
Zio tampak bersandar di headboard tempat tidur sambil memantau pekerjaannya lewat sebuah laptop yang berada dipangkuan.
Sementara Airish, sedang menyisir rambut didepan meja rias. Sudah hampir setengah jam lamanya tapi tidak selesai-selesai juga. Bagaimana tidak, sekarang Airish sudah berada dalam satu kamar bersama Zio yang telah berganti status menjadi suaminya. Tentu saja hal ini membuat Airish gugup setengah mati.
"Rish..." Suara Zio terdengar lirih, Airish mengira-- pasti sekarang Zio akan menanyakan apa kegiatan menyisir rambutnya sudah selesai?
Nyatanya perkiraan Airish salah, karena ternyata Zio hanya memanggilnya singkat dan menatapinya sejenak.
Sesaat kemudian, Zio menutup laptop dan bergerak mendekat pada posisi Airish yang masih terduduk didepan meja rias. Pemuda itu berdiri dibelakang tubuh Airish, lalu memegang kedua pundak gadis yang sudah sah menjadi istinya itu.
Airish menjengkit kaget, namun itu hanya terjadi beberapa detik sampai akhirnya dia berusaha menetralkan diri dan bertahan tetap pada posisi yang sama.
Zio tersenyum tipis sembari memandang wajah mereka berdua dari pantulan cermin.
"Capek?" tanya Zio dibelakang punggung Airish.
"Ng--lumayan," jawab Airish dengan detak jantung yang terasa meletup-letup. Bukan hanya itu, darahnya terasa berdesir hebat diwaktu bersamaan.
"Kalau gitu, mau sampai kapan duduk disini? Apa gak pengen istirahat?" Zio kembali bertanya, tapi tangannya kini mengelus-elus kedua pundak Airish dengan sangat lembut.
"Emh .... i-iya."
Sebenarnya Airish ingin beranjak menuju tempat tidur, tapi tangan Zio masih setia di pundaknya, ia sungkan untuk bangkit atau menepis tangan pemuda itu.
"Zi ...."
"Ya?"
Zio masih menatap Airish dari pantulan cermin besar didepan mereka berdua.
"Katanya mau istirahat, kan?" tanya Airish dengan nada ragu-ragu.
"Eh, oh.... iya."
Airish pun berdiri dan berjalan pelan ke arah ran jang, diikuti oleh Zio yang melakukan hal serupa. Tapi begitu sampai disana mereka malah sama-sama terdiam.
"Ya udah, duluan naik ke tempat tidur, Rish!" kata Zio mempersilahkan dengan pelan.
"Hah? I-iya."
Airish langsung berbaring dan menarik selimut dalam posisi menyamping. Melihat itu, Zio pun turut ambil posisi disebelah sang istri dan membaringkan tubuhnya pula.
"Kok canggung banget, ya," Zio menatap Airish disisinya sambil mematut senyum yang tak kunjung surut sedari awal.
"Iya, nih." Airish mengigit bibirnya sendiri.
"Saya boleh tanya sesuatu, gak? Supaya gak canggung lagi."
__ADS_1
Airish mengangguk.
"Gimana perasaan kamu sekarang setelah kita resmi menikah?"
"Aku seneng, Zi."
"Seneng aja?"
"Seneng banget," jawab Airish dengan wajah memerah tiba-tiba.
"Kemarin kan kita gak dibolehin ketemu selama 3 hari, kamu bilang kangen sama saya. Sekarang udah terobati belum kangennya?"
Airish mengangguk tapi sedetik kemudian menggeleng dan langsung menyembunyikan wajah didalam selimut karena malu. Zio tertawa pelan melihat tingkah istrinya itu.
Tangan Zio terulur, ingin membuka selimut yang menutupi wajah Airish namun ia berhenti sejenak dan berkata,
"Kenapa ditutup? Saya masih mau lihat wajah kamu. Rasa kangen saya belum terobati juga."
Sontak saja Airish kembali membuka selimutnya, namun begitu terkejut kala disaat yang sama rupanya tangan Zio sudah berada didepan wajahnya lantas secara tiba-tiba mulai mengelus pipinya dengan sangat lembut.
"Zi," ujar Airish sambil memejamkan matanya, ia merasakan sentuhan tangan Zio di kulit pipinya. Rasanya, sulit didefinisikan, yang jelas entah kenapa malah membuat sekujur tubuhnya merinding hebat.
"Zi...." Sekali lagi hanya itu yang bisa Airish ucapkan karena kini jemari Zio justru menetap di dagunya.
Airish membuka mata karena tak mendengar sahutan dari Zio. Namun, betapa terkejutnya dia saat wajah Zio sudah berada sangat dekat didepan matanya bahkan hidung mereka nyaris bersentuhan dan deru hangat dari nafas pria itu sangat terasa menerpa ke wajah Airish yang sudah merona.
Cup.
Sekarang rasa merinding itu lenyap, berganti menjadi rasa melayang. Bahkan perut Airish terasa digelitiki oleh ribuan kupu-kupu yang beterbangan.
"I love you, Sayang," bisik Zio seduktif, kemudian melanjutkan ciuman itu ke tahap yang lebih intens.
