PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Hari Pernikahan


__ADS_3

...Happy Reading, Guys 💚...


...______...


Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Rahelsa sangat cantik mengenakan pakaian pengantinnya. Kiasan menjadi Ratu sehari tampaknya sangat cocok disematkan padanya saat ini, sebab penampilannya memang melebihi seorang Ratu kecantikan yang membuat semua mata hanya tertuju padanya.


Dari posisinya, Aarav menatap Rahelsa dengan tatapan teduh namun tidak berkedip.


"Nafas dong, Kak!" ejek Abrine yang berdiri disamping kursi roda Aarav.


"Kalo bisa lari udah ngacir kesana aku!" kekeh Aarav.


"Nah, gitu dong ketawa dikit biar rileks... gak tegang kayak patung selamat datang!" Airish yang berada disisi kiri, ikut menimpali.


Kedua gadis kembar itu mulai membawa Aarav ke meja akad, kemudian membantu sang kakak untuk duduk disana.


"Rileks, kak. Rileks! Jangan salah sebut nama, terus... yang paling penting, jangan lupa bernafas!" Lagi, Abrine yang jahil membisiki Aarav sebelum benar-benar meninggalkan posisi Aarav yang sudah duduk bersandingan dengan Rahelsa.


Kedua pengantin yang sudah duduk berdampingan itu saling melirik satu sama lain dengan degupan jantung yang serasa bersahut-sahutan, gugup.


Entah siapa yang melakukannya, tiba-tiba kepala Aarav dan Rahelsa sudah diselubungi oleh selembar kain tile tipis sebagai bentuk kesakralan acara.


Aarav menatap Jimmy yang sudah mengambil posisi dihadapannya dan mulai menjabat tangannya. Jujur saja, Aarav tak bisa menutupi rasa groginya, ia yakin jika sekarang calon mertuanya itu dapat merasakan hawa dingin serta getaran ditangannya.


Sedangkan Rahelsa, ia hanya bisa menunduk sembari membatin kan tentang ketakutan-ketakutan yang entah kenapa mulai menjalari pikirannya.


Apa Aarav akan salah mengucap akad?


Atau,


Jangan-jangan Aarav akan lupa mendadak ditengah-tengah ikrar suci itu?


Dan perasaan-perasaan semacam itu membuat Rahelsa menjadi semakin ketakutan, ia takut Aarav tidak fasih menyebutkan nama lahirnya.


Tidak...


Aarav pasti hafal luar kepala dan dia pasti sudah mempelajarinya.


Meskipun pikiran Rahelsa berkecamuk antara yakin dan tak yakin dengan ikrar yang akan Aarav nyatakan, tapi tetap saja Rahelsa menjadi kepikiran. Ia seperti terkena heart attact atau serangan jantung mendadak akibat perasaan gugup luar biasa yang dirasakannya saat ini.


Disaat Rahelsa baru ingin menetralkan detak jantungnya yang terasa bertalu-talu bagai genderang perang, ia harus kembali terkena shock syndrome, saat semua orang di ruangan itu menyerukan ucapan yang sama.


"Sah!"

__ADS_1


Dengan mata membola, Rahelsa menoleh pada seseorang yang berada disampingnya.


"My wife ...." ucap Aarav dengan sunggingan senyum hangat, membuat jantung Rahelsa nyaris lepas dari tempatnya, sebab suara Aarav yang menyebut kata itu seperti memberi getaran dahsyat tersendiri, hingga membuatnya ketar-ketir tak beralasan.


Rahelsa bahkan tak mendengar saat Aarav mengucapkan ikrar pernikahan.


Boleh diulangi lagi, agar ia mendengarnya? Sepertinya tidak, sebab sekarang ia dan Aarav telah resmi menjadi sepasang pengantin baru.


"Wifey..." kata Aarav lagi, dibarengi dengan uluran tangan ke arah Rahelsa agar gadis yang telah menjadi istrinya itu menyambutnya dengan takzim.


Belum selesai sampai disitu, keterkejutan Rahelsa semakin menjadi- jadi saat Aarav meraih sisi wajahnya kemudian mengecup dahinya dalam durasi beberapa detik namun terasa sangat hangat menjalari sekujur nadinya, membuat bulir bening dipelupuk matanya keluar begitu saja tanpa bisa ditahannya. Haru dan syahdu. Ia semakin sadar bahwa ia telah Syah menjadi seorang istri. Aarav's wife.


