
Nev berencana ke rumah sakit hari ini, dia datang kesana bersama Bian.
"Biar aku yang menyetir, aku sudah lama tidak menyetir mobil," kata Nev, dia langsung memakai kacamata hitamnya dan memasuki mobil yang sudah diparkirkan di pekarangan rumah.
Bian mengangguk hormat, kemudian duduk di jok depan, bersisian dengan Nev.
Nev menarik nafas dalam, bagaimana pun dia merasa gugup karena sudah dua tahun ini tidak mengemudikan mobilnya sendiri.
Nev mulai memakai seatbeltnya dan memposisikan duduk senyaman mungkin.
"Anda yakin, Tuan?" tanya Bian memberanikan diri.
Nev menatap Bian. "Kau ragu padaku?" tanya Nev.
"Ti-tidak, Tuan." jawab Bian yang langsung ciut karena nada suara Nev yang mengintimidasinya.
Nev tersenyum miring, kemudian mulai menyalakan mobilnya. Pertama, Nev memulai dengan menetralkan posisi persneling mobil, kemudian lanjut menstater mobilnya. Lalu, dia menginjak pedal kopling secara penuh, kembali pada tuas persneling dan memasukkan ke gigi 1. Setelah itu, dia melepaskan kopling secara perlahan dan pada saat yang sama-- dia mulai menginjak pedal gas.
Bian sedikit was-was dalam mode ini, tapi melihat senyum percaya diri yang tersungging dari bibir Nev, serta menyadari mobil yang mulai berjalan keluar melewati gerbang rumah dengan kecepatan efisien, perasaan was-was itu pun mulai memudar.
Tak lama, mobil yang dibawa Nev pun mulai melaju, meluncur membelah jalan raya dengan kecepatan sedang.
Nev dapat mendengar deruan nafas lega yang menghambur keluar dari bibir Bian.
Nev mengulumm senyum demi mendapati reaksi Bian itu.
"Apa rasanya seperti uji nyali?" kata Nev sembari tetap fokus pada jalanan yang terasa padat-lancar hari ini.
Bian mengangguk secara berulang dan Nev terkekeh kecil.
Hampir tiga puluh lima menit berkendara, mereka pun tiba di Rumah Sakit. Kedatangan Nev kali ini, tentu saja untuk memeriksakan keadaan dan kondisi kakinya yang sudah dapat berjalan secara spontan sejak kemarin.
Dia menemui Dokter spesialist yang biasa menanganinya karena sebelumnya mereka sudah membuat janji temu hari ini.
Setelah mengonsultasikan keadaannya, dan memeriksakan kondisi jaringan serta syaraf-syaraf didalam tubuhnya, Dokter menyatakan bahwa kondisi Nev benar-benar telah sembuh.
Dokter juga mengucapkan selamat atas kesembuhannya ini dan dengan senang hati, Nev menyambut uluran tangan Dokter tersebut.
Usai dengan kegiatan dirumah sakit, Nev ingin kembali ke kantor bersama Bian, namun tak seperti sebelumnya, karena dia ingin Bian mengemudikan mobilnya kali ini.
Dipertengahan jalan, Nev melihat sebuah kejadian yang terjadi didepan matanya, kejadian yang begitu cepat-- membuatnya meminta Bian segera menghentikan mobilnya saat itu juga.
"Ada apa, Tuan?" tanya Bian.
"Tunggulah disini, aku ingin mengejar copet itu," kata Nev merujuk pada seorang pria kurus yang berlari setelah melakukan aksi pencopetan di trotoar jalan.
"Tapi kaki Anda baru sembuh--" ucapan Bian tak berlanjut karena ternyata Nev sudah lebih dulu keluar dari mobil dan mengejar pencopet itu.
"Astaga..." kata Bian menggaruk kepalanya yang tak gatal. Jika Nev memang mau melatih kemampuan kakinya, apa tak cukup dengan tes mengemudikan mobil saja seperti pagi tadi? Kenapa harus mengejar pencopet segala?- begitulah batin Bian merutuk perbuatan Bosnya yang sulit ditebak.
