
Sore harinya, Raya memastikan Nev berada di kamar mandi. Dengan rasa penasarannya yang akut, akhirnya Raya memberanikan diri untuk memeriksa ponsel sang suami.
Demi menuntaskan keingintahuannya, Raya bertindak seperti maling yang mencari tahu info lewat benda pipih itu. Raya yakin, jika Nev menyembunyikan sesuatu darinya pasti ada jejaknya, salah satunya dari ponsel pria itu.
Karena selama ini Nev selalu terbuka padanya dan Raya tahu jika password ponsel Nev adalah tanggal pernikahan mereka, maka tak sulit bagi Raya untuk membuka ponsel Nev itu dengan satu langkah mudahnya.
Raya mencari-cari info disana sembari sesekali mengamati pintu kamar mandi yang tertutup, dia takut juga jika Nev memergokinya tengah memeriksa ponsel sang suami secara diam-diam.
Raya membuka aplikasi pesan, panggilan, hingga ke sosial media Nev dengan terburu-buru, tapi tak menemukan apapun disana.
Raya tak putus arang, mencari lagi jejak yang mungkin mencurigakan. Dan...
Deg...
Sepertinya Raya mulai menemukan sesuatu yang aneh, bukan di aplikasi pesan tapi di gallery ponsel suaminya.
Jika kalian menebak itu adalah foto Nev bersama wanita lain, jawabannya adalah salah.
Itu adalah sebuah screenshoot bukti transfer pengiriman dana dari rekening pribadi Nev ke sebuah rekening lain yang bernamakan Wenda Risa. Sebuah nama wanita yang terdengar cantik.
"Wenda Risa? Siapa dia? Kenapa Nev mengirimkan dana besar ke rekeningnya? Apa ini rekan bisnis Nev? Seharusnya jika rekan bisnis, dana yang keluar dari rekening perusahaan, kan... bukan dari rekening pribadi milik Nev seperti ini!" gumam Raya penuh prasangka.
Bertepatan dengan itu, terdengar suara Nev yang mendadak hadir. "Sayang..." kata Nev sembari keluar dari kamar mandi.
Itu cukup membuat Raya terkejut. Raya pun segera meletakkan ponsel Nev ke atas nakas dengan perasaan gugup. Dia merasa seperti pencuri yang baru saja tertangkap basahh oleh sang empunya.
"Kamu pakai ponsel aku? Mau nelpon?" tanya Nev santai.
Karena sudah terlanjur ketahuan, Raya tak mau menutupi apapun lagi. Nev harus jujur kepadanya dan mengatakan apa yang sebenarnya dia tutupi.
"Aku cek ponsel kamu," jawab Raya jujur.
Nev terkekeh. "Oh..." katanya santai.
"Aku nemuin sesuatu yang aneh," ujar Raya lagi.
Nev berjalan ke arah walk in closet dan tak mendapati baju gantinya disana, Nev yakin jika sekarang Raya dalam mode ke-kepo-an-nya sampai lupa menyiapkan baju untuknya. Nev memaklumi hal itu dan mencoba bersikap biasa.
Raya mengikuti Nev sampai diruangan itu, dia pun menuntut Nev untuk mendengar serta menjawab semua pertanyaan yang akan diajukannya.
"Kamu nemuin hal aneh apa di ponselku, Sayang?" tanya Nev sembari memilih bajunya sendiri yang tersusun rapi diruangan itu.
"Siapa Wenda Risa, Nev?" tanya Raya dengan wajah menahan amarah.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
__ADS_1
"Siapa Wenda Risa, Nev?" Nev tahu jika belakangan ini Raya terlihat sensi-tif sekali, apa yang dilakukannya selalu salah dan lagi Raya selalu penuh curiga terhadapnya. Padahal ia merasa tak melakukan kesalahan apapun pada Raya.
Sebenarnya kenapa sih dengan istrinya ini?
Kenapa Raya mengatakannya cuek? Raya juga mengatakan jika ia tengah memberi jarak pada keduanya? Ya memang ia sibuk akhir-akhir ini, tapi rasa-rasanya ia tak menghindar dari Raya, sikapnya biasa saja. Mungkin Raya merasa begitu karena ia sering lelah, itupun murni karena pekerjaan yang memadat.
Belum lagi Raya selalu mengait-ngaitkan hal ini dengan 'keturunan' padahal ia sama sekali tak masalah dengan hal itu. Bukankah ia sudah mengatakannya berulang kali pada Raya?
Ia berusaha untuk sabar, tapi pertanyaan Raya kali ini benar-benar membuatnya ingin tergelak, karena ia menjadi tahu jika Raya mencurigainya sampai se-detail itu untuk mencari sebuah informasi.
Ia cukup kecewa karena Raya mengetahui dengan cepat tentang hal ini. Seharusnya Raya belum mengetahui dulu mengenai hal ini, tapi karena sudah terlanjur, ia pun berniat untuk jujur saja pada istrinya itu.
Belum lagi mulutnya mengatakan sepatah kata, Raya sudah menyemburnya dengan kalimat yang memojokkan.
"Kamu mengirimkan dana besar ke rekening pribadi wanita bernama Wenda Risa! Kamu ada hubungan dengan wanita itu, Nev?"
Sabar Nev, sabar...
