
Reka
Sebenarnya ia tidak menyangka bahwa kedua orangtuanya sepakat untuk menjodohkannya dengan Raya.
Awalnya dia hanya menyampaikan pada sang Mama bahwa ia menyukai Raya yang cantik dan supel. Tapi, ternyata langkah yang diambil oleh Mama dan Papanya terlalu cepat, ia bahkan sempat terkejut mengenai hal ini.
Ia tahu, Mamanya ingin dia menjalin hubungan yang lebih serius dengan Raya untuk membuatnya terikat dan melupakan masa lalu yang kini hadir lagi dalam hidupnya.
Beberapa tahun silam, tepatnya saat ia masih kuliah dijurusan hukum, ia memiliki kekasih, bernama Citra. Citra adalah adik tingkatnya di Universitas yang sama namun dengan fakultas yang berbeda. Hubungan mereka serius dan berlanjut sampai ia yang lebih dulu lulus dan di wisuda.
Namun, mungkin ia dan Citra memang belum berjodoh, mereka berpisah karena ia yang mulai sibuk dengan dunia pekerjaan.
Tak berselang lama, Citra justru menikah dengan orang lain dan itu cukup menampar hatinya.
Ia mencoba mengikhlaskan cinta pertamanya itu dan menjadi seorang pekerja keras diusia muda, terbukti bahwa semua usahanya itu tidak sia-sia dan kini membuatnya berhasil.
Ia bahkan telah menangani banyak kasus dan itu cukup melambungkan namanya didunia kefirmaan. Ia bisa membuktikan bahwa ia mampu berdiri sendiri tanpa bantuan Ayahnya yang juga seorang senior lawyer.
Beberapa minggu sebelum Mama mengatakan ingin menjodohkannya dengan Raya, ia bertemu dengan seorang teman lama. Temannya ini mengatakan ingin memberinya semacam Job untuk menangani sebuah kasus perceraian.
Akhirnya, ia menerima tawaran temannya dan mereka pun membuat janji temu disebuah Restoran pinggir pantai yang sudah mereka sepakati.
...Flashback On...
"Hai, Kyara... kamu sudah lama menunggu?" sapanya pada teman yang sudah membuat janji temu dengannya hari ini. Kyara adalah rekan lamanya saat mereka sama-sama magang di salah satu firma hukum swasta.
"Hai, hai.... Belum lama, baru saja..." jawab wanita muda bernama Kyara itu. "Ayo silahkan duduk, kamu mau pesan apa?" tanya Kyara lagi-- Kyara memang memiliki sikap humble dan terkesan ramah pada semua orang.
Ia pun duduk, lalu mengatakan ingin minum Mochacino saja-- pada Kyara.
Kyara mengangguk lalu memanggil seorang pelayan Resto untuk menghampiri meja mereka.
"Mas, Aku tambah Mochacino satu.. sama Orange juice hangat tanpa gula satu, ya..." kata Kyara tersenyum ramah pada pelayan yang mencatat pesanan.
Pesanan Kyara itu cukup membuat dahinya berkerut, pasalnya ia sudah melihat ada segelas coklat dingin yang dipesan Kyara-- bahkan itu terlihat belum tersentuh. Belum lagi karena pesanan Kyara tadi membuatnya teringat pada seseorang yang memiliki kebiasaan minum Jus tanpa gula.
"Wait, kamu memesan minuman lagi?" tanyanya seraya menunjuk minuman lain yang sudah tersaji didepan Kyara.
Kyara terkekeh kecil, kemudian berkata, "Kamu lupa? Kita janjian disini kan gak cuma berdua," jawab wanita itu.
Ia pun mengangguk mengerti-- bahwa pesanan selanjutnya tadi adalah untuk klien yang akan dikenalkan Kyara padanya hari ini.
"Kenapa gak kamu saja yang tangani kasus ini?" tanyanya pada Kyara--karena Kyara juga sudah menjadi seorang pengacara seperti dirinya.
"Masalahnya, yang mau aku kenalin ke kamu ini kan temenku. Temenku ini mau gugat cerai suaminya kan, Nah...suaminya ini masih ada hubungan keluarga sama aku, jadi aku gak enak," terang Kyara.
Ia pun terkekeh pelan. "Namanya kerjaan harus profesional lah, Ky..." ujarnya tersenyum.
