PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
74 - Mengetahui alasan


__ADS_3

"Raya, bisa kita bicara sebentar?" Reka menatap Raya dengan binar penuh harapan dimatanya.


"Aku pikir, gak ada yang perlu dibicarakan lagi, Ka..." kata Raya tenang, masih dengan senyum kecilnya.


"Maaf jika kedatanganku mengganggu kamu, tapi aku hanya ingin minta maaf, Ray ... Aku tahu, sejak awal aku yang terlalu memaksakan perjodohan kita," lirih Reka.


Raya tersenyum kecut, kemudian melipat tangannya di dada. "Seharusnya sejak awal kamu sudah menolaknya, Ka. Apalagi kamu sudah menjalin hubungan dengan wanita lain," pungkas Raya.


Reka menggeleng, "Aku tidak memiliki hubungan dengannya, Raya."


Raya tertawa sumbang, "Lalu? Dia hamil karenamu, Ka!" senggak Raya cepat.


"Itu ... itu karena---"


"Jujur saja, aku tidak kecewa karena pernikahan kita batal, dari awal memang ini yang aku harapkan." potong Raya cepat, membuat Reka tersenyum masam.


"Yang aku sayangkan, seharusnya sejak awal kamu sudah membatalkan rencana itu, jadi orangtua kita tidak perlu menanggung malu untuk menghadapi para relasi yang sudah mereka undang. Kau tahu? Semuanya hancur sehari sebelum acara, padahal semua akan mudah jika sejak awal kau menuruti saranku untuk menolak perjodohan kita," ucap Raya panjang lebar.


Reka mengangguk lemah. "Aku tahu, aku memang salah. Aku berbuat diluar kendaliku. Aku dan Citra tidak memiliki hubungan apapun, waktu itu kami sama sama mabuk," terang Reka penuh penyesalan.


Raya tertawa, "Lalu untuk apa kamu menjelaskannya padaku, Ka? Jangan bilang kamu berharap aku memahami ini. Dan untuk apa juga aku memahaminya, Ka?" kata Raya tegas.


"Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa aku menyesali segalanya, aku--aku benar-benar ingin membina rumah tangga denganmu, Raya." kata Reka jujur.


Raya menggeleng tegas, "Aku sudah menikah. Ku pikir kamu pasti sudah mendengar hal itu," ucapnya.


Reka mengangguk. "Aku tahu, kamu juga pasti terpaksa menikah dengannya, kan? Kamu takut orangtuamu malu karena kamu yang tak jadi menikah? Makanya kamu menerima pernikahan dadakan itu, iyakan?" Reka tersenyum kecil.


Raya terkekeh, menjelaskan pada Reka tentang perasaannya terhadap Nev hanya akan berujung sia-sia, karena apapun penjelasannya, Reka akan menganggap itu hanya gurauan untuk meyakinkannya. Dan Raya merasa tak terlalu penting menjelaskan pada Reka tentang apapun lagi, karena dia dan Reka telah selesai, bukan?


"Ada baiknya kamu pulang, Ka..." kata Raya dengan nada terendah.


"Raya..."


"Pulanglah, Ka ... dan jangan pernah menemuiku lagi secara sengaja," tegas Raya.


"Raya, aku---"


"Tolong hargai pernikahanku, Ka!" Raya membuang pandangan, tak ingin menatap wajah Reka lagi.


Dalam penyesalannya, Reka pun terpaksa beranjak meninggalkan Raya yang sudah mengalihkan tatapannya itu.


"Aku akan menunggu kamu, Raya ... Aku yakin kamu juga terpaksa menikah dengan pria itu," Batin Reka sembari melangkah menuju mobilnya.

__ADS_1


...♥️♥️♥️♥️♥️♥️...


Nev memasuki kantornya dan disambut oleh sapaaan hormat para pekerjanya. Hanya satu yang membuat Nev jengkel dihari pertamanya ini, yaitu Jimmy yang ternyata sudah menunggunya di ruang kerja dengan senyuman miring khas pria itu.


Nev menghela nafas panjang, "Baguslah kau sudah disini, ada yang ingin ku tanyakan tentang ulahmu," kata Nev sembari duduk di kursi kebesarannya--berhadapan dengan Jimmy.


Nev menatap Bian yang berdiri diambang pintu, Bian pun paham lalu meninggalkan ruangan Nev, karena dia tahu jika Nev dan Jimmy akan membicarakan suatu hal diluar pekerjaan.


"Apa?" tanya Jimmy tak begitu tertarik dengan apa yang akan dibahas Nev kali ini.


"Apa batalnya pernikahan Raya dan Reka ada hubungannya dengan apa yang kau sampaikan padaku waktu itu?" tanya Nev serius.


Jimmy hanya memanyunkan bibir sembari mengangkat kedua bahunya, cuek.


