PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
41 - Melamar pekerjaan baru


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan like ya ๐Ÿ™


Happy Reading๐Ÿ’ž


___________


Raya


Sejak ia memutuskan menuruti perintah Nenek Nev agar berhenti dari pekerjaannya sebagai pengasuh pria itu, sejak itu pula ia menyadari bahwa ada yang hilang secara paksa dikehidupannya.


Ia bisa memaklumi kekhawatiran Nenek tentang keberadaannya dirumah itu. Tapi, tetap saja rasanya sulit untuk mengikhlaskan semuanya.


Seharusnya semua tidak akan sulit apabila ia tak pernah merasa punya keterikatan sendiri dengan pekerjaannya dirumah itu.


Kenapa ia harus merasa terikat dengan pekerjaannya?


Kenapa ia harus merasa terikat dengan rumah itu?


Atau bukan pekerjaan dan rumah itulah yang membuatnya merasa terikat, melainkan karena ada suatu perasaan yang membelenggunya-- sehingga ia sulit melangkahkan kaki untuk keluar dari pekerjaan dan kediaman pria itu.


Ia masih ingat jelas saat Nenek mengatakan bahwa semua ini demi menyelamatkan rumah tangga Nev dan Feli yang sudah diujung tanduk.


Nenek juga sempat mengatakan bahwa keberadaannya dirumah itu akan mengusik kebersamaan sepasang suami istri itu.


Benarkah?


Ia memang tahu Feli dan Nev sering bertengkar, tapi yang ia yakini bahwa Nev juga sangat mencintai Feli seperti yang sempat dikatakan oleh Bi Asih, karena kedua orang itu tak kunjung berpisah meski kerap bersikap acuh satu sama lain.


Benarkah Nev menggugat Feli karena kehadirannya yang tiba-tiba?


Terlebih, Nenek juga berkata ingin menyelamatkan nama baiknya.


Apakah ia benar-benar adalah dalang dibalik kehancuran rumah tangga Nev dan Feli?


Kenapa setelah kehadirannya Nev baru mengajukan gugatan pada Feli?


Apa iya bahwa ia telah menjadi perusak dalam rumah tangga mereka?


Tidak...tentu ia ingin menyangkal, karena ia tak sedang menjalin hubungan khusus dengan Tuannya itu.


Tapi, pertanyaan Nenek sebelum ia meninggalkan teras malam itu, benar-benar tak bisa untuk dijawabnya.


"Raya, apa kamu memiliki perasaan lebih pada Nev?" tanya Nenek pada saat itu.


Ia tak menjawab secara gamblang, tapi batinnya terus berbisik untuk mengatakan pada dirinya sendiri bahwa, ya, ia memang memiliki perasaan berlebih pada pria itu.


Perasaan yang sulit ia artikan dan perasaan itulah yang mungkin membuatnya terikat, serta enggan meninggalkan rumah itu begitu saja.


Ia menyadari kekeliruannya karena telah memiliki perasaan lebih terhadap Nev, sehingga mau tak mau ia pun mengikuti saran Nenek untuk segera pergi karena semua ini memang salah dan harus dihentikan.


Pernikahan Nev dan Feli harus segera diselamatkan, karena mereka saling mencintai.


Begitu pula dengannya, ia harus segera angkat kaki jika tak ingin menjadi orang ketiga diantara mereka.


Tapi, yang paling membuatnya berat hati adalah ... ia juga harus cepat menyingkirkan perasaan ini.


Hah, bisa-bisanya ia memiliki perasaan seperti ini pada Nev?


Ia harus segera menyenyahkannya jika tak ingin merasakan sakit hati yang berlarut-larut, apalagi jika Nev dan Feli kembali menjalin hubungan pernikahan yang baik nanti.


Feli pasti salah sangka, mengira ia dan Nev memiliki hubungan.


Atau mungkin, naluri sebagai seorang istri yang dimiliki Feli, bisa membaca bahwa ia memiliki perasaan pada Nev?


Bisa saja! Feli salah sangka, padahal Nev jelas-jelas sangat mencintai istrinya itu, kan?