Kyara mengangguk. "Bener sih, tapi ya gitu lah. Yaudah anggap aja sih aku lempar kerjaan ini buat kamu, gak rugi juga kan?" tanya Kyara memastikan.
"Okelah," jawabnya singkat sembari tersenyum kecil.
__ADS_1
Tak berapa lama, pesanan minuman tadi pun datang, bersamaan dengan Klien yang mereka tunggu-tunggu kehadirannya itu.
Awalnya, ia masih bersikap biasa karena tak mengetahui siapa klien itu, walaupun ia tahu klien nya kali ini adalah seorang wanita yang akan menuntut perceraian dengan suaminya tapi saat wanita itu selesai bercipika-cipiki dengan Kyara, barulah ia bisa fokus menatap wajah sang Klien yang duduk dihadapannya.
"Citra?" Ia kaget setengah terkejut karena ternyata klien nya adalah sang Mantan kekasih. Parahnya wanita itu adalah cinta pertamanya. Berarti jus jeruk tanpa gula yang dipesan Kyara benar-benar untuk wanita yang tadi terlintas dikepalanya saat mendengar pesanan itu.
Jadi Citra yang akan menuntut sebuah perceraian dengan suaminya?
Ia masih terbengong dengan wajah pias saat Citra justru mengulurkan tangan kepadanya.
"Apa kabar...Reka?" sapa Citra yang juga terlihat terkejut diawal, lalu berusaha bersikap wajar.
"Baik, tentu sangat baik," jawabnya apa adanya.
"Kalian saling mengenal?" timpal Kyara yang melihat reaksinya dan Citra yang tampak canggung.
"Kita satu Universitas dulu," Citra yang menjawab pertanyaan Kyara.
Sebenarnya ia amat malas berkaitan lagi dengan Citra, terlebih ia takut perasaannya yang sudah terkubur dalam-dalam kembali terusik dan keluar dari permukaan.
Bukannya tidak Move on dari Citra, ia juga tahu istilah dan beberapa kiasan lama yang menyatakan tentang Cinta pertama identik dengan kata gagal.
Namun, ia hanya berusaha menghindari sesuatu yang mungkin akan menyulitkannya dimasa depan, termasuklah pertemuan kembali dengan Citra hari ini.
"Sudah lama, ya..." celetuk Citra.
"Hmm..." ia hanya bisa berdehem, memahami maksud Citra bahwa mereka memang sudah lama tak bertemu, nyaris 5 tahun lamanya sejak perpisahan mereka dulu.
Ia menatap Kyara, memberi isyarat bahwa pertemuan ini tidak sesuai ekpektasinya. Tapi, Kyara hanya mengangkat bahu dengan tatapan tidak mengerti.
Ah tidak... ia mau menyerah sekarang.
"Kenapa? Citra bahkan belum menerangkan pokok permasalahan rumah tangganya padamu..." kata Kyara.
Sedangkan Citra yang duduk disamping Kyara tampak mengalihkan pandangan sembari bersedekap dada saat mendengar pernyataannya tadi.
"Aku tidak bisa mengurus ini," timpalnya.
"Ka, bukankah kamu tadi sempat menyinggung soal profesional dalam pekerjaan?" Kyara menggeleng-gelengkan kepala karena tak paham dengan keputusannya yang tiba-tiba menolak job begitu saja-- setelah kedatangan Citra.
"Gini ya, aku gak tahu ada masalah apa antara kalian berdua. Tapi, aku bisa melihat jika diantara kalian sangat mengenal satu sama lain. Benar begitu?" tebak Kyara tepat sasaran.
Ia masih diam, begitupula dengan Citra.
"Tolong kamu buktikan kata-kata kamu kalau kamu memang lebih profesional dibanding aku," pungkas Kyara dan skakmat... ia pun tak bisa mengelak lagi, karena ucapan Kyara seperti tengah menguji kredibilitasnya dalam pekerjaan.
Dengan sangat terpaksa, ia pun menerima untuk membantu menangani kasus perceraian Citra dan suami wanita itu, ternyata Citra menuntut suaminya karena sang mantan telah mengalami tindak KDRT, membuat hatinya menjadi miris dan nlangsa sebab mengetahui borok rumah tangga mantan tercintanya itu.
...Flashback Off...
