PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
67 - In Bali


__ADS_3

Malam harinya, Nev dan Raya makan malam di sebuah Restoran pinggir pantai.



Mereka mengobrol santai, lebih sering membahas tentang hal-hal yang saling mereka sukai dan beberapa rencana masa depan.


Nev yang duduk berhadapan dengan Raya menggenggam jemari istrinya itu.


"Apa kamu marah jika aku menanyakan sesuatu hal yang sedikit pribadi?" kata Nev tiba-tiba.


Raya tersenyum kecil, "tentang?" tanyanya.


"Ada hal yang sedikit mengganjal, ku harap kamu tidak marah jika aku menanyakan hal ini ... kenapa kamu dan Reka batal menikah?"


Raya menarik sudut bibirnya, kemudian menatap Nev dalam-dalam. "Tidak jodoh, jodohnya justru sama kamu," kata Raya sedikit tertawa diakhir kalimat.


Nev terkekeh pelan, "Aku tahu, tapi---"


"Bisakah kita hanya membahas tentang kita saja? Aku tidak mau membahas hal lainnya," kata Raya pelan.


"Baiklah, aku tahu kamu merasa tak nyaman dengan pertanyaan ini." Nev mengakhiri ucapannya dengan helaan nafas panjang. Entah kenapa Raya tak mau menceritakan detail batalnya pernikahannya dengan Reka, mungkin lain kali Nev akan tahu kebenarannya, karena sejauh ini dia memang belum tahu apa yang terjadi, walaupun Jimmy mengatakan semua ini berkat bantuannya, tapi Nev belum mendengar penjelasan tentang tindakan apa yang dilakukan Jimmy hingga pernikahan Raya dan Reka batal.


Apa ini ada kaitannya dengan hal yang dibisikkan Jimmy waktu itu?


Nev memang mengingat ucapan Jimmy kala ia pulang dari Singapore tempo hari,


"Aku melihat Reka check-in di hotel sama klien wanitanya itu..."


Namun, saat itu Jimmy tak bisa memberi bukti apa-apa sehingga Nev menganggap itu hanyalah bualan dan akal-akalan Jimmy saja yang sering menggodanya.


Mungkin kegagalan pernikahan Reka dan Raya ini memang menguntungkan untuk Nev, tapi kenapa Raya menutupi hal itu darinya.


Apa Raya kecewa pada Reka? Apa Raya sempat memiliki perasaan terhadap pengacara muda itu? Sehingga untuk membahas tentangnya saja, Raya tidak mau.


Benarkah kedekatan mereka tempo lalu menyebabkan Raya sedikit bersimpati pada pria itu?


Melihat Nev diam, Raya mulai bersuara kembali.


"Kok diam? Masih memikirkan hal itu?" tanya Raya dengan matanya yang jernih.


Nev menggeleng, kemudian mengulas sedikit senyuman.


"Kenapa? Kamu memikirkan apa?" tanya Raya.


"Tidak ada," kata Nev berdusta. Sesungguhnya saat ini hatinya diliputi rasa tanya yang besar, sehingga menyebabkannya merasa cemburu ...?


"Aku bukan tidak mau membahas Reka, tapi aku ingin memanfaatkan momen ini hanya untuk kita berdua, tanpa membicarakan orang lain. Apa kamu tidak sependapat dengan itu?" tanya Raya serius.


Nev meraih tangan Raya, mengecup punggung tangannya beberapa kali.


"Maafkan aku, rasa ingin tahuku menyebabkan pertanyaan tentangnya tercetus begitu saja. Dan lagi---"


"Kenapa?"


"Aku takut kamu menyimpan rasa untuknya," kata Nev jujur yang justru disambut kekehan nyaring dari Raya.


"Nev, kita sudah menikah, apalagi yang kamu takutkan?" kata Raya masih terkekeh.


"Aku serius, aku takut jika yang kamu harapkan untuk menikahimu adalah---"


"Sttsss ..." Raya mencondongkan badan sembari menempelkan telunjuknya didepan bibir Nev.


Raya menggeleng pelan. "Sejak awal, pria yang aku harapkan itu ... kamu," ujarnya dengan wajah berbinar.

__ADS_1


"Raya, aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku, ya ..."


"Kamu ini bicara apa? Kita baru saja menikah." Raya menggeleng lagi mendengar ujaran Nev itu.


