
Kembali ke tenda, Bu Siska mengambil kotak obat, ia ingin mencari dan mengobati Aarav sebelum kegiatan hari ini yang akan dimulai pada pukul 8 pagi.
Bu Siska kembali ke tempat dimana tadi Aarav pergi, ia mencari sosok sang murid disekitar tempat itu dan tampaklah sosok Aarav yang duduk dibawah sebuah pohon rindang.
"Aarav..." Bu Siska memanggil Aarav sambil memperlihatkan kotak obat yang dibawanya.
Aarav diam dengan pikirannya yang semarut, ia memikirkan bagaimana bisa Bu Siska masih bertahan dengan Rexi yang tukang main tangan. Sejauh apapun Aarav berpikir, ia tak menemukan jawaban kenapa Bu Siska tetap menerima lelaki itu.
"Sini saya obati..." Bu Siska mulai mengoleskan obat di dekat rahang Aarav yang tampak mulai membengkak.
"Kenapa Ibu masih bertahan dengannya?" tanya Aarav.
"Kami sudah putus, itulah kenapa dia marah sekali tadi," jawab Bu Siska jujur. Ia tidak tahu kenapa harus menjelaskan masalah pribadi pada siswanya sendiri, mungkin karena Aarav telah banyak menolongnya.
"Benarkah?" Aarav semringah mendengar hal ini.
Bu Siska mengangguk sembari terus mengolesi salep di dekat rahang tegas milik Aarav.
"Kenapa kamu harus membantu saya lagi, Aarav? Ini bukan urusan kamu. Lihat, kamu jadi bonyok seperti ini. Rexi juga bukan lawan yang sepadan dengan kamu," kata Bu Siska dengan nada khawatir.
"Tidak sepadan? Ibu meremehkan aku karena aku masih bocah?"
Bu Siska tertawa pelan. "Kamu merasa kalau diri kamu masih bocah?" Ia justru balik bertanya pada Aarav.
"Menurut ibu?"
"Menurut saya kamu lebih dewasa daripada bocah."
"Kalau begitu, apa ibu gak menganggapku bocah?"
Bu Siska menggeleng. "Pemikiran kamu terkadang lebih dewasa daripada Rexi."
Aarav tersenyum kecil.
"Sudah siap," kata Bu Siska merujuk pada pengobatan lebam diwajah Aarav.
"Terima kasih, Bu."
"Sama - sama, Aarav."
"Bu?"
"Ya?" Bu Siska menoleh pada Aarav.
"Apa aku boleh menganggap Ibu bukan hanya sebagai guruku?"
__ADS_1
"Maksud kamu?"
"Aku... aku kagum sama Bu Siska, aku ingin menganggap Bu Siska layaknya seperti seorang gadis yang aku sukai, apa boleh?"
Mata Bu Siska membola mendengar penuturan Aarav. "Kamu jangan main-main, Aarav!" katanya.
"Aku serius, Bu! Tapi, mungkin Ibu yang tidak akan pernah melirikku, karena aku hanya anak SMA yang tidak selevel dengan Ibu, aku masih bocah dalam pemikiran Ibu," kata Aarav tersenyum tipis.
Bu Siska membalas senyuman Aarav dengan senyuman kikuk. Tidak ada sepatah katapun lagi yang keluar dari bibir Bu Siska setelah Aarav dengan berani mengungkapkan rasa kepadanya.
Bu Siska pun beranjak dari tempat itu seelah merasa siap dengan tugasnya yaitu mengobati lebam diwajah Aarav.
______
Zio dijemput oleh sang Ayah pukul 9 pagi. Setelah berbincang dan menjelaskan kronologi kejadian pada Ken (Ayah Zio), para pembina pun mengizinkan cowok itu untuk ikut pulang meninggalkan area perkemahan.
Airish menatap nanar kepergian Zio, rasanya ia belum mengucapkan kalimat apapun sebelum Zio pulang, dan ia merasa bersalah, entah kenapa.
Seharusnya, Airish mengucapkan sepatah dua patah kata pada cowok itu, meski ia bingung mau mengucapkan apa, tapi setidaknya mereka sempat berbicara sebelum Zio benar-benar meninggalkan tempat ini.
Menyesal, sudah pasti itu yang Airish rasakan sekarang. Entahlah, rasanya ada yang kurang sejak Zio pulang. Rasanya Airish ingin ikut bersama cowok itu, melihatnya diobati atau setidaknya memberinya dukungan.
"Nape lu? Galau karena yayangnya pulang!" ejek Aarav yang melihat Airish tampak uring-uringan tak jelas.
"Udah pasti dong, Kak! Lihat aja jadi gak bersemangat!" kata Abrine menimpali.
"Kalian tuh gak ngerti! Aku begini karena aku gak bakalan ada yang jagain lagi!" keluh Airish.
