PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Menjebak


__ADS_3

Abrine masuk kedalam ruangan pribadi milik Rolland, sementara Raymond yang mengikuti tentu tak dapat ikut masuk kesana. Raymond memilih duduk disebuah kursi tunggu yang tak jauh dari sana sambil menunggu peringatan dari Abrine, nantinya.


Sementara itu, Rolland baru saja menutup pintu ruangannya, terdengar bunyi yang menandakan bahwa ruangan itu dikunci dari dalam. Abrine tersenyum smirk penuh kebencian.


"Apa aku bisa membantu membuka coat-mu?" tanya Rolland disebelah Abrine.


Abrine mengangguk patuh, berlagak polos sebagaimana kebiasaan saudari kembarnya yang memiliki wajah identik dengannya.


Sayangnya, pria tua bangka ini tidak mengetahui bahwa yang saat ini berada dihadapannya bukanlah Airish, melainkan Abrine.


Coat ditubuh Abrine dibuka secara perlahan-lahan oleh Rolland, menampilkan tubuh Abrine yang dibalut gaun merah maroon pemberian pria itu. Ya, Abrine sebenarnya bukan cuma tahu hal ini karena tak sengaja mendengar perbincangan Papa Nev dan Bodyguard saja. Tetapi ia menemukan kotak berisi gaun maroon yang dibuang Airish tak jauh dari jalan menuju kamarnya. Setelah itu, pikiran Abrine mulai menghubungkan apa yang terjadi pada saudari kembarnya itu, hingga terciptalah sebuah rencana untuk menjebak Rolland.


"Sudah ku duga, kau cantik sekali mengenakan gaun pemberianku."


"Ah, jadi ini benar-benar darimu, Tuan?" tanya Abrine berlagak bodoh.


Rolland hanya tersenyum tipis, matanya tak lepas memandangi kemolekan tubuh Abrine yang mengenakan gaun dengan model dada rendah itu.


Untuk pertama kalinya pula Abrine mengenakan baju semacam ini. Selain ia tak pernah mengenakan gaun, gaun ini memang sangat menjengkelkan dan membuatnya risih. Apalagi melihat tatapan Rolland yang seakan ingin melahapnya sampai habis. Ia sangat membenci pandangan nakal pria itu, namun ia harus menahan diri hingga rencananya berhasil.


"Kau mau minum?" tanya Rolland yang sudah menuangkan segelas wine kedalam gelas kristal.


Abrine tersenyum tipis. "Boleh, aku sangat haus." Abrine mendekatkan gelas itu ke bibirnya, berlagak meneguk padahal tidak sama sekali. Ia tak boleh melakukan kecerobohan dengan meminum minuman dari pria genit ini.


Rolland menatap Abrine dengan tatapan puas, setelah itu ia segera merangsek mendekat ke sisi Abrine. Abrine segera menjauh perlahan.


"Kau tampak cantik sekali malam ini, Airish. Sudah ku duga kau mempunyai bentuk tubuh yang bagus. Aku bahkan bisa melihat itu sebelum hari ini, meski beberapa Minggu lalu kau hanya mengenakan blouse longgar."


Ternyata, begitu pemikiran pria mesum. Meskipun pakaian wanita terbilang tertutup, tetap saja pemikiran pria semacam Rolland akan selalu liar dengan berfantasi membayangkan ada apa dibalik pakaian yang dikenakan seorang wanita.


Benar-benar bedebah--batin Abrine.


"Kenapa siang tadi kau lari saat aku memanggilmu?"


"Memanggilku?" tanya Abrine dengan kernyitan heran.


"Ya, ketika di koridor kampusmu."


Saat itu juga Abrine tahu bahwa Rolland pun mengejar Airish sampai ke area kampus.


Benar-benar harus disingkirkan.


"A-ah, itu aku hanya sedang terburu-buru untuk menyelesaikan jam kuliah," kilah Abrine.


"Ya, kau benar! Yang terpenting sekarang kau sudah disini."


Abrine menatap sebuah piano yang ada disudut ruangan. "Apa tidak sebaiknya kita mengetes kemampuanku dulu?" tanya Abrine. Lagi-lagi ia mau mengalihkan Rolland dari tujuan sesungguhnya. Sebenarnya niat Abrine adalah agar Rolland tampak memaksanya, bukan karena ia yang datang menemui pria tua ini.


