
"Ada apa, Rav?" Rahelsa memberanikan diri untuk membuka kata lebih dulu pada Aarav setelah acara pertunangan mereka selesai dilaksanakan.
"Hel, apa kamu yakin untuk menikah denganku?"
Rahelsa mengangguk cepat, sementara Aarav tersenyum miring.
"Kamu akan menyesal dengan keputusan ini, Hel..." ucap Aarav dingin.
"Kenapa kamu beranggapan seperti itu, Rav?" tanya Rahelsa pelan.
"Apa yang bisa kamu harapkan dari lelaki seperti aku? Aku gak bisa kasi kamu apapun." Aarav berkata sinis.
"Aku gak mengharap apapun."
"Lalu? Kenapa kamu menyetujui perjodohan ini?"
"Maaf Aarav, ini semua karena aku peduli dan sayang sama kamu."
Aarav tertawa pelan, merasa ucapan Rahelsa semacam omong kosong belaka.
"Batalkan pernikahan kita selagi masih ada waktu, aku tidak mau ada penyesalan nantinya," tandasnya seraya mendorong pelan kursi rodanya ke arah depan, meninggalkan Rahelsa yang terpaku sebab ucapan yang baru saja Aarav lontarkan.
Rahelsa semakin meyakini jika Aarav tidak memiliki rasa lebih kepadanya. Kalaupun Aarav menyayanginya, hanya sebatas menganggapnya seorang adik-- selayaknya Abrine dan Airish.
Dua hari setelah acara pertunangan itu, Rahelsa mulai menjalani aktifitasnya seperti dulu yaitu membantu menjaga Aarav di apartemen. Ia memberanikan diri lagi karena merasa Aarav sekarang bagian dari tanggung jawabnya--sejak mereka resmi bertunangan.
Begitu Rahelsa tiba didalam kamaar Aarav, cowok itu segera mengambil buku yang sejak tadi tidak dipedulikan, Aarav mencoba menyibukkan diri tanpa melirik pada Rahelsa sedikitpun.
"Aarav, kamu makan siang ya, setelah itu minum obat," kata Rahelsa lembut. Rupanya ia datang membawa nampan makan siang Aarav.
Aarav tidak menyahuti ucapan gadis itu, ia malah balik bertanya.
"Apa mama belum pulang dari Bandara?"
"Sepertinya belum, tadi aku hanya bertemu Abrine dan Airish didepan," jawab Rahelsa apa-adanya. Raya memang pergi mengantar Nev ke Bandara sebab Nev akan ke Indonesia karena perusahaannya tengah membutuhkan.
"Lalu, sekarang dimana Airish dan Abrine?"
"Mereka sudah pergi, katanya mau mendaftar di Universitas."
__ADS_1
"Apa kau tidak melakukan hal yang sama?"
Rahelsa menggeleng. "Aku sudah mendaftar dari online."
"Tidak ingin melihat-lihat area universitasnya?"
"Tidak perlu, aku sudah pernah berkunjung kesana sebelumnya."
"Apa karena ingin menjagaku?"
Rahelsa menggeleng lagi sembari tersenyum kecil. "Tidak, Aarav. Ayo, sekarang buka mulutmu... Aaaa..." Rahelsa mencoba menyuapi Aarav, namun cowok itu tidak mau membuka mulutnya.
"Kenapa?" tanya Rahelsa dengan raut sedih.
"Apa kau sudah memikirkan ucapanku tempo hari?"
"Mengenai pernikahan kita?" tebak Rahelsa dan Aarav menganggukinya.
"Aku sudah memikirkannya, aku tidak akan menyesal." Rahelsa berujar dengan percaya diri.
"Kenapa kau begitu yakin?"
Rahelsa menatap ke netra cokelat milik Aarav. "Karena aku sayang sama kamu, Rav!" jawabnya.
"Ayolah, aku akan memaksamu sampai kamu mau!"
"Pergilah," usir Aarav pelan.
"No! Aku akan menunggui kamu dan memastikan kamu meminum obatmu!" tegas Rahelsa.
Aarav berdecak. "Dasar keras kepala!" gerutunya.
Rahelsa kembali menyendokkan nasi dan mengulurkannya pada Aarav, mau tak mau cowok itu membuka mulutnya juga. Aarav makan dalam diam. Hening. Tidak ada yang buka suara diantara mereka, hingga Aarav menyelesaikan makan siangnya sampai tuntas.
"Aku menginginkan kamu membatalkan pernikahan kita!" ucap Aarav tiba-tiba, membuat kotak obat yang ingin diraih Rahelsa terjatuh begitu saja sebab mendengar pernyataan Aarav yang sangat menyakitkan itu.