Mendengar itu, Aarav jadi menyadari juga hal itu saat Zio telah pergi, bukankah Aarav menitipkan Airish pada Zio? Jika begini, siapa yang menjaga Airish saat mereka tidak berada dalam satu tim?
"Kamu nyadar juga kalu si culun yang selalu jagain kamu!" goda Aarav akhirnya.
"Dasar kakak! Zio itu gak culun! Dia kayak gitu supaya orang seperti kakak gak ngerasa tersaingi!" kata Airish kesal.
Aarav terkekeh, begitupun Abrine.
"Jadi sekarang udah berani terang-terangan bela si culun, dek?" pekik Aarav pada Airish yang sudah berlalu pergi.
Kegiatan berkemah hari ini berlangsung aman dan terkendali. Hari ini mereka hanya melakukan aktifitas berkeliling seputar hutan dipandu oleh beberapa guru pembina, mereka melihat biota hutan yang masih cukup terjaga dihutan itu, kemudian melihat sungai yang mengalir. Terakhir, mereka menanam bibit-bibit pohon disekitar tanah hutan yang kosong.
Sepanjang hari Airish merasa kehilangan sosok Zio, disinilah ia baru menyadari jika kehadiran Zio sangat berarti untuk dirinya. Biasanya akan selalu ada Zio didekatnya, mengintili kemanapun ia pergi, tapi sekarang ia sadar bahwa Zio tidak ada dan mungkin saat ini tengah menahan sakit karena insiden yang sempat terjadi kemarin.
"Kangen Zio, lo?" tanya Mishel sambil terkikik melihat tingkah Airish.
"Hmmmm," gumam Airish.
__ADS_1
"Serius lo?"
Airish mengangguk.
"Wah, calon-calon bakal bucin nih anak! Kemakan omongan lo sendiri tuh!" cibir Mishel.
"Emang gue pernah ngomong apa?" tanya Airish berlagak lupa jika ia sering mencemooh Zio.
"Lo bilang dia culun, selalu buat lo risih, sekarang ngerasa kan lo kalau gak ada Zio!" Mishel terkekeh diujung kalimat.
Airish pun mengangguk mengiyakan. Memang ia tak bisa memungkiri, ketidakhadiran Zio sekarang membuatnya berpikir tentang perlakuannya selama ini pada cowok itu. Ia tidak benci, sama seperti yang ia katakan pada Zio. Namun, jika dikatakan bahwa ia telah suka pada sosok Zio, sepertinya tidak juga. Entahlah...
"Lo gak sadar sih, Rish! Gue aja udah duga kalo lo sama Zio itu bakal ada sesuatu!"
"Kenapa gitu ngomong lo?"
"Ya lo nyadar dong! Bahasa lo ke dia aja beda sama ke anak-anak yang lain. Pake aku-kamu gitu, ngomongnya! Enggak nyadar kan, lo?"
"Eh, iya bener juga sih!" gumam Airish memang baru menyadari.
"Ya itu! Zio juga gitu ke kita-kita. Giliran sama lo aja ngomongnya pake aku-kamu... oh, co... cwitttt," kelakar Mishel sambil menyudahi kegiatan menanam pohonnya yang memang telah selesai.
_____
Malam pun menjelang, ini adalah malam kedua para Siswa menginap didalam tenda. Besok, pagi-pagi sekali mereka akan meninggalkan area bumi perkemahan.
Airish tidak sabar untuk segera pulang. Selain karena tulang-tulangnya lelah dan terasa hampir lepas dari persendian, ia juga tidak sabar untuk menjenguk dan mengunjungi Zio, walau bagaimana pun Airish ingin melihat kondisi cowok itu nanti.
Sampai suara riuh diluar tenda membuat angan-angan Airish buyar seketika. Airish membangunkan Abrine disebelahnya yang sudah tertidur nyenyak sedari setengah jam yang lalu.
"Kak, bangun! Itu diluar ada apa? Kok pada teriak-teriak!" kata Airish menggoyangkan lengan Abrine.
Abrine membuka mata, feelingnya tidak enak seketika. Ia menatap Airish, adiknya itupun memancarkan wajah yang pias. Insting dalam diri Abrine memang paling kuat diantara mereka bertiga sebagai saudara kembar. Naluri dan ikatan batinnya serasa campur aduk sekarang.
"Ayo kita keluar, Kak! Perasaan aku gak enak!" ucap Airish yang ternyata sepemikiran dengan Abrine.
"Ya, sebentar... aku ngumpulin nyawa dulu," gumam Abrine berusaha menyadari keadaan sepenuhnya.
Begitu mereka berdua keluar tenda, semua terdengar menyebut-nyebut nama Aarav.
"Airish... Abrine!" sapa Mishel yang berada tak jauh dari tenda mereka.
"Ada apa?" tanya Abrine kebingungan.
"Aarav! Katanya Aarav dipukuli!"
__ADS_1
*****