PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Jadi pacar gue!


__ADS_3

Keesokan harinya, ketiga anak kembar Nev berangkat ke sekolah seperti biasanya.


Keluarga Jimmy sudah kembali ke Apartemen setelah acara barbeque dan menonton mereka usai-- malam tadi.


Ketika sampai di area sekolah, diujung lorong, Abrine dan Aarav berbelok ke kanan untuk menuju kelas mereka. Sementara Airish, berbelok ke kiri sendirian.


Begitu Airish tiba di kelas, sudah ada cowok yang duduk di kursinya. Namun, begitu tahu Airish tiba, cowok yang tak lain adalah Zio itu segera beringsut menjauh dan kembali ke posisi duduk yang seharusnya.


"Rish..." sapa Zio dan Airish hanya bergumam menanggapi teguran cowok itu.


Airish duduk di kursinya dan cukup terkejut melihat sebuah amplop berwarna biru muda ada diatas mejanya.


"Apa-an nih?" gumam Airish, ia melihat ke samping dimana Zio yang memang duduk dibarisan samping kursinya. Zio tampak tersenyum lalu menganggukkan kepala, Airish langsung tahu jika ini adalah milik Zio.


"Punya kamu?" tanya Airish mengulurkan amplop itu pada Zio, dia berusaha bersikap biasa saja walau sebenarnya dia risih pada cowok culun ini.


"Iya, tapi itu buat kamu," kata Zio pelan.


Belum sempat Airish menanyakan apa maksud dan apa isi amplop itu, guru mata pelajaran mereka-- sudah tiba di kelas.


Mereka mulai belajar dikelas dan Airish masih penasaran dengan isi amplop yang diberikan Zio padanya, akhirnya Airish memberanikan diri mencuri - curi cara untuk membuka amplop itu tanpa sepengetahuan orang lain termasuk guru yang tengah mengajarkan didepan kelas.


To : Airish.


Kemarin kenapa kamu gak datang kerja kelompok? Apa kamu gak nyaman satu kelompok denganku? Aku minta maaf ya, Rish...


Semua anak - anak nanyakin kamu. Aku juga cari - cari kamu sebenarnya, cuma aku udah buat alasan pada mereka kenapa kamu gak datang kerja kelompok. Aku bilang kalau kamu ada keperluan dan kamu akan menyusul datang di sore hari. Aku udah kerjain bagian kamu, jadi nanti mereka semua percaya kalau sore kemarin kamu memang datang menyusul ke tempatku. Aku gak maksud apa-apa kok. Surat ini aku tulis supaya kamu bisa kasi alasan yang sesuai dengan alasan yang aku bilang ke mereka, biar tidak ada kecurigaan. -AZ-


"Dih, pake singkatan nama segala... aku juga tahu kalo nama dia Alfaro Zio," gumam Airish, namun ia juga terkekeh sebab membaca surat tulisan tangan dari Zio itu. Tulisan Zio rapi dan kertasnya wangi.


Airish menggeleng sejenak.


Zaman sekarang masih ada ya jual kertas ginian? Dan parahnya Zio mengirimkan Airish surat dengan kertas seperti ini, niat banget gak sih?


Namun, Airish menghargai niat baik Zio dan ia menoleh pada cowok itu. "Makasih ya," ucapnya tulus.


Zio tampak mengangguk dengan senyuman senang yang terpancar diwajahnya.


Sebenarnya, Airish merasa kalau Zio itu orang yang baik, hanya saja penampilan dan sikap Zio yang selalu mengikutinya membuat Airish risih, belum lagi bulan - bulanan kakaknya Aarav --yang senang mengejeknya jika terkait dengan cowok bernama Zio itu.


Pluk


Airish tersadar saat sebuah gumpalan kertas mendarat di mejanya. Ia tahu itu dari Zio.


Airish membuka gumpalan kertas itu dan benar saja ada tulisan didalamnya.


"Kamu pasti mengira singkatan AZ itu Alfaro Zio, kan? Salah! Itu artinya Airish Zio..."


Mata Airish terbelalak membaca tulisan itu, dia buru-buru menoleh kesamping dan mendapati Zio sedang mengulumm senyum ditempat duduknya.

__ADS_1


Airish tak tahu lagi apa yang diterangkan guru fisika didepan sana, sekarang hatinya ingin memarahi Zio. Hupp... padahal tadi ia sempat memuji Zio yang bersikap baik padanya tapi cowok itu selain culun ternyata juga narsis, membuat Airish jengah padanya.


#####


Abrine berjalan menyusuri koridor sekolah, ia melihat gelas plastik bekas minuman dan menendang itu seperti kebiasaan yang sering ia lakukan.


Aarav dan Airish sudah pulang sekolah sejak tadi, sementara ia harus mengikuti ekskul karate lagi hari ini karena ekskulnya memang tiga kali pertemuan dalam enam hari sekolah.


Ekskul sudah berakhir beberapa menit lalu dan entah kenapa Abrine tak bersemangat sekarang.


"Gue duluan ya, Brine... lo dijemput atau mau nebeng sama gue?" tanya Indri, teman satu ekskul Abrine.


"Gue... naik ojol aja!" jawab Abrine random.


"Oke..bye," Indri melangkah meninggalkan Abrine.


