PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
57 - Kecupan pertama


__ADS_3

Nev menghabiskan hari-harinya dengan bekerja, dia berusaha mengalihkan pikirannya dari bayang-bayang wajah Raya.


Sedikit banyak, Nev ingin menghargai usaha Jimmy yang akan membantunya. Jadi, dia tidak pernah merongrong siapapun untuk melampiaskan keadaannya.


Nev juga ingin fokus terhadap beberapa sidang akhir tentang proses perceraiannya.


Saat Nev merasa ingin sekali melihat Raya, dia akan menyetir sendiri dan menyambangi rumah wanita itu tanpa turun dari mobilnya. Dia hanya mengawasi pergerakan Raya dari jauh sebagai bentuk pelepasan rindunya.


Sejujurnya, Nev sangat membenci keadaan pasif seperti ini, tetapi dia tidak bisa berbuat banyak mengingat statusnya yang belum jelas.


Merebut Raya yang sudah berstatus sebagai tunangan Reka, bukanlah masalah baginya. Hanya saja, Nev benar-benar akan melakukannya jika sudah bisa memberi kejelasan untuk Raya. Tidak seperti sekarang, disaat status dudanya belum tersandang.


Bukan sekali dua kali Nev harus menahan sakit hati, saat kebetulan-- melihat Reka yang juga tengah mengunjungi rumah Raya. Nev juga melihat interaksi keduanya yang membuatnya ingin segera turun dari mobil untuk menghalangi kedekatan mereka.


Tapi, untuk sekarang-- sepertinya Nev memang harus banyak menahan diri, dia memutuskan waktu yang tepat untuk menemui Raya lagi.


Sampai saat dimana Nev melihat Raya tengah menyapu teras, entah kenapa dia tidak bisa mengabaikan itu. Dengan pergerakan cepat, dia turun dari mobil dan berjalan sedikit menuju pekarangan kecil rumah itu.


Raya sendiri tidak menyadari langkah Nev yang mengendap-endap dibelakang tubuhnya karena dia tengah menyapu sembari mendengarkan musik menggunakan handsfree.


Nev menepuk pundak Raya dan seketika itu juga Raya menoleh ke belakang dan terlonjak kaget.


"Astaga," kata Raya memegangi dadanya sendiri.


Nev tersenyum kecil. "Ayo tepati janjimu," kata Nev.


"Janji? Janji apa?" tanya Raya, sebenarnya dia amat sangat terkejut dengan kedatangan Nev yang mendadak dan tidak pernah diduganya sama sekali seperti ini.


"Kamu lupa? Kamu pernah berjanji menemaniku makan setiap hari, ayo temani aku makan siang ini. Rasanya sudah lama sekali kita tidak makan bersama," Nev berucap seolah semuanya baik-baik saja dan seakan-akan melupakan jika status Raya yang akan menikah.


"Tapi..." Raya ragu tapi dia tidak bisa berkata-kata lagi saat Nev menggandeng tangannya begitu saja.


Sapu yang masih dipegang Raya pun belum terlepas dari tangannya.


"Sudah bawa saja," kata Nev tak ingin kembali ke teras karena mereka sudah diambang pagar yang terbuka.


Dengan rasa tak enak hati, sapu itupun terpaksa ikut dimobil Nev.


"Tuan, saya belum bilang sama Mama jika ingin keluar rumah, saya juga belum berganti pakaian." kata Raya mencoba protes.


"Kamu kembali memanggilku dengan sebutan Tuan?" Nev berdecak lidah dan Raya menyadari kekeliruannya kali ini.


"Eh, iya, itu... maaf. Belum terbiasa," kata Raya mengulumm senyuman. Dia tidak menyangka bisa bertemu Nev lagi, dia pikir dia tidak akan bertemu dengan Nev lagi setelah menolak cinta pria itu tempo hari. Dia pikir Nev akan menyerah, nyatanya Nev muncul hari ini, membuat perasaannya semakin serba salah.


Nev mulai melajukan mobilnya, senyuman bahagia tersungging dari sudut bibirnya, demi apapun dia tidak menyangka bisa berbuat senekat ini untuk mengajak Raya pergi, padahal sudah banyak hari berlalu yang disia-siakannya hanya untuk menemui Raya tanpa berinteraksi langsung.


"Darimana kamu tahu alamat rumahku?" tanya Raya pada Nev.


Nev tersenyum kecil. "Dari Bian." jawabnya jujur.


"Bian? Kamu memintanya mencari tahu keberadaanku?"

__ADS_1


"Hmmm," Nev hanya berdehem, tak mau mengatakan pada Raya bahwa dia sudah tahu alamat Raya sejak lama bahkan selalu menguntit kebiasaan wanita itu.


"Kita mau makan dimana? Penampilanku seperti ini," kata Raya merujuk pada penampilannya yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana kulot sebetis.


"Aku tidak peduli penampilanmu seperti apa," kata Nev yang tetap fokus mengemudi.


Raya hanya menghela nafas panjang, kemudian menatap jalanan melalui jendela mobil.


Mereka tiba disebuah Restoran dan duduk di meja yang terletak disalah satu sisi ruangan.


