
Sekarang, entah apa yang harus Raya lakukan. Setelah pertemuannya dengan Nev secara mendadak beberapa saat lalu, membuat otaknya nyaris tidak bisa berpikir-- kecuali memikirkan tindakan Nev yang telah mengecup keningnya.
Bagaimana bisa Nev melakukan hal itu? Padahal Nev tahu jika sekarang Raya telah bertunangan dengan Reka. Nev benar-benar mengacaukan pikiran Raya, selalu.
Membayangkan kejadian itu, membuat wajah Raya kembali memerah. Dia menghela nafas panjang disebalik pintu rumah yang baru saja ditutupnya.
"Raya, kamu darimana?" Itu adalah suara Sahara yang menanyakan anak gadisnya.
"Em--itu, itu tadi Raya... ke rumah Niken," Dengan terbata dan terpaksa akhirnya Raya berbohong.
Sahara memicing, memperhatikan gelagat sang anak yang tampak aneh.
"Wajah kamu kenapa?" tanya Sahara.
"Wajah?" kata Raya sembari menyentuh kedua sisi pipinya.
"Kok merah gitu? Abis marah-marah, ya?" Sahara justru terkikik, membayangkan Raya yang marah sampai membuat wajahnya memerah, hal yang jarang terjadi.
Raya mengibaskan tangan. "Eng-enggaklah, Ma. Marah sama siapa?" jawabnya.
"Kalau gak abis marah, kok wajahnya merah gitu? Atau lagi malu-malu kucing, ya?" goda Sahara lagi.
"Hah? Apaan, Mama ih...." Raya langsung ngacir menuju kamarnya.
Sore hari saat Raya tengah mengeringkan rambutnya, Sahara menghampiri sang anak lagi.
Kali ini, dengan pembahasan yang hampir sama dengan yang lalu-lalu yakni tentang rencana pernikahan Raya dengan Reka.
"Kamu yakin mau menikah dengan Reka?" Ini bukan pertanyaan pertama dari Sahara untuk Raya, hampir setiap hari wanita paruh baya itu menanyakan kesiapan Raya perihal pernikahannya.
"Kenapa Mama selalu menanyakan hal itu, Ma? Kan Mama sama Papa yang mengusulkan," jawab Raya masih sibuk dengan rambutnya.
Sahara duduk di bibir ranjang, sembari menatap sang anak semata wayang.
"Raya, feeling Mama mengatakan kamu gak siap dengan pernikahan ini," ucap Sahara sendu.
"Ma--" Raya berbalik badan menatap sang Mama.
"Jangan mengorbankan kebahagiaanmu demi harapan orangtua, Nak." kata Sahara tulus.
"Mama dan Papa memang mengusulkan, tapi tetap jawaban ada pada kamu, kalau kamu ragu seharusnya kamu menolak dari awal," kata Sahara sembari mengelus punggung Raya yang telah duduk disisinya.
"Tapi Papa terlihat sangat berharap dengan Raya dan Reka..."
"Papa memang mengharapkan kamu dan Reka bisa menikah, tapi semua tetap kembali pada kamu yang menjalaninya,"
"Lalu, kalau Raya menolak pernikahan ini, apa semuanya akan berubah? Raya tahu keluarga kita sudah banyak berhutang budi dengan Reka," jawab Raya jujur.
"Jangan pikirkan masalah orangtua, Raya. Kamu mengkhawatirkan hal itu tetapi kamu tidak mengkhawatirkan masa depanmu, Mama tahu kamu terpaksa menerima semua ini, kan?"
Raya mengangguk lesu.
"Apa Mama bicarakan saja ini dengan Papa?"
"Jangan, Ma..." cegah Raya.
"Kenapa?"
"Raya takut mengecewakan Papa, apalagi pertunangan juga sudah terlanjur terjadi."
Sahara menghela nafas berat. "Lalu sekarang bagaimana? Apa kamu tetap mau menjalani semua ini?" tanya Mama dengan nada tak percaya.
Raya menggeleng dengan wajah serius.
__ADS_1
...๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ...
Nev merenung di balkon kamarnya, pertemuannya dengan Raya cukup membuat hatinya menghangat. Tapi, bagaimanapun juga yang harus dia lakukan sekarang adalah fokus soal perceraiannya dan cara membatalkan pernikahan Raya.
