
"Kenapa kau memukul perempuan?" tanya Aarav yang masuk ditengah - tengah perkelahian Bu Siska dengan seorang pria.
"Aarav..." gumam Bu Siska lirih sembari menggelengkan kepalanya saat menatap Aarav.
Pria itu menoleh pada Aarav dengan wajah memerah, ia melihat Aarav yang masih mengenakan seragam putih - abu-abunya, ia menatap Aarav dengan tatapan meremehkan.
"Jangan ikut campur, bocah! Ini urusanku dengan kekasihku!" kata pria itu marah.
"Bu Siska guru di sekolahku, wajar jika aku ikut campur!" kata Aarav yang terdengar menantang.
Abrine yang masih didalam mobil, merasa sesuatu yang buruk akan terjadi pada saudara kembarnya, ikatan batin yang ada diantara mereka menuntun Abrine untuk ikut turun dan menghampiri keributan itu.
"Airish, aku akan turun! Kamu tetaplah didalam mobil, oke?" ujar Abrine dan Airish mengangguk dengan wajah pucat pasi.
Abrine menarik tuas pintu dan Airsih menghentikannya sejenak.
"Kak, hati - hati!" kata Airish mengingatkan. Abrine mengangguk dan saat ia keluar dari mobil ternyata Aarav sudah terlibat baku - hantam dengan pria itu.
"Abrine, bagaimana ini?" Bu Siska tampak ketakutan saat Abrine tiba disana.
"Ibu gak apa - apa?"Abrine justru balik bertanya karena ia tadi sempat melihat pria itu menampar sang guru dan sekarang Abrine melihat darah segar diujung bibir gurunya itu.
"Gak apa - apa, tapi itu ... gimana dengan Aarav? Dia berkelahi dengan Rexi?" Bu Siska semakin panik karena Aarav terkena pukulan dari kekasihnya itu.
Abrine menghela nafas panjang, sebenarnya ia tak boleh berkelahi seperti ini tapi mana mungkin ia membiarkan sang Kakak begitu saja disaat ia mempunya keahlian bela diri yang cukup mumpuni.
Akhirnya, Abrine membantu Aarav dan mereka bekerja sama menghajar pria itu sampai nafas pria itu terengah - engah menghadapi Abrine dan Aarav secara bersamaan.
"Awas kau!" kata Rexi menunjuk Aarav.
Bu Siska tampak menangis saat kekasihnya memutuskan pergi begitu saja dari sana. Abrine mencoba menenangkan Bu Siska dan Aarav masih diam memperhatikan Bu Siska yang tampak terluka.
Kondisi jalanan tempat terjadinya insiden itu cukup sepi, sehingga tak banyak irang yang menonton kejadian pekelahian yang sempat terjadi.
"Sebaiknya kami mengantar Ibu pulang!" kata Aarav akhirnya.
Bu Siska mengangguk tanpa banyak protes, mereka bertiga kembali ke mobil lalu memutuskan untuk menuju kediaman Bu Siska.
Selama diperjalanan, Abrine dan Aarav memilih diam untuk memberikan Bu Siska kenyamanan. Namun, Airish tetaplah Airish yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, apalagi ia tidak tahu sebab kejadian yang tadi menimpa Bu Siska. Dengan rasa ingin tahunya itu, hanya Airish yang berani buka suara untuk menanyai sang guru.
"Ibu, sebenarnya kenapa? Kok sampai dipukul begitu?" tanya Airish.
Abrine memilih memakai earphone-nya, karena ia memang cuek dan tidak mau mencampuri urusan orang lain. Sedangkan Aarav yang duduk didepan, seperti kemarin--ia memasang telinga nya baik - baik agar bisa mencuri dengar pembicaraan Bu Siska dengan Airish yang sepertinya akan bicara antar sesama perempuan.
"Rexi itu pacar Ibu..."
"Oh, itu pacar yang kemarin ibu ceritain."
