
Nevan
Seperginya Feli, Ia meraih ponsel dalam saku celananya, lalu menekan tombol yang langsung menghubungkan panggilannya pada nomor seseorang.
"Kamu dimana?" tanyanya melalui sambungan telepon.
"Saya ada di kamar, Tuan. Apa Tuan ingin saya menyiapkan makan malam sekarang?"
"Tidak usah, aku ingin makan diluar." sahutnya.
"Kenapa? Dimana?"
"Jangan banyak bertanya, temui aku di ruang kerja sekarang." titahnya pada seseorang diseberang telepon yang tak lain adalah Raya.
Ia pun memutus panggilan telepon itu, kemudian tersenyum senang karena bisa menghubungi Raya dengan mudah sekarang.
Tak berapa lama, suara pintu yang diketuk terdengar dari luar, disusul dengan suara Raya yang meminta izin masuk.
"Masuklah..." katanya menyahuti.
Raya masuk kedalam ruang kerja dan tanpa basa basi ia langsung meminta Raya membawanya turun ke basement, karena ia akan makan malam diluar bersama Raya tentunya.
Tanpa banyak protes, Raya membantunya memasuki mobil, kemudian Raya langsung mengisi jok pengemudi yang ada disebelahnya-- untuk menyalakan mobil dan segera meninggalkan kediamannya.
"Kita akan kemana, Tuan?" tanya Raya sembari membelokkan kemudi dipersimpangan jalan. Mata Raya fokus pada keadaan jalan yang ramai-lancar.
"Kamu mau makan apa?" tanyanya mengarah pada Raya.
"Kok saya? Kan saya mengikuti selera Tuan." jawab Raya tanpa menoleh padanya yang sudah memandangi wanita itu dengan lekat.
Raya menunggu keputusannya sembari fokus mengemudikan mobil yang mulai memasuki kawasan padat penduduk.
"Aku ingin makan disitu saja." ucapnya random-- menunjuk pada sebuah tempat ramai, semacam pasar malam yang didalamnya banyak menjual makanan dengan stand-stand yang berjajar memanjang.
Raya menoleh ke arahnya sekilas. "Apa Tuan yakin makan disana?" tanya Raya dengan wajah mengernyit heran.
Ia mengangguk demi menjawab pertanyaan itu.
Makan di stand pinggir jalan bukanlah masalah untuknya, ia bisa makan apa saja asal tempat itu bersih dan tentu makanannya bisa diterima oleh lidahnya.
Seperti biasa, tidak ada protes lagi yang keluar dari bibir mungil Raya, wanita itu segera mencari selah untuk memarkirkan mobil ditempat yang dirujuk oleh seorang petugas pallet.
Raya membukakan pintu mobil untuknya, lalu dengan cekatan membantunya turun, kemudian ia pun duduk dengan mantap dikursi rodanya.
Ini adalah Minggu malam, ramai sekali orang-orang yang menghabiskan waktu untuk makan diluar.
Keadaan Night Market pun sangat meriah dengan banyaknya lampu-lampu serta adapula arena permainan yang bisa dimainkan oleh anak-anak, remaja, maupun orang dewasa.
Disini juga banyak pilihan makanan, mulai dari jajanan pasar sampai adapula yang menjual makanan ala-ala kekinian yang sedang nge-trend dikalangan sosial media.
"Tuan ingin makan apa? Apa kita berkeliling dulu?" tanya Raya.
Ia tersenyum melihat ke antusias-an Raya, ia menoleh ke belakang dan benar saja jika Raya sedang memandang hampir ke semua sisi-- sepertinya Raya tertarik mencoba semua menu makanan disini.
"Kamu tidak pernah ke tempat seperti ini?" tebaknya.
Raya terkekeh. "Dulu, waktu saya masih SMP, tidak ada tempat seperti ini disini, Tuan. Paling pedagang asongan dipinggiran jalan saja yang ada. Itupun tidak semeriah ini." jawab Raya dengan senyum terkembang.
"Setelah lulus SMP, saya tidak tinggal disini lagi. Jadi, sekarang saya melihat banyak perubahan di kota ini." sambung Raya.
"Kalau begitu, aku ikut pilihanmu saja. Kamu mau makan apa?" sarannya.