Nev sudah berusaha membujuk Raya soal pembatalan pernikahan itu, tapi Nev tidak tahu Raya akan memikirkannya atau tidak.
Sementara dilain sisi, Nev pun tak tahu bagaimana perasaan Raya terhadapnya, karena Raya tak pernah mengatakan hal itu. Mungkin dilain waktu, Nev akan menanyakan pada wanita itu, kepada siapa hatinya berlabuh? Apakah masih ada kesempatan untuk Nev menyelinap dan bernaung dihati Raya?
Tanpa terasa, Nev menjalani hari kerjanya dengan begitu sibuk. Kesibukannya membuatnya sulit menemui Raya lagi. Namun, jauh didalam hatinya dia berharap Raya sudah membatalkan pernikahan itu.
Karena kondisi Nev sudah pulih kembali, dia dan Bian juga menyempatkan untuk terbang ke Singapura untuk mengunjungi Pak William-- terkait bisnis kerja yang sempat tertunda akibat kejadian di Cafe tempo hari.
Walau bagaimanapun, pada saat kejadian di Cafe, Nev lah yang meninggalkan Meeting begitu saja demi menemui Raya. Sebenarnya ada rasa tak enak di hati Nev terhadap Pak William, maka dari itu dia berbesar hati untuk mengunjungi lelaki tambun itu di Negara Singa.
Pertemuan mereka pun berjalan lancar, Pak William yang serius namun memiliki jiwa humor yang tinggi serta memang berkarakter konyol, menyambut kedatangan Nev dengan ramah dan ikut bahagia melihat Nev yang sudah kembali sehat.
Pak William juga sempat menanyakan perihal gadis yang Nev tarik dari panggung waktu itu.
"Jadi, apa dia calon istri Anda?" begitulah kelakar Pak William.
Dan Nev hanya tersenyum kecil untuk menjawab pertanyaan itu.
Walau bagaimanapun, publik tidak mengetahui statusnya yang pernah menikah dengan Feli. Hampir semua orang menyangka Nev adalah pria lajang yang gila kerja, sehingga tidak masalah jika ada orang lain yang mungkin melihat kejadian yang sama-- di cafe tempo hari.
Seminggu lebih Nev berada di Singapura untuk menemui Pak William sekaligus mengurus bisnis mereka disana.
Sampai saat dia tiba di kediamannya, kepulangan Nev itu disambut dengan senyum merekah dari si tengil Jimmy.
"Kau tidak akan percaya hal ini," kata Jimmy langsung mencecarnya dengan kalimat absurd.
"Apa?" tanyanya tak begitu antusias, sembari meregangkan otot-otot leher dihadapan Jimmy.
Jimmy membisikkan sesuatu ditelinganya dan membuatnya spontan terkejut akibat ucapan Jimmy itu.
"Kau jangan main-main, Jim!" katanya pada Jimmy yang mengulumm senyum.
"Aku akan mengatakannya pada Raya," ucap Nev serius.
"Memangnya kau punya bukti?" ejek Jimmy.
"Ya berikan bukti itu padaku, lalu nanti aku akan menunjukkannya pada Raya," jawab Nev sekenanya.
Jimmy menggeleng, "No! Aku tidak punya bukti itu, aku hanya melihatnya," ucapnya.
Nev menatap Jimmy dengan rahang mengeras.
"Lalu bagaimana aku mengatakannya pada Raya jika tidak punya bukti?"
"Tidak tahu...." jawab Jimmy lesu.
Dan Nev sebenarnya ingin marah pada Jimmy saat itu juga, untuk apa memberitahu info tanpa bukti. Tapi, walau bagaimanapun Nev tetap menghargai usaha Jimmy.
...๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ...
Di akhir pekan, Nev menyempatkan untuk melihat keadaa Raya, dia mengunjungi Rumah Raya namun tidak melihat keberadaan Raya.
Cukup lama Nev menunggu, namun tidak ada tanda-tanda adanya oranglain yang keluar dari rumah itu. Baik Raya maupun orangtuanya.
Padahal Nev sangat ingin melihat Raya karena hampir dua minggu ini dia disibukkan dengan urusan pekerjaan, ditambah lagi dengan kepergiannya ke Singapura tempo hari.
