PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Apa kamu memiliki cinta?


__ADS_3

Rahelsa


Mendengar ucapan Aarav, membuatku nyaris tidak bisa berkutik. Aku tidak lagi fokus pada wajah rupawan dihadapanku, tidak pula berminat untuk melanjutkan melihat-lihat ragam lukisan lain yang sedang dipamerkan di Gallery.


Satu hal yang paling ku inginkan saat ini adalah pulang, agar aku bisa meluapkan segala kesedihan yang aku rasakan karena terkenang ucapan Aarav yang terus terngiang-ngiang di kepalaku.


"Els..." Aarav menyentuh lenganku, namun entah kenapa otakku langsung menstimulasikan pergerakan tangan untuk langsung menepis sentuhan lelaki itu.


"Aku... mau... pulang," ucapku tersendat, menahan isak dan bendungan airmata yang kini semakin mendesak ingin terus dikeluarkan, meski sejak tadi sudah ku susut berulang-ulang. Aku tak tahu kenapa stok airmataku tak kunjung habis.


"Baiklah," jawab Aarav.


_____


Sepanjang perjalanan pulang, aku tidak mengucapkan satu patah katapun lagi, begitu pula dengan Aarav. Entah dia menyesali perkataan yang sempat ia utarakan kepadaku atau ia mengerti kesedihanku kali ini, aku tidak tahu dan tidak berusaha menanyakan sikap diamnya itu.


Aku sadar jika aku menyetir mobil menuju kediamanku, Aarav tidak memprotes hal itu meski seharusnya aku mengantarkan lelaki ini dulu ke tempat tinggalnya.


Begitu tiba dirumah, aku membantu Aarav untuk turun dari mobil.


"Aku mau ke toilet," ucapku beralasan, padahal aku ingin kembali menumpahkan kesedihanku yang sempat terjeda. "Aku akan menelepon Abrine atau Airish untuk menjemputmu disini, maaf," kataku sembari ingin beranjak. Entahlah, rasanya aku tidak bisa berpikir sekarang. Aku tidak berniat menelantarkan Aarav, tapi perasaanku terasa sangat sesak sekarang.


"Nggak apa-apa, aku tetap disini. Aku menunggu Tante Nimas dan Om Jimmy pulang."


Ucapan Aarav berhasil membuatku kembali berbalik arah menatapnya.


"Untuk?" tanyaku penasaran.


"Aku udah memutuskan untuk melepaskan kamu jadi aku harus berani mengatakannya kepada kedua orangtuamu, Els."


Hatiku serasa terkoyak, kenapa Aarav harus mengatakan hal ini berulang kali. Kemarin mungkin dia tidak mengatakan hal pembatalan pernikahan ini kepada orangtua kami, tapi kenapa sekarang dia harus mengatakannya? Apa sekarang dia sudah mempunyai keberanian? Atau justru dia benar-benar sudah bertekad melepaskanku seperti ucapannya itu?


"Baiklah, terserah kamu. Katakan pada kedua orangtuaku mengenai ini," ucapku berusaha tegar, aku sampai meremat tali tas selempang yang ku kenakan demi menahan sesak didadaku.


Aarav terdiam beberapa detik, kemudian mengangguk perlahan.

__ADS_1


"Tapi, boleh aku tanya satu hal?" Aku ingin tahu hal ini sebelum Aarav benar-benar pergi dariku.


"Apa?" tanya Aarav pelan dan nyaris berbisik. Kepalanya mulai mengadah padaku yang berdiri dihadapannya. Mata kami saling beradu demi menjelajahi panorama yang katanya adalah pancaran jendela hati itu.


"Semua alasan ini benar, kan?" tanyaku hati-hati. Aku tidak mau Aarav membohongiku dan mencari-cari alasan demi menutupi hal yang sebenarnya ia pendam. Jujur saja, aku ragu dia memiliki rasa sayang 'lebih' kepadaku.


"Maksud kamu?"


"Alasan kamu ini benar karena kamu mau yang terbaik untuk aku... atau karena kamu masih menyukai gadis lain?"


"Gadis lain? Siapa?" Aarav mengernyit heran.


"Bu Siska..."


Aarav tertawa sumbang, aku tidak paham kenapa dia berlaku demikian.


"Semakin dewasa, aku justru semakin memahami keadaan. Dulu aku terlalu naif, tapi sekarang tidak lagi. Benar kata papa, Bu Siska itu hanyalah obsesiku saat masih labil. Aku hanya mengidolakannya, tidak lebih."


"...aku juga tahu, kalau Bu Siska terlibat dalam insiden yang menyebabkan aku menjadi lumpuh seperti sekarang. Meski semua orang menutupinya dariku. Kamu juga tahu tentang itu, kan?"


"Lalu, apa menurut kamu aku mau menyukai perempuan seperti Bu Siska?"


"Ya, gak mungkin, sih." Aku menghela nafas sejenak, mengontrol diriku agar tidak menangis lagi. "Jadi semua alasan kamu untuk melepaskanku itu, benar?"


