
Seperginya Reka, Nev duduk di pinggiran hospital bed yang menjadi pembaringan tubuh istrinya, lalu dia menatap Raya dengan tatapan khawatir.
"Maafin aku ..." lirih Raya, ia sadar jika keadaan ini justru menambah pikiran suaminya.
Nev menggeleng, "Aku yang minta maaf gak bisa jaga kamu. Seharusnya aku overprotect ke kamu," jawabnya menyesal.
Raya menatap Nev dengan sendu, kemudian Nev mengusap ujung kepala sang istri dengan penuh kasih sayang, untuk beberapa detik mereka saling memandang dan larut dalam suasana itu.
Sampai akhirnya, suara dering ponsel Raya memecahkan keheningan didalam ruang rawat tersebut.
Nev mengernyit heran saat melihat nama penelepon yang tengah menghubungi Raya.
"Pak Karno?" gumamnya sembari menatap Raya yang juga belum tahu siapa yang meneleponnya.
Nev baru ingat, seharusnya Raya pergi bersama supir, kan? Kenapa sekarang supirnya menelepon Raya?
Nev segera menggeser icon hijau di ponsel sang istri dan segera meletakkan ponsel di telinga untuk mendengar ucapan apa yang ingin disampaikan sang supir.
"Maaf, Nyonya ... saya menunggu di depan sampai rukonya tutup tapi Nyonya kok tidak ada? Ini sudah menjelang maghrib," kata Pak Karno dari seberang sana.
Nev yang mendengar itu sedikit mendengkus keras. Bagaimana bisa supirnya kehilangan jejak Raya seperti ini.
"Pak, ini aku. Raya sudah bersamaku. Pak Karno pulang saja sekarang," titah Nev tanpa meminta penjelasan, biarlah dia meminta penjelasan dari istrinya saja, tentang apa yang telah terjadi.
Nev memutus panggilanmya sebelah pihak, kemudian menatap Raya yang tampak dengan raut wajah cemas.
"Sayang, ini Pak Karno telepon. Gimana ceritanya kamu bisa pulang sama Reka dan Pak Karno masih menunggu kamu didepan ruko kelas kehamilan itu?" tanya Nev pelan.
Raya memejamkan matanya sejenak, kemudian dia mulai membuka suara.
"Tadi pas aku keluar, Pak Karno gak ada di mobil. Aku gak tahu beliau kemana. Aku menunggu di samping ruko dan ternyata ..." Raya menggantung kalimatnya, entah bagaimana dia mau menjelaskan pada Nev tentang kejadian yang menimpanya.
"Ternyata kenapa?" desak Nev penasaran.
"Tadi ada pria yang menghampiriku, dia memaksaku naik ke mobilnya. Aku melawannya dengan sedikit pukulan. Lalu aku kabur dari sana dan menyetop taxi sembarangan, aku gak tahu kalau taxi itu ternyata ditumpangi oleh Reka. Aku melupakan Pak Karno yang mungkin masih menungguiku disana." Raya menghela nafasnya, dia lega bisa menceritakan hal ini pada Nev.
Nev terperangah mendengar cerita dari istrinya. Dikepalanya dipenuhi pertanyaan dan dugaan tentang siapa pria itu.
"Kamu ingat wajah pria itu?"
Raya mengangguk. "Kalau bertemu lagi aku pasti mengingatnya," ujarnya.
__ADS_1
"Plat mobilnya?"
Raya menggeleng, "Aku gak sempat lihat," akunya.
"Aku akan minta Bian menyelidikinya," kata Nev akhirnya.
"Nev, apa kamu punya musuh?" tanya Raya menerka.
Nev tersenyum kecil. "Tidak ada, Sayang. Hanya saja aku kepikiran dengan seseorang," ucapnya.
"Siapa? Apa ini ada kaitannya dengan wanita bernama Luisa itu?" tanya Raya serius.
"Luisa? Tidak, Luisa tidak akan melakukan hal semacam ini," kata Nev penuh keyakinan.
"Kenapa tidak? Dia terobsesi sama kamu kan? Mungkin saja..." kata Raya.
Nev menggeleng, "Sudahlah, kamu gak usah memikirkan hal ini. Kamu banyak istirahat saja dan biar ini menjadi urusanku, oke?"