Bu Siska mengangguk pelan.
"Kenapa dia mukul ibu? Sampai berdarah loh!" kata Airish menatap luka di sudut bibir Bu Siska, ia segera meraih tisu mobil dan memberinya pada Bu Siska, berikut sebuah cermin agar sang guru membersihkan darah yang hampir mengering itu.
"Makasih, Airish..."
__ADS_1
"Ibu belom jawab, kenapa dia mukul Ibu? Maaf ya kalau aku terkesan ikut campur, aku bukannya niat begitu cuma tadi itu aku sempat lihat jadinya pengen tahu deh!" kata Airish yang selalu terus - terang dengan sikap polosnya itu.
"Rexi punya hutang, dan sudah jatuh tempo. Seharusnya saya sudah membayarnya, tapi karena Ayah saya sedang sakit, jadi uangnya saya gunakan untuk biaya perobatan Ayah lebih dulu tapi itu justru menyebabkan Rexi marah karena sekarang dia dikejar oleh kolektor!"
Airish terbengong mendengar penjelasan Bu Siska. Sementara Aarav yang juga mendengar hal itu merasa tak terima. Bagaimana mungkin Bu Siska yang membayar hutang pacarnya?
"Kenapa Ibu yang bayar hutang lelaki itu?" Aarav menoleh kebelakang karena ia tak tahan untuk tidak bertanya.
Bu Siska meremass jemari dipangkuan. "Ya, karena hutangnya untuk membayar biaya pernikahan kami..."
"Kapan Ibu menikah?" tanya Airish.
"Seharusnya bulan lalu, tapi ditunda karena...." Bu Siska tak melanjutkan kalimatnya, ia tertunduk.
Airish tahu Bu Siska memiliki privasi dengan hal ini, sehingga ia tak mau menanyakan hal itu lebih lanjut.
"Seharusnya jika dia berniat menikahi Ibu, ya ... dia yang bayar hutang itu! Kenapa Ibu yang membiayainya sendiri? Jika dia berhutang untuk biaya pernikahan, kenapa pernikahannya ditunda?
Bu Siska diam tak menyahuti Aarav.
"Pernikahannya ditunda, tapi hutang untuk biaya pernikahan tetap dibayar? Kenapa terasa aneh!" gerutu Aarav yang masih bisa didengar Airish dan Bu Siska.
Airish mengelus pelan punggung tangan Bu Siska.
"Maaf ya, Bu... kami terlalu jauh mengomentari hubungan Ibu. Itu semua karena kami peduli sama Ibu," kata Airish prihatin.
Bu Siska mengangguk sembari menyeka airmatanya yang tampak menetes.
"Terima kasih ya, kalian sudah peduli pada Saya," ucap Bu Siska lembut.
Pintu kedatangan Bandara terasa padat, bukan karena hari ini adalah hari Minggu tapi memang tempat itu selalu dipenuhi oleh banyak orang yang berlalu lalang khususnya untuk orang yang pulang pergi ke berbagai kota dan Negara.
Nev dan keluarganya sudah tiba di Bandara pukul 10 pagi, untuk menjemput kedatangan Jimmy dan keluarganya yang datang dari Jerman. Mereka menggunakan dua mobil yang satu dikendarai oleh Nev dan satunya disopiri oleh Mang Deden.
Sejak anak - anak Nev dan Jimmy berumur 8 tahun, Jimmy memboyong keluarganya untuk menetap di Jerman karena peluang bisnisnya lebih terbuka di Negara itu.
Tak membutuhkan waktu lama, Nev langsung bisa melihat dan mengenali sahabatnya dari jarak yang masih terbilang jauh.
Jimmy tampak melambaikan tangan ke arah Nev dan Raya. Ia datang bersama Istri dan anaknya.
Makin mendekat, Jimmy menyalami Nev dan menepuk bahunya secara akrab.
"Kau makin tampan saja! Padahal sudah kepala 4!" kelakar Jimmy yang terkekeh pada Nev.
