PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
47 - Ada apa?


__ADS_3

Raya


Ia masih diam, mencerna semua keadaan yang terpampang nyata dihadapannya. Ia dan Reka dijodohkan oleh orangtua mereka?


Ini benar-benar diluar pemikirannya, ini terlalu cepat. Reka terlihat sudah tahu dan tak menolak, sementara ia masih membeku dalam kebisuan tanpa berani mengutarakan penolakannya.


Ia tahu, kelima orang dihadapannya sedang menunggu jawabannya, namun ia memang tidak memiliki kosa-kata sebagai bentuk penolakan.


Haruskah ia mengatakan jika Reka bukan tipenya? Itu tidak mungkin, itu akan menampar harga diri Reka, bukan?


Atau haruskah ia mengatakan bahwa ia telah mencintai orang lain?


Lalu, jika ia mengatakan hal itu, apa yang akan dijawabnya pada orangtuanya jika mereka menanyakan siapa pria yang ia cintai?


Tidak mungkin ia mengatakan bahwa pria itu adalah suami orang lain.


Maka, mengadahlah kepalanya untuk menatap sekilas wajah-wajah yang tengah menunggu keputusannya.


"Maaf, saya permisi ke toilet sebentar, ya ..." ucapnya dengan nada pelan dan sopan.


Semua orang yang menantikan jawabnnya harus menahan diri, paling tidak sampai ia kembali ke posisi duduknya setelah ia menuntaskan maksud di dalam toilet.


Ia menanyakan keberadaan toilet dan segera merangsek menuju kesana.


Didalam toilet, ia membekap wajahnya sendiri dengan telapak tangan. Menghela nafas berat berkali-kali, mencoba menentramkam perasaan yang mulai digelayuti kecamuk yang meresahkan.


Ia tidak mungkin menerima perjodohan ini, namun bagaimana caranya untuk menolak secara halus agar tiada yang tersinggung dan tersakiti akibat penolakannya?


"Berpikir, Raya... kamu harus berpikir," batinnya terus menerus memaksa untuknya menolak keadaan, tapi sekarang otaknya benar-benar buntu, tak tahu harus mengatakan kalimat apa sebagai kata penolakan.


Dilain sisi, pikirannya yang kalut justru membuat logikanya mendominasi, seakan bertanya pada dirinya sendiri tentang, kenapa ia harus menolak perjodohan ini? Reka pria yang baik dan menarik. Tidak ada alasan untuknya menolak Reka. Apa yang sebenarnya diharapkannya? Nev? Oh tidak, kenyataannya Nev adalah suami Feli. Haruskah ia berharap pada Nev sekarang?


Meskipun ia mengakui bahwa ia mencintai pria itu, tapi ia tak bisa menyangkal bahwa status Nev tetaplah pria beristri. Dan ia tidak bisa dan tidak boleh mengharapkan pria itu, bukan?


Tapi hatinya merasa tidak sanggup jika harus menjalani perjodohan dengan Reka, entah kenapa!


Setelah mengembuskan nafas panjang, dicucinya tangan di wastafel dan meninggalkan area toilet untuk kembali bergabung bersama yang lainnya.


Tapi, langkahnya harus terhenti kala melihat Tante Elyani yang seperti tengah menunggunya disudut ruangan.


"Tante..." sapanya pada wanita yang terus menyunggingkan senyum itu.


"Raya, bisa kita bicara sebentar..." kata Tante El.


Ia mengangguk dan mereka berdiri berhadap-hadapan, Tante El memegang pundaknya kemudian berujar dengan lembut.


"Maaf jika keputusan kami membuat kamu terkejut,"


"Tante hanya ingin yang terbaik untuk Reka. Tante merasa kamu adalah gadis yang baik, walaupun kita belum pernah bertemu sebelumnya tapi Tante banyak mendengar tentang kamu, baik dari suami Tante maupun dari Reka."


