PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
68 - Villa


__ADS_3

Raya hanya mengangguk sebagai jawaban untuk Nev.


"Apakah kamu bahagia menikah denganku?" tanya Nev menangkup kedua pipi Raya.


"Iya, Nev ... aku sangat bahagia, semoga kebahagiaan ini bisa ku rasakan selamanya." Raya menggenggam jemari Nev yang masih berada disisi wajahnya.


"Aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia, Sayang." Nev mengecup pucuk kepala sang istri dengan penuh kasih sayang.


Kemudian keheningan malam mengantar mereka pada lelap.


Keesokan paginya, Raya mengajak Nev berenang di kolam renang privat yang ada di villa. Sebelum aktif berenang, mereka menyempatkan diri untuk sarapan terlebih dahulu.



Ini adalah renang pertama Nev setelah sembuh dari kelumpuhannya dan dia cukup nervous, walau Raya sudah memintanya untuk pemanasan ringan lebih dulu, tapi tetap saja Nev merasa tidak percaya diri.


Beberapa kali Raya meyakinkan Nev untuk mencoba masuk ke dalam air, tapi Nev masih enggan, Nev berpikir kakinya akan kram saat berenang. Bayang-bayang kakinya yang tidak bisa bergerak didalam air tiba-tiba menghantui pikirannya.


Ketakutan mengalami kelumpuhan lagi, itulah yang Nev rasakan. Apabila itu terjadi, siapa yang akan menjaga Raya? Nev tidak mau ketergantungan lagi dengan kursi roda.


"Nev, ayo... kenapa melamun?" suara Raya membuyarkan pikiran Nev.


"Aku tidak bisa," jawab Nev sembari memasang senyuman nyengir. Dia melihat Raya yang sudah berada didalam kolam renang sembari mendongak untuk menatapnya yang berdiri di bibir kolam.


"Ada apa, Nev?" tanya Raya membaca sikap aneh Nev yang mendadak tidak antusias, padahal diawal Raya mengajaknya berenang tadi, Nev baik-baik saja.


"Aku merasa gugup, apa kakiku akan kram di dalam air?" tanya Nev pelan.


"Astaga, Nev... tadi kan sudah peregangan," kata Raya meyakinkan.


Nev diam tak bergeming, dengan pikirannya yang entah kemana.


"Ya sudah, aku belajar berenang sendirian saja," kata Raya singkat.


"Belajar?" Nev mengernyitkan dahi.


"Huum ..." Raya mengangguk sambil mengulumm senyuman.


"Memangnya kamu belum bisa berenang?" Nev bingung, kenapa Raya mengajaknya berenang jika tidak bisa berenang.


"Ya belum, makanya mau diajarin sama kamu," jawab Raya enteng.


"Tapi, tapi ... aku---"


Raya tak menghiraukan alasan Nev lagi, sebenarnya Raya tahu bahwa Nev nervous masuk ke kolam renang, dia bisa menilai gerak-gerik Nev yang tampak ragu itu. Raya pun segera menuju ke tengah-tengah kolam, sementara Nev menjeriti namanya beberapa kali.


"Aku bisa, Nev..." pekik Raya percaya diri dari tengah kolam.


Nev menyugar rambutnya frustrasi, kenapa Raya nekat ke tengah kolam yang dalam jika dia belum handal dalam hal renang? Tidak, tidak, bukan belum handal, melainkan tadi Raya mengatakan jika dia belum bisa berenang. Hah!


"Sayang, jangan terlalu ke ujung, disana lebih dalam," teriak Nev yang melihat Raya semakin berjalan menjauh.

__ADS_1


Nev memperhatikan Raya dari pinggiran kolam dengan rasa yang serba salah, khawatir dan gelisah melihat sikap nekat istrinya itu.


"Raya ..."


Nev masih bisa melihat Raya yang melambaikan tangan padanya sampai saat tiba-tiba kolam renang itu senyap, hanya ada gelembung air yang sesekali naik ke permukaan.


Perasaan Nev mulai tidak enak. Dia beberapa kali memanggil nama Raya.


"Raya ..."


"Sayang !!!" teriak Nev lagi. Namun sepersekian detik berikutnya, Nev menyadari jika Raya tidak muncul lagi ke permukaan kolam.


Dengan perasaan kalut, Nev segera melompat dan masuk kedalam air, dia berenang begitu saja sampai ujung kolam. Dan dengan cepat mencari keberadaan Raya didalam dasar kolam renang yang memiliki kedalaman maksimal.


Nev menemukan tubuh Raya dan segera mengangkatnya ke permukaan air, semua terjadi begitu cepat karena Nev begitu takut sesuatu yang buruk terjadi.


"Sayang." Nev mengangkat tubuh Raya ke bibir kolam, membaringkan istrinya itu disana.


Nev menyibakkan rambut basah Raya yang banyak menutupi wajah. Kemudian, Nev menepuk pelan pipi Raya dengan perasaan khawatir.


Perasaan Nev sudah tidak karuan, dia merasa saat ini perlu memberi pertolongan pertama untuk istrinya, memberi Raya semacam nafas buatan.


Saat Nev semakin membungkukkan badan untuk mendekatkan diri ke wajah Raya, saat itu pula Raya meledakkan tawanya.


Nev terbengong beberapa detik, sampai akhirnya dia sadar bahwa Raya tengah mengerjainya.


"Bercandamu keterlaluan, Sayang..." kata Nev tak bisa menutupi kemarahannya.