"Aku serius, aku takut kamu meninggalkan aku," kata Nev dengan wajah seriusnya, meskipun beberapa kali Raya terkekeh tapi pria itu tetaplah memasang wajah yang serius.


"Nev, sekarang kamu suamiku. Aku juga telah menjadi istrimu. Kamu milikku, begitupun aku sudah menjadi milikmu, kita harus saling percaya satu sama lain, dan tidak boleh ada keraguan dihati kita masing-masing."


Nev mencerna ucapan yang terdengar tulus dan bijak dari bibir mungil istrinya itu.


"...soal Reka, aku tidak mau membahasnya bukan karena aku memiliki kekecewaan padanya sebab adanya perasaan lebih, bukan ... aku tidak mau membahasnya. Pertama, karena ini adalah momen bulan madu kita. Kedua, aku tidak mau membicarakan masalah aib orang lain," terang Raya.


"Aib?" Nev mengernyit heran.


"Ya, membahas soal kegagalan pernikahanku dan Reka, mau tidak mau akan membuatku membongkar aibnya. Intinya, biarlah kamu tahu itu dari oranglain, bukan dari istrimu ini, karena aku tidak suka membicarakan tentang keburukan orang lain," pungkas Raya.


Jadi Reka menorehkan aib sebelum mereka gagal menikah?


"Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku. Aku hanya tidak mau memiliki beban perasaan karena belum jelas tentang masalah ini, aku menghargai keputusanmu yang tidak mau membahas Reka, kedepannya biar aku puaskan rasa ingin tahuku dari Jimmy, agar semuanya tidak simpang siur seperti ini." kata Nev akhirnya.


Senyuman di bibir Raya terkembang, "Terima kasih, Nev. Jangan khawatirkan apapun lagi, oke?"


"Tapi aku tetap mengkhawatirkanmu, kapanpun dan dimanapun," Nev tersenyum menawan.


"Gombal," kata Raya.


"Serius, itulah yang aku rasakan beberapa bulan ke belakang," jawab Nev jujur.


..._______...


Acara makan malam mereka pun selesai. Nev dan Raya bergandengan menuju pintu keluar Restoran.


"Kamu mau jalan-jalan lagi, atau langsung kembali ke Villa?" tanya Nev sembari merangkul tubuh istrinya.


Nev berbisik di telinga Raya, menyebabkan wajah Raya memerah seperti kepiting rebus.


"Ih, itu sih maunya kamu ..." kata Raya setelah mendengar bisikan me sum suaminya itu.


"Memangnya kamu gak mau?" Nev menaik-naikkan alisnya, menggoda sang istri, Raya hanya terkekeh untuk menanggapinya.


Saat mereka sama-sama cekikikan dengan candaan itu, tiba-tiba suara seseorang terdengar menyela diantara keduanya.


"Raya ...."


Raya menoleh ke sumber suara yang baru saja menyebutkan namanya.


"Yeah, it's you... Raya, (Ya, ini kamu ... Raya)" ucap seorang pria jangkung dengan perawakan luar. Nampak jelas dia menatap Raya dengan sorot mata yang sulit dijelaskan.


Raya tersenyum pada pria bermata kebiruan itu. "David...." kata Raya ramah seperti biasanya.


"How are you, Raya? I Miss you," (Apa kabarmu Raya? Aku merindukanmu ...)" kata David tersenyum senang, kemudian senyuman itu mulai pudar, tatkala David menyadari ada sorot mata tajam dari pria yang ada disamping Raya.


"I'm great, thanks... What are you doing in Bali? (Aku sangat baik, terima kasih. Apa yang kau lakukan di Bali?) " tanya Raya pada pria bernama David itu.


"I'm on Vacation. Who's he? (Aku sedang jalan-jalan. Siapa dia?)" kata David menunjuk Nev dengan dagunya.


Nev yang sedari tadi diam, hanya tersenyum kecut mendengar pertanyaan David yang bernada sarkas itu.


"Oh ya, David.. he is My husband ... (Oh ya, David.. dia suamiku ...) " kata Raya semringah.


"Y-your ... husband? (Suamimu?)" tanya David setengah tergagap.


Raya mengangguk berulang, kemudian dia menatap Nev, "Nev, dia David, teman kuliahku ketika di Manchester..." ucapnya pada Nev.

