PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Menghabiskan Waktu


__ADS_3

Mobil berhenti tepat di basement hotel. Zio dan Airish menuju lantai tiga dimana kamar nomor 127 berada. Kamar itulah yang Zio tempati selama tinggal di Jerman.


"Sebenarnya barang-barang saya sudah disiapkan, kamu gak perlu bantuin saja berkemas," celetuk Zio ditengah-tengah perjalanan mereka menuju kamar.


"Gak apa-apa, aku mau tahu aja kamu tinggal dimana selama di Jerman."


Helaan nafas Zio terdengar, sebenarnya ia tak mau mengajak Airish ke kamar hotelnya. Terlebih, ia ragu pada dirinya sendiri jika berada berdua dengan Airish saja. Sayangnya, Airish bersikukuh dan malah mencurigainya sudah tinggal bersama seorang wanita. Mau tak mau ia ingin membuktikan jika prasangka gadis itu adalah salah.


Mereka tiba di kamar, masuk dan mata gadis itu segera menelisik ke seluruh penjuru ruangan. Tampaknya, Airish memang takut jika Zio menyimpan seorang wanita didalam kamar hotelnya.


"Gak ada apa-apa, kan? Kenapa jadi mencurigai seperti ini?" Zio terkekeh sembari menarik hidung Airish gemas. Airish ikut tertawa pelan. Langkahnya mulai semakin masuk ke area kamar.


"Kamu udah sarapan? Saya pesan makanan untuk diantar kesini, mau?"


Airish mengangguk. "Boleh," katanya.


Zio berkutat dengan ponselnya. Memesan beberapa menu makanan dan sesekali menanyakan apa yang ingin Airish makan.


Sementara Airish mulai duduk disebuah sofa yang ada disana. Ia menatap Zio yang tampak serius dengan ponsel, entah kenapa pemuda itu tampak lima kali lipat lebih tampan jika dalam mode serius seperti saat ini.


"Apa selama di Indonesia dia tidak memiliki kekasih?" batin Airish bertanya-tanya. Mana mungkin Zio yang tampan dan mapan tidak pernah berpacaran hanya demi menunggunya selama ini. Nyaris empat tahun mereka tidak bertemu, kenapa perasaan Zio masih bisa bertahan hanya pada dirinya saja?


"Zi?" Airish memanggil Zio. Hatinya tergelitik ingin tahu mengenai hal itu.


"Hmm?" Zio mengangkat wajah, mengalihkan atensi dari ponsel demi menatap wajah Airish.


"Pasti mantan pacar kamu banyak banget, kan?"


Zio malah terkekeh kencang. Airish sampai heran melihatnya.


"Kok ketawa? Aku tanya serius, tau!"


"Kan saya udah bilang, saya cuma berkomitmen sama kamu. Saya udah buat janji besar sama kamu dan sekarang saya mau menepatinya."


Airish menggeleng. "Iya, tapi pasti kamu punya selingan untuk membuat momen menunggu selama 4 tahun ini tidak membosankan. Pacaran sama siapa gitu...."


Zio bangkit dari posisinya yang tadi duduk dipinggiran tempat tidur, tak lama pemuda itu sudah mendudukkan diri disofa--tepat disebelah Airish.


"Selingan biar gak bosan, ya?" Zio menatap Airish lekat. Airish mengangguk.


"Ada sih, selingan...." kata Zio mengulumm senyum.


"Tuh, kan bener...." gumam Airish yang merasa tebakannya benar jika Zio pasti memiliki pacar untuk membuat waktu menunggunya selama empat tahun terasa tak begitu membosankan untuk dijalani.


Zio mengacak rambut Airish. "Selingannya bukan cewek seperti dugaan kamu! Saya menyibukkan diri dengan pekerjaan dan kuliah. Makanya saya udah lulus S2 sekarang, sementara kamu belum selesai kuliah, kan?" Zio terkekeh melihat Airish melongo dengan jawabannya.