Raya beringsut dari posisinya, mengejar Nev yang ingin menuju pintu Villa.


"Maaf," kata Raya memeluk tubuh Nev dari belakang. Sebenarnya Raya tidak berniat mengerjai Nev dengan keterlauan begitu, niat Raya adalah agar Nev menghilangkan pikiran negatifnya dan kembali percaya diri untuk masuk ke dalam kolam renang.


Nev menghela nafas panjang sembari melihat kearah kedua tangan istrinya yang telah melingkar erat di perutnya.


Nev segera berbalik badan, memegang kedua pundak Raya lalu menatapnya lekat.


"Jangan seperti ini lagi, apa kamu tahu betapa kalutnya aku? Aku, aku sangat takut tadi..." aku Nev, lalu dia memeluk tubuh Raya dengan erat.


"Maaf, maafkan aku," jawab Raya didalam pelukan Nev, dia merasa terharu dengan sikap Nev dan dia merasa Nev benar-benar takut kehilangannya. Raya merasa sangat dicintai oleh Nev dan rasanya dia begitu bahagia, dia menyesal mengerjai Nev seperti ini.


Nev melerai pelukannya dan menangkup kedua pipi Raya. "Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Nev dengan suara yang melembut.


"Aku hanya ingin kamu kembali percaya diri untuk berenang," jawab Raya jujur.


Saat itulah Nev menyadari jika tadi dia melompat begitu saja, ketika menyangka hal buruk telah terjadi pada Raya. Ya ampun...


Nev tersenyum kecil, akhirnya dia memaklumi sikap Raya, walau dia tak suka dengan cara Raya itu.


"Baiklah, sekarang kamu mau berenang lagi atau tidak?" tanya Nev.


Raya mengangguk dengan memasang puppy eyes nya, membuat Nev gemas dengan wajah cute istrinya itu.

__ADS_1


Nev pun kembali membawa Raya berenang dikolam renang, akhirnya mereka berenang bersama-sama. Nev melupakan ketakutannya berkat Raya, tapi Nev tetap tidak suka dengan kejadian sebelumnya tadi.


"Sayang, walaupun berkat kamu aku jadi tidak takut berenang lagi. Tapi setelah ini kamu harus menerima hukuman karena sudah mengerjai suamimu ini," kata Nev dengan senyum jahilnya.


"Hu-hukuman?" Raya menatap Nev yang kini berada di dalam kolam renang, disampingnya.


"Iya, kamu harus dihukum," ucap Nev penuh maksud.


"Apa hukumannya? Apa aku harus menjadi supir kamu? Atau menjadi tour guide selama di Bali?" kekeh Raya diujung kalimatnya.


Nev menggeleng, "bukan itu," jawabnya mengulumm senyuman.


Raya memicingkan mata, menyelidik ke arah mana pembicaraan perkara hukuman ini.


"Jangan bilang kalau kamu----" Raya tak melanjutkan kalimatnya karena Nev sudah berbisik ditelinganya, membuat matanya membola.


"Se-semalaman?" Raya melotot. "Nev, yang benar saja harus semalaman!" protes Raya sembari memanyunkan bibir.


"Terima saja hukumanmu, Nyonya.." kata Nev mengerlingkan matanya nakal.


Raya memberengut, kemudian beringsut meluncur dan berenang dengan santainya ke arah berlawanan, menjauhi suaminya yang selalu me sum.


Nev menyadari sesuatu saat Raya tak berada disampingnya lagi.


"Sayang, kamu membohongiku, ya? Katanya gak bisa berenang?" pekik Nev pada Raya yang tiba-tiba sudah sampai ujung kolam renang.


Raya terkekeh diujung sana, "Aku bahkan pernah memenangkan lomba renang dan menyelam, wekk..." pekik Raya dan menjulurkan lidahnya, terang-terangan mengejek Nev.


Nev terkekeh dari posisinya, kemudian dia tersenyum penuh arti.


"Karena kamu membohongiku, hukumannya bertambah menjadi dua malam berturut-turut," pekik Nev dengan tenangnya.


Mendengar itu mata Raya menjadi kembali melotot sempurna. Pasalnya kan, dia yang mengerjai Nev, kenapa sekarang Nev membalasnya dengan lebih kejam?


"Aku tidak mau," pekik Raya lagi.


Dan saat itu juga Nev berenang menuju ke arah dimana istrinya berada. Setelah sampai di tempat Raya, Nev sengaja menggendong tubuh Raya dibelakang punggungnya, membuat Raya otomatis melingkarkan tangannya ke leher Nev dari belakang.


"Nev, turunkan aku..." kata Raya saat Nev justru membawanya beranjak dari kolam renang, kemudian berjalan menuju kamar mereka yang ada di Villa.


"Nev, mau kemana?" tanya Raya yang berada diatas punggung Nev, Raya menyadari Nev yang terus membawanya berjalan masuk, bahkan lantai Villa menjadi basah karena memang mereka baru saja keluar dari kolam renang tanpa mengeringkan tubuh lebih dulu.


"Hukumannya dimulai dari sekarang," kata Nev cuek dengan senyum smirk nya.


"Tidak mau, ini masih pagi," protes Raya.


"Ya terserah aku lah, kan aku yang memberi hukuman." jawab Nev dengan entengnya.


"Tapi ... tapi ..."


"Hari ini, kita nggak usah kemana-mana, kita di Villa saja seharian." kata Nev lagi dan Raya hanya bisa melongo mendengar ucapan suaminya itu.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2