
Raya
"Raya, kalau saja aku yang jadi suami kamu, mungkin kejadian seperti ini gak akan terjadi. Kamu sadar tidak, jika yang terjadi sama kamu karena keteledoran suami kamu. Dari awal, dia memang gak bisa jaga kamu dan calon anaknya sendiri. Lihat saja waktu itu, kamu sampai berada dipinggir jalan sendirian. Dan sekarang, apa yang terjadi sama kamu? Ini tidak luput dari masa lalu suamimu yang belum tuntas, Raya!'" Reka berbisik disampingnya ketika pria itu hendak pulang beberapa saat lalu.
Entah kenapa ucapan Reka itu terus terngiang dipikirannya. Membuatnya jadi berpikir,
apa memang Nev tak bisa menjaganya dan calon anak mereka?
Tidak, ia tidak mau terdoktrin dengan perkataan Reka yang sumbang dan terasa berat sebelah itu.
Kejadian ini, siapapun tak akan ada yang menginginkannya, termasuk Nev sendiri.
Kenapa ucapan Reka harus menyudutkan suaminya seperti itu?
Karena Reka tidak tahu jika Nev sudah mengusahakan yang terbaik untuknya dan calon bayi mereka yang telah tiada.
Ah, kenapa mengingat hal itu membuatnya menjadi lesu kembali. Tuhan belum berkenan mempercayainya untuk menitipkan buah hati. Ya, itu benar adanya dan semua orang membujuknya agar 'ikhlas' menerima.
Ikhlas?
Ah, kenapa kata ikhlas terasa sangat mudah untuk diucapkan, namun terlalu sulit untuk dilakukan?
Apakah ia harus terus meratap dan menyalahkan diri sendiri seperti ini?
Atau justru ucapan Reka ada benarnya? Bahwa ini memang kesalahan Nev yang tidak over dalam menjaganya?
Ia menggeleng kuat, semua jalan hidupnya telah ada yang menentukan.
Tapi, sudut pikirannya yang lain seperti mengiyakan ucapan Reka yang terus terngiang. Sedikit banyak, apa yang Reka sampaikan ada benarnya.
Ini semua karena masa lalu Nev yang belum tuntas!
"Sayang ..." Tampak Nev keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Biasanya ia akan menyambut suaminya dengan senyum sukacita dan membantu pria itu mengeringkan rambut.
Tapi, entah kenapa saat ini ia tak berkenan melakukan hal itu, ia hanya melirik Nev sekilas lalu mengendikkan dagu sebagai isyarat 'apa yang kamu mau sekarang?'
Nev mendekat dan duduk dipinggiran ranjang, disampingnya. Perlakuan pria itu agak kaku dari kemarin. Entah karena Nev merasa bersalah padanya atau justru Nev jauh lebih ikhlas daripadanya saat ini.
"Kamu ... mau gak kalau kita pergi berlibur?" tanya Nev dengan tatapan sendu.
Menatap mata kecoklatan milik Nev, entah kenapa sekarang ia jadi merasa bersalah pada suaminya itu. Ia sempat terpengaruh dengan doktrin yang Reka berikan, walau itu hanya di pikirannya sendiri.
"Kemana?" tanyanya menatap Nev serius, ia tahu jika sekarang suaminya tengah mencoba menghiburnya.
"Kamu maunya kemana? Aku akan turuti permintaan kamu, hmm..." Nev mengusap pipinya dengan lembut dan gelenyar indah yang nyaman selalu hadir jika kulit mereka saling bersentuhan seperti ini.
Ia menggeleng lemah, kemudian perasaan bersalah kembali menghantam ulu hatinya yang mendadak nyeri.
__ADS_1
Haruskah ia menyalahkan Nev atas semua yang terjadi? Meski ini adalah perbuatan Feli yang notabene nya adalah mantan istri dari Nev, tapi sangat picik jika ia mengaitkan ini dengan suaminya itu, bukan?
Jika ada orang yang patut dipersalahkan atas insiden ini jelaslah itu Feli atau Roro, bukan Nev! Begitu bisik hati kecilnya.
"Aku gak punya tujuan, aku akan memikirkannya nanti," jawabnya sembari berbaring miring dan membelakangi tubuh Nev yang terduduk.
Ah, tindakannya ini bukan karena ia terpedaya ucapan Reka dan jadi ikut menyalahkan Nev, tapi justru sebaliknya, ia merasa dirinya amat picik karena sempat setuju dengan ulasan Reka-- tentang bersalahnya Nev atas insiden ini.
Ia mencoba memejamkan mata, namun sedetik kemudian ia merasa Nev bergerak dari sisi ranjang dan tak lama ...
Cup!
Nev mengecup dahinya sekilas, membuatnya meneteskan airmata untuk yang kesekian kalinya hari ini.
"Jangan tidur sesudah waktu ashar, itu tidak baik untuk kesehatan kamu," ucap suaminya lembut didekat telinganya.
Ia membuka mata, kemudian membalik badan seketika, sayangnya Nev telah lebih dulu masuk ke dalam ruang ganti, mungkin ingin mengenakan pakaiannya disana.
Ah, ia sampai lupa menyiapkan pakaian untuk sang suami. Ia terlalu larut dalam kesedihan hingga mengabaikan suaminya sendiri.