"Pilihkan makanan untukku," Nev memberikan Raya buku menu dan Raya terkekeh kecil melihat tingkah Nev yang selalu manja jika ingin makan.


Ternyata tidak berubah...


Raya memesan sop iga, ikan steam mediteranian, serta rica-rica ayam pedas sebagai menu makan siang mereka berdua. Tak lupa Raya memesankan dua jus buah untuk mereka berdua.


"Terima kasih karena kamu mau makan siang denganku," kata Nev memandang wajah Raya yang tersenyum.


Raya mengangguk, ini adalah salah satu hari paling antusias baginya. Karena sejak perjodohannya dengan Reka tercetus oleh pihak keluarga, dia sudah tak pernah merasakan lagi bagaimana hari yang baik.


Mereka mulai melahap makanan masing-masing.


"Bagaimana tentang pernikahanmu?" celetuk Nev.


"Diundur menjadi tiga bulan kedepan," kata Raya pelan.


"Oh ya? Kenapa tidak sekalian dibatalkan saja?" ucap Nev to the point.


Raya hanya bisa tersenyum kecut dan mencoba mengalihkan arah pandangannya. Sejujurnya dia malas membahas hal ini.


Raya diam dan tertunduk.


"Apa kamu mulai menyukainya?"


Raya menggeleng dan Nev tersenyum kecil.


"Raya, jujur padaku, apa kamu mau agar pernikahan ini batal?"


Raya mengangguk, "Tapi aku tidak bisa..." lirih Raya.


"Why? Kamu tinggal mengatakan pada orangtuamu kalau kamu gak menginginkan pernikahan ini,"


"Aku takut mengecewakan mereka,"jawab Raya dengan serak.


Nev terdiam sesaat, kemudian dia mengelus punggung tangan Raya dengan pelan.


"Semua yang kamu awali dengan keterpaksaan, akan berakhir buruk. Apalagi kamu tidak menyukainya,"


"Aku tidak mau membahas hal ini," kata Raya sembari meminum jusnya.


Nev menghela nafas berat. Kemudian menatap Raya dengan lekat.

__ADS_1


"Lihatlah aku, Raya. Aku tidak mau kamu menjalani pernikahan seperti itu. Aku peduli padamu,"


"Tidak usah peduli padaku, keadaannya sudah begini." kata Raya membuang pandangannya.


"Bagaimana mungkin aku tidak peduli padamu.. aku--"


"Nev, aku sudah selesai dengan makan siang ini," potong Raya.


Raya berdiri dari duduknya, dia menahan sesak didadanya karena dia tidak mau menyakiti dirinya dan Nev mengenai pembahasan ini. Bagaimanapun dia tidak bisa merubah semua keputusan yang telah diambilnya, memang dia menyesali jawaban soal perjodohan yang tergesa-gesa, tapi sekarang dia tidak mungkin mundur lagi. Dia dan Reka bahkan telah bertunangan.


"Bisa kita pulang sekarang?" tanya Raya dingin.


Nev pun berdiri dari duduknya, dia mengerti perasaan Raya saat ini san dia tidak mai memaksa Raya.


Setelah membayar makanan mereka, Nev mengantar Raya pulang sesuai keinginan wanita itu.


Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, Nev memberi Raya waktu untuk berfikir akan semua kata-katanya tadi.


Sampai didepan rumah Raya, Nev meraih tangan Raya, pada saat wanita itu hampir beranjak untuk keluar mobil.


"Kalau kamu takut mengecewakan orangtuamu, segera batalkan pernikahan itu sebelum mereka semakin kecewa saat pernikahan kalian berujung sebuah perceraian."


"Doakan saja pernikahan ini akan berakhir baik," kata Raya pelan.


Nev terkekeh sebab mendengar jawaban Raya itu.


"Mana mungkin aku mendoakan pernikahan kalian baik-baik saja, aku tidak se-naif itu, Raya..."


"Maksudnya?" tanya Raya mengernyit.


"Kamu tahu perasaanku kan? Apa kamu pikir aku akan bahagia dengan pernikahanmu bersama Reka? I'm not...." lirih Nev.


Raya diam dan mencerna ucapan Nev itu.


"Pikirkan ucapanku baik-baik, sebelum semuanya terlambat."


Raya tetap diam, dia menahan airmatanya sebenarnya.


"Kalau kamu tidak mampu berterus terang pada orangtuamu, aku akan membantu..."


"Nggak..." potong Raya cepat.


"Baiklah, masuklah.." kata Nev menyuruh Raya kembali ke dalam rumah.


Raya kembali menarik tuas pintu untuk keluar dari mobil Nev, tapi Nev kembali melakukan hal yang sama seperti tadi, yakni meraih tangan Raya hingga Raya berbalik arah untuk menatap Nev--dia ingin menanyakan apa maksud Nev mencegahnya kembali.


Cup


Nev mengecup kening Raya dengan cepat dan membuat mata Raya membola akibat terkejut.


"Nev..." Raya mencoba protes dengan wajah yang sudah memerah.

__ADS_1


"Sekarang sudah boleh turun," kata Nev mengalihkan pandangan karena dia juga tak menyangka akan melakukan hal itu secara refleks.


...Bersambung ......


__ADS_2