Sebenarnya Abrine juga bingung kenapa dia seperti ini. Ia mencari keberadaan seseorang saat ekskul tadi, berharap bertemu seseorang itu untuk mengucapkan kata maaf. Ya, Abrine berharap bertemu Wildan, namun sayang ia tak bertemu cowok itu.


Entah kenapa pula Abrine ingin meminta maaf meski ia tahu ia tak salah dalam kejadian tempo hari saat Wildan nekat menjemputnya kerumah. Tapi, dalam lubuk hati Abrine tetap masih ada banyak pertanyaan yang belum terjawab.


Apa yang terjadi hari itu? Apa Papa mengusir Wildan? Sudah pasti iya!


Abrine belum bertemu lagi dengan cowok itu sejak hari itu. Mau bertanya pada Papa atau Mamanya mengenai cowok yang nekat datang ke rumah kemarin-- kok rasanya sungkan dan segan.


Jadi, Abrine benar - benar tak tahu apa yang terjadi pada Wildan setelah ia berangkat sekolah begitu saja waktu itu.


kretek


kretek


"Awwww!"


Abrine terkejut saat gelas plastiknya mengenai kaki seseorang, ia merasa dejavu, seperti kejadian beberapa tahun silam saat ia masih SMP dan melakukan tindakan sama hingga menyebabkan pelipis orang lain terluka karena waktu itu yang ia tendang adalah kaleng yang memiliki beberapa sisi yang cukup tajam.


Namun, kali ini yang ia tendang adalah gelas plastik. Teriakan korbannya kali ini terkesan berlebihan, kan?


Abrine pun segera menatap orang yang terkena sasarannya kali ini dan dia cukup terperangah melihat Wildan yang terkekeh disana.


"E-elo?"


"Lo kebiasaan banget ya! Udah hobi atau gimana? Ini yang kedua kali ya! Untung yang kali ini cuma gelas plastik bukan keleng rombeng lagi," kata Wildan dengan senyum mengejek.


"Berisik!" kata Abrine cuek dan berlalu dari hadapan Wildan.


Ah, kenapa Abrine berlalu? Padahal sejak tadi dia mencari - cari sosok Wildan kan, saat ekskul karate? Mau meminta maaf atas kejadian tempo hari meskipun tak salah?


Lalu, sekarang orang yang dicarinya sudah ada didepan mata, kenapa justru pergi menghindar?"


"Dasar lo! Kejadian pertama aja belum ada bentuk tanggung jawabnya, sekarang udah nyusul kejadian kedua!" kata Wildan mencegat langkah Abrine.

__ADS_1


"Apaan sih lo? Gue mau pulang!" gerutu Abrine.


"Tanggung jawab lo jadi dua kali lipat!"


"Serah lo deh!" kata Abrine malas.


"Lo gak mau bilang apa-apa gitu sama gue?"


Abrine menghentikan langkah, ia tersadar ia ingin tahu apa yang terjadi tempo hari dirumahnya saat Wildan nekat menjemputnya didepan kedua orangtuanya.


"Soal kejadian tempo hari... gue minta maaf, pasti lo diusir bokap gue, ya?"


Wildan tersenyum lalu mengangguk.


"Ahk..." Abrine lesu. Dia merasa bersalah pada Wildan. "Gue minta maaf kalo lo tersinggung sama sikap bokap gue, tapi itu beliau lakuin karena protect terhadap anak - anaknya."


"Gak masalah, gue ngerti dan paham."


"Lain kali jangan berani - beranian jemput ke rumah gue lagi."


"Gue masih berani jemput lo. Ya, gue inget sih bokap lo bilang kalo gue sopir online ... baru boleh jemput lo. Ya kalau gitu, gue ngelamar jadi sopir online pribadi lo aja, yang bisa lo telpon saat lo mau kemanapun, gue gak apa-apa!"


"Ngacok lo!"


"Serius gue..." Wildan mengacungkan dua jari membentuk huruf V. "Lo pikir gue kesini ngapain kalo bukan buat jemput lo?" tanyanya.


"Hah?" Abrine melongo.


"Kenapa? Heran? Aneh? Terharu?" kata Wildan terkekeh.


Abrine menggeleng samar. "Lo nggak sekolah?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Gak!"


"Jadi lo bukan anak sekolahan?" tanya Abrine lagi.


"Humm.. ceritanya dilanjut didalam mobil aja, ya..." Wildan mengedipkan mata didepan Abrine dan Abrine memutar bola matanya melihat tingkah cowok itu. Wildan pun langsung membukakan pintu untuk Abrine dan bodohnya dia mengikuti saja.


"Gue sedang kuliah, udah semester 4," kata Wildan sembari menyalakan deru mobilnya.


Abrine mengangguk. "Kenapa lo terus nemuin dan jemput gue?" tanyanya serius pada Wildan.


"Ya, karena lo harus tanggung jawab makanya gue gak mau lo melarikan diri lagi."


"Ya udah sih, sekarang lo bilang aja tanggung jawab kayak apa yang harus gue lakuin supaya lo gak nuntut gue lagi soal pertanggung-jawaban?"


"Jadi pacar gue!" kata Wildan.


******

__ADS_1


__ADS_2