__ADS_1


David mengulurkan tangannya pada Nev. "Hi, i'm David, nice to meet you... (Hai, aku David, senang bertemu denganmu...)" kata David dengan senyuman kecil yang tampak dipaksakan.


"Hmm," jawab Nev singkat, pasalnya Nev tak suka cara David memandang Raya. Dia tahu jelas tatapan itu menyiratkan sebuah arti lain.


(Selanjutnya, anggap Raya dan Nev berbicara dengan David menggunakan bahasa Inggris ya, jadi gak usah ngetik artinya lagi 🙏🙏...)


"Berapa lama kalian di Bali?" tanya David.


"Tiga hari," kata Raya, tiba-tiba Raya merasakan genggaman tangan Nev di jemarinya semakin erat.


"Apa kalian baru menikah?" tanya David lagi.


Raya mengangguk, sementara Nev mulai buka suara.


"Kami memang baru menikah, untuk itu kami harus segera pergi dari sini karena kami harus melanjutkan kegiatan yang lain," kata Nev sarkas dan memasang senyum penuh maksud.


"Oh, ya... tentu saja," jawab David dengan senyum yang lagi-lagi nampak dipaksakan.


"Senang bertemu denganmu lagi, Raya." kata David ramah dan menatap pada Raya.


Raya mengangguk, tak berani mengucap sepatah katapun lagi setelah menyadari sikap aneh suaminya. Sementara Nev, dia tersenyum miring mendengar penuturan David dan tanpa menjawab lagi, Nev segera membawa Raya menjauh dari tempat itu.


Didalam perjalanan, Nev sama sekali tak bersuara, begitupun Raya. Keheningan melingkupi keduanya sampai mereka benar-benar tiba di Villa.


Raya membersihkan diri di kamar mandi, kemudian kembali masuk ke area kamar untuk mengganti pakaiannya dengan kaos rumahan. Dia melihat Nev yang duduk dipinggiran ranjang sembari terus menatapi dirinya.


"Nev, apa ada yang salah? Kenapa kamu banyak diam sejak tadi?" tanya Raya sembari menghampiri posisi Nev.


"Apa sebelumnya kamu memiliki hubungan dengan David?" tanya Nev tak bisa lagi menutupi rasa cemburunya.


Raya menggenggam tangan Nev. "Aku tidak memiliki hubungan dengannya, dia hanya sebatas teman kuliahku," jawab Raya jujur.


"Benarkah? Apa tidak pernah terlibat perasaan diantara kalian?"


Raya terdiam.


"Jawablah," kata Nev dengan intonasi suara yang berbeda dari sebelumnya.


"Kenapa kamu bisa menanyakan ini? Dari mana kamu bisa menyimpulkan soal keterlibatan perasaan?"


"Menurut pandanganku sebagai lelaki, dia punya perasaan yang lebih sama kamu," jawab Nev mendengkus.


"Itu hak nya, Nev ... kita tidak bisa memaksakan perasaan seseorang," jelas Raya.


"Tapi tetap saja aku tidak suka." kata Nev dengan decakan kesal.


"Nev, yang penting sekarang kita sudah menikah, kan?"


"Aku tahu, tapi ... berarti kamu juga menyadari kan, kalau dia memiliki perasaan lebih sama kamu?"


Raya mengangguk. Selumbari David pernah mengatakan perasaannya, namun itu sudah bertahun yang lalu dan Raya merasa sekarang David pasti sudah memiliki perasaan yang lain dengan orang baru. Walau bagaimanapun, Raya merasa dia dan David tak pernah menjalin hubungan apapun selain sebuah pertemanan.


"Sudah ku duga, pantas saja dia menatapmu dengan tatapan dalam seperti itu,"


Raya mengelus lengan Nev, "Sudahlah, jangan bahas orang lain... apa kamu tidak lelah?" tanya Raya, mengingat aktifitas mereka seharian ini, mulai dari berangkat ke bandara, tiba di bali dan mereka langsung melakukan hal lainnya, termasuklah jalan-jalan di pantai sampai petang.


"Maaf, aku tidak bisa mengontrol rasa cemburuku, aku belum bisa..." Nev mengelus pipi Raya dengan kelembutan.


"Ya, aku paham. Mungkin aku juga akan cemburu buta jika ada wanita yang menyapamu dan menatapmu dengan intens," aku Raya sembari mengangkat bahu.


Nev terkekeh. "Benarkah?" tanyanya.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2