Abrine berjalan cepat menuju letak piano, duduk disana meski sebenarnya ia tak pandai memainkannya.


Sesuai prediksi Abrine, pria itu membalik posisi Abrine. Ia bahkan ingin mencium Abrine dengan gerakan tak sabaran.


"Tuan, anda terlalu tergesa. Aku tidak suka dipaksa!" sergah Abrine lepas kendali. Ia tak bisa berpura-pura lagi didepan pria ini. Ia muak bertutur lembut.


Namun, kecetusan sikap Abrine itu justru memancing has rat Rolland menjadi kembali naik.


Dengan langkah sigap, Rolland berhasil meraih kedua sisi tubuh Abrine dan menggiringnya sampai kedalam sebuah kamar rahasia yang ada didalam ruang pribadinya itu.


"Kau jangan jual mahal padaku!" kata Rolland dengan seringaiannya.

__ADS_1


Abrine mundur perlahan, tapi ia menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang tampak mengejek. Ingin rasanya ia menghajar pria ini sekarang juga karena bersikap kurang ajar. Tapi ia harus menahannya.


"Bukan begitu, Tuan." Abrine kembali tertunduk, dalam gugup ia menggenggam jam tangan kecil di pergelangan tangannya sendiri,


Rolland semakin mendekat, membuat Abrine terduduk di bibir ranjang kemudian memaksa Abrine untuk menatapnya. Pria itu menarik rambut panjang Abrine, membuat gadis itu mendongak padanya.


"Kau akan jadi milikku malam ini."


"Tidak, Tuan. Aku mohon." Abrine memohon, sesuatu yang baru kali ini dilakukannya.


"Permohonanmu tidak berguna! Kau sudah berada disini dan harus melayaniku."


Rolland mendorong tubuh Abrine hingga tergeletak di ran jang, kemudian dia tersenyum licik sambil mengelus wajah mulus Abrine. Ia memposisikan kedua tangan Abrine agar berada diatas kepala gadis itu, seolah Abrine telah pasrah padanya.


"Kau bisa percaya padaku, setelah ini aku akan membantumu meraih kepopuleran," bisiknya seduktif.


Abrine tersenyum masam. Kalimat yang ia tunggu sudah terucapkan.


"Apa kau sering melakukan hal ini pada orang lain yang ingin terkenal, Tuan?" tanya Abrine memberanikan diri sebelum ia tak bisa mengendalikan kemarahannya.


"Kalau gadisnya secantik dirimu, aku akan menggodanya sampai aku mendapatkannya."


Abrine tersenyum miring, sepersekian detik berikutnya ia meludahi wajah Rolland, membuat pria itu terkejut sekaligus murka.


"Apa yang kau lakukan!" hardiknya pada Abrine. Ditariknya tubuh Abrine dengan kuat namun disaat itu pula Abrine menendang wajahnya dengan sepatu heels yang masih Abrine kenakan khusus untuk malam ini.


"Sialan!" umpat Rolland dan saat itu Abrine sudah berdiri lalu merangsek keluar dari kamar.


"Berhenti kau gadis breng sek!" ketus Rolland mengejar langkah Abrine yang santai.


Abrine berhenti sesuai permintaan Rolland, ia bahkan tersenyum menawan sambil mengenakan Coat miliknya yang tergantung disebuah standing hook, lalu menatap pada Rolland yang memegangi rahangnya sendiri.


"Jika kau datang kesini hanya untuk memberiku kekerasan seperti ini, kau akan menyesal." Rolland mengancam Abrine yang ia ketahui sebagai Airish.


"Oh ya?" Abrine tertawa pelan. "Lalu, apa maumu, Tuan?"


"Aku mau kau benar-benar melayaniku sesuai kesepakatan kita!"


"Kesepakatan apa? Aku tidak pernah menyatakan bahwa kedatanganku kesini untuk melayanimu. Aku datang kesini untuk menunjukkan kemampuanku!" Abrine menipiskan bibir. "Dan juga, untuk menjebakmu," sambungnya.


"Apa maksudmu? Kau akan menyesal, aku akan menuntutmu atas tindak kekerasan!" wajah Rolland berubah pasi setelah Abrine mengatakan soal menjebak.