Aarav sendiri tertegun melihat Rahelsa yang meneteskan air mata, ia menyekanya dengan ibu jari sembari menyunggingkan seulas senyum yang tidak bisa surut sejak tadi.


Suara gemuruh tepuk tangan yang dikomandoi oleh Abrine mulai terdengar, disusul suara sorakan riang dari orang yang sama.


"Sukses kawin!" seru Abrine tanpa memfilter ucapannya, semua orang menatapnya cengo, kemudian Abrine seolah tersadar dengan kalimat yang sudah ia koarkan tadi.


"Ups!" Abrine membungkam bibirnya sendiri kemudian beringsut secara perlahan, menghindari tatapan mematikan yang diusung Nev dari seberang sana.


Abrine menunjukkan dua jari yang membentuk huruf V sebagai kesepakatan damai terhadap sang Papa, kemudian dia segera ngacir saat itu juga.


_______


Rahelsa membersihkan sisa-sisa make-up yang menempel diwajahnya. Kemudian dia mulai beranjak menuju kamar mandi yang terletak diujung kamar.


Rahelsa memilih untuk segera mandi, sembari menunggu Aarav yang belum masuk kamar sebab masih menemani beberapa kerabat yang datang dalam acara pernikahan mereka.


Setelah membersihkan diri, Rahelsa kembali mematut diri didepan cermin. Ia tersenyum bahagia karena akhirnya resmi menyandang status sebagai seorang istri sekarang, terlebih yang menjadi suaminya adalah lelaki yang sejak dulu ia cintai. Mimpi-mimpi dan harapannya seperti menjadi kenyataan yang dikabulkan.


Cklek...


Rahelsa tersentak saat handle pintu terdengar ditekan dari luar, ia buru-buru beranjak untuk membukakan pintu sebab tadi ia memang menguncinya dari dalam.


Rahelsa melihat Airish yang mengantarkan Aarav ke depan kamar.


"Suami kamu udah datang, bersiaplah menjadi istri yang sesungguhnya!" goda Airish sambil mengedipkan sebelah matanya pada Rahelsa.


Rahelsa melipat bibir, menahan malu akibat godaan yang Airish ucapkan.


Sementara itu, Aarav mengibaskan tangan pada Airish sebagai isyarat agar gadis itu segera pergi dari sana.


"Iya, iya, aku pergi! Gak sabar banget sih!" gerutu Airish sambil memanyunkan bibir.

__ADS_1


Airish berjalan dengan sedikit menghentakkan kaki seolah memprotes Aarav yang mengusirnya secara tak langsung.


Aarav segera mendorong kursi rodanya untuk masuk ke dalam kamar.


"Maaf ya, gak nemenin kamu sampai selesai di luar, soalnya udah gak nyaman sama pakaian aku," ucap Rahelsa.


Aarav tersenyum sambil mengangguk.


"Maaf juga tadi langsung main buka pintu kamar, soalnya belum terbiasa ada kamu, untung aja kamu kunci dari dalam," jawab Aarav.


Mereka berdua saling menatap dengan senyuman kikuk.


"Hehe, iya, aku kebiasaan ngunci pintu soalnya!" jawab Rahelsa nyengir.


"Ya, gak apa-apa, bagus kok. Kalau sekarang, udah kunci pintu belom?" tanya Aarav mulai mendekati Rahelsa.


"U-udah," jawab Rahelsa kembali gugup setengah mati.


"Hmm, kita udah nikah sekarang..."


"I-iya."


"Aku udah jadi suami kamu."


"Hehe, iya." Rahelsa menggosok tengkuknya sendiri.


"Kamu juga udah jadi istri aku."


Rahelsa mengangguki ucapan Aarav lagi.


"Artinya..." Aarav sengaja menggantung kalimat.


"Artinya?" Rahelsa malah mem-beo.


"Artinya boleh dong kalau sekarang kamu bantuin aku mandi..." ucap Aarav hati-hati namun anggukan Rahelsa membuatnya tersenyum tipis.


"Sekarang?" tanya Rahelsa.


"Iya, sekarang. Besok-besok kalau mau lagi juga boleh!"


Rahelsa menggigit bibirnya sendiri akibat ucapan Aarav yang terdengar absurd.


******

__ADS_1


Novel ini udah lama banget gak dikasih hadiah sama vote, yang punya poin dan vote lebih, boleh dong dikasihin kesini✌️😁 Biar kerasa, disuguhin kopi juga gak nolak, kok😅


__ADS_2