__ADS_1


"Mama perhatikan kamu banyak melamun, Nak?" Suara Mama membuat semua yang tengah ia pikirkan buyar seketika.


Ia segera menyusut airmata dan segera menyeka sisanya yang tergenang di pipi.


Ia menoleh manatap Mama.


"Raya gak melamun, kok, Ma." kilahnya.


Mama memiringkan kepala untuk menatapnya yang tertunduk.


"Apa pekerjaan lamamu benar-benar nyaman? Kenapa terus bersedih seperti itu?" Mama membelai rambutnya yang tergerai dengan lembut


Ia sempat mengatakan pada Mama bahwa ia mengundurkan diri dari pekerjaan lamanya karena pekerjaannya sangat berat dan tak menjelaskan detailnya.


Mama yang tak pernah tahu pekerjaannya sebagai seorang pengasuh pun hanya bisa menyemangatinya saja, karena yang Mama tahu ia bekerja di perusahaan suami Feli.


Tapi, mungkin Mama penasaran kenapa beberapa hari ini ia tampak bersedih. Dan ia pun tak tahu harus menjawab apa pada sang Mama.


"Masih banyak pekerjaan lain, hmm..." bujuk Mama membelai pipinya, ia hanya bisa mengangguk berulang tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun karena dapat dipastikan jika ia bersuara maka airmatanya akan tumpah lagi.


Selama seminggu ini, ia dan Mama hidup dari uang yang sempat diberikan Nenek Nev padanya saat terakhir ia berada dirumah itu.


Ia tak mungkin mengandalkan uang itu terus, karena uangnya pun sudah hampir habis. Kemarin, ia pun sempat mengganti setengah uang Reka yang sempat dijadikan Dp untuk pembayaran rumah kontrakan yang sekarang ia dan Mamanya tempati.


Reka menolak uang itu dengan tegas, tapi ia juga tak mau menerima bantuan Reka secara cuma-cuma. Ia bukan tipe wanita yang memanfaatkan keadaan untuk mencari simpati oranglain dan Reka sudah cukup membantunya dengan menunjukkan rumah ini.


Maka, dengan paksaannya, Reka pun terpaksa menerima uang yang ia berikan, meskipun hutangnya pada Reka belum lunas sepenuhnya.


"Besok Raya cari kerja lagi, ya, Ma." ujarnya memaksakan bersuara, ia memeluk Mama dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita yang melahirkannya itu.


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


Pagi-pagi sekali, Raya sudah bersiap dengan penampilannya yang rapi. Hari ini ia akan melamar pekerjaan lagi ditempat lain, mungkin saja ada keberuntungan menantinya walaupun kemungkinan itu sangat nihil.


Persidangan Adrian kemarin, harus ditunda karena suatu kendala internal. Raya tahu bahwa berita itu juga sedang santer dibicarakan sekarang, jadi ia tak banyak berharap tentang lamaran kerjanya hari ini.


Tapi, satu yang Raya yakini bahwa ada doa Mama yang selalu menyertainya, sehingga semuanya pasti akan dimudahkan.


Raya pun berpamitan pada Mama untuk mencari peruntungannya hari ini.


Tetapi, sampai diteras rumah Raya sempat terpana karena kehadiran sebuah mobil yang baru saja tiba tepat dihadapannya.


"Selamat pagi, Raya." Reka tersenyum ramah pada Raya hingga wanita itu membalas hal yang sama.


"Pagi, ada keperluan? Mau ketemu Mama?" tanya Raya memastikan, karena mungkin ada titipan pesan dari Papa untuk Mamanya melalui Reka sang pengacara.


"Mau ketemu ... kamu, boleh?" ujar Reka nyengir.


Raya pun terkekeh pelan. "Ini sudah ketemu..." jawabnya.


"Iya, kamu mau kemana udah rapi?" tanya Reka yang entah sejak kapan sudah berbicara akrab dan non-formal pada Raya.


"Saya mau cari pekerjaan," jawab Raya.


Reka mengangguk sekilas. "Di firma hukum, mau, gak?" tanyanya sembari tersenyum tampan.


Raya menggeleng. "Apa bisa lulusan Arsitek masuk firma hukum? Kok kesannya gak nyambung," kekeh Raya diujung kalimatnya.


