu Nev sebenarnya malas mengungkit tentang Luisa dalam hidupnya. Dari dulu Nev sedikit risih dengan Luisa, mungkin karena sikap Luisa yang terang-terangan mendekatinya walau Nev sudah menghindarinya secara jelas.
Sejatinya Nev memang pria yang datar dan cuek, apalagi terhadap orang lain yang tidak memiliki keterikatan padanya, jadi dia tidak mau pusing untuk memikirkan apa keperluan Luisa padanya hari ini.
"Jika Nona Luisa datang lagi, apa Tuan akan menemuinya?" telisik Bian.
"Biarkan saja dia, aku ingin tahu apa lagi kali ini," kata Nev datar.
"Baik, Tuan." Bian pun keluar dari ruangan Nev dan melanjutkan lagi pekerjaannya.
Menjelang jam kepulangannya dari kantor, Nev benar-benar harus menundanya karena lagi-lagi kantornya didatangi oleh wanita bernama Luisa.
"Hai, Nev ..." Luisa duduk di sofa ruang tamu kantor dengan senyuman yang tersungging dari bibirnya.
"Hmm, ada apa kau mencariku?" tanya Nev datar.
Luisa terkekeh kecil. "Aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu, Nev ..." jawabnya.
"Thanks," ucap Nev.
Nev ikut duduk dihadapan Luisa, bersedekap, lalu menyilangkan kaki dihadapan wanita itu. "Tapi ku rasa sangat berlebihan, jika kau hanya ingin mengucapkan sepenggal kata selamat, namun kau sampai bolak-balik ke kantorku..." pungkasnya sembari tersenyum miring.
Luisa tertawa, tawa yang terdengar renyah seperti menertawai dirinya sendiri.
"Ya, aku memang selalu berlebihan padamu, Nev..." jawab Luisa melirih.
Nev geleng-geleng kepala melihat tingkah Luisa ini. Lalu mereka sama-sama terdiam beberapa saat dengan pikiran masing-masing.
"Kau terlalu kejam padaku, Nev..." kata Luisa memecah keheningan.
"Aku sudah mengatakan padamu--"
"Kau tidak pernah memberiku kesempatan, Nev!" potong Luisa cepat.
__ADS_1
Nev memilih diam, jika sudah begini dia hanya bisa membiarkan Luisa mengeluarkan segala unek-unek dihatinya.
"Aku sudah mengharapkanmu dari kita masih remaja dan kau tahu itu, Nev! Pernikahanmu ini cukup mengusik perasaanku."
"Jangan bahas hal ini, Lui ..." kata Nev berdiri dari duduknya.
"Kan, kau bahkan tidak mau mendengarkanku lagi, Nev!" senggak Luisa.
"Sudahlah, Lui. Perasaanmu itu mengada-ngada," kata Nev berjalan menuju pintu keluar.
"Nev ..." lirih Luisa.
"Apa lagi? Aku harus pulang, istriku menunggu kepulanganku, terima kasih atas ucapan selamatmu, ya.." kata Nev tersenyum.
Luisa hanya bisa mendengkus dengan tangan terkepal, lagi dan lagi dia tak pernah bisa mendapat perhatian lebih dari Nev. Bahkan sejak dulu pun tak pernah sama sekali. Bukankah dia wanita yang menarik? Kecantikan, kepintaran dan kesuksesan semua telah ada dalam genggamannya. Tapi Nev tak pernah meliriknya sedikitpun.
Luisa memang sempat menjaga jarak dengan Nev, dia mau Nev menyadari bahwa dalam hatinya ada setitik rasa untuk Luisa, tapi kenyataannya Nev justru menikah dengan perempuan lain sekarang.
Bian menyusul kedalam ruangan dan meminta Luisa untuk segera meninggalkan tempat ini, karena gedung perkantoran akan segera ditutup.
"Kau tahu kenapa Nev tidak pernah melirikku, Bian?" sergap Luisa pada Bian.
Bian hanya tersenyum kecil dan tidak menjawab pertanyaan Luisa itu.
Bian hanya bisa mengulumm senyum mendengar sumpah serapah Luisa terhadap atasannya itu.
"Tolong sampaikan pendapatmu mengenai hal ini, Bian!" senggak Luisa kesal.
Sejatinya, Bian tahu apa yang membuat Luisa datang lagi pada Nev saat ini. Bukan karena pernikahan Nev yang menarik perhatian wanita itu, tapi karena kondisi Nev sekarang.
"Nona, pendapat Saya tidak banyak. Hanya saja, Saya heran kenapa Anda datang lagi kepada Tuan Nev disaat kondisinya sudah pulih," ucap Bian tersenyum kecil.
