
Keadaan Raya mulai membaik, suhu tubuhnya juga sudah menurun dan Nev bersyukur istrinya bisa pulih secepat itu.
Raya mengatakan jika dia memang tidak terbiasa berbaring terlalu lama, justru akan membuat tubuhnya semakin tidak sehat.
Tapi Nev tetap meminta Raya tetap meminum obatnya sesuai arahan Dokter dan Raya menuruti tanpa banyak protes.
Sesuai rencana mereka, akhirnya Raya dan Nev mengunjungi Sahara di Rumah Sakit seusai melakukan sarapan pagi.
Sahara begitu riang melihat kehadiran Raya, dia menanyakan kabar Raya karena dia sudah mengetahui jika Raya mengalami keguguran. Ibunda Raya itupun ikut merasakan kesedihan yang dirasakan putrinya yang baru saja mengalami masa-masa sulit.
Demi alasan kesehatan Sahara, Adrian dan Raya telah sepakat untuk tidak memberitahukan pada wanita itu tentang insiden yang menimpa Raya tempo hari. Meski mereka jujur jika Raya mengalami keguguran, tapi mereka membuat 'hal lain' sebagai alasan yang menyebabkan keguguran itu terjadi.
"Lalu kemana kamu waktu itu, Nak? Mama dengar kamu tidak berada di ruangan dan Yana tidak tahu kamu kemana," kata Sahara lemah dari ranjang tempatnya dirawat.
Raya tersenyum kecil. Sebenarnya ia tidak ahli dalam hal berkilah atau berbohong. Apalagi yang dibohongi adalah Ibu kandungnya sendiri, akhirnya dia melakukannya juga dengan berat hati.
"Sebenarnya waktu itu Raya lagi jalan-jalan di taman Rumah Sakit, Ma. Diantar sama suster," kilah Raya.
Nev dan Adrian hanya diam tak menimpali kebohongan Raya itu, mereka memilih mendengarkan saja dan akan membantu bicara jika diperlukan.
"Kenapa Yana sampai gak tahu?" selidik Sahara merasa tak puas dengan jawaban yang Raya ucapkan.
"Hmm, iya. Waktu itu awalnya kami sama-sama tertidur, Raya gak tega bangunin Yana, Ma. Kasian dia sudah capek jagain Raya disana. Kebetulan ada suster, ya udah sama suster aja, minta tolong gitu, hehe..." kata Raya memaksakan nyengir.
"Kamu ... gak bohong kan?" Sahara memang bisa membaca gelagat anaknya sendiri, tidak mungkin bisa dibohongi begitu saja.
Raya menggeleng cepat, lebih tepatnya dia tidak tahu lagi mau bicara apa. Jika dia berbicara lagi dan membuat karangan cerita lain, mungkin saja Sahara akan semakin curiga dan bisa membaca kebohongannya.
"Ya sudah, lain kali jangan membuat orang panik ya, Nak... kamu harus mengatakan kemana kamu pergi, apalagi sama suamimu." tegas Sahara dalam intonasi suara yang lemah.
Raya mengangguk sembari melirik kedua orang disudut ruangan seolah meminta bantuan.
Adrian mengambil alih keadaan, paham jika Raya sudah tersudut.
"Ya udah, Mama istirahat dulu aja. Udah senang kan dijenguk sama Anak gadisnya?" ujar Adrian menengahi.
"Tapi Mama masih rindu sama Raya, Pa!" sahut Sahara.
"Besok Raya kesini lagi kok, Ma. Dan inipun Raya gak langsung balik, Raya jagain sampai Mama nyenyak."
Sahara tersenyum kecil. "Makasih anak Mama yang baik hati," ucapnya mengelus lengan Raya.
Selang beberapa waktu, Nev dan Raya undur diri dari ruangan itu.
Mereka berjalan perlahan melewati koridor Rumah Sakit menuju slot tempat parkiran mobil.
__ADS_1
"Jadi ke Polres?" tanya Raya.
"Keadaan kamu gimana? Kalau terlalu lelah kita pulang saja, tidak usah dipaksakan."
Raya menggeleng. "Kita ke Polres saja," katanya.
"Oke."
Mereka menaiki mobil dan mulai meninggalkan area Rumah Sakit itu untuk menuju Polres.
Disana Raya bertemu Polisi yang bertugas menyelidiki kasus yang menimpa Raya tempo hari.
Didampingi oleh suaminya, Raya merasa tidak ada yang perlu ditakutkan lagi karena kejadian itu telah berlalu.
Dengan menguatkan hati, Raya mulai menerangkan kronologi kejadian itu.
Saat ini, yang ditahan terkait masalah ini ada tiga orang. Dua tersangka tangkap tangan yakni Feli dan Roro, dan satu lagi adalah pria yang mencegat Raya bernama Robi, yang ternyata adalah orang suruhan Feli.
Saksi-saksi kejadian adalah Yana, Nev dan beberapa suster Rumah Sakit yang sempat melihat kedatangan Feli dan Roro dihari yang sama.
Dan menurut keterangan Raya hari ini, dapatlah satu orang lagi yang diberikan status sebagai saksi yakni sang supir, karena Pak Karno tidak ada dihari Raya dicegat, membuat pria setengah baya itu ikut dicurigai. Namun, statusnya yang sebagai saksi saat ini, bisa naik menjadi tersangka juga, apabila ada unsur kesengajaan dan keterlibatan beliau pada insiden ini.
Tidak terlalu lama Nev dan Raya berada di Polres, mereka langsung meninggalkan tempat itu untuk mengisi perut yang sudah keroncongan.
Mereka memutuskan makan siang bersama di rumah, karena Nev tak mau Raya terlalu lama berada diluar ruangan, dia memikirkan kesehatan Raya dan merasa sudah cukup untuk hari ini.
"Nev, bagaimana acara pernikahan Jimmy dan Nimas?" tanya Raya, ia mengingat jika acara itu akan terjadi di penghujung Minggu.
Nev meneguk air putihnya, lalu menatap Raya sekilas. "Semuanya sudah rampung, Jimmy tinggal ijab qabul saja, Sayang." katanya.
"Sepertinya mereka akan jadi pasangan yang serasi," kekeh Raya.
"Ya, tapi tidak akan mengalahkan keserasian kita," kata Nev mengedipkan sebelah matanya.
Raya terkekeh dan mereka menyelesaikan sesi makan siang itu bersama-sama.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Beberapa hari berlalu, kabar mengenai persidangan Feli dan Roro sudah santer terdengar. Mereka juga sudah melalui tahap rekonstruksi kemarin, dan akan segera ditindaklanjuti dengan proses meja hijau untuk mendengar ketukan palu tentang penjatuhan hukuman mereka.
Tersangka tetap seperti sedia kala, yakni tiga orang. Feli, Roro dan Robi. Sementara supir Nev tidak terlibat karena sudah terbukti tidak bersalah. Pada saat kejadian itu, Pak Karno sedang mengantri di toilet umum dan tidak mengetahui apa hal yang terjadi.
Dan dari penyelidikan, terungkaplah bahwa Robi dibayar oleh Feli untuk menculik Raya. Robi yang nyatanya adalah kelasih Roro, jelas terlibat dalam kasus ini dan tak bisa mengelak.
Berdasarkan itupula, mereka mendapat tuntutan lain yakni perencanaan penculikan, penculikan saat di Rumah Sakit, pembunuhan berencana dan terakhir mengakibatkan Raya kehilangan janinnya dan itu juga merupakan tindak pembunuhan walau Raya tidak ikut kehilangan nyawa.
__ADS_1
Mereka mendapatkan pasal berlapis yang membuat Nev tersenyum menang karena mereka tak akan mendapat keuntungan apapun meski dibela sepuluh pengacara sekaligus.
Dari hasil keterangan, dapatlah sebuah kesimpulan tentang rencana para tersangka itu.
Semua memang berawal dari Feli. Menurut rencana awal, Feli meminta Robi untuk menculik Raya, karena Feli tahu kemampuan Raya dalam tekhnik bela diri, Feli tak akan mampu menaklukkan Raya seorang diri, untuk itulah dia mengutus Robi.
Namun sayang, Robi kalah oleh Raya. Sehingga mereka merencanakan langkah kedua, yakni membuat Raya tidak berdaya dengan bius dilain kesempatan.
Tetapi, sebab perbuatan Robi yang gagal menculik, justru membuat Raya harus dirawat dirumah sakit.
Untuk itulah mereka memiliki plan ketiga, yakni memberi Raya obat tidur di makanannya.
Kali ini Roro yang beraksi, tahu jika Yana yang mengasuh Raya selama di Rumah Sakit, diapun berniat membekali Yana makanan yang sudah diberi obat tidur untuk menu makan siang sang Nyonya.
Sialnya, beberapa hari sebelum mereka melaksanakan langkah ketiga itu, Robi tertangkap oleh orang-orang suruhan Bian yang diutus Nev lebih dulu untuk mencari pria itu. Sehingga mau tak mau, Feli dan Roro menjalankan langkah selanjutnya hanya berdua saja tanpa Robi.
Mereka cukup yakin jika Robi tak akan membuka mulut, dan benar saja Robi hanya mengatakan jika dia orang suruhan tanpa mengatakan lebih lanjut tentang siapa yang menyuruhnya. Walau selalu ditekan oleh orang-orang suruhan Nev, tapi Robi tetap tak mau buka suara, hingga Bian menyerahkannnya ke pihak kepolisian lebih dulu.
Ya, Robi lebih dulu di proses ketimbang Roro dan Feli.
Dan disaat Robi berterus-terang dengan pihak kepolisian, Bian pun sudah tahu siapa dalang dibalik semua ini. Bersamaan dengan itu, Nev juga yang telah menduga hal yang sama dan langsung menuju rumah orangtua Roro, sebelum Bian memberitahunya.
Maka diwaktu yang sama, Bian bisa menyusul Nev kesana bersama para polisi, walau ia tak pernah diberi tahu oleh Nev tentang keberadaan pria itu.
-
Raya memperhatikan Nev yang sejak tadi bolak-balik menerima panggilan telepon, entah hal apa yang membuat Nev tampak sibuk. Mungkin pekerjaan Nev sedang berantakan karena terlalu lama ditinggalkan.
Setelah melihat Nev tidak menelepon lagi, Raya mencoba menghampiri sang suami.
"Apa ada hal penting? Kenapa kamu begitu sibuk?" selidik Raya ingin tahu.
"Tidak, itu tadi telpon dari Bian mengenai pekerjaan. Juga tentang tanggal sidang putusan untuk Feli and the gank, sudah diberitahukan," tutur Nev lembut.
Raya mengangguk. "Kapan?" tanyanya.
"Berkas sudah lengkap, Hari Selasa ini mereka akan menjalani proses sidang," terang Nev.
Raya menghela nafas lega. "Akhirnya..." ujarnya.
"Kamu lega?" tanya Nev merangkul tubuh istrinya.
Raya mengangguk cepat.
"Aku belum," kata Nev. "Aku akan lega setelah mendengar putusan hakim tentang masa hukuman mereka," sambungnya.
__ADS_1
...Bersambung ......
...Jangan lupa love, like, komen, vote dan hadiah♥️...