Reka pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku ... anterin, ya?" tawarnya.


"Kamu gak kerja memang?" tanya Raya serius.


"Kerja sih, tapi janji ketemu klien agak siangan. Masih sempat lah anterin kamu dulu," jawab Reka seadanya.


Raya tersenyum kecil. "Aku naik taxi aja," jawabnya menolak halus.

__ADS_1


Tiba-tiba Sahara keluar dan menyapa Reka dengan ramah.


"Pagi Reka..." sapa Sahara.


"Pagi, Bu." jawab Reka sembari tersenyum menampakkan lesung dipipinya.


Sahara menangkap niat baik Reka karena dia tak sengaja mendengar percakapan Raya dan Reka tadi. Dia berpikir kenapa Raya harus menolak tawaran Reka yang berniat baik.


"Reka sudah datang kesini, Raya. Gak ada salahnya kan dianterin Reka?" usul Sahara pada Raya.


"Tapi..."


"Yang penting Reka gak merasa repot, benar begitu kan, Reka?" timpal Sahara lagi mengarah pada Reka.


Reka mengangguki ucapan Sahara dan akhirnya mau tak mau Raya pun menaiki mobil Reka setelah menyalami tangan Mamanya.


"Kamu terlalu baik sama Saya," kata Raya tak enak hati.


Reka menatap Raya sekilas namun tetap fokus mengemudikan mobilnya yang sudah memasuki jalan kota.


"Jangan sungkan, Aku ikhlas membantu kamu dan keluarga kamu," kata Reka tulus.


"Terima kasih, saya banyak berhutang pada kamu walau sebenarnya saya tidak suka itu." jawab Raya pelan.


Reka hanya tersenyum sekilas. Dia ingin mengatakan pada Raya tentang kedatangan Bian kemarin sore ke kediamannya, namun dia urungkan karena dia tahu Raya memiliki masalah dipekerjaan lamanya itu.


Reka tak menampik bahwa pertemuannya dengan Nev yang hanya sekali saat dia menjemput Raya dikediaman pria itu, membuatnya sedikit berpikir bahwa Atasan Raya itu mungkin memiliki perhatian lebih terhadap Raya.


Reka seorang pria, dan dia tahu tatapan berbeda yang ditunjukkan Nev terhadap Raya.


Akhirnya, Reka memilih diam dan tak mau menanyakan tentang apa sebenarnya masalah Raya dengan pekerjaan lamanya itu, karena dia berpikir itu tidaklah penting.


Reka malas membahasnya, justru sekarang dia lebih tertarik karena Raya yang sudah mau melamar pekerjaan ditempat lain. Itu tandanya Raya mulai move-on dari pekerjaan lamanya, bukan?


"Kemana tujuan kamu?" tanya Reka menatap Raya sekilas.


Raya hanya menunjukkan sebuah alamat yang tertera di amplop cokelat yang dia bawa dan Reka membacanya sekilas.


"Oke," kata Reka sembari tersenyum.


"Bagaimana cara saya membalas kebaikan kamu, Reka?" tanya Raya sembari menoleh kearah jendela mobil.


Reka tersenyum mendengar itu.


"Aku tidak meminta kamu membalasnya." jawab Reka cepat.


"Mana bisa.." sanggah Raya, "Saya harus membalas kebaikan kamu dan membayar hutang saya. Saya tidak terbiasa memiliki hutang uang ataupun hutang budi pada oranglain," oceh Raya.


"Kamu yakin mau membalasnya?"


Raya mengangguk yakin.


"Kalau begitu, berhentilah bicara formal padaku." kata Reka semringah.


Raya terkekeh kecil. "Kenapa begitu?" tanyanya.


"Aku ingin kita lebih akrab, bukankah orangtua kita juga begitu?"


Mata Raya membola dan sesaat kemudian dia terbahak sembari membungkam mulutnya.


"Oke, kalau kamu memang mau begitu. Saya, emmm ... aku akan mengakrabkan diri denganmu." kata Raya.


"Good Girl..." Reka menjentikkan jari dengan semangat.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2