PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
36 - Pria yang menjadi gila


__ADS_3

Nevan


Ia menyadari bahwa ada sesuatu yang telah terjadi sekarang, terutama mengenai Raya.


Perasaannya semakin tak tenang, hingga akhirnya ia menyudahi sesi sarapannya yang baru saja dimulai. Ia sudah kehilangan selera, bahkan untuk memasang seulas senyumpun tak dapat ia lakukan.


"Nev berangkat, Nek." Hanya kata itu yang mampu ia ucapkan, kemudian ia beranjak meninggalkan ruang makan.


Ia tahu pasti, jika Feli dan Nenek tengah menatapnya yang pergi begitu saja.


Namun ia tak peduli, mood-nya benar-benar berantakan sekarang.


Sesampainya diruang tamu, sudah ada Bian yang menunggu kehadirannya dengan sikap takzim seperti biasanya.


"Kita berangkat, Tuan?" tanya Bian dan ia mengangguk sekilas.


Sampai diambang pintu, suara Nimas menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" tanyanya dengan nada tak tertarik sama sekali mengenai hal apa yang akan disampaikan oleh ART dirumahnya itu.


"Nenek bilang ingin bertemu Tuan di kamar beliau," ucap Nimas.


Ia mengernyit, namun sesaat kemudian menangkap maksud lain-- jika sang Nenek sedang ingin bicara berdua dengannya saat ini.


"Bian, Reschedule jadwalku hari ini. Kemungkinan juga hari ini aku batal ke kantor," titahnya pada Bian yang mengangguki ucapannya dengan cepat.


"Bantu aku menuju kamar Nenek," katanya pada Nimas.


"Baik, Tuan," ucap Nimas.


Saat arah kursi rodanya telah diputar Nimas dan sudah membelakangi posisi Bian, tiba-tiba ia mengingat sesuatu.


"Ah, Bian ... jangan lupa urus berkas ke pengadilan hari ini." ucapnya mengingatkan Bian.


"Siap, Tuan Nev." kata Bian dengan senyum terkembang, ia tahu pasti jika hal ini adalah hal yang Bian harapkan juga.


Nimas mengantarkannya sampai ke depan pintu kamar yang Nenek tempati.


Ia memang harus menemui Nenek, ia ingin meminta penjelasan Nenek tentang apa yang telah terjadi, terutama tentang hal mengenai keberadaan Raya.


Hanya saja, ia cukup sadar jika tadi Nenek belum mau membahasnya, sehingga ia tak mau menuntut sampai Nenek yang lebih dulu memberinya penjelasan.


Mungkin sekarang adalah saatnya.


Maka saat ia mengetuk pintu kamar Nenek, saat itu pula Nenek langsung membukakan pintu.


"Nev ... masuklah," kata Nenek sembari mendorong masuk kursi rodanya dan meminta Nimas segera beranjak dari sana.


Ia cukup heran dengan sikap Nenek, namun ia masih diam menunggu Nenek memulai kata-kata.


"Nev, Raya sudah tidak bekerja disini, Nenek juga memintanya pergi." kata Nenek dengan tenang dan tanpa basa-basi.


Ucapan Nenek membuat matanya membulat seketika dengan jantung yang mencelos.


"Apa-apaan--" ucapannya terhenti diudara karena Nenek langsung menyelanya. Padahal ia ingin marah sekarang.


"Dengarkan Nenek dulu, Nev..." kata Nenek menenangkannya.


Ia mendengkus keras, sikap yang baru kali ini ditunjukkannya dihadapan Nenek. Biasanya ia selalu menjaga sikap, demi menghargai wanita yang diseganinya itu.


"Nev, Nenek melakukan ini untuk kebaikan kalian."


"Kebaikan apa, Nek?" tanyanya marah.


"Sabar dulu..."


"Bagaimana Nev bisa sabar jika tindakan Nenek seperti ini. Raya itu--" lagi-lagi Nenek menginterupsi ucapannya.

__ADS_1


"Nenek tahu kamu memiliki perasaan padanya." potong Nenek cepat.