Ia melihat Mama pulang dengan banyak barang bawaan, belum lagi sang sopir yang juga tengah menurunkan banyak barang dari dalam bagasi mobil.
__ADS_1
Ia menggaruk dahi yang tidak gatal, lalu menyapa sang Mama.
"Ma, belanja apa? Banyak sekali?" tanyanya dalam rangka berbasa-basi.
"Kamu tuh ya, kerja terus. Seharusnya kamu yang nemenin Raya beli semua ini hari ini. Masa Minggu juga harus kerja, Ka!" Mama mendengkus didepannya.
Disaat itulah ia baru menyadari bahwa yang dibeli Mama adalah barang-barang untuk seserahan pada Raya minggu depan. Dia lupa. Benar-benar lupa.
"Maaf, Ma... Reka harus ketemu klien hari ini," kilahnya. Dan itu tidak sepenuhnya bohong, karena ia memang menemui Citra hari ini dan Citra adalah Kliennya sekarang.
"Siapa? Citra?" tebak Mama, Mama sudah tahu mengenai klien barunya yang adalah Citra karena ia memang selalu terbuka pada sang Mama mengenai banyak hal.
Ia diam tak menjawab tuduhan Mama-- yang sebenarnya adalah benar kalau klien yang dia temui hari ini adalah Citra.
"Mama gak mau tahu, ya, Ka. Urusan Cincin pertunangan... nanti kamu yang pesan berdua sama Raya." kata Mama sambil berlalu masuk kedalam rumah.
Ia mengusap kasar wajahnya, bagaimanapun ia menghargai keputusan orangtuanya dan tentu saja keputusannya juga yang telah mengiyakan perjodohan ini.
Ia ikut masuk kedalam rumah dan menyusul Mama, membuka barang-barang yang Mama beli dengan antusias.
"Besok kamu ajak Raya cari cincin, gih..." saran Mama.
"Oke, Ma..." sahutnya sembari membuka sebuah paperbag untuk melihat isinya yang ternyata adalah tas wanita.
"Gimana sama Citra?" tanya Mama yang kembali menebak-- jika klien yang ia temui hari ini adalah benar-benar sang mantan.
"Ya gak gimana-gimana, Ma..." katanya malas menerangkan lebih detail.
"Reka, denger ya, Nak. Mama gak mau kamu melibatkan perasaan lagi sama dia, kalian sudah selesai!" tegas Mama.
"Ya enggaklah, Ma... apaan sih.." sahutnya malas sembari melihat-lihat benda lain yang dibeli Mama seharian bersama Raya.
"Kamu itu udah mau nikah sama Raya, Mama cuma ingetin, kamu sama Citra itu hanya urusan kerja, ya!"
"Iya, Ma, iya...." Ia pun menyugar rambutnya secara berulang karena Mama terus saja mengomelinya.
"Jangan mentang-mentang Citra mau jadi janda, kamu masuk ditengah-tengah problem rumah tangganya. Kamu dengar? Raya itu anak yang baik, Mama maunya menantu seperti dia."
Ia menghela nafas panjang, meladeni Mama tidak akan ada habisnya. "Reka tahu, Ma.."
"Ini nih, Mama belikan kamu batik untuk acara lamaran Minggu depan, bagus deh..." Mama mengulurkan sebuah Paperbag kearahnya.
"Makasih, ya, Ma.. aku coba ya," Ia pun langsung membawa paperbag itu ke kamar.
Sampai dikamar, ia tak lantas mencoba batik yang Mama belikan, justru ia menghempaskan tubuh keatas ranjang, menatap langit-langit kamar.
Sejujurnya, pikirannya sekarang menjadi dilema-- efek dari pertemuannya dengan Citra siang tadi.
Dikepalanya terus terngiang tentang ucapan Citra yang ternyata mampu mengusik hatinya.
"Ka, kalau dulu kamu yang jadi suamiku, mungkin aku gak akan pernah mengalami KDRT seperti ini, tapi waktu memang tidak bisa diputar kembali, ya, Ka."
__ADS_1
Itulah kata-kata Citra yang membuatnya gundah. Ia kembali menaruh simpati pada wanita itu. Terlebih, masalah rumah tangga Citra juga berimbas pada nurani terdalamnya. Ada perasaan tidak terima dalam dirinya saat mengetahui Citra mengalami tindak kekerasan seperti itu.
...Bersambung ......