"Ke-kenapa?" Rahelsa semakin merasa tersudut, ia merasa dirinyalah yang terlalu menggebu-gebu dengan pernikahan mereka sementara Aarav sendiri tidak tertarik.
"Aku melepaskanmu," kata Aarav lirih, tak berani menatap netra Rahelsa yang mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Apa kamu memutuskan hubungan pertunangan kita? Kenapa kamu memintaku untuk membatalkan pernikahan kita? Apa kamu sebegitu gak maunya menerima aku? Apa kamu cinta dengan orang lain? Jika ya, kenapa tidak kamu saja yang membatalkan hal ini didepan para orangtua kita!" Rahelsa berucap dengan penuh rasa sakit dihatinya.
Aarav menggeleng, entah apa arti gelengannya itu.
"Katakanlah pada orangtua kita, aku tidak bisa melakukannya."
"Kenapa? Kamu pengecut Aarav!" Rahelsa bangkit dari duduknya yang tadinya berada didepan kursi roda Aarav.
"Ya, aku memang pengecut. Terserah kamu mau menganggapku apa!" papar Aarav.
"Sejak sebelum kita bertunangan, aku sudah menanyakan kesiapanmu pada Tante Raya, tapi tante mengatakan kamu setuju. Lalu kenapa sikapmu jadi begini setelah kita resmi bertunangan? Apa penyesalanmu baru datang sekarang, Rav?" batin Rahelsa rasanya ingin menjerit mengetahui Aarav menolaknya mentah-mentah. Bukan perihal harga diri yang terasa diinjak-injak, melainkan karena kasih sayangnya pun tak diterima Aarav dengan baik, seolah Aarav meremehkan perasaannya yang tulus.
"Asal kamu tahu Aarav, apapun pendapat kamu terhadap perasaan aku, aku benar-benar tulus sayang sama kamu!" kata Rahelsa namun Aarav tetap tidak mau menatap pada gadis yang sudah menangis itu.
"Maaf," kata Aarav singkat.
"Kamu menginginkan gadis lain yang menjadi istrimu, ya?" tanya Rahelsa meski jika Aarav menjawab 'iya' maka perasaannya semakin sakit, namun ia ingin mendengar sendiri dari mulut Aarav.
"Pergilah, Els...."
Rahelsa terbelalak, 'Els' adalah panggilan sayang Aarav terhadapnya sejak ia kecil, sudah lama ia tak mendengar Aarav memanggilnya dengan sebutan itu. Ia yakin Aarav tak sengaja memanggilnya dengan sebutan itu lagi sekarang, jika Aarav benar-benar menginginkannya pergi tidak seharusnya Aarav salah berucap seperti ini.
"Aku akan pergi jika kamu mengatakan dengan jujur apa yang sebenarnya kamu inginkan!" ucap Rahelsa.
"Tidak ada yang aku inginkan selain batalnya pernikahan kita!" kata Aarav.
Rahelsa menggeleng, setelah mendengar Aarav memanggilnya dengan nama 'Els' ia menjadi memiliki pemikiran sendiri tentang apa yang diinginkan Aarav. Bukan. Tapi tentang apa yang Aarav sembunyikan darinya. Tentang perasaan lelaki itu.
"Aku... tidak akan membatalkan pernikahan kita! Apapun yang terjadi!" Rahelsa menghela nafas sejenak. "Jika memang itu yang paling kamu inginkan, kamu saja yang mengatakannya pada kedua orangtua kita masing-masing!" tegas Rahelsa penuh keyakinan.
****
Maaf ya novel ini up nya agak merangkak๐๐ป
Berhubung hp othor rusak dan belum sembuh2, jadi updatenya pake ponsel suami. Biasalah ya kalo minjem itu gak enak,๐คฃ๐คฃ๐
Ditambah lagi othor harus ngejar target tamat di novel 'Cinta Terbalut Nista' jadi novel ini agak dianak tirikan.
Tapi tenang aja, selesai lebaran insya Allah udah bisa fokus ke sini lagi...๐๐ป
__ADS_1
Novel ini sebenarnya ringan konflik. Cuma karena anak Nev ini ada tiga dengan masing2 kisahnya, jadi nanti othor bahas satu persatunya. mulai dari Aarav dulu ini,๐
Btw, yang belum mampir ke novel "Cinta terbalut Nista" boleh mampir ya, ceritanya menguras emosi jiwa tapi gak nguras kantong kok, *ehh... udah mau end juga lho๐๐ป project baru othor juga dimampirin yuk "Pesona Lelaki Simpanan" mudah-mudahan bisa menghibur dan ada pembelajaran yang bisa dipetik walau gak banyak yaaa๐ค๐ค๐ค