Lagi dan lagi ia mendengkus kesal karena tak bisa menahan ekspresi itu-- yang keluar begitu saja tanpa bisa ia cegah.


"Kamu baru mengenalnya, Nev. Nenek berharap kamu bisa mengartikan perasaanmu itu, apakah itu hanya perasaan sesaat atau terdapat keseriusan didalamnya." jawab Nenek yang masih dalam mode tenang sejak awal kedatangannya.


Ia mengurut pelipisnya sendiri mendengar pernyataan sang Nenek.


Tak ingin melawan Neneknya, ia memutuskan untuk diam beberapa saat sembari menetralkan perasaannya yang bergemuruh hebat akibat baru mengetahui fakta tentang kepergian Raya.


Raya benar-benar tak berada dalam lingkup kediamannya lagi. Membuatnya mendadak frustrasi.


"Jika ternyata perasaan Nev serius pada Raya, bagaimana, Nek?" tanyanya dengan suara yang entah kenapa menjadi serak.


"Kesampingkan masalah itu, letakkan di list terbelakang, Nev."


"...yang harus kamu urus lebih dulu adalah menyelesaikan masalahmu dengan Feli. Nenek tidak akan mencegahnya jika itu memang keputusanmu." jawab Nenek bijak.


"Nek, bagaimana bisa Nev mengesampingkan urusan perasaan? Nev tidak bisa, Nek." ungkapnya jujur.


Nenek mendekat ke arahnya. "Nenek mohon sekali ini dengarkan nasihat Nenek, Nev. Jangan sampai kamu mengulangi kesalahan yang sama seperti saat memilih Feli." kata Nenek menepuk pelan pundaknya.


Ia hanya bisa tertunduk sembari memegang kepalanya yang mendadak pening.


"Jika urusanmu dengan Feli benar-benar sudah selesai, lalu saat itu kamu masih memiliki perasaan yang sama terhadap Raya, kejarlah dia." kata Nenek kemudian.


Ia menggeleng lemah. "Bagaimana jika saat itu Raya sudah dimiliki oleh orang lain, Nek?" tanyanya pesimis.


Nenek tersenyum kecil. "Itu berarti dia bukan jodohmu." celetuk Nenek dengan gampangnya.


Hhhhhh...


Ia hanya bisa menghela nafas panjang, pemikiran Neneknya selalu tak bisa ia tebak. Nenek selalu punya cara tersendiri untuk menyelesaikan sebuah masalah.


"Mana bisa begitu, Nek." selahnya cepat.


Nenek menggeleng pelan.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Bian meneleponnya tepat setelah pembicaraannya dengan Nenek usai.


Sekretarisnya itu mengatakan jika penyerahan berkas soal gugatan cerai sudah selesai dilakukan oleh pengacaranya.


Mendengar itu, membuatnya sadar-- bahwa sekarang ia harus siap menghadapi salah satu permasalahan dihidupnya.


Keadaan itu juga mengartikan, bahwa kedepannya ia akan repot untuk bolak-balik datang ke gedung pengadilan.


Jauh didalam hatinya, ia tak masalah akan hal itu, justru entah kenapa malah membuat hatinya merasa senang.


Ia pun ingin menuju ruang kerjanya di lantai atas, tetapi tiba-tiba ia teringat lagi pada wanita yang sudah meninggalkan kediamannya.


Dimana Raya?


Apa kabar Raya sekarang?


Ia tahu bahwa saat ini Raya sedang dalam zona rentan seperti yang pernah mereka bahas tempo hari. Seharusnya ia tak membiarkan Raya pergi begitu saja.


Ia merasa bodoh karena terlalu telat menyadari kepergian Raya dan sekarang ia menyesali akan hal itu.


Tanpa ia sadari, ia sudah berada didepan pintu kamar yang biasa ditempati oleh wanita itu.


Ia mendorong pelan pintu untuk masuk kedalamnya.


Aroma parfum yang biasa Raya gunakan, masih tercium jelas diindera penciumannya. Tiba-tiba perasaannya bagai dihantam kerinduan yang teramat dalam.


Kenapa rasanya begitu sesak saat menyadari bahwa Raya memang telah pergi?

