PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Perasaan yang berubah


__ADS_3

Setelah semuanya berkumpul, mereka sepakat untuk segera kembali ke rumah Nev--dimana makan siang sudah disiapkan demi menyambut kedatangan keluarga Jimmy.


Para orangtua berjalan lebih dulu untuk keluar dari area Bandara, mereka sepakat akan menaiki satu mobil sementara para remaja akan dimobil lainnya.


Abrine berjalan sendiri sembari mengenakan earphone-nya, ia mulai mendengar musik dari sambungan smartphone miliknya.


Dibelakang Abrine, ada Airish dan Rahelsa.


Sementara yang berjalan paling belakang tentunya adalah Aarav yang dalam diamnya-- memperhatikan semua orang yang berjalan didepannya.


Sesungguhnya Aarav tengah memikirkan ide untuk memulai aksi menjaili Rahelsa, dikepalanya belum ada lampu yang menyala--pertanda ia tak mendapat pemikiran untuk memulai mengerjai Rahelsa dari mana.


Hingga akhirnya, Aarav yang belum menemukan ide-- hanya menatapi kagum penampilan Rahelsa yang tampak cantik dengan setelan casualnya itu.



"Kak... ayo masuk mobil! Bengong terus!" suara Airish berhasil membuyarkan pemikiran Aarav yang sempat larut mengagumi sosok Rahelsa yang sekarang. Aarav sampai tak sadar jika mereka semua sudah tiba di tempat pemarkiran mobil. Bahkan Rahelsa yang sejak tadi menjadi atensi Aarav juga telah masuk ke dalam mobil.


Airish yang menyuruh Aarav masuk kedalam mobil juga sudah ada didalam sembari menurunkan kaca jendela mobil hanya untuk meminta Aarav segera naik.


"Ehh... iya!" Aarav naik dan duduk disebelah Rahelsa--membuatnya gugup seketika. Kenapa?


Seharusnya tadi ia duduk di kabin depan-- disebelah Mang Deden, namun karena ia lambat bergerak, tempat itu sudah diambil alih oleh Abrine yang juga seakan tak sadar situasi karena khusyuk mendengarkan musik lewat earphonenya.


Jadilah Aarav duduk di jok belakang bersama Rahelsa dan Airish.


"Kamu bakal kuliah di Jerman, dong, Hel?" terdengar suara Airish menanyakan Rahelsa.


"Mungkin," Rahelsa mengangguk sekilas. "Tapi aku lebih ingin kuliah di Indonesia aja!" sambungnya sembari tersenyum kecil.


"Kenapa? Aku justru pengen kuliah di Luar Negara, sayangnya belum dapat lampu hijau dari Papa dan Mama... huffff!" gerutu Airish.


"Ya, aku lahir disini, aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu di tempat lahirku. I love Indonesia," kata Rahelsa, membuat Aarav disampingnya-- tersenyum smirk karena ucapan gadis itu.


Tanpa terasa, mobil yang membawa mereka pun sudah tiba dikediaman mewah milik Nev.


Jimmy dan Nimas dipersilahkan menempati kamar tamu. Sementara Rahelsa lebih memilih membersihkan diri di kamar Airish daripada menempati kamar tamu lainnya yang juga kosong.


Setelah membersihkan diri, semuanya tampak berkumpul di meja makan untuk menyantap makan siang yang sudah tersaji.


Mereka berbincang ringan tentang keseharian masing - masing. Nev dan Jimmy berbincang tentang bisnis sementara Raya dan Nimas berbicara tentang fashion yang sedang booming.

__ADS_1


Para orangtua seakan larut dengan keakraban masing-masing yang sudah lama tidak bersua.


"Abrine, apa kamu masih berlatih karate?". tanya Rahelsa.


"Ya, tentu saja. Mama memiliki kemampuan bela diri dan aku juga harus bisa melebihi kemampuan Mama," kata Abrine bangga.


"Aku juga ikut berlatih bela diri di sekolahku, tapi bukan karate," kata Rahelsa.


"Benarkah?" Abrine tertarik dengan perbincangan semacam ini, begitu pula Airish. Sementara itu, Aarav masih diam, dia sebagai anak lelaki satu -satunya di rumah--memang merasa selalu diabaikan, jadi dia hanya menjadi tim pendengar yang kadang mencari hiburan dengan menjahili Airish.


Rahelsa mengangguk. "Aku mengikuti Judo dan boxing disana!"


"Wah... kamu bisa membantingku kalau begitu," guyon Abrine dan Rahelsa ikut terkikik.


"Aku tidak menyangka kamu mengikuti kegiatan bela diri semacam itu, aku pikir hanya gadis - gadis yang berpenampilan seperti kakakku Abrine lah yang memiliki minat bela diri, kamu justru tampak feminin, Hel. Sulit dipercaya! Daebak..." kata Airish speechless.


"Kamu tidak tertarik untuk ikut latihan bela diri juga, Rish?" tanya Rahelsa pada Airish.


"Untuk apa, itu bukan passionku!" Airish mengendikkan bahunya.


"Bukan masalah passion atau bukan, terkadang kita sebagai seorang gadis harus bisa menjaga diri kita sendiri. Ya, paling tidak bisa meninju orang - orang yang berniat mengerjai atau menjahili kita!" kata Rahelsa melirik pada Aarav yang juga tengah memandangnya. Mata mereka seakan membentuk sebuah garis lurus yang menyebabkan pandangan itu bersirobok satu sama lain.


