
Abrine dan Aarav harus rela dihukum menjawab soal yang diberikan oleh Bu Siska.
Abrine bisa menyelesaikan hal itu, karena pelajaran matematika adalah favoritnya. Sementara Aarav harus rela dihukum kembali karena dari tiga soal yang diajukan Bu Siska--tak satupun bisa dijawabnya, entah ia memang tak paham atau sengaja mengulur - ulur waktu agar dekat dengan wanita yang menjadi gurunya itu.
Abrine hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat wajah culas Aarav. Ia tak mengerti kenapa tingkah sang kakak terlihat sangat absurd tiap pelajaran matematika bersama Bu Siska. Benarkah kakaknya itu tertarik dengan wanita yang lebih tua? Bukankah itu aneh?- batin Abrine.
"Abrine, kamu sudah boleh kembali duduk! Dan kamu Aarav, kamu berdiri disini sampai jam pelajaran saya selesai, perhatikan saya menjelaskan soal yang telah dikerjakan Abrine ini!" titah Bu Siska dan Aarav justru menyeringai tipis.
"Baik, Bu!" sahut Aarav patuh. Dia amat senang karena hal ini justru membuatnya bisa lebih dekat memperhatikan wajah Bu Siska yang manis.
Sementara itu, Abrine bersungut - sungut saat kembali ke mejanya, ia menatap ke arah papan tulis lagi--dimana ada Aarav yang berdiri disana sambil menatapi Bu Siska yang kembali fokus mengajar.
_____
Waktu yang sama dikelas yang lain, Airish sangat terganggu dengan tatapan Zio yang selalu memperhatikannya dari arah meja yang ada disebelahnya.
"Zio!"
"I-iya, Bu?" Zio mengadah, menatap pada sang guru yang memanggil namanya.
"Tolong bagi anggota kelas menjadi 5 kelompok untuk mengerjakan tugas dari saya!" titah guru berhijab bernama Bu Weni pada Zio sang ketua kelas. Ya, Zio adalah ketua kelas di kelas Airish.
"Setelah siap, nanti berikan daftar namanya pada saya!" tambah Bu Weni lagi.
"Ba-baik, Bu!" jawab Zio patuh.
Semua siswa yang mendengar ucapan Bu Weni pun langsung paham jika mereka akan mendapat tugas kelompok dari guru mata pelajaran Bahasa Indonesia tersebut.
"Jadi, berhubung pelajaran kita mengenai sajak, syair dan puisi. Ibu mau kalian membuat karya dari salah satu tema pelajaran kita itu. Karya itu harus dibuat...bla...bla..
bla..."
"...nanti akan di jadikan majalah dinding untuk dipamerkan didepan kelas. Dalam satu papan mading yang kalian buat, harus terdiri dari ......"
Penjelasan Bu Weni yang panjang lebar tidak membuat Airish tertarik sama sekali. Ia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sebab ia paling malas kerja kelompok bersama teman - temannya. Lebih tepatnya bersama Zio. Pasti lelaki itu sudah meletakkan namanya di barisan kelompok yang sama dengan diri Zio sendiri. Duh...
"Rish, kita satu kelompok, ya..." celetuk Zio dari meja seberang.
Airish hanya bisa berdecak karena ia tak kuasa untuk menolak tawaran Zio, ia tak bisa bersikap frontal seperti kedua kakaknya, ia tak bisa mengutarakan ketidaksetujuannya karena ia takut orang akan sakit hati karena ucapannya yang mungkin akan menyinggung perasaan orang lain.
_____
"Hahaha, kalau gak mau satu kelompok ya bilang aja lah! Lagian kamu sih, dek! dia kan nanya, harusnya kamu tolak dengan tegas!" celoteh Abrine saat mereka duduk dimeja kantin dijam istirahat dan Airish mengeluhkan problemnya tentang hal tadi.
"Aku gak bisa, Kak!" jawab Airish lesu.
"Ya udah sih! Terima resikonya! Gak mau nyinggung orang lain ya siap - siap disinggung atau diganggu, eh...." Abrine tertawa cekikikan membayangkan Airish yang akan satu kelompok dengan Zio.
Sebenarnya bisa saja Abrine melabrak Zio sekarang dan memintanya menghapus nama Airish dikelompok yang sama dengan lelaki itu.
Namun, menurut keterangan Airish, catatan nama - nama kelompok yang sudah dibagi oleh Zio menjadi lima kelompok itu--sudah diserahkan pada Bu Weni seusai jam pelajarannya. Jadi, mau tak mau Abrine tak bisa berbuat apapun untuk membantu sang saudara kembar.
"Ya udah, kamu nikmatin aja! Siapa tahu makin dekat deh kalian!" ejek Abrine sembari menyeruput minuman dinginnya dengan sebuah sedootan plastik.
"Hmmm..." Airish kembali lesu, bahkan makanannya hanya diaduk - aduk dan tampak malas menyuap itu.
__ADS_1
"Kak Aarav mana, Kak?"
"Tahu, tuh! Kelakuannya makin absurd aja! Dia kayaknya mau cari pacar yang keibuan kayak Mama kita! Hahahaa... pantas aja papa cemburu sama Kakak!" jawab Abrine asal.
"Loh emangnya Kak Aarav buat hal apa?"
"Itu, kamu tahu kan guru baru yang menggantikan Pak Sam sebagai guru matematika?"
"Oh yang cantik itu ya? Jadi Kak Aarav suka sama guru cantik itu. Ya wajar aja sih!"
"Wajar darimananya? Bu Siska itu udah 25 tahun."
"Ya biarin aja lah, Kak! Lagipula kan dia cuma suka, bukan buat menikah, kita juga masih sekolah ini... mungkin cuma ngefans biasa kali. Kak Aarav itu terbawa - bawa sama sikap Mama, dia terobsesi cari perhatian sama cewek yang lebih tua deh!"
Airish lebih santai menanggapi permasalahan Aarav dan Bu Siska karena pemikiran Airish memang lebih memandang ke jangka pendek, sementara Abrine lebih memikirkan efek jangka panjangnya.
Bagaimana jika sikap Aarav ini berkelanjutan?
_____
Sepulang sekolah, sesuai kesepakatan, Aarav dan Airish pulang lebih dulu sementara Abrine masih harus mengikuti ekskul karate disekolah.
Nev tidak jadi menjemput kedua anaknya itu kesekolah, karena Nev mengantar Raya ke dokter, Raya mendadak tidak enak badan.
Mang Deden yang ditugaskan menjemput ke sekolah-- karena sopir mereka yang lama--Pak Karno--telah pensiun saat anak - anak masih SD.
"Mang, aku pulang naik KRL aja deh!" Aarav berani mengatakan hal itu karena kini yang menjemputnya bukan sang Ayah.
"Wah, Den... jangan begitu. Nanti saya dimarahin Tuan," ucap Mang Deden takut - takut.
Namun, karena tak sampai hati jika Mang Deden sampai dimarahi sang papa karena ulahnya, akhirnya ia pasrah juga menaiki mobil.
Aarav duduk di kabin depan sebelah sopir, sementara Airish akan menyusul dan duduk di jok belakang.
"Muka atau lemon sih itu? Asem banget!" ejek Aarav saat sang adik baru masuk ke dalam mobil.
"Jangan mulai ya, Kak! Aku belum membalas kakak masalah tadi pagi. Liat aja nanti!" ancam Airsih kesal.
"Kamu kenapa?" Aarav menoleh ke belakang dan menanyakan sang Adik.
"Aku satu kelompok dengan Zio, Kak! Dan hari minggu besok harus kerumahnya untuk mengerjakan pekerjaan kelompok itu!"
"Huahahaha...." Aarav justru terbahak, membayangkan Airish akan terjebak bersama pria culun itu.
"Malah diketawain!" gerutu Airish.
"Tau gak, itu resiko karena suka melawan kakak!" jawab Aarav congkak.
"Yeyyy! Yang ada kakak yang suka ngerjain aku!" Airish kesal dan semakin mencebik.
Mobil yang dikendarai Mang Deden pun sudah mulai berjalan dan keluar dari area sekolahan.
Namun, mata Aarav menangkap pemandangan di halte depan sekolah mereka.
"Itu kan Bu Siska, gue tawarin aja nebeng di mobil ini!" batin Aarav senang.
__ADS_1
"Mang... minggir di halte depan, ya?" pinta Aarav.
"Mau apa, Den?" Mang Deden merasa was-was, takut Aarav kabur.
"Udah gak usah banyak nanya! Aku tetap akan naik mobil kok, jadi jangan mengira aku akan kabur!" jawab Aarav seakan tahu isi hati Mang Deden.
Airish melirik ke arah halte dan ia melihat Bu Siska disana.
"Oh, mau pedekate!" celetuk Airish yang sudah tahu niat sang Kakak.
"Jangan ganggu kamu!" kata Aarav ketika mobil mulai berangsur-angsur melambat didepan halte itu.
"Iya deh iya..." sahut Airish dengan senyum jahilnya yang tersungging.
Aarav membuka kaca jendela mobilnya dan sedikit memekik pada Bu Siska.
"Bu, nunggu siapa? Kalau gak ada yang jemput ayo barengan aja sama aku!" ucap Aarav diselingi seringaian tipis.
Bu Siska mengibaskan tangan. "Gak usah Aarav, Ibu naik Bis saja!" tolaknya halus.
"Naik Bis, abis itu nyambung lagi naik KRL... apa gak lelah, Bu? Ayo... aku juga gak sendirian, ada adikku dibelakang!" kata Aarav lagi - lagi menawarkan.
Airish segera membuka kaca jendela belakang dan sedikit mengangguk hormat pada bu guru cantik itu.
"Beneran gak apa - apa? Rumah saya jauh!" ucap Bu Siska tak enak hati.
"Gak apa- apa, Bu!" kali ini Airish yang menjawab, ia bertekad akan membalaa kelakuan jahil Aarav didepan wanita yang Aarav sukai. Hehehe ...
Beberapa saat Bu Siksa tampak berpikir, namun Aarav tetap pada pendirian dengan menunggu jawaban dari sang guru, akhirnya Bu Siska ikut naik juga kedalam mobil yang menjemput Aarav dan Airish.
"Maaf ya, jadi merepotkan. Saya memang buru - buru. Ada keperluan mendadak!" ucap Bu Siska dengan wajah sungkan.
"Gak apa-apa kok, Bu! Kita segera pulang kalau begitu!" sahut Aarav dengan perasaan senang bukan main.
******
Yang kemarin gak bisa liat visual ini aku kasih lagi ya. Mudah-mudahan yang ini bisa dilihat visualnya.
...Aarav...
...Abrine...
...Airish...
...Alfaro Zio...
...Bu Siska...
__ADS_1