Ia hanya bisa menunduk sembari meremass jemarinya sendiri,

__ADS_1


"Raya, terimalah perjodohan ini, mungkin saat ini kamu belum mencintai Reka. Tapi seiring berjalannya waktu, kalian pasti akan memiliki perasaan itu, kalian sangat cocok." kata Tante El meneruskan kalimat.


Ia tidak bisa berkata apapun, lidahnya terasa kelu. Tapi entah kenapa hatinya menjerit, seolah meminta pertolongan pada pria itu--pria yang telah memenuhi hatinya, meminta agar pria itu menyelamatkannya saat situasi sulit seperti ini.


"Sekarang Tante bertanya sama kamu, apa ada yang kurang dari Reka? Siapa tahu kedepannya Reka bisa memperbaiki itu untuk kamu," Tante El menggenggam tangannya dengan tatapan yang penuh harap.


Ia menggeleng, sebagai penyataan bahwa Reka memang tidaklah memiliki kekurangan apapun, Reka bahkan sangat perpectionis, nyaris sempurna tanpa celah. Tapi kenapa ia tidak menaruh perhatian lebih pada Reka, justru hatinya menginginkan pria lain, yang memiliki kekurangan seperti, dia ...


Tiba-tiba Tante Elyani telah membawanya kembali ke ruang keluarga tempat berkumpulnya semua orang yang tengah menunggu ia kembali dari toilet.


Ia kembali duduk diposisinya yang semula, diapit oleh Mama dan Papanya sendiri, dihadapannya ada kedua orangtua Reka dan lelaki yang dijodohkan dengannya itu duduk di sisi kiri sang Ayah.


"Bagaimana?" kini suara Om Damar yang lebih dulu mendominasi, pertanyaan itu tentu saja menjurus pada jawabannya tentang perjodohan ini.


"Beri Raya waktu untuk menjawab ini, Pa ..." itu adalah suara sahutan dari Reka.


Disaat seperti ini, kepalanya justru dipenuhi oleh logika, bahwa ia tak seharusnya mengharapkan dia, dia yang telah dimiliki oleh wanita lain.


Mungkin dengan perjodohan ini, ia akan segera melupakan Nev, mungkin ini adalah cara untuknya agar terlepas dari perasaan yang membelenggunya.


"Raya--Raya menerima perjodohan ini, Ma, Pa..." jawabnya nyaris berbisik.


Mungkin keputusannya adalah salah, tapi selain ia tak bisa keluar dari situasi ini, ia juga ingin melupakan Nev dengan segera karena lagi-lagi ia mengingat status pria itu. Terlihat jahat saat ia justru menyerahkan diri dan menjadikan Reka sebagai pelampiasan demi melupakan Nev, tapi ia benar-benar tidak memiliki pilihan lain karena tak mampu memberi ulasan penolakan.


Bersamaan dengan jawabannya tadi, terdengar helaan nafas lega dari semua orang yang berada disana, kemudian semua terlihat menyunggingkan senyuman yang merekah.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Sabtu ini, adalah kali ketiga Raya tampil di Cafe Niken, setelah minggu lalu sempat mengisi acara dua hari berturut-turut dihari Sabtu dan Minggunya.


Raya tidak menceritakan perihal perjodohannya pada Niken, jadi Niken tidak mengetahui hal ini.


Niken memintanya cepat bersiap karena teman-teman lain sudah siap dengan alat musik masing-masing.


Menjelang malam, cafe itu menjadi sangat ramai dan pengunjung berdatangan silih berganti.


Niken bilang, cafenya sangat sering dijadikan tempat untuk nongkrong kalangan menengah keatas, mulai dari untuk makan, meeting juga sering di booking untuk acara privat seperti pesta.


Raya sudah selesai berlatih singkat dengan para personil Band yang memegang alat musik lain.


Raya memainkan gitar akustiknya dan mencocokkan nada dengan alat musik lain serta dengan suaranya sendiri.


Kini gilirannya yang akan tampil, karena sebelumnya ada Band lain yang ikut mengisi Event akhir pekan.


Raya naik ke panggung, kemudian duduk disebuah kursi yang memang disediakan untuk konsep bernyanyinya.