__ADS_1


"Jadi ...."


"So, you're the one and only, first and last for me...."


Blush


Wajah Airish memerah seperti kepiting rebus. Zio mengelus pipi Airish yang merona, sambil menatap kedalam mata gadis itu. Kali ini keduanya seakan terhipnotis dengan sosok masing-masing. Tangan Zio yang berada di pipi Airish, perlahan malah membuat jarak wajah mereka semakin dekat. Tersisa beberapa senti hingga akhirnya Zio tersadar lalu menundukkan kepala.


"Bisakah kamu memberi keputusan pasti tentang kapan pernikahan kita?" tanya Zio sambil menarik nafas panjang. Zio segera merubah posisi agar tak menatap Airish, ia takut kehilangan kendali.


"Ehm... soal itu... ehm...." Airish tidak bisa berpikir, sebab ia seperti belum menginjak bumi akibat terhipnotis pada keadaan beberapa detik lalu. Ia mengira Zio akan menciumnya, tapi ternyata Zio tidak melakukan itu. Sebenarnya disini, Airish berharap Zio melakukannya sebab ia ingin merasakan bagaimana rasa ciuman pertama.


"Kapan?" desak Zio.


"Setelah aku lulus," kata Airish menggigit bibir.


"Berapa lama?"


"Sekitar enam bulan lagi."


Zio mengangguk samar. "Baiklah, saya akan sabar menunggu enam bulan lagi. Itu tidak akan lama."


Suara ketukan pintu kamar membuyarkan percakapan mereka. Pesanan makanan datang dan mereka mulai menikmatinya.


Selesai dengan hal itu dan merasa sudah cukup kenyang, Airish memilih menyalakan televisi dan menonton kartun disana. Zio hanya menggeleng-gelengkan kepala dan akhirnya ikut menyaksikan tontonan yang Airish lihat, karena merasa inilah momen untuk menghabiskan waktu bersama.


"Nggak pernah, baru sekali ini sama kamu!" jawabnya jujur.


"Iya saya tahu."


"Tadi ...." Airish ragu melanjutkan kalimatnya.


"Tadi, kenapa?" tanya Zio ingin tahu.


Airish menunjuk bibirnya sendiri.


Zio mengernyit heran. "Apa?" tanya Zio tak paham.


"Aku .... aku .... malu mengatakannya," tutur Airish terus terang.


"Malu?" Satu alis Zio terangkat, apa yang sebenarnya Airish inginkan? Ia mulai menduga-duga.


Airish yang polos mulai memberanikan diri untuk berceloteh sesuai dengan pemikirannya. "Aku pikir tadi .... tadi kamu mau cium aku," katanya sambil menyengir kuda.


Kali ini wajah Zio yang memerah. Tentu tadi dia ingin melakukan hal itu, tapi masih menahannya dan mencoba membahas hal lain untuk mengalihkan 'sesuatu' yang mungkin akan membuat Airish marah jika ia nekat melakukannya.

__ADS_1


"Kita udah bertunangan, cepat atau lambat kita akan menikah. Jadi, aku rasa gak ada salahnya kita coba---" Airish bingung mau melanjutkan kalimat. Ia malu mengatakannya, karena kesannya seperti dia yang sangat mengharapkan ciuman itu. Padahal dia hanya penasaran bagaimana rasanya, jiwa kegadisannya penuh rasa ingin tahu. Sementara itu, kandidat lelaki tepat yang akan memberinya ciuman pertama sudah ada didepan mata, jadi haruskah dia menyatakan keinginannya ini pada Zio?


"Kamu mau?" Zio mulai menangkap maksud Airish. Ia menatap Airish lekat. Tidak menyangka dengan pernyataan Airish, ia justru berpikir Airish akan marah jika dia nekat mencium gadis ini.


Airish mengangguk. "Aku cuma penasaran bagaimana rasanya ciuman pertama," gumam Airish dengan suara sangat pelan nyaris berbisik.