"Aku bertanya serius padamu, jawablah serius juga selagi aku masih bermurah hati membiarkanmu duduk dihadapanku," kata Nev marah.


Jimmy tergelak, "Masih pagi, Bro. Pengantin baru bawaannya hot aje ye... berasa kayak mau dipanggang gua," ledeknya.


"Sia lan!" dengkus Nev.


Jimmy berdecak, "Jadi Raya gak cerita?" tanyanya.


Nev menggeleng.


Nev terperangah. "Serius, apa itu karena Reka?" tanyanya.


"Yoi, aku sudah pernah bilang kan jika mereka pernah menjalin hubungan dimasa lalu,"


Nev diam dan mencerna ucapan Jimmy.


"Makanya dari itu ku katakan bahwa dia klien plus plus untuk Reka..." timpal Jimmy lagi sambil tergelak.


"Hmm, pantas saja Raya tidak mau bercerita tentang ini, jadi ini yang dimaksud Raya dengan aib Reka." Batin Nev berkata-kata.


"Lalu, ada keperluan apa kau datang pagi-pagi ke kantorku?" tanya Nev sembari membuka laptopnya, mulai ingin fokus pada pekerjaan.


"Gak ada sih, tapi ...." Jimmy ragu mengatakan niatnya, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Apa?" Nev memicing menatap Jimmy.


"Santai lah, Nev... aku cuma ingin bertanya bagaimana rasanya bulan madu, huh?" tanya Jimmy.


Kali ini Nev yang terkekeh, kemudian pria itu mulai senyum-senyum sendiri mengingat momen bulan madunya.

__ADS_1


"Woi !!! Ku pikir setelah menikah kau akan waras, nyatanya makin parah saja ya..." keluh Jimmy.


"Iri bilang, Boss..." kata Nev mengejek.


Jimmy mendengkus, "Padahal aku serius menanyakannya," gumam Jimmy masih dengan nada jengkelnya.


"Aku tidak bisa menceritakannya, Jim. Makanya kau menikah sajalah, biar kau tahu bagaimana rasanya," kata Nev yang diakhiri dengan senyuman miringnya.


Mendengar pertanyaan Jimmy membuatnya merindukan Raya yang ada dirumah. Ah sial, baru satu jam yang lalu dia meninggalkan Raya dirumah mertuanya.


Nev pun kembali memfokuskan diri pada pekerjaannya, karena dia takut jika memikirkan Raya terus membuatnya ingin pulang sekarang juga.


"Nev ..." Panggil Jimmy.


"Apa?" sahut Nev cuek.


"Kau tahu, waktu itu aku yang mengirimkan undangan pernikahan Reka dan Raya pada Citra, sehingga Citra mengetahui jika Reka akan menikah dan dia menjadi tidak terima dengan hal itu," kata Jimmy.


"Lalu?"


"Aku ada satu pemikiran, ku pikir tidak ada salahnya jika kau ikut memikirkan ini juga demi pernikahanmu," ucap Jimmy.


Nev mengalihkan atensinya dari laptop dan menatap Jimmy lekat.


"Mengenai apa? Kenapa demi pernikahanku?" tanya Nev serius.


"Reka ... ku pikir, ada satu kemungkinan dia tidak menerima jika Raya menikah denganmu. Menurut pengamatanku selama ini, Reka itu pria yang ambisius, dia selalu meraih apa saja yang ingin dia inginkan. Kau harus berhati-hati, Bro..." kata Jimmy mengingatkan.


"Aku percaya pada Raya, lagi pula Raya tidak mungkin tergoda padanya," jawab Nev pede.


"Ya, itukan Raya... beda dengan Reka. Ya mungkin saja dia melakukan hal curang untuk mencapai tujuannya karena image nya sudah buruk dimata Raya. Intinya kau hati-hatilah," kata Jimmy lagi.


"Apa dia ancaman untuk pernikahanku? Ku rasa tidak," sahut Nev mengangkat bahunya.


"Ya, aku hanya mengingatkanmu saja, Bro..." jawab Jimmy terkekeh diujung kalimatnya.


...Bersambung ......


Mohon maaf ya, Readers..


kenapa ya viewers aku nurun drastis? Dari 23K menjadi 16K, terus hari ini hanya 12K doang. Like nya juga berkurang? huu😭😭


Ku butuh moodbooster untuk melanjutkan Novel ini...😅 Jangan lupa tinggalkan jejak ya setiap membaca..🙏🙏🙏 Like, komen, hadiah, vote, favorit... biar semakin rajin up nya♥️ padahal tiap hari aku up loh walau hanya 1 episode dengan 1000 kata lebih, tapi kenapa ya, makin kesini pembacanya makin berkurang? Kasi krisan dong😂 biar semangat.

__ADS_1


__ADS_2