"Emm, yang itu enak tidak, ya? Atau yang itu saja ya...Eh yang itu juga boleh, Tuan." kata Raya menunjuk ke macam-macam pilihan stand yang ingin ia cobai setiap cita rasanya.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu jadi tukang makan?" tanyanya terkekeh.
Raya mencebikkan bibir. "Katanya tadi ikut selera saya, saya memang tukang makan." jawab Raya sedikit memekik karena sekarang mereka berada disebelah arena kereta trail untuk anak-anak--sehingga menyebabkan suasana semakin bising.
Ia hanya bisa tertawa melihat wajah Raya yang cemberut.
"Ya, terserah kamu saja lah." sahutnya sembari melambai-lambaikan tangan pada Raya sebagai isyarat menyerah.
Raya kembali tersenyum cerah, kemudian mulai mendorong kursi rodanya untuk memilih lalu membeli jajanan dan makanan yang ingin dicobai.
Raya juga tak lupa membelikan untuknya.
"Makasih, Tuan sudah traktir saya makan disini." kata Raya senang.
Ia hanya menggelengkan kepala melihat sikap Raya yang begitu bahagia malam ini, Raya terlihat apa-adanya dan tidak gengsi mengikuti keinginannya makan ditempat seperti ini.
Sampai mereka memilih sebuah meja yang memang disediakan khusus untuk pengunjung yang makan ditempat itu.
"Kita duduk disini saja, ya, Tuan." kata Raya.
Lagi-lagi ia hanya bisa mengangguki ucapan Raya itu dan mulai memandangi Raya yang beranjak untuk mengambil pesanan makanannya yang telah siap dibeberapa stand tempat mereka memesan tadi.
"Silahkan, Tuan ..." kata Raya sembari menyajikan satu persatu makanan ke atas meja.
Ia menatapi semua makanan yang dibawa Raya-- wanita itu sampai empat kali bolak-balik ke meja yang sama dan meja mereka hampir dipenuhi oleh makanan.
"Ini bener... kamu yakin bisa abisin ini semua?" tanyanya tak percaya karena mendapati begitu banyak makanan diatas meja.
Raya terkekeh. "Sebentar, masih ada lagi. Tunggu ya..." kata Raya segera berlalu menuju stand terakhir tempatnya memesan makanan.
Ia tak bisa menjawab lagi karena kini matanya fokus menatapi semua makanan yang ada di meja.
Disana ada Sate Padang, Pempek Palembang, Aneka kue tradisional, Corndog, Nasi liwet, Mie-- yang entah apa namanya, tapi ia sering melihat itu jika ada konten kreator yang memasang foto makanan di medsos-- Es dengan macam-macam toping dan martabak yang berisi coklat didalam dan diluar.
Tak lama, wanita yang baru saja membuatnya tepuk jidat itupun datang menghampiri.
"Apa lagi ini?" tanyanya pada Raya, sengaja bertanya dengan niat menyindir wanita itu.
Raya menyengir. "Gultik." jawabnya sembari meletakkan semangkuk gultik lengkap beserta nasinya.
Ia hanya menggelengkan kepalanya dengan samar.
"Ya sudah, makan dan habiskan." ucapnya sembari mengulumm senyuman.
Raya menatapnya dengan mata membulat. "Saya gak bisa habiskan semuanya sendiri, Anda kan menyuruh saya pesankan juga untuk Tuan, jadi bantu saya menghabiskannya, ya." jawab Raya dengan senyum yang dibuat sangat manis.
"Melihatnya saja aku sudah kenyang..." sungutnya serius.
Raya terkekeh dan mulai memakan sebuah Corndog yang ternyata didalamnya terdapat keju mozarela, hingga saat Raya menggigit makanan aneh itu-- mozarellanya memanjang seperti permen karet.
"Astaga Raya, makanan apa yang kamu pesan." ucapnya sembari menahan tawa karena Raya tampak kerepotan sendiri dengan makanan itu.
"Ini makanan kekinian." jawab Raya sambil mengunyah, membuat wajahnya semakin lucu dan menggemaskan. Untuk ukuran gadis 24 tahun, Raya seharusnya sedikit jaga image didepannya.
Tapi kenapa sikap Raya yang seperti ini justru membuatnya tertarik?
Sikap Raya sama sekali tidak masalah untuknya. Bahkan, ia menyukai sikap apa-adanya yang ditunjukkan oleh Raya dihadapannya.
