
Setelah kembali dekat dengan Airish selama di Jerman, tanpa sadar justru membuat Zio punya kebiasaan baru. Ia selalu merasa ada yang kurang jika tidak mendengar suara gadis itu sehari saja.
Di sela-sela kesibukannya, ia selalu menyempatkan diri untuk menghubungi sang gadis. Kemarin, dia menelepon Airish namun yang menerima panggilannya justru Bianca. Meski sempat berniat menelepon kembali, nyatanya ia sudah harus kembali mengurus pekerjaannya. Jarak dan waktu juga cukup menjadi kendala keduanya untuk menjalin komunikasi.
Perbedaan waktu antara Jerman dan Indonesia adalah 6 jam, jadi mereka berdua harus pandai-pandai mengatur waktu jika ingin panggilan itu tersambung.
Disaat Zio baru pulang bekerja, kenyataannya di Jerman sana Airish sudah akan beranjak tidur. Terkadang Zio tak tega mengganggu waktu istirahat gadis itu. Atau justru sebaliknya, disaat Airish ingin menghubungi Zio di jam senggangnya, disitupula pemuda itu sedang sibuk-sibuknya.
Beginilah resikonya jika LDR beda negara dengan perbedaan waktu yang lumayan jauh. Seringnya bentrok waktu dan bertolak belakang. Tapi mereka berdua selalu menyempatkan untuk tetap mengirim pesan, meski pesan itu jarang langsung terbalas.
Disinilah Zio tahu sebuah definisi tentang kerinduan.
Rindu itu bukan cuma dibatasi oleh waktu. Bukan pula hanya karena terhalang jarak. Tapi, rindu adalah suatu perasaan menggebu yang hanya bisa diredakan oleh sebuah pertemuan.
[Aku kangen sama kamu, Zi ....]
Pesan yang baru saja dibacanya, membuatnya menipiskan bibir. Bukan cuma Airish, ia juga teramat sangat merindukan gadisnya. Ingin rasanya mengikis dan membunuh jarah diantara mereka tapi ia selalu menjaga dan menghargai keputusan Airish mengenai rencana pernikahan mereka.
Ia menilik pada pesan tersebut, sudah lebih dari dua jam yang lalu Airish mengiriminya pesan itu dan baru sekarang ia sempat membacanya. Ia baru saja selesai meeting karena ini masih terbilang jam bekerja untuknya namun ia paham, di jam inilah Airish sedang dalam kesenggangan.
"Pak Zi, sehabis makan siang kita ada pertemuan dengan Bu Cantika, di Hits cafe."
Jordy, asistennya memberinya info tentang kesibukan yang harus ia lakukan selanjutnya.
Ia menghela nafas panjang.
"Siapa dia? Saya lupa," kata Zio terus terang. Ia masih menatap pesan Airish yang sudah dibacanya namun belum ia balas.
"Bu Cantika, entrepreneur muda yang merger dengan Wins corp."
Wins corp. adalah anak perusahaan dari perusahaan utama milik mendiang kakeknya. Kebetulan Wins corp baru saja dibuka dan diresmikan olehnya beberapa bulan ini. Wins corp juga sebagai bentuk nyata dari pencapaiannya selama ini-- yang akhirnya bisa mendirikan sebuah perusahaan sendiri-- meski itu masih dibawah naungan perusahaan kakek yang sudah mendulang keberhasilan lebih dulu.
"Oh...." Ia hanya membentuk mulut menjadi huruf O besar.
"Kamu saja yang temui dia, bisa?"
Jordy mengernyit, mungkin menangkap hal aneh darinya karena tak biasanya ia melempar pekerjaan seperti ini. Terlebih perusahaan ini akan merger dan mungkin akan menarik investasi baru untuk kepentingan Wins corp yang baru saja diresmikan.
"Tapi, pak. Apa itu tidak akan jadi masalah? Wins corp masih baru, jadi apa tidak sebaiknya kita meninggalkan kesan baik dengan bapak yabg bertemu langsung?"
Jawaban Jordy ada benarnya, tapi ia terlalu merindukan Airish dan ingin menghubungi gadis itu sekarang juga lewat sambungan panggilan video.
Kembali, ia menghela nafas dalam.
"Ya sudah, sekarang saya mau makan siang dulu. Pertemuannya sehabis makan siang, kan?"
"Iya. Pak."
"Oke."
__ADS_1
"Bapak mau dipesankan makanan atau mau makan di luar?"
"Pesan makanan kesini aja."
"Siap, pak."
Setelah memberitahukan pesanannya, Jordy keluar dari dalam ruangannya. Ia menatap pada ponselnya yang kembali terasa ber-vibrasi.
[Kenapa pesan aku cuma di baca doang? 😢]
Ah, gadisnya ini membuatnya gamang seketika. Ia pun segera menekan panggilan video ke nomor Airish.
Panggilan itu langsung di jawab di dering yang pertama. Wajah sendu Airish muncul disana. Ah, betapa berat menjalani hubungan jarak jauh seperti ini. Rasanya ia tidak kuat lagi. Bukankah selama ini ia sudah terlalu lama menunggu--agar mereka berdua berada di umur yang cukup dewasa untuk bisa menyandang status baru? Jelas sekarang adalah masa-masa dimana ia ingin semua waktu penantiannya terbayarkan dengan menikahi sang gadis.
