PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Kelulusan


__ADS_3

Tiga gadis cantik berjalan beriringan, Rahelsa yang berada diposisi tengah merangkulkan kedua lengannya pada pundak Abrine dan Airish yang berada dikiri-kanannya. Mereka baru saja menerima pengumuman kelulusan sekolah. Senyuman bahagia terpancar jelas diwajah ketiganya.


"Akhirnya lulus sekolah..." kata Rahelsa dengan senyuman secerah mentari.


"Hmmm..." sahut Abrine yang cuek dengan deheman kecil.


"Apa rencana kalian selanjutnya? Jadi balik ke Indo?" tanya Rahelsa bergantian menatap kiri dan kanannya.


Kedua gadis kembar itu menggeleng lemah.


"Loh, kok gak semangat gini? Bukannya tadi bahagia ya udah nerima kelulusan?" tanya Rahelsa keheranan.


"Kita gak diizinin balik ke Indo, kayaknya kita bakal kuliah disini juga. Papa gak ngizinin kita berjauhan, katanya masih trauma."


"Ya udah, disini juga bagus kan?"


"Masalahnya gak gitu, aku rindu Indonesia dan juga Oma Opa..." jawab Airish manyun.


Rahelsa melepas rangkulannya, ia melirik Abrine yang mengangkat bahu cuek sebab pernyataan Airish.


Rahelsa pun tersenyum pada Airish. "Yakin kamu cuma rindu itu?" tanyanya menaik-naikkan kedua alis menggoda Airish.


"Ya iya, emang rindu apa lagi coba."


"Bukannya rindu Zio!" timpal Abrine yang to the point.


"Ish... kakak tuh yang rindu Kak Wildan!" Airish menjulurkan lidah mengejek Abrine.


"Enggak tuh! Biasa aja! Kita kan masih komunikasi lewat sosmed. Kita juga cuma temenan, Wildan juga udah punya pacar sekarang!" kata Abrine dengan gaya cueknya.


"Oh ya?"


"Iya dong!"


"Terus gak cemburu gitu? Gak sakit hati?"


"Ya enggak lah! Biasa aja!" jawab Abrine tersenyum miring.


"Kalau aku jadi kakak pasti aku cemburu banget tuh!" Airish sengaja memanas-manasi Abrine sementara Rahelsa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya.


"Gak tuh! Emang aku kayak kamu.. eh, tapi salah kamu sendiri sih kalo Zio sekarang udah punya pacar juga! Kamu yang pergi gak bilang-bilang dia, terus gak jalin komunikasi lagi sama dia! Kamu sengaja biarin hubungan kalian jadi lost contact, padahal sebenarnya bisa aja kamu chat dia dari sosmed!" ucap Abrine panjang-lebar untuk memberi Airish pelajaran karena telah berani mencibirnya.


Airish terdiam dengan pernyataan Abrine.


"Udah udah.... kalau Wildan udah punya pacar kan belom tentu Zio juga sama!" kata Rahelsa mencoba menengahi.


"Cowok itu semua sama, Hel. Mana ada yang bertahan nunggu cewek yang gak jelas. Makanya dari awal aku gak mau ngasih janji-janji sama Wildan. Toh kita gak pacaran jadi aku bebasin dia! Zio juga gitu kali!" omel Abrine.


"Belum tentu lah!" kata Rahelsa yang melihat wajah Airish langsung muram. Ia tahu jika setahun belakangan ini Airish terus memikirkan Zio.


"Nonton yuk!" ajak Rahelsa pada kedua kakak beradik itu, mencoba mengalihkan topik.


"Kalian aja deh! Aku ada janji sama Raymond," kata Abrine.

__ADS_1


"Ngapain sama Raymond? Jangan bilang mau belajar naik motor gede!" kata Rahelsa.


Abrine hanya tersenyum tipis karena tebakan Rahelsa benar adanya.


"Bye!" kata Abrine saat melihat motor Raymond berhenti tepat didepan mereka.


Airish dan Rahelsa menggelengkan kepala melihat tingkah tomboy Abrine yang belum hilang sepenuhnya justru semakin menjadi sejak bertemu teman-teman bule nya di Jerman.


"Kita nonton yuk!" ajak Rahelsa untuk menghibur Airish yang badmood setelah mendengar ucapan Abrine tadi.


Airish menggeleng.


"Ya ampun! Ayo!" Rahelsa menarik lengan Airish begitu saja dan mau tak mau Airish pun mengikuti cewek itu.


_____


"Rish, boleh nanya enggak?" tanya Rahelsa sembari melirik ke arah jalanan dimana sekarang ia tengah fokus mengendarai mobilnya untuk membawa Airish ke sebuah bioskop.


"Apaan?" kata Airish tak bersemangat.


"Kenapa sih kamu mutus komunikasi sama Zio secara sepihak? Aku denger dari Abrine, Zio sempat hubungi kamu berkali-kali via sosmed, tapi gak kamu gubris. Apa kamu masih ilfeel sama dia? Aku pikir, cuma Zio cowok yang kamu pikirkan selama ini..."