__ADS_1


Sejak kapan Raya pergi? Apa setelah ia tertidur malam tadi? Atau subuh hari saat ia masih terlelap?


Entahlah ...


Kemana tujuan Raya? Naik apa dia pergi? Kenapa dia harus mengiyakan keputusan Nenek yang memintanya pergi? Bukankah ia sudah mengatakan pada Raya, bahwa yang menggaji Raya itu dia bukan oranglain.


Kenapa Raya harus mengikuti permintaan Nenek? Harusnya ia tahu lebih cepat dan mencegah kepergian wanita itu.


Sekarang, ia hanya bisa menatapi seluruh sisi kamar Raya yang telah kosong tanpa sesosok wanita yang belakangan hari sudah mengisi dan mencairkan kebekuan hidupnya.


Benarkah ia telah memiliki perasaan yang besar terhadap gadis itu?


Apa yang dikatakan Nenek ada benarnya? Bahwa kepergian Raya juga bertujuan agar ia dapat memastikan lebih lanjut tentang seberapa serius perasaannya pada wanita itu?


Ia pun kembali menatapi seisi kamar, tidak mau melewatkan salah satu detail tempat yang pernah menjadi bagian dari hidup wanita itu.


Apakah Raya akan segera melupakan kamar ini?


Apakah Raya juga akan segera mengenyahkan seorang Nev dari pikiran wanita itu?


Semakin lama berada dalam ruang kamar membuat dadanya semakin sesak, sebab menyadari kenyataan bahwa Raya sudah tak berada didekatnya lagi.


Ia memutuskan untuk keluar dari kamar itu, namun matanya tak sengaja menangkap sebuah benda yang tergeletak diatas nakas.


Itu adalah Handphone Raya. Ponsel pintar yang ia ingat betul bahwa itu adalah pemberiannya untuk Raya. Mereka bahkan membelinya bersama-sama tempo hari.


Astaga, Raya bahkan meninggalkan ponsel yang ia belikan, membuat kepalanya semakin mau pecah sekarang.


Ia pun menyalakan ponsel yang sebelumnya dalam mode off itu.


Ia hanya menatapi ponsel yang kembali menyala itu. Seharusnya Raya menyimpannya dengan baik. Tapi kenapa Raya justru meninggalkan barang pemberiannya?


Mungkin Raya memang tak mau berkomunikasi lagi dengannya.


Ia menggeleng pelan, membuyarkan pikirannya yang justru membuat hatinya semakin sakit.


Kemudian ia membuka ponsel yang tidak diberi akses pengamanan itu.


Membuka galery foto Raya, berharap jika ada salah satu momen yang ditinggalkan oleh wanita itu diponselnya.



Ia tersenyum kecil saat menemukan satu foto Raya di ponsel itu.


Foto itu memperlihatkan Raya yang tengah berselfie dengan senyum yang manis.


Membuat perasannya menghangat seketika. Tapi kemudian, entah kenapa ia ingin marah pada Raya, mengemukakan kekecewaannya.


"Kenapa kamu pergi? Seharusnya kamu minta izin padaku jika ingin keluar dari rumah ini, seperti biasanya." ucapnya pelan.


Ah, dia benar-benar menjadi pria gila sekarang, karena berbicara pada foto yang ada diponsel.


Ia membawa ponsel itu bersamanya, kemudian segera meninggalkan kamar Raya.


Setelah sampai dikamarnya sendiri, ia berpikir cepat tentang apa yang harus ia lakukan sekarang.


Apa ia akan membiarkan Raya pergi begitu saja?


Tidak..


Tentu saja tidak!


Diraihnya ponsel pribadinya kemudian menelepon seseorang yang ia percayai dalam bidang ini.


"Jim, Raya pergi ... kau cari keberadaannya dan jangan ada yang terlewat." ucapnya lantang pada sang sahabat.


Dan sahutan Jimmy dari seberang sana benar-benar cukup untuk melegakannya.

__ADS_1


"Siap, Bro ... kau menelepon orang yang tepat. Soal main detektif-detektifan seperti ini memang keahlianku." kata Jimmy dengan semangat.


...Bersambung ......


__ADS_2