"Kenapa?"
Pertanyaan Airish berhasil menyadarkannya dari lamunan sesaat.
"Gak papa, saya rindu berat sama kamu," akuinya.
Tampak disana wajah Airish bersemu merah. Ingin rasanya menyentuh pipi gadisnya dan mengelus rona itu sampai wajah Airish tak berhenti menunjukkan ekspresi yang sama. Sayangnya, belum bisa. Damned.
"Jadi kenapa pesan dari aku cuma dibaca doang?" Airish tampak memberengut diseberang sana.
"Tadi mau langsung nelpon aja, rupanya Jordy masuk ke ruangan dan ngomongin kerjaan. Dia ganggu banget, kan?"
"Kamu udah makan siang?"
Zio menggeleng pelan.
"Kenapa?"
"Liat wajah kamu udah kenyang."
"Gombal banget tuh!"
Mereka berdua jadi terkikik geli bersamaan.
"Kamu rindu saya kan?"
Airish mengangguk.
"Kamu rindu saya, saya juga rindu kamu. Kenapa sih kamu gak iyain aja kita nikah secepatnya?"
Airish diam sesaat kemudian menjawab pertanyaannya.
"Kuliah aku? Gimana?"
"Pindah aja ke Indonesia." Ia menjawab dengan entengnya.
__ADS_1
______
Sebenarnya, Airish ingin menjawab pertanyaan Zio dengan jawaban iya. Ada perasaan menyesal kenapa tak sejak awal ia mengiyakan saja permintaan pemuda itu untuk segera menikah. Selain karena rindu yang menggerogoti jiwa. Ia juga menjadi bimbang setelah mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari seorang komposer di agensi yang menaungi Bianca.
Ia belum membahas hal itu pada Zio, tapi hal itu cukup mempengaruhi komitmennya yang ingin menikah setelah lulus kuliah saja. Untuk orangtuanya, sebenarnya Papa dan Mamanya tak mempermasalahkan kapan ia akan menikah.
Umurnya juga sudah 21 tahun. Memang masih sangat muda. Tapi, sebagaimana kakaknya Aarav yang juga telah menikah dan melihat bagaimana perlakuan Papa yang sangat mempercayai Zio, tak bisa dipungkiri jika kedua orangtuanya mendukung apapun keputusannya.
"Kamu ada masalah?" Suara Zio kembali terdengar, ia mengulas senyum dan menggeleng pelan.
Tak terbersit sedikitpun keinginan untuk mengatakan pada Zio mengenai pengalaman tak mengenakkannya tempo hari. Karena sedikit banyak ia tak mau membebani pikiran lelakinya.
"Rish, saya mau kita tidak terhalang jarak dan waktu lagi. Kalaupun saya harus menetap di Jerman untuk beberapa saat sambil menunggu kamu menyelesaikan kuliah disana, saya gak apa-apa.
"... selama kamu mau menikah dengan saya, maka saya akan menghibahkan tanggung jawab saya disini sepenuhnya pada Jordy meski itu nanti akan sedikit rumit dan mungkin akan mendatangkan masalah baru. Gak apa-apa, saya rela. Yang penting kita bisa sama-sama, hmm?"
Ujaran Zio benar-benar membuatnya speechless, pasalnya Zio rela melakukan apapun asal mendengar satu jawaban dari mulutnya. 'iya'.
Belum lagi Zio yang juga menyadari jika nanti akan mendapatkan masalah baru karena keputusannya itu. Ia jadi kembali terpikir insiden kemarin. Kalau ia menikah, setidaknya ada yang akan menjaganya dan statusnya sebagai istri Zio paling tidak bisa membuat orang yang ingin mengganggunya berpikir dua kali.
"Yaudah, aku mau."
Satu jawaban dari mulutnya berhasil memunculkan raut semringah dari ekspresi Zio diseberang sana.
"Kamu mau?"
Ia mengangguk.
"Serius?" Zio tampak salah tingkah dengan menggaruk kepalanya sendiri.
"Iya, kapan kamu datang kesini sama bunda dan papi kamu?"
"Oke, saya bakal atur schedule dulu nanti saya akan kabarin kamu secepatnya." Zio tampak sangat bahagia bahkan tampak mengepalkan tangan keatas seperti baru saja berhasil mendapat pencapaian yang paling tinggi.
Samar-samar Airish mendengar Zio bergumam. Yes yes yes, membuat Airish ikut tertawa karenanya.
"Ehm, ya udah sekarang saya makan dulu. Pesanan makanan saya sudah datang. Kamu juga jaga kesehatan dan jangan lupa makan, ya."
"Iya, Zi..."
"Oke, Sayang! Ups... keceplosan." Zio menyengir dari seberang sana.
"Kamu, ih..." wajahnya memanas mendengar panggilan Zio untuknya.
"Hehehe, nanti saya telepon kamu lagi ya. Bye calon istri...."
Ia mengulumm senyum. "Bye calon suami aku...." Ia segera memutuskan panggilan karena terlalu malu sudah menyahuti ucapan Zio dengan nada manja.
******
__ADS_1