Zio mendengkus pelan. Sifat polos Airish kenapa malah mengumpaninya? Padahal ia sudah mencoba menahan untuk tidak menyentuh Airish terlalu intens sebelum pernikahan mereka.


"Zi, apa kamu mau ajarin aku ciuman pertama?"


Ucapan Airish membuat Zio memejamkan mata barang sejenak, tak terlalu terkejut karena kepolosan gadisnya. Hanya saja permintaan Airish kali ini memang diluar prediksinya.


"Zi...."


"Enam bulan lagi ya, tunggu kita menikah."


Pernyataan Zio membuat Airish tertohok. Pemuda itu menolaknya, membuat harga dirinya seakan jatuh berkeping-keping karena nekat meminta hal ini. Airish membuang pandangan ke arah lain. Sedih, malu dan kesal bercampur menjadi satu.


"Maaf, aku cuma penasaran. Karena Bianca sudah melakukannya berkali-kali sementara aku sama sekali belum pernah," lirih Airish masih dengan tutur katanya yang polos dan jujur.


Sadar jika dia salah berucap, Zio menggenggam tangan Airish. Airish masih malas menatap Zio. Dia terlalu malu melakukannya sebab disini dialah yang terkesan sangat mengharapkan hal itu, sementara Zio tidak sama sekali.


"Maaf, saya hanya menghargai kamu. Bukan menolak kamu apalagi tidak tertarik melakukannya. Saya sangat ingin tapi---"


"Kalau ingin ya lakukan saja! Toh yang nanti jadi suamiku itu adalah kamu!" tekan Airish mulai menunjukkan kekesalannya.


Zio menggeleng samar, namun sepersekian detik kemudian malah menarik tengkuk Airish dan mendaratkan ciumannya dibibir gadis itu. Membuktikan pada gadisnya bahwa dia bukannya menolak malah sebenarnya sangat ingin.


Mata Airish membulat sempurna dengan ciuman tiba-tiba ini, mulai merasakan sensasi berbeda yang melenakan, bersamaan dengan jantungnya yang berdetak kencang seakan hendak lepas dari rongganya.


Awalnya Zio hanya berniat mengecup, tapi lama kelamaan malah meny*sap habis bibir Airish dengan ritme pelan dan lembut, membuat Airish mati gaya dan menikmati saja pengalaman pertamanya ini.


Suara kecupan mereka menjadi pemecah keheningan diruang kamar. Airish terengah-engah seperti kekurangan oksigen, disaat itulah Zio melepaskan penyatuan bibir mereka.


"Jangan memancing lagi, saya takut tidak bisa mengendalikan diri! Jangan mengira saya menolak kamu! Bahkan setiap melihat kamu.... saya ingin melakukan ini."


Setelah mengatakan itu, Zio bangkit dari posisinya kemudian berlalu menuju dapur, ia meninggalkan Airish yang terdiam dengan ritme jantung yang masih berdentum-dentum. Tangan gadis itu terangkat, memegang bibirnya sendiri yang baru saja di lu-mat habis oleh Zio. Sedetik kemudian, Airish tersadar dengan ucapan Zio, lalu diapun memijat pelipisnya sendiri.


"Bodohnya kau Airish!!! Zio sudah meredamnya, tapi kau yang memancingnya!" Airish merutuk dirinya sendiri. Tapi, dia tidak menyesal karena ciuman pertamanya bersama Zio jauh lebih indah dari ekpektasinya.


Beberapa menit kemudian, Zio kembali sambil membawa sekaleng softdrink dan menyerahkannya pada Airish.


"Minumlah, setelah itu kita harus keluar dari kamar ini. Disini terlalu banyak aura negatif, saya tidak bisa berdua dengan kamu terlalu lama didalam kamar ini."


Pemikiran Zio adalah takut kehilangan kendali diri, sementara Airish langsung merinding karena ia mengira ucapan Zio itu mengartikan bahwa dikamar itu banyak hantunya.

__ADS_1


*****


__ADS_2