"Ini enak lho, Tuan. Cobain..." kata Raya sembari mengulurkan corndog-- makanan yang sedikit aneh menurutnya itu--tapi ia tetap menuruti juga keinginan Raya untuk mencoba mencicipi-- tepat dibekas gigitan yang Raya buat.
Sebenarnya ia merasakan rasa yang aneh dilidahnya, tapi ia hanya terkekeh karena Raya terus menyodorkan itu berkali-kali.
"Makan nasi dulu, ya..." ucapnya lembut. Dan sekarang gilirannya menyuapi Raya sesendok nasi yang sudah bercampur dengan gulai tikungan alias gultik.
__ADS_1
Raya memakan suapannya tanpa banyak protes.
"Aneh aja ada jual ini malam gini... dan kamu lebih aneh karena membelinya." cibirnya pada Raya, mengingat gultik biasanya dimakan untuk sarapan, kenapa malah menjadi menu makan malam mereka sekarang.
"Gak apa-apa, dong. Jarang saya bisa makan masakan sini." jawab Raya cuek.
Ia terkekeh dan mengacak gemas rambut wanita itu.
"Itu makanya kamu membeli makanan seantero Indonesia?" cibirnya lagi, tapi Raya jusrtu mengangguki.
Ia menyeruput lemon tea yang Raya pesankan untuknya, kemudian menatapi wanita dihadapannya yang sedang menjalankan tantangan menghabiskan makanan, namun sepertinya Raya tidak sanggup lagi.
"Perut saya penuh, Tuan." ucap Raya sembari mengelus perutnya sendiri.
Ia terkekeh sebab dugaannya benar, bahwa Raya tak sanggup menghabiskan makanan itu lagi.
"Lain kali aku pasti akan kesini lagi." ucap Raya seperti bergumam sendiri namun ia tak sengaja mendengar itu.
"Pastikan kamu kesini bersama orang yang sama." sahutnya.
Raya menoleh padanya. "Maksudnya?" tanya Raya.
Ia menggeleng pelan, tak ingin menjelaskan lebih lanjut perihal ucapannya.
Selesai dengan makanan mereka yang banyak tersisa. Ia dan Raya berkeliling sebentar, mereka bahkan menikmati saat melihat orang-orang yang bermain wahana dengan wajah riang.
"Kamu ingin naik itu?" tanyanya pada Raya-- yang terlihat memandang biang lala dengan lampu berwarna-warni tengah berputar.
Raya menggeleng. "Saya takut."
Ia terkekeh. "Tapi pengen?" tanyanya memastikan.
Raya menganggukkan kepalanya berulang-ulang.
Demi apapun, melihat wajah Raya yang seperti itu lagi-lagi seperti mencairkan hatinya yang membeku.
Kalau saja ia tak sedang berada dikursi roda, ia pasti akan menarik tangan Raya dan mengajaknya naik biang lala untuk menuruti keinginan sederhana wanita disampingnya ini.
"Kita pulang, Tuan?" tanya Raya setelah biang lala berhenti berputar dan tampaklah orang-orang yang menaiki arena itu mulai turun satu persatu.
"Kalau main itu, mau gak?" tawarnya pada Raya, menunjuk sebuah stand yang menjual lampion berwarna-warni.
"Mau..." jawab Raya antusias, lalu dengan riang mendorong kursi rodanya menuju penjualan lampion.
Ia memilihkan lampion untuk Raya dan sebaliknya Raya memilihkan untuknya juga.
Mereka bahkan menulis harapan masing-masing disebuah kertas, menyelipkan di selah lampion, lalu melambungkan lampion itu ke udara.
Lampion berkelap-kelip memijarkan warna lampu yang temaram, terbang dibawa oleh angin, membawa harapan mereka yang telah terselip didalamnya.
Setelah melihat lampion masing-masing sampai lenyap ditelan gelap malam, Raya mendorong kursi rodanya menuju parkiran mobil.
Ia tak kuasa menahan rasa penasarannya tentang harapan apa yang Raya tulis didalam lampion tadi.
"Apa harapan yang kamu tulis?" tanyanya saat Raya sudah berada dibelakang kemudi.
Raya tersenyum dan menggeleng pelan.
"Ayo bilang ..." desaknya pada Raya.
"Itu rahasia, Tuan." jawab Raya dengan kekehan pelan.
Ia mendengkus karena tak bisa mengetahui hal yang membuatnya penasaran.
__ADS_1
...Bersambung ......