Airish menghela nafas panjang atas pertanyaan Rahelsa.


"Aku cuma gak mau ngasih harapan sama dia."


"Kenapa? Kamu gak suka sama dia?"


Rahelsa tertawa pelan. "Zio janji gitu ke kamu?"


"Iya," kata Airish.


"Lah terus? Aku masih gak ngerti kenapa kamu malah jauhin dia?"


"Ya, kamu tahu kan janji Zio itu bisa aja dia ingkari terutama kita juga masih dibawah umur, mana aku percaya sama janji dia. Jadi, aku sengaja jauhin dia, aku mau lihat dia bisa pegang janji apa enggak kalau aku udah mutus komunikasi gini,"


"Kalau dia ingkar, gimana?"


"Ya gak masalah. Dari awal kan aku udah gak kasi dia harapan. Dia bebas kok buat bahagia sama cewek lain."


Rahelsa menganggukkan kepalanya.


"Terus, kalau ternyata dia nepatin janji dan tetap nungguin kamu meski kamu udah mutus komunikasi kalian, gimana?"


Airish terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Rahelsa karena ia sendiri tidak pernah memikirkan hal itu. Hati kecilnya selalu menolak jika Zio akan menepati janji, karena ia takut memiliki harapan yang tinggi jika ternyata Zio mengingkari janji itu.


"Gak bisa jawab?" Rahelsa tertawa pelan.


"Ya kalau dia tetap nunggu aku---"


"Tandanya kamu harus kabulin harapan dia!" potong Rahelsa cepat.


_____

__ADS_1


Rahelsa dan Airish menonton film romantis disebuah bioskop tapi setelah pemutaran film usai, Airish justru melihat wajah Rahelsa yang muram.


"Kamu kenapa?" tanya Airish heran saat mereka sudah ingin keluar dari area bioskop.


"Gak apa-apa," sanggah Rahelsa.


"Kepikiran film tadi ya? Cowoknya mati terus kamu jadi baper!" ejek Airish.


Rahelsa mangangguk sambil tertawa pelan.


"Gak usah baper kali! Itu kan cuma film. Kak Aarav juga masih hidup sekarang!" Airish tak henti-hentinya mengejek Rahelsa.


Rahelsa hanya tertawa pelan mendengar ucapan Airish itu.


"Btw... aku udah denger kali soal perjodohan kamu sama Kak Aarav," kata Airish. Sekarang mereka menuju sebuah stand penjual ice-cream yang berada di lingkup gedung Bioskop.


"Menurut kamu gimana, Rish?"


"Bagus sih! Kamu sayang kan sama kak Aarav? Kami semua setuju!"


"Bukan masalah itu..."


"Terus?"


"Aku takut Aarav gak setuju sama hal ini."


"Mana mungkin, Kak Aarav pasti mau lah!"


"Kamu yakin? Bukannya Aarav suka sama guru kalian itu, ya?"


"Guru?" Airish mengernyit seolah mengingat guru yang dimaksudkan oleh Rahelsa, kemudian ia mengingat tentang Bu Siska. "Oh..


Bu Siska, ya? Itu kan masa lalu... pas Kak Aarav masih labil."


"Hmm... kamu tahu gak, kenapa aku mendukung kamu sama Zio setelah aku tahu Zio itu ngarepin kamu sejak awal?"


"Kenapa?" Airish heran, kenapa jadi beralih ke cerita tentang Zio?


"Karena aku dan Zio itu gak jauh beda. Zio mengharapkan kamu sejak awal, sama kayak aku yang ngarepin Aarav sejak dulu. Aku takut, Aarav juga sama seperti aku dan Zio yang ngarepin seseorang sejak lama dan orang itu... bu Siska."


"Jadi kamu takut bertepuk sebelah tangan, gitu?"


Rahelsa mengangguk.


"Hel, kita gak akan tahu kalau kita gak pernah mencoba. Sama kayak aku dan Zio, kalau diantara kami gak ada yang mencoba untuk bertindak, gak akan ada yang namanya masa depan diantara kami. Mungkin aku akan dengan orang lain dan Zio dengan cewek lain juga!"


"...jadi, sebenarnya aku ngarepin Zio yang bertindak, sih! Sama kayak kamu dan Kak Aarav, salah satu dari kalian harus berani bertindak supaya masa depan itu terlihat, kalau kak Aarav gak bisa, ya kamu yang harus bisa! Soal Bu Siska, itu masa lalu, Hel. Masa depan jauh lebih penting!" ujar Airish panjang lebar secara bijak.


Rahelsa mengacak rambut lurus Airish. "Bisa aja kamu!" kekehnya.


"Ya dong! Jika Airish yang pintar sudah bicara, dunia pun jadi terkesima!" kata Airish jumawa. "Udah, calon kakak ipar aku gak boleh galau lagi...." sambungnya.


*****

__ADS_1


__ADS_2