Neb ikut terkekeh. "Jangan ragukan pesonaku!" kata Nev pede.
Raya dan Nimas berpelukan sejenak, melepas rasa rindu yang juga terbendung lama, mereka sempat menjalin persahabatan yang cukup akrab sejak sama - sama menjadi pekerja dirumah Nev dulu.
"Ah, mana anak - anak kalian?" tanya Nimas heran, karena Nev mengatakan akan menjemput mereka sekeluarga.
"Ah, Aarav sedang ke toilet. Airish dan Abrine membeli camilan di sana," jawab Raya sembari menunjuk satu brand makanan berlogo yang ada didalam kawasan Bandara.
Raya menoleh pada gadis yang ada disamping Nimas. "Rahelsa?" tanyanya tersenyum lembut.
__ADS_1
Rahelsa mengangguk dan ikut tersenyum lalu dia menyalami tangan Raya dengan takzim.
"Apa kabar, Tante?" tanya Rahelsa dengan suaranya yang khas.
"Alhamdulillah Tante sehat, Sayang," kata Raya mengelus rambut lurus milik Rahelsa. Wajah Rahelsa manis seperti Nimas, namun perawakannya lebih mirip pada Jimmy yang memiliki wajah oriental. Matanya tampak membentuk sebaris garis jika sudah tersenyum, sangat manis dan bentuk tubuhnya sekarang tidak seperti beberapa tahun silam. Rahelsa yang sekarang tampak ramping dengan tumbuh tinggi semampainya.
"Kamu cantik sekali, Rahel..." kata Raya jujur.
"Terima kasih, Tante.. Tante juga sangat cantik," kata Rahelsa mengacungkan jempol.
Tak berapa lama, Aarav hadir diantara mereka. Nev memintanya menyalami Jimmy dan Nimas.
Aarav melakukan apa yang disuruh oleh sang Ayah. Namun, ia terhenti saat melihat Rahelsa. Aarav tampak ingin mengucapkan kalimat pada gadis itu namun ia tercekat, sehingga Rahelsa yang lebih dulu menyapanya.
"Aarav..." kata Rahelsa mengenali Aarav yang dulu adalah kawan kecilnya. Rahelsa menjabat tangan Aarav yang terpaku.
"Kamu... Rahel?"
Rahelsa mengangguk, membuat poni didahinya meriap - riap disertai dengan senyuman manis dari bibirnya.
"Kamu... gak gembul lagi?" celetuk Aarav hati - hati.
Rahelsa tertawa pelan. "Aku bertekad untuk menghilangkan tubuh gembulku karena aku mau ... pas pulang kesini aku terbebas dari ejekan kamu!" ujarnya terus - terang.
Raya, Nev, Nimas dan Jimmy ikut terkekeh mendengar celotehan Rahelsa itu.
"Aku gak akan ngejek kamu, kok!" kata Aarav.
"Ya, bagus..." kata Rahelsa tenang.
"Paling aku kerjain aja kayak Airish!" gumam Aarav sambil tersenyum penuh arti.
"Ya? Kenapa?" tanya Rahelsa.
"Ng-nggak, gak apa - apa!" Aarav menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tiba - tiba suara dua orang gadis terdengar diantara mereka.
"Rahel!!!" seru Abrine dan Airish bersamaan.
Abrine dan Airish langsung memeluk tubuh Rahelsa dan mereka pun berpelukan bertiga.
Nev, Jimmy dan Nimas memperhatikan itu sekilas lalu melanjutkan lagi perbuncangan kecil diantara mereka. Sementara Raya menyikut lengan Aarav sekilas.
"Pengen dipeluk juga, ya?" tanya Raya dan Aarav tersenyum kecil, mana mungkin Aarav mau melakukan hal itu.
"Gak usah ya, nanti kesannya kayak teletubbies kalau berpelukan berempat!" kata Raya terkekeh.
"Gak