Hampir sebulan ini, Nev tidak bisa melihat Raya-nya dan itu membuatnya sedikit murung dan tidak bersemangat.
Nev ingin bertemu Raya walau hanya melihat dari jauh pun tak masalah, paling tidak itu bisa menjadi moodboosternya agar bisa kembali bersemangat.
__ADS_1
Namun, untuk kali ketiga dia berkunjung ke rumah Raya, dia tidak mendapatkan yang diinginkannya.
Nev turun dari mobil, bukan mengetuk pintu rumah Raya, melainkan mengetuk pintu rumah yang dia ketahui sebagai tempat tinggal Niken.
Namun, rumah itu kosong dan dia segera menelepon Neneknya.
Nenek mengatakan jika setelah Raya dan Reka bertunangan, Niken sudah tak tinggal disana karena Nenek meminta Niken mengurus cabang Restoran yang ada di Lembang, Bandung.
Dengan perasaan kalut, Nev pun memberanikan diri untuk mengetuk rumah yang sempat ditinggali Raya. Dia tidak peduli harus bertemu dengan orangtua Raya atau tidak, dia akan menghadapi ini.
Diketukan yang pertama, Nev langsung mendengar suara sahutan dari dalam rumah.
Dan yang membukakan pintu untuk Nev adalah seorang wanita paruh baya yang terlihat tidak asing dimatanya.
"Kamu?" Wanita paruh baya itu tersenyum semringah menatap wajah Nev.
Nev yang tak menyangka dengan pertemuan ini hanya bisa tersenyum kecil, karena wanita ini adalah wanita yang ditolongnya dari tragedi pencopetan tempo hari.
"Kenapa kamu bisa kesini, Nak?" tanya si wanita paruh baya.
Nev menggosok tengkuknya sendiri dengan wajah canggung.
"Apa Ibu ...Mamanya Raya?" tanya Nev ragu.
"Kamu mengenal Raya?" si Ibu balik bertanya.
Nev mengangguk pelan secara berulang.
"Saya Sahara... Saya memang Mamanya Raya." wanita bernama Sahara itu tersenyum lembut.
Nev tersenyum dengan kebetulan yang baru diketahuinya ini.
"Duduklah, Saya lupa menanyakan nama kamu waktu itu, Nak..." kata Sahara tersenyum ramah.
Nev duduk di kursi Teras, kursi yang sering diduduki Raya-- yang Nev ketahui karena seringnya dia mengintai Raya dari kejauhan.
Nev menyalami Sahara. "Nama saya Nevan, Bu. Eh...Tante," sahut Nev berubah gugup karena sekarang dia tahu wanita itu adalah Ibunda Raya.
"Raya dan Papa nya sedang mengurus perpindahan kami ke rumah lain, Nev..." jawab wanita paruh baya itu.
"Rumah lain?" Dahi Nev mengernyit.
"Iya, jadi kami akan pindah dari sini," kata Sahara tenang.
Nev ingin menanyakan kenapa mereka harus pindah, tapi merasa itu terlalu pribadi untuk dibahas jadi dia hanya diam dengan perasaan canggung dan tak tahu mau memulai obrolan dari mana dengan Ibunda Raya.
"Nev, Tante buatkan minum dulu ya, kamu tunggu disini, oke?" Sahara langsung masuk ke dalam rumah tanpa mendengar jawaban dari Nev.
Nev diam dengan pikiran yang entah kemana, sesaat kemudian Sahara kembali dengan nampan berisi minuman dan cemilan.
"Ayo minum, Nev." kata Sahara.
Nev mengangguk dan meminum jus jeruknya.
"Kamu makan siang disini ya, sebentar lagi pasti Raya dan Papanya pulang,"
"Tapi, Tant..."
"Tidak apa-apa, Nev... Anggap saja, ini ucapan terima kasih tante karena kamu sudah menolong Tante waktu itu,"
Nev hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bisa-bisanya yang dia tolong waktu itu adalah Mama Raya. Dia merutuk dirinya sendiri karena tak pernah tahu wajah kedua orangtua Raya yang seharusnya wajib dia ketahui.
...Beraambung ......
__ADS_1
Nanti disambung lagi ya, lagi kurang sehat๐ญ tapi pasti tetap up ya.. walaupun satu episode๐๐๐๐
Jangan lupa like,vote dan komen.