"Ya," jawab Aarav dengan senyuman tipis.


"Kamu sayang sama aku?" tanyaku memastikan.


Aarav mengangguk samar.


Aku pun menatap nanar pada Aarav, airmata yang sejak tadi ku tahan agar tidak tumpah, akhirnya kini harus pecah seperti air bah. Nyata, membasahi kedua sisi pipiku. Aarav benar menyayangiku, namun ia mengharap kami saling melepaskan. Lucu sekali bukan? Sudah jelas kami saling menyayangi, kenapa tidak bertahan saja?


"Aarav... aku gak mau mengemis cinta. Yang aku yakini, jika seseorang menyayangi oranglain maka perasaan itu harus dibarengi dengan tindakan untuk mempertahankan. Aku sudah berusaha mempertahankan kamu, tapi kamu mau melepaskan aku. Semua yang aku usahakan akan sia-sia jika aku hanya berusaha sendirian."


Tanpa aba-aba, aku spontan tersengguk-sengguk didepan Aarav, aku kehilangan rasa malu, semua karena airmata ku yang tidak bisa lagi diajak berkompromi--agar tidak jatuh dihadapan lelaki pemilik mata kecokelatan ini.

__ADS_1


Aku bisa melihat tatapan mata Aarav yang mengembun, netra itu mengunci pandangan dimataku, seolah memiliki rasa prihatin atas keadaanku saat ini.


"Dari sini aku bisa memetik kesimpulan, bahwa rasa sayang kamu ke aku... yang gak dibarengi dengan sikap mempertahankan, itu artinya kamu hanya menyayangi aku sebatas rasa sayang biasa, gak lebih!"


"Nggak gitu, Els. Aku--"


"Kamu gak memiliki cinta untuk aku, Aarav!" potongku cepat. "Kamu... gak mencintai aku selayaknya seperti pasangan lain diluaran sana!" tegasku sembari menyusut airmata.


Aarav menggeleng. "Els, dengar aku--"


"Aku tahu, kok!" Aku tak memberi Aarav kesempatan bicara lagi, bagiku semua keputusan Aarav ini adalah mutlak sebagai jawaban yang akurat, bahwa dia tidak memiliki rasa cinta yang berlebih terhadap aku.


"Aku udah bilang, karena aku sayang sama kamu makanya--"


"Lagi? Kamu bilang sayang lagi ke aku? Tapi kamu mau melepaskan aku? Gak gitu konsepnya, Aarav!" sambarku lagi dan lagi, emosi dan kekecewaan bergumul menjadi satu dalam diriku saat ini.


"Rahelsa!" Aarav berkata keras. Mungkin lelah karena ucapannya selalu ku potong dan ku sudutkan. "Aku ngelakuin ini karena aku mau yang terbaik untuk kamu!" tegasnya kemudian.


Aku terdiam, masih tergugu dengan sisa airmata yang terus mengalir deras, mungkin wajahku sekarang telah pucat pasi diselingi hidung yang memerah sebab menangis sedari tadi.


"Kalau kamu mau yang terbaik untuk aku... itu kamu, Rav! Kamu! Kamu yang terbaik untuk aku!" kataku bebal.


Aarav mengacak rambutnya, entah frustrasi, entah lelah menghadapi aku yang keras kepala.


"Els! Lihat kondisiku! Apa kamu mau menghabiskan sisa umur kamu sama lelaki pasif seperti aku? Apa kamu mau hidup dengan lelaki yang gak bisa apa-apa? Jangankan memberimu nafkah lahir dan batin, aku bahkan gak punya pekerjaan, Els!" Aarav menatapku dengan ekspresi yang sangat memilukan, aku makin trenyuh melihatnya.


"...kalau gak karena Papa yang menalangi hidupku, kalau gak karena kedua orangtuaku yang menanam saham atas namaku, kalau gak karena orangtuaku yang mampu... aku bahkan gak bisa menafkahi kamu secara finansial!" imbuhnya.


Aku terdiam dengan bibir kelu. Tertunduk. Meremass jemari sampai buku-bukunya memutih. Kesal, namun ucapan Aarav benar adanya.


Apakah aku mampu menerima Aarav? Mungkin sekarang jawabannya iya, tapi dikedepan hari? Apa aku bisa? Pertanyaan ini seringkali muncul dibenakku, namun satu jawaban yang dapat ku pastikan bahwa aku sudah ikhlas menerima keadaan Aarav lahir dan batin. Aku sudah mengenalnya sejak kecil, melewati waktu bertahun-tahun hanya dengan memikirkan satu lelaki yang sama. Aku bisa menerimanya jika dia yang telah digariskan menjadi jodohku.


"Apa kamu memiliki cinta untuk aku seperti aku memilikinya untuk kamu, Rav?" tanyaku memberanikan diri, namun aku tertunduk, tidak berani menatap langsung ke mata lelaki itu.


*****

__ADS_1


__ADS_2