Ia segera beranjak dari tempat tidur, kemudian merangsek masuk kedalam walk in closet dan menemukan suaminya tengah memakai kaos disana.
"Nev ..." sapanya lirih dan sang suami menoleh kearahnya dengan senyuman kecil.
Sekali lagi ulu hatinya bagai dihantam bongkahan batu besar yang membuatnya terhenyak, ia merasa senyum Nev sangat dipaksakan dan penuh keputus-asa-an disana. Nev sama terlukanya dengan dirinya. Lalu bagaimana bisa ia menyalahkan Nev?
Tanpa pikir panjang, ia menubruk tubuh tegap suaminya lalu memeluk pria itu dengan sangat erat. Perasaan bersalah melingkupinya dan ia menangis di dada bidang pria yang telah menjadi suaminya itu.
Ia menggeleng berulang di dada Nev, tak ingin menunjukkan wajahnya yang sempat picik terhadap suami sendiri.
Senyum kecil Nev lah yang telah menyadarkannya.
Malu, sungguh ia begitu malu telah menyalahkan suaminya sendiri, bahkan Nev pun pasti merasa kehilangan akibat insiden ini. Ya, bukan dirinya saja yang merasa terpukul, suaminya pun sama, kenapa ia harus menyalahkan Nev lagi? Sudah cukup Nev merasa bersalah, tidak perlu ia persalahkan lagi, kan?
"Maafkan aku, Nev..."
"Kenapa kamu meminta maaf?"
"Gak ada, aku hanya ingin mengucapkannya." Ia begitu malu mengakui prasangkanya terhadap Nev.
Nev meraih pipinya, menangkup itu dan menatapnya dengan lekat. "Aku selalu memaafkan kamu, anything ... meskipun kamu belum mengucapkan kata maaf, karena bagiku, kamu gak pernah bersalah..." kata Nev penuh penekanan.
"Mana ada manusia yang gak pernah bersalah, Nev..." lirihnya tercekat.
Nev mengangkat bahunya. "Kata orang, wanita gak pernah salah kok," celetuk Nev sembari mencubit hidungnya gemas.
Ia terkekeh diantara airmatanya yang telah membasahi pipi. Terharu, kenapa pria ini bak jelmaan malaikat? Sedang ia hanya manusia biasa yang penuh praduga picik terhadap suaminya sendiri?
__ADS_1
"Kenapa kamu sebaik malaikat?" gumamnya, ia tak berniat mencetuskan kalimat itu, hanya saja ucapan itu keluar begitu saja dari bibirnya.
Nev yang mendengar hanya tersenyum kecil, senyum yang sama, yang meruntuhkan keegoisannya tadi.
"Kamu sendiri, kenapa kamu seperti bidadari?" tanya Nev seolah membalikkan kata-katanya.
Ia tertawa, "Apa menggombali wanita yang sudah jadi istri masih berlaku?" tanyanya.
Nev ikut tertawa. "Why not? Aku akan melakukannya setiap hari, asal istriku bisa tertawa riang," kata Nev sembari mengusap airmata dipipinya yang basah sedari tadi.
"Sekali lagi maafkan aku," ucapnya benar-benar merasa bersalah.
Nev mengangguk tanpa banyak pertanyaan, lalu menyatukan bibir mereka berdua.
Nev melepaskan tautan itu setelah ia sedikit tersengal pasrah.
"Sudah mau mengatakan apa yang kamu pikirkan? Kenapa tiba-tiba minta maaf padaku seperti ini?" tanya Nev setelah ciuman itu benar-benar berakhir.
Ia menggigit bibir, Nev selalu tahu kelemahannya dan langsung bertanya jika ia telah pasrah lalu takluk seperti ini.
"Jadi... aku memikirkan tentang..."
"Tentang?"
"Tentang ucapan Reka," akunya hati-hati.
Nev melipat tangan didada lalu menatapnya lekat. "Memangnya dia bilang apa sama kamu?" tanya Nev.
Ia menggeleng namun akhirnya berkata juga.
"Dia bilang, seandainya dia yang ada diposisi kamu dan jadi suamiku--"
"Apa?" Nada suara Nev naik seoktaf.
"Dengar dulu, aku belum selesai..."
"Ya, ya... lanjutkan. Apalagi yang dikatakan si tengik itu!" dengkus Nev.
Ia tersenyum kecil mendengar julukan baru untuk Reka, yang diberikan oleh Nev itu.
"Katanya, kalau dia yang jadi suamiku, pasti semua ini gak akan terjadi. Dia pasti bisa jaga aku," terangnya hati-hati dan tak mendetailkan ucapan Reka secara gamblang pada Nev.
Nev menghela nafas berat. "Jadi, dia masih berharap sama kamu?" Nev berdecak lidah.
Ia mengendikkan bahu, karena tak tahu harus menjawab apa pada Nev.
"Ah.. si tengik ini, sudah jelas-jelas kalah dariku, masih tidak malu mau mengibarkan bendera perang didepanku! Sekali-kali dia memang harus dikasi tahu gimana rasanya bogem matang dariku," gerutu Nev yang membuatnya terkekeh nyaring kemudian.
__ADS_1
...Bersambung......
...Jangan lupa like, komen, vote, favorit dan berikan hadiah♥️...