Sekarang Airish tidak tahu hendak bersikap bagaimana, ia tidak mahir dalam hal ini. Akhirnya, ia hanya mengandalkan nalurinya saja. Airish mengalungkan kedua tangannya di leher Zio. Setidaknya, itulah hal yang sering ia saksikan di film-film romantis yang pernah ditontonnya. Tidak buruk bukan? Ternyata ada faedahnya juga ia sering menonton drakor dan film bucin-bucinan, sehingga tak terlalu memalukan disaat seperti ini. CK!
Secara perlahan, Airish mulai mengikuti apa yang Zio lakukan terhadapnya. Zio meng ulum bibir bawah Airish dan gadis itupun melakukan hal yang sama terhadap Zio. Tak lama, Zio justru menggigit kecil bibir sang istri, membuat Airish ternganga sekaligus terkejut diwaktu bersamaan.
Sepersekian detik berikutnya, Zio menelu supkan lidah kedalam mulut Airish, mengabsen rongga dan kehangatan milik perempuan yang sudah menjadi istrinya itu.
"Emmhh ...." Airish bergumam dalam has rat, mencoba membalas perlakuan Zio dengan lidah mereka yang kini tertaut dan saling berdansa.
Airish terengah-engah saat ciuman itu terlepas, ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Sementara Zio sibuk mengelap bibir Airish yang basah karena ulahnya.
"Boleh juga dalam tahap uji coba," kata Zio sambil tersenyum tipis. Airish tertawa sambil kembali menyembunyikan wajahnya didalam selimut. Tentu gadis itu merasa malu akibat kejadian barusan.
"Kamu belum jawab pernyataan saya tadi."
"Pernyataan? Yang mana?" tanya Airish masih dalam balutan selimut yang menutupi area wajahnya. Airish lupa dan tidak ingat pernyataan apa yang Zio maksudkan karena akibat sesi ciuman tadi pikirannya mendadak blank.
__ADS_1
"Pernyataan saya yang bilang, mencintai kamu, Sayang." Zio menarik pelan selimut yang menutupi Airish, kemudian langsung menatap kedalam netra bening milik istrinya yang kini langsung bisa bersitatap dengannya.
"Aku juga cinta kamu," jawab Airish sangat pelan.
"Apa?" tanya Zio berlagak tak mendengar.
Airish memukul pelan lengan Zio kemudian membuang pandangan ke arah lain karena dia masih grogi ditatapi Zio seperti saat ini.
"Ya udah, sekarang kita istirahat ya." Zio mengusap pelan puncak kepala Airish.
"Tidur, maksudnya?"
"Iya, apalagi?" Zio malah balik bertanya.
"Aku pikir....." Airish menyatukan telunjuknya satu sama lain seolah hal itu mengisyaratkan sesuatu.
"Udah jangan kebanyakan mikir. Tadi katanya kamu capek, kan?"
"Iya, sih.... tapi kita kan udah sah jadi suami istri sekarang, masa cuma ciuman doang terus tidur. Biasanya kan...." Airish segera membekap mulutnya sendiri yang hampir keterusan berbicara. Sikap polosnya justru kadang berbahaya dan mempermalukan dirinya sendiri. Duh!
"Biasanya apa?" tanya Zio terkekeh pelan.
"Eng--enggak," sanggah Airish.
"Memangnya kamu mau sekarang?" tanya Zio to the point dan berhasil membuat mata Airish membola karenanya.
"Eh, bu--bukan gitu!" Airish kembali gugup.
Benarkan, ini semua karena ucapannya sendiri yang suka sekali memancing-mancing Zio.
Hah, kenapa sih harus berlagak nantangin begini? Memangnya aku punya keahlian apa dalam hal m a l a m p e r t a m a ? Cuma modal nonton film roman aja udah sok-sok-an, Rish! Zio juga gak bodoh, dia pasti paham maksud aku meski ucapanku tadi ngegantung! Begitulah batin Airish merutuki diri sendiri.
"Saya gak akan maksa kamu, Sayang. Kita jalani semuanya pelan-pelan. Gak harus sekarang juga. Kita sama-sama mendekatkan diri dulu satu sama lain dan biarin semuanya ngalir sesuai naluri kita nantinya."
Syukurnya jawaban Zio terdengar amat memahami. Airish merasa sangat beruntung mendapati pemuda itu yang sudah menjadi suaminya sekarang.
"Makasih, aku sayang banget sama kamu," akui Airish didepan Zio, membuat Zio mendekap gadis itu kedalam pelukannya yang hangat.
"Saya lebih sayang kamu." Zio mengecup dahi Airish sekilas. "Sekarang, kamu pejamin mata, terus tidur biar besok lebih fresh. Pasti beberapa hari ini kamu udah capek dan sibuk banget sama perencanaan pernikahan kita dan juga ngurusin kuliah kamu," sambungnya.
Airish mengangguk dari posisinya yang kini bersandar di dada bidang Zio, tak berapa lama ia langsung tertidur pulas karena memang terbawa suasana nyaman dalam dekapan sang suami.
Sementara itu, Zio tersenyum senang. Melihat Airish berada disisinya, tertidur dalam pelukannya--seperti saat ini, adalah sebuah mimpi lama yang telah menjadi kenyataan. Demi apapun, Zio tak mau menuntut apapun lagi dalam hidupnya.
Karena kini, ia merasa semuanya nyaris sempurna, setelah ia mendapat jawaban dari Sang Pencipta-- bahwa, gadis yang saat ini tengah meringkuk disisinya adalah benar tulang rusuknya yang sempat hilang.
******
__ADS_1