Seketika itu juga Aarav tersenyum, Rahelsa seakan bisa membaca pikiran Aarav yang saat ini memang ingin mengerjai gadis itu. Aarav merasa Rahelsa tengah menyindirnya.


"Kadang - kadang, apalagi pikiran lelaki... itu sangat mudah ditebak!" ujar Rahelsa dengan senyuman kecil yang manis.


Aarav hanya menggeleng samar, ia memilih mengunyah makanannya dalam diam karena tak mau menjawab tuduhan Rahelsa yang memang benar adanya.


######


Sore harinya, Abrine, Airish dan Rahelsa duduk bersantai di pinggiran kolam renang yang ada dirumah. Mereka duduk berselonjor di kursi malas masing - masing.


Aarav sedang jogging sore, jadi Airish cukup lega karena bisa terhindar dari ide jahil sang kakak untuk beberapa waktu.


"Kamu tidak berenang, Hel?" tanya Abrine yang mulai bangkit dari duduknya untuk menuju kolam renang, ia bersiap untuk menceburkan diri ke air.


"Aku disini saja," jawab Abrine sembari memperlihatkan majalah yang tengah ia baca.


"Baiklah," kata Abrine cuek dan langsung masuk ke air saat itu juga.


Sementara Airish, sejak tadi ia sibuk membalas pesan dari beberapa temannya untuk memberi alasan. Seharusnya siang Ini adalah jadwal Airish untuk kerja kelompk dengan teman sekolahnya-- seharusnya juga Airish ikut berkumpul demi mengerjakan tugas Bahasa Indonesia dari Bu Weni tempo hari itu--namun Airish memikih tidak datang.

__ADS_1


Airish bukannya lupa, ia ingat, hanya saja ia sengaja menghindar untuk datang ke pertemuan kelompok itu-- karena Airish tak ingin bertemu Zio disana.


Tak berselang lama, Aarav yang baru saja pulang dari kegiatan jogging sore disekitaran komplek perumahan ikut bergabung dengan mereka.


Aarav lupa jika sekarang ada Rahelsa diantara kedua saudara kembarnya itu. Ia dengan cuek meminum jus jeruk yang tersaji diatas meja, ia memandang ke kolam renang dan melihat Abrine disana.


Lalu, Aarav seakan tersadar dengan sesuatu.


Jika Abrine berenang, dan Airish tampak sibuk dengan ponsel, lalu yang berada di sisi kanannya sekarang, siapa?


"Gimana? Enak ya minum jus punya aku?" suara Rahelsa membuat Aarav menyemburkan jus yang sudah masuk setengah dalam kerongkongannya, setelah itu ia tersedak dan terbatuk - batuk karena terkejut.


Aarav menoleh ke depan dan melihat wajah Rahelsa yang kini tampak tersenyum menertawakannya. Aarav semakin menyadari bahwa Rahelsa yang gembul sudah berubah menjadi Rahelsa yang cantik.



"Kamu gak apa- apa?" Rahelsa menghampiri Aarav dan memberikan sekotak tisu agar Aarav membersihkan sisa jus disekitar mulutnya.


Secara mendadak, Aarav merasa perasaannya aneh, untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa berdebar seperti ini. Ini berbeda saat ia terang - terangan mengatakan menyukai Bu Siska.


Benarkah sekarang ia masih menganggap Rahelsa hanya sebagai adik? Atau justru ia merasa ingin memperlakukan Rahelsa layaknya seorang gadis yang istrimewa?


Aarav menggeleng samar, ia mencoba menepiskan perasaan semacam itu. Rahelsa adalah adik baginya, titik!


Aarav pun menerima kotak tisu dari Rahelsa dan menyeka sisa - sisa jus yang ada disekitar bibir dan dagunya.


"Kenapa?" tanya Rahelsa yang melihat Aarav tampak diam tak menyahuti satupun pertanyaannya.


"Ng-nggak, gak apa - apa!" dusta Aarav, mana mungkin ia mengatakan jika ia grogi didekat gadis ini.


"Maaf ya, aku buat kamu kaget. Aku gak tahu respon kamu bakal begitu! Aku cuma mau ngegoda kamu yang sudah minum jus punyaku sembarangan!" kata Rahelsa menunduk.


"Aku yang salah! Aku lupa ada kamu. Aku pikir tadi kamu Abrine," jawab Aarav jujur.


"Oh gitu, besok gak akan kaget lagi sama kehadiran aku, kok!"


"Kenapa?" Aarav menatap Rahelsa lekat.


"Ya, kan... kata Mamaku cuma malam ini aja kami nginep dirumah kalian. Besok kami udah kembali menempati Apartemen punya Papa yang ada dikota ini... tadi, sebenarnya mau langsung pulang kesana, cuma Om Nev dan Tante Raya nyuruh ksmi bermalam disini, sekalian mau buat barbeque entar malam."


Entah kenapa, Aarav merasa kecewa dengan hal ini. Aarav justru ingin Rahelsa berada dirumahnya lebih lama lagi. Kenapa? Kenapa perasaannya tiba - tiba berubah sekarang? Bukankah seharusnya ia menganggap Rahelsa sebagai Adik, seperti yang ia yakinkan pada dirinya sendiri, hsrusnya ia menganggap Rahelsa sama seperti kedua adik kembarnya itu, kan?

__ADS_1


Apa memang semuanya telah berubah? Seperti penampilan Rahelsa yang juga terlah berubah sekarang? Apa sekarang Aarav harus melihat Rahelsa sebagai seorang gadis yang menarik?


*****


__ADS_2