Bian tahu, Luisa tak pernah tahu tentang pernikahan Nev dengan Feli, dia menjauhi Nev dulu bukan karena mengetahui Nev yang telah menikah, tapi karena sejak saat itu Nev mengalami kelumpuhan.
Luisa terperangah mendengar penuturan Sekretaris Nev itu. "A-apa maksudmu?" tanyanya gugup.
"Anda datang lagi saat ini, padahal saat Tuan Nev mengalami kelumpuhan, Anda tidak pernah datang menjenguknya sekalipun," papar Bian sambil lalu, meninggalkan Luisa yang terdiam mendengar ulasan pria itu.
Luisa terdiam dengan pikirannya, seharusnya saat Nev lumpuh dia mendatangi pria itu, mungkin kondisi Nev yang seperti itu bisa membuka hati untuknya, tapi dia terlalu naif jika melakukan hal itu dulu, mana mungkin dia mau menyerahkan diri pada pria lumpuh?
Mungkin Bian ada benarnya, Luisa datang lagi pada Nev disaat pria itu telah pulih, hal yang sebelumnya tak terpikir oleh Luisa. Luisa tak mengira Nev akan pulih, jika saja dia tahu, mungkin dia akan mengambil hati Nev, kan?
"Sial! Seharusnya aku lebih cepat mendatanginya! Kenapa saat dia pulih, dia langsung menikah dengan wanita lain!" geram Luisa sambil menghentakkan kaki keluar dari gedung perkantoran milik Nev.
__ADS_1
...♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️...
Jimmy datang ke kediaman Nev, dia meminta izin Nev untuk mengajak Nimas pulang ke kampung wanita itu, karena Jimmy berniat untuk menikahi Nimas dalam waktu dekat.
"Kau serius ingin menikahinya?" tanya Nev pada Jimmy, sekarang mereka duduk dan berkumpul di ruang keluarga Nev. Ada Jimmy, Nimas, Nev dan juga Raya disana.
Jimmy mengangguk yakin, kemudian menatap Nimas yang tersenyum malu-malu disebelahnya.
"Baguslah, ku pikir kau mau jadi bocah kepa rat terus menerus!" kata Nev setengah mengejek.
"Jangan begitu, Nev... hargai niat baik Jimmy," sela Raya cepat.
"Iya, aku cuma tidak menyangka pelabuhan terakhirnya jatuh pada Nimas," bisik Nev ditelinga Raya. Sebenarnya Nev mengkhawatirkan Nimas yang akan berakhir ditangan Jimmy, walau Jimmy sahabatnya tapi Nev cukup tahu sepak-terjang pria tengil itu.
Nev kembali menatap dua insan yang ada dihadapannya, seolah tengah menyidang Jimmy dan Nimas saat ini.
"Nimas, kau yakin dengannya?" Kini Nev menatap Nimas sungguh-sungguh, gadis muda itu sudah selayaknya adik baginya.
Nimas menganggukkan kepala dengan yakin.
"Ya sudah, kapan kalian akan berangkat?" tanya Nev.
"Mungkin besok pagi," jawab Jimmy serius.
"Ya sudah, Aku serahkan semuanya pada kalian berdua karena kalian bukan anak-anak lagi. Dan kau, Jim... jangan mempermainkannya!" ucap Nev tak main-main.
"Mempermainkan apa? Hanya dengannya aku paling serius," kata Jimmy terkekeh pelan.
"Baguslah, Nimas sudah ku anggap keluargaku. Dari awal sudah ku peringatkan padamu, jadi kalau kau tidak serius padanya kau akan berhadapan denganku..." kata Nev dengan tawanya yang renyah.
Mereka berempat kemudian membahas tentang hal apa saja yang dibutuhkan untuk perlengkapan Jimmy mengunjungi keluarga Nimas nanti.
"Bagaimana dengan keluargamu, Jim?" tanya Raya.
"Mama akan pulang awal bulan depan, Kalau Papa akan kesini menjelang hari H." kata Jimmy.
"Maksudku, apa mereka sudah mengetahui hal ini?" tanya Raya lagi.
"Sudah, mereka mendukung apapun keputusanku... mereka justru senang aku memutuskan untuk menikah," kata Jimmy tertawa kecil.
Nev mengangguk, perkataan Jimmy ada benarnya karena diapun tak menyangka Jimmy akan memutuskan menikah, apalagi pilihannya jatuh pada Nimas, karena Jimmy sempat trauma dengan pernikahan sebab orangtuanya yang berpisah sejak usia Jimmy masih kecil. Walau kedua orangtua Jimmy masih hidup, tapi Jimmy sudah lama tak ingat bagaimana rasanya tinggal lengkap dengan kedua orangtua.
...Bersambung ......
__ADS_1