Raya menyanyikan satu lagu milik Drive, Bersama Bintang dengan sangat apik.


Saat Raya menyanyikan lagu itu, semua mata tertuju pada sang Vokalis yang cantik dan memiliki suara khas yang unik.


Selesai dengan lagu itu, sesuai dengan perjanjiannya dengan Niken bahwa setiap aksi manggung harus menyanyikan minimal tiga buah lagu, akhirnya Raya memiliki ide untuk menyapa para pengunjung cafe.

__ADS_1


Raya memberi kesempatan pada para pengunjung untuk me-request lagu dan akan dia nyanyikan kembali dengan apik.


Satu memo didapatkan Raya, dan membuatnya tersenyum karena lagu yang di request adalah salah satu lagu favoritnya juga.


Raya mulai memetik senar gitarnya kembali, lagu ini seperti ungkapan hatinya yang tidak tersampaikan.


D'cinnamons- Selamanya Cinta.


๐ŸŽถAndaikan ku dapat, mengungkapkan.. perasaanku, hingga membuat kau percaya ...


Akan ku berikan, seutuhnya, rasa cintaku ...


Rasa cinta yang tulus dari dasar lubuk hatiku ...


Tuhan, jalinkanlah cinta ...


Bersama... Selamanya ...๐ŸŽถ


Lagu itu Raya nyanyikan dengan penuh penghayatan dan perasaan.


Tapi, belum selesai dia menuntaskan lagu itu, tangannya telah ditarik oleh seseorang, dia tidak menyadari keadaan tiba-tiba itu karena terlalu menghayati lagu tadi.


Seseorang itu menarik tangan Raya dan langsung membawanya turun dari atas panggung secara paksa, nyaris serentak dengan suara sorakan dari pengunjung lain yang terdengar menderu telinga Raya.


Raya gelagapan dan belum menyadari siapa yang menerobos naik ke atas panggung, menarik tangannya, kemudian menuntunnya berjalan menuju ke arah berlawanan dari arah pintu masuk cafe.


Tiba-tiba Raya menyadari bahwa yang menarik tangannya adalah seorang pria dengan tubuh menjulang-- yang kini berjalan cepat didepannya sambil terus membawanya dengan sikap tergesa-gesa.


Apa maksudnya?


Raya ingin marah dan berteriak, namun saat langkah mereka terhenti tepat dipojok ruangan-- yang Raya tak tahu ini adalah ruangan apa, tiba-tiba pria itu membalik badan dan menatapnya.


Raya terdiam menyadari siapa pria itu, pria bermata cokelat dengan tatapan setajam elang tengah menatapnya lekat. Pria itupun sama, terdiam, seolah sadar dengan sesuatu-- yang entah apa.


Mereka sama-sama tidak melepaskan pandangan satu sama lain, sampai akhirnya Raya yang lebih dulu sadar bahwa itu adalah Nev.


"Tuan, Anda--Anda sudah bisa berjalan?" tanya Raya ngos-ngosan dengan wajah yang terkejut.


Nev diam dan tidak menjawab. Matanya tetap fokus pada Raya, dia takut saat dia berkedip justru Raya juga hilang dari pandangannya.


"Tuan, sejak kapan Tuan bisa berjalan?" Raya kembali mengeluarkan isi pikirannya yang bertanya-tanya, dia bahkan baru sadar itu adalah Nev karena dia tidak pernah melihat Nev berdiri.


"Sejak sekarang," jawab Nev datar namun tetap fokus pada wanita dihadapannya.


Raya cukup takjub dengan jawaban Nev itu. Sekarang dia menyadari posisinya yang berada dihadapan Nev, ternyata saat Nev berdiri, tinggi tubuhnya hanya sebatas dada pria itu.


"Tuan, ada apa?" tanya Raya tak mengerti dengan sikap Nev ini.


"Berhenti memanggilku Tuan!" senggak Nev sedikit marah.


"Tapi,--"

__ADS_1


"Kamu bukan pengasuhku lagi, Raya." katanya melanjutkan.


...Bersambung ......


__ADS_2