"Sayang, denger aku dulu..."
"Apa Nev? Ini buktinya. Kamu mau jawab apa? Bilang kalau dia rekan bisnis kamu? Kalau dia rekan bisnis kamu seharusnya kamu gak ngirim dana dari rekening pribadi, Nev. Ini yang buat kamu terima telepon secara sembunyi-sembunyi kan?" Raya mendengkus kesal.
Ia pun menghela nafas panjang.
"Aku gak kenal sama wanita bernama Wenda itu, Sayang.." akunya jujur dengan suara terendah.
Ia pun menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Menghadapi kemarahan wanita harus dengan akal sehat dan kepala yang dingin. Saat ini Raya pasti tengah dikuasai api cemburu dan ia cukup menyukai itu, ia suka Raya bersikap begini sejak dulu, saat Raya masih mencemburui Luisa atau tadi pagi saat mencurigai Viona.
"Ayo kita duduk dulu," ia mencoba mengajak Raya duduk di sofa, tetap berusaha menjaga kesabaran.
Ternyata Raya justru tak mau disentuh olehnya dan membuatnya menghela nafas panjang untuk yang kesekian kalinya.
Mereka pun duduk bersisian di sofa.
"Ayo jelaskan!" tuntut Raya tak sabar.
"Sebenarnya aku membeli sebuah bangunan dari seorang developer tanah," jawabnya jujur.
Raya menoleh padanya dan tampak mengernyit.
"Aku tidak tahu yang bernama Wenda itu yang mana, yang jelas pembelian itu diwakilkan oleh anaknya dan Pengacara beliau, mereka juga menitipkan nomor rekeningnya, agar aku mengirimkan dana pembelian tanah dan bangunan itu ke nomor itu."
"Kamu mau buat kantor baru?" tebak Raya dan ia menggeleng.
"Bukan buat aku, tapi buat kamu."
__ADS_1
"Hah?"
"Kan waktu di London kamu pernah minta jawaban aku mengenai profesi apa yang cocok untuk kamu. Lalu aku berjanji akan memberikan jawaban terbaik mengenai hal ini. Jadi..."
"Jadi?"
"Jadi, inilah jawaban terbaik dariku. Aku mau membuatkan kamu kantor untuk mewujudkan profesi kamu sebagai Arsitek. Karena dipikiran aku hanya itu pekerjaan yang cocok untuk kamu dan sesuai bidang kamu." Ia mengusap pelan lengan Raya yang tampak mulai tercengang akan kata-katanya barusan.
"Kamu dengar aku tidak?" tanyanya pada Raya.
"Nev...." hanya itu yang keluar dari bibir istrinya, padahal sebelumnya begitu banyak kosa-kata yang Raya lontarkan kepadanya. Kenapa sekarang tidak bisa berkata-kata lagi? Hm....
"Niat aku sih mau ngasih kejutan buat kamu, pas ulang tahun kamu nanti. Tapi kamu selalu curigain aku. Ketahuan banget ya bohongnya jadi dicurigain..."
Raya masih diam mencerna kata-katanya.
"Bangunan itu lagi di renov sih, makanya tiap pagi aku sempatin cek kesana dulu sebelum ke kantor. Hari ini gak sempat kesana karena kamu maunya ditemenin seharian, tadi juga terima telepon dari kepala tukang disana... aku gak mau kamu tahu dulu jadi terima teleponnya selalu menghindar," ucapnya terkekeh mengingat Raya yang mendadak manja.
"Nev, aku sampai curiga sama kamu..." lirih Raya berkaca-kaca.
"Gak apa-apa, Sayang. Aku paham. Aku juga gak bisa menyimpan sesuatu terlalu lama dari kamu. Maafin aku ya..."
"Aku yang minta maaf, Nev... aku juga gak tahu kenapa aku bisa sens-itif sekali sekarang." Raya terisak dan mengibas-ngibaskan tangan ke arah wajahnya sendiri.
Ia merangkul tubuh Raya dan mengecup dahi wanita itu dari samping tubuh.
Cup!
"Sudah, kamu gak salah kok. Aku yang gak terbuka sama kamu. Tapi niatnya mau buat surprise sih makanya sengaja ditutup-tutupin."
"Nev, aku malu sama kamu..."
"Udah, udah... aku kan udah sering bilang, kamu gak pernah salah sama aku jadi jangan merasa seperti itu, ya..." ucapnya sembari mengelus rambut Raya.
Raya mengangguk dalam pelukannya.
"Ya udah, kapan kamu mau lihat bangunannya? Aku renov sedikit aja sih, nanti sisanya biar kamu aja yang desain sesuai keinginan kamu," ucapnya sungguh-sungguh dan Raya kembali mengangguk disertai isakannya yang semakin terdengar.
"Kamu lucu tau gak!" celotehnya melihat tingkah Raya itu.
"Aku malu Nev... rasanya aku gak punya muka lagi didepan kamu," sahut Raya didalam dekapannya.
"Makanya lain kali jangan berpikir yang enggak-enggak."
"Iya, gak tahu kenapa aku bisa sens-itif gini..sekali lagi aku minta maaf, Nev. Huhuhu," Raya menangis tersengguk-sengguk, mungkin malu menyadari kelakuan diri, entahlah.
__ADS_1
...Bersambung ......