Akhirnya Raya mengangguk patuh, meski dibenaknya penuh dengan banyak pertanyaan. Kenapa Nev yakin jika bukan Luisa pelakunya? Padahal dikepala Raya hanya nama wanita itulah yang terlintas, apalagi kejadian ini terjadi setelah Luisa hadir di rumah tangga mereka kan?
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
Untuk seminggu ke depan, Raya akan dirawat di rumah sakit. Dia benar-benar harus bedrest dan tidak boleh banyak bergerak apalagi sampai kelelahan.
Akhirnya Nev meminta ART nya yang menemani dan menjagai Raya di Rumah Sakit. Sebenarnya Raya lebih senang jika Roro atau Nimas yang menemaninya karena dia merasa lebih akrab dengan mereka sejak masih menjadi pengasuh Nev dulu.
Akan tetapi, Nimas sudah tak bekerja di tempat Nev lagi, dia juga tengah sibuk dengan perencanaan pesta pernikahannya dan Jimmy, yang akan diadakan dua minggu lagi. Ya, mereka telah mendapat restu dari orangtua Nimas dikampung setelah proses lamaran waktu itu. Saat ini adalah masa-masa repotnya untuk menyiapkan segala sesuatu menjelang hari H.
Begitupun dengan Roro, wanita itu punya tanggung jawab besar dirumah Nev dan dia masih harus mengurusi kediaman Nev yang berantakan pasca renovasi.
Akhirnya, Yana-lah yang menemani Raya di Rumah Sakit, satu-satunya ART yang tidak terlalu akrab dari dulu dengan Raya.
"Terima kasih, Mbak Yana sudah mau menemani aku disini," kata Raya pada Yana dengan tulus.
Yana hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Bagaimana keadaan rumah?" tanya Raya mencoba berbasa-basi pada Yana yang tampak kaku.
"Semuanya baik-baik saja, Nyonya." jawab Yana pelan.
Raya tersenyum. "Mbak, berapa kali aku bilang, gak usah panggil aku Nyonya segala... rasanya gimana ya, risih dipanggil begitu sama kalian," katanya terus terang.
__ADS_1
"Ya gak bisa, kamu kan sudah jadi Nyonya kami sekarang," sahut Yana akhirnya.
"Iya, tapi tetap aja risih. Panggil nama aja kayak biasa."
Yana menggeleng keras.
"Mbak Yana pasti risih juga manggil aku dengan sebutan seperti itu. Aku masih Raya yang dulu kok, Mbak..." kata Raya.
"Iya, nasib kamu mujur banget... dari pengasuh, sekarang jadi Nyonya rumah," jawab Yana terkekeh.
"Nah, gitu kan enak, Mbak. Bicaranya jadi gak kaku lagi kan."
Mereka akhirnya tertawa dan melanjutkan pembicaraan dengan santai.
Yana membantu Raya membersihkan tubuh, menyuapi Raya makan dan mengurusi segala keperluan Raya selama di Rumah Sakit.
Jika hari menjelang sore, Nev akan langsung menemui istrinya di Rumah Sakit dan menginap disana, barulah keesokan paginya dia akan berangkat bekerja lagi.
Di hari keempat Raya dirawat, Raya semakin dekat dengan Yana. Pembicaraan mereka tidak kaku lagi dan seperti biasa ART itu akan menyuapi Raya makan siang yang kebetulan dibawanya dari rumah.
"Mbak, kok rasa makanannya agak aneh ya..." ucap Raya.
"Ah, masa' sih Ray..." sahut Yana tampak keheranan.
"Iya, Mbak..." sahut Raya yang lambat-laun mulai terpejam.
Yana melihat Raya yang tertidur. Dia sedikit bingung kenapa Raya tertidur saat tengah makan siang. Namun dia mengabaikan hal itu.
-
Raya mengerjapkan mata beberapa kali dan dia terbangun disebuah ruangan yang tampak asing baginya.
Alam bawah sadarnya mengatakan jika dia masih dirawat dirumah sakit seperti beberapa hari belakangan. Namun, entah kenapa dia justru merasa ada yang aneh, karena kali ini dia tak mencium aroma desinfektan seperti di ruang perawatan.
Raya benar-benar sudah tersadar dari tidurnya yang terasa amat lelap tadi. Tapi ...
"Aku dimana?" tanya Raya pada dirinya sendiri saat menyadari keberadaannya.
...Bersambung ......
Nanti disambung lagi yaπ
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan komentar yang berkesan βοΈπ
...Tekan Love, Like, Vote dan Hadiahπππ...