"Silahkan saja! Akan ku pastikan kau yang lebih dulu mendekam di penjara!" jawab Abrine tenang.


Abrine hendak membuka pintu namun ternyata pintu itu terkunci dan tak ada kunci disana.


"Mana kuncinya, Tuan?"


"Apa kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja?"


Abrine mengulurkan tangan dengan sikap santai. "Mana kuncinya? Berikan padaku!" ucapnya dengan intonasi naik, ia sudah tak sabar berpura-pura terus dan bersikap lemah lembut, ini sama sekali bukan dirinya meski ia bisa bersikap begitu dengan orang-orang tertentu tapi bukan dihadapan pria breng sek seperti Rolland.


"Aku akan memberikan kuncinya jika kau menyerahkan bukti yang akan kau berikan pada pihak kepolisian."


"Oh, itu tidak mungkin." Abrine berdecak kesal. "Mana mungkin aku menyerahkan buktinya padahal aku sudah bersusah payah memakai gaun sialan ini," sarkas Abrine.


Dengan gerak cepat, kali ini Abrine yang mendatangi Rolland yang berdiri ditengah-tengah ruangan.


Bugh

__ADS_1


Bugh


Bugh


Rolland yang tak menyangka hal itu, langsung tersungkur begitu saja.


Abrine berjongkok didekat tubuh pria itu, tangannya mengadah seolah memberi isyarat bahwa ia sedang meminta sesuatu.


"Kunci!" titahnya dengan nada geram. Habis kesabarannya menghadapi pria semacam ini.


Tak berapa lama pintu terdengar diketuk dari luar.


"Abrine! Kau tidak apa-apa?" itu suara Raymond yang menggedor pintu.


Abrine tak menyahut, ia mencari kunci itu di seluruh saku celana yang dikenakan Rolland yang masih sadar namun sudah tak berdaya, dan tentu Abrine mendapatkannya.


Abrine membuka pintu dengan cuek dan Raymond sudah bersiap dengan kameranya. Tapi Abrine menggeleng pada pemuda itu.


"Tidak usah, aku sudah mendapatkan buktinya. Dia tidak perlu kau tanyai lagi."


Raymond mengernyit, seharusnya rencana mereka adalah Abrine merengek-rengek karena sudah dilecehkan oleh Rolland, namun ternyata rencananya sudah selesai bahkan sebelum Raymond memainkan perkerjaannya disini.


"Ayo!" kata Abrine menarik lengan Raymond yang mencoba melihat ke dalam ruangan dimana ia ingin memastikan keadaan Rolland.


"Kau menghajarnya?"


Abrine mengangguk sekilas.


"Astaga.... dia bisa melaporkanmu juga!"


"Tidak bisa, hukum di negara ini akan menganggapku sedang membela diri karena sikapnya. Dia akan mendekam di penjara setelah ini," tekad Abrine.


"Kenapa rencananya jadi berubah?"


"Aku tidak bisa merengek-rengek, Raymond. Ayolah!" Abrine terus melangkah melewati beberapa orang yang menatapnya dan Raymond dengan tatapan ingin tahu.


Raymond terkekeh. "Kau benar, tapi setidaknya tadi biarkan aku juga ikut menghajarnya. Satu kali pun tak apa."


Abrine hanya menatap datar pada Raymond dan mereka segera masuk kedalam mobil karena mereka telah tiba di parkiran.


"Setelah ini, kemana?"


"Tentu saja ke kantor polisi! Aku harus lebih dulu melaporkannya, Ray!"


"Baiklah," jawab Raymond. Jika saat pergi tadi Abrine yang menyetir mobil, sekarang Raymond yang mengemudikan kendaraan itu menuju kantor polisi terdekat.


"Apa kau mendapatkan buktinya!"


"Tentu saja, kamera di jam ini akan menangkap gambar dan suara yang cukup jelas." Abrine menunjukkan jam tangan yang ia kenakan pada Raymond. Semua yang terjadi padanya saat masuk kedalam kamar rahasia dalam ruangan Rolland tadi telah terekam disana.


"Kalau begitu rencanamu berhasil..." Raymond tersenyum puas.


"Ya, dan jangan pernah beritahu pada siapapun termasuk pada Airish."


"Aku tidak cukup dekat dengannya, kau tahu itu."


"Ya, baiklah...."


******

__ADS_1


__ADS_2