
Pukul 04 sore, semua siswa yang menerima hukuman sudah kembali ke tempat perkemahan. Hanya Airish dan Zio yang belum kembali dan itu membuat Abrine dan Aarav menjadi sangat khawatir dengan keadaan adik mereka, Airish.
"Tolong telepon ke ponsel Airish atau Zio!" kata salah seorang guru mereka.
"Sudah, Pak. Tapi disini susah sinyal," tersng Aarav yang berjalan mondar - mandir dan tampak gelisah.
Hampir setengah jam menunggu. Maka para pembina yang sudah berpengalaman memutuskan untuk menyusul ke dalam hutan sebelum hari semakin gelap. Aarav dan Abrine ingin ikut namun dicegah oleh guru mereka.
Beberapa langkah memasuki hutan, salah seorang pembina sudah bisa melihat Zio dan Airish yang tengah berjalan ke arah mereka.
"Ada apa ini?" tanya salah satu pembina melihat Airish membopong tubuh Zio.
Airish menjelaskan kronologi kejadian secara singkat dan pembina membantu menggantikan Airish untuk membawa tubuh Zio.
Akhirnya mereka semua pun kembali ke tenda dengan perasaan lega karena Airish dan Zio sudah ditemukan.
"Ada apa, Dek? Zio kenapa?" tanya Aarav yang melihat Airish bernafas dengan ngos-ngosan.
"Aku udah lelah menceritakan pada pembina itu, kakak tanyakan saja padanya. Aku mau istirahat badanku pegal semua," ujar Airish cuek dan langsung memasuki tenda untuk tidur. Ia bahkan tidak peduli lagi dengan kegiatan apapun yang akan dilakukan selanjutnya dalam misi perkemahan ini.
Beberapa orang menuju Zio untuk melihat keadaannya. Zio pun diminta untuk beristirahat, sama seperti Airish yang mereka biarkan untuk masuk ke dalam tenda sebab memahami kondisi fisik mereka yang lelah karena insiden yang sempat menimpa keduanya.
Menjelang malam, api unggun mulai dinyalakan. Tidak ada games seperti yang dilakukan siang hari. Dimalam hari mereka menikmati kebersamaan dengan makan dan bernyanyi ria bersama. Beberapa guru bahkan siswa menjalin hubungan akrab dengan bermain gitar dengan melodi yang sama.
"Kelas 12 sebentar lagi akan meninggalkan sekolah, kelak kita akan merindukan momen-momen seperti ini..." Seorang guru yang menjadi juru bicara dimalam itu, menyampaikan segala pesan dan motivasi bagi seluruh siswa yang berkumpul, termasuk Airish dan Zio yang juga telah ikut duduk didepan tenda masing-masing untuk menyimak semua kegiatan tenang malam ini.
Karena kondisi, besok pagi Zio diizinkan untuk pulang terlebih dahulu agar medapat pengobatan pada kakinya yang sempat terkilir. Wali kelas juga sudah menelepon pihak keluarga cowok itu untuk datang menjemput.
Kegiatan malam itu ditutup dengan pesan-pesan moral yang disampaikan oelh beberapa guru secara bergantian.
Malam ini Airish dan Abrine tidur dalam satu tenda, karena Abrine ingin berada disamping Airish. Abrine merasa bersalah karena insiden yang menimpa sang adik, sehingga ia meminta izin pada guru untuk berada didekat Airish, dengan alasan ingin menjaga sang adik marena takut Airish sakit sebab insiden yang sempat terjadi siang tadi, para guru pun menyetujui usul Abrine itu. Airish juga diizinkan hanya berdua dengan Abrine ditenda untuk kenyamanannya agar bisa beristirahat.
"Tidur, dek!" kata Abrine yang melihat Airish melamun sejak tadi. Bagaimana tak melamun, Airish memikirkan tentang ucapan Zio siang tadi, perjanjian pernikahan yang bahkan selama ini belum pernah Airish pikirkan sampai sejauh itu.
"Kak... apa kakak pernah suka sama cowok?"
Abrine berdecak, sudah mengira jika adiknya ini telah jatuh hati pada sosok Zio.
__ADS_1
"Kenapa? Karena seharian ini terus bersama Zio, kamu langsung merasa suka sama dia, gitu?" tebak Abrine yang kembali membuka matanya yang sempat ia pejamkan tadi.
"Jawab aja, Kak!" desak Airish.
"Aku gak tahu, aku gak pernah suka sama cowok!" kata Abrine jujur.
"Terus, cowok yang jemput ke rumah waktu itu, gimana?"
"Yang mana?" kata Abrine pura-pura bodoh.
"Yang kayak Giorgino Abraham itu loh," kekeh Airish menggoda sang kakak.
"Tauk ah!" Abrine berbalik badan memunggungi Airish. Ia tahu yang dimaksud oleh sang adik adalah Wildan. Haruskah ia mengatakan jika sekarang hubungannya dengan Wildan memang berpacaran? Meskipun itu hanya pacar pura-pura?
"Gimana kalau dia mengajak kakak menikah?"
Abrine kembali berbalik badan demi melihat ekspresi tak berdosa sang adik yang mengucapkan kata 'menikah'
"Wildan masih kuliah, aku juga masih SMA, bulan depan baru 17 tahun. Ngapain mikirim nikah segala?" gerutu Abrine.
"Ya kalau memang begitu ya gak gimana-gimana, aku gak ada rasa sama dia ya aku tolak dong!"
"Masa sih gak ada rasa?" Airish menaik-naikkan alisnya semakin menggoda sang kakak.
"Udah ih! Anak perawan mikirin nikah! Masih jauhhhh! Buruan tidur!" Abrine yang cuek langsung memejamkan matanya lagi.
Airish kembali termenung, sedikit banyak ucapan Zio siang tadi cukup mempengaruhi hati dan pikirannya.
"Jangan melamun aja! Tidur! Ini dihutan bukan dirumah! Nanti kalau kesurupan setan baru tahu rasa!" oceh Abrine dalam keadaan sudah terpejam. Mendenga itu, Airish langsung takut dan ikut memejamkan mata untuk tertidur.
______
Pagi harinya, Aarav yang sudah terbangun langsung keluar dari tenda. Keadaan kasih sepi hanya beberapa guru dan siswa yang tampak mendidihkan air untuk memasak makanan instan.
Beberapa siswa yang melihat Aarav keluar dari tenda, menyapa cowok itu. Aarav menanyakan letak kamar mandi khusus yang disediakan dalam bumi perkemahan.
Setelah tahu letak kamar mandi itu, Aarav pun menuju kesana, ia mencuci wajah dan menyikat giginya.
__ADS_1
Namun, saat ingin kembali ke tenda, langkahnya terhenti kala mendengar keributan yang terjadi tak jauh dari tempatnya berpijak.
Aarav berjalan mengendap-endap demi melihat siapa yang bertengkar didalam hutan seperti ini.
"Itu kan pacarnya Bu Siska. Ngapain dia kesini hanya untuk mengajak ribut Bu Siska," gumam Aarav.
Tampak disana Bu Siska yang menjawab ucapan sang pacar dengan ekspresi takut-takut, membuat jiwa melindungi yang ada dalam diri Aarav langsung ON begitu saja.
Pacar bu Siska yang bernama Rexi itu tampak ingin melayangkan tangan kearah pipi Bu Siska dan dengan gerak sigap Aarav pun menahan tangan Rexi sebelum sampai ke wajah Bu Siska.
"Lo kenapa suka main tangan sih? Apa gak bisa mulut lo itu bicara secara baik-baik?" tanya Aarav pada sosok Rexi yang tampak kesal dengan kedatangan Aarav.
"Aarav, pergi dari sini...." kata Bu Siska memperingati.
"Dia jauh-jauh nyusul Ibu sampai ke hutan ini cuma buat mukulin doang?" tanya Aarav tak habis pikir.
"Lo gak usah ikut campur! Ini kedua kalinya lo okut campur urusan gue! Lo pikir gue gak ingat sama lo?" tantang Rexi.
"Sudah!" Bu Siska mencoba memisah perdebatan kedua pria itu. Namun sayang, ia telat karena Rexi sudah gerak cepat meninju wajah Aarav.
Aarav ingin membalas perlakuan cowok itu, namun Bu Siska menghalanginya.
"Aarav, kembali ke tenda."
Aarav tidak terima ia kalah tanpa membalas dan tanpa perlawanan, sehingga ia mengejar langkah Rexi dan balas memukul telak wajah pria itu.
Rexi terkekeh, tapi entah kenapa ia tak membalas lagi pada Aarav.
"Lo bakalan nyesal karena udah berurusan sama gue!" ancam Rexi sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.
Bu Siska melihat wajah Aarav yang lebam karena perbuatan Rexi, ia berniat mengobati luka Aarav.
"Ayo kita ke tenda, saya akan obati luka kamu."
Aarav menggeleng, ia justru berlalu ke arah yang berlawanan dengan tenda. Bu Siska menatap nanar pada kepergian cowok itu, kemudian memutuskan kembali ke tenda sendirian.
******
__ADS_1