Bian mencari-cari lokasi untuk memarkirkan mobilnya, karena dia tak bisa berhenti disini karena ini jalanan umum dan satu arah. Akan berbahaya jika dia memarkirkan mobil Nev disini.
Sementara itu, Nev tanpa sadar sudah berlari mengejar pencopet yang berbadan kurus jangkung didepannya.
__ADS_1
Nev melempar pencopet itu dengan barang yang dia ambil secara asal dari sakunya--untuk menghentikan pelarian sang pencopet.
Brakkk ...
Lemparan Nev tepat mengenai kepala pencopet itu, dan membuat lelaki dengan tubuh kurus itu mengaduh kesakitan.
Disaat itulah Nev sadar bahwa yang dia lemparkan tadi adalah ponselnya sendiri.
"Shittt!" umpat Nev entah pada siapa, lalu dengan gerakan cepat dia mencengkram leher pencopet itu.
"Kembalikan tas-nya..." kata Nev pada sang pria yang sudah terduduk sambil ngos-ngosan dipinggir jalan itu.
Pria itu mengadah pada Nev dengan wajah kesal, namun Nev tak mempedulikan itu. Nev segera merampas tas yang masih dipegang pencopet itu.
Pencopet itu tak terima dan memberi Nev pukulan saat Nev sudah berbalik badan.
"Kenapa kau mencampuri urusanku!" teriak pencopet itu dan ...
Bugh ...
Pencopet itu memukul punggung Nev dengan sebuah batu yang diambilnya secara asal dekat posisinya. Punggung Nev terasa nyeri akibat pukulan kuat itu, amarahnya menjadi memuncak padahal dia tidak berminat untuk berkelahi saat ini, dia hanya berniat mengembalikan tas sang pemilik yang sudah dirampok oleh pria itu.
Nev membalik badan, dan dengan satu kali pukulan telak dari kepalan tangannya, mampu membuat pria itu terhuyung kebelakang hingga terduduk dengan ujung bibir yang langsung mengeluarkan cairan merah.
"Carilah uang halal!" dengus Nev sembari mendecih dan meninggalkan pria itu begitu saja.
Untungnya kejadian itu tak begitu banyak ditonton orang lain, karena kejadian itu terjadi di jam sibuk dan dipinggiran jalan yang satu arah.
Nev berjalan dengan tergesa, menghampiri seorang wanita sang pemilik tas yang tadi sempat dilihatnya saat masih berada dalam mobil. Wanita itu tampak kelimpungan dipinggir jalan akibat baru saja menjadi mangsa dari pencopet.
Wanita itu berbalik dan menatap Nev dengan wajah yang semringah. "Iya, ini tas saya. Terima kasih, Nak. Terima kasih kamu sudah menolong saya," kata Wanita paruh baya itu.
"Silahkan di cek dulu isinya, Bu..." kata Nev menyarankan.
Wanita itupun segera membuka tas dan mengecek isinya.
"Alhamdulillah, sepertinya tidak ada yang hilang." kata wanita itu.
Nev mengangguk sembari tersenyum sopan.
"Sekali lagi terima kasih ya, Nak. Semoga kamu mendapat balasan atas perbuatan baik kamu ini." kata wanita itu tulus.
Wanita itu ingin memberikan Nev sejumlah uang, namun dia ragu karena melihat penampilan Nev yang terlihat berkelas.
"Ibu naik apa?" tanya Nev ingin memastikan sang wanita agar tetap baik-baik saja setelah kejadian ini.
"Saya menunggu Taxi tadi, ternyata malah kejadian seperti ini," sahut Sang Ibu dengan hijab dikepalanya itu.
Nev mengangguk dsn tak lama ada sebuah taxi melintas, Nev dengan sigap menyetop taxi itu dan meminta wanita itu segera masuk.
Sebelum wanita itu benar-benar memasuki Taxi, dia melihat Nev sedikit meringis memegangi punggungnya sendiri.
"Kamu tidak apa-apa, Nak? Apa pencopet tadi melukai kamu?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bu. Hati-hati dijalan, Bu." kata Nev sembari membukakan pintu Taxi untuk wanita itu.
Wanita itu tak lantas naik memasuki taxi, dia kembali bertanya pada Nev. "Bagaimana saya mengucapkan terima kasih kepada kamu? Karena jujur saja, didalam tas saya memang tak begitu banyak uang tapi isinya sangat penting," kata sang wanita dengan raut mengiba pada Nev.
Nev menggeleng cepat. "Tidak usah, saya ikhlas membantu Ibu." katanya.
Wanita itupun mengangguk. "Semoga urusanmu dipermudah ya, Nak."
"Aamiin..." sahut Nev cepat.
Kemudian wanita itu mulai memasuki Taxinya dan Nev memperhatikan sampai Taxi itu menjauh, dia tersenyum kecil karena melihat wanita setengah baya itu mengingatkannya pada mendiang Mamanya yang sudah lama tiada karena menderita penyakit kanker.
Bersamaan dengan itu, Bian datang dan menyapanya.
"Tuan, Anda tidak apa-apa? Saya memarkirkan mobil di pekarangan Bank Indonesia karena parkiran disini penuh semua," kata Bian dengan nafas tersengal.
"Lalu dari BI kesini kau jalan kaki?" tanya Nev mengingat posisi Bank Indonesia yang memang terletak disekitar jalan ini namun jaraknya cukup jauh juga jika berjalan kaki.
"Saya berlari, ingin membantu Tuan tapi ternyata semua telah selesai," kata Bian dengan nada menyesal.
"Sudahlah, ayo kita ke mobil." kata Nev datar.
"Naik Taxi, Tuan?" tanya Bian takut-takut.
Karena Nev sudah lama tak menjahili orang, dia pun mengimbaskan Bian kali ini.
"Jalan kaki saja," katanya singkat.
Hhhhh... Bian menghela nafas kasar, karena dia harus kembali berjalan untuk menghampiri posisi mobil yang terparkir.
"Jangan mengeluh didalam hati, anggap saja kau menemaniku berlatih berjalan," kata Nev santai dan mulai menyeberangi jalan dengan sikap tak acuhnya itu.
Bian pun menurut dengan mengikuti langkah Nev.
"Apanya yang berlatih berjalan? Dia saja sudah lari mengejar pencopet tadi," gerutu Bian dalam hati.
Beginilah resiko memiliki atasan yang mempunyai hati nurani yang tinggi. Mungkin jika ada tiga kasus pencopetan dijalan, semuanya akan dibantu oleh Nev saat melihat kejadian itu terjadi didepan matanya. Entahlah... Mau bagaimana lagi? Bian hanya bisa menggerutu dalam hati.
Mereka berdua masih berjalan untuk mencapai posisi BI, sampai akhirnya Nev kembali bersuara.
"Aku ingin melihat Raya hari ini," katanya dengan tatapan lesu.
Bian menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan. Sampai urusan perceraian Anda selesai." kata Bian.
"Aku tidak butuh persetujuanmu," dengus Nev.
"Saya tahu, tapi berikan Tuan Jimmy waktu untuk membantu Anda, dan Anda fokus dengan perceraian saja dulu. Karena posisinya sekarang Raya akan menikah dengan orang lain, sementara status Anda belum jelas, bagaimana menurut Anda?" kata Bian balik bertanya.
"Entahlah," sahut Nev malas sembari membuka kancing atas kemejanya karena merasa gerah.
"Apa Anda tidak apa-apa?" tanya Bian yang melihat Nev sesekali memegangi punggungnya.
"Punggungku hanya sedikit sakit akibat ulah pencopet tadi, sampai dikantor berikan aku obat," kata Nev dan Bian menganggukinya.
__ADS_1
...Bersambung ......
Sabar ya readers, kejadian ini bakal ada benang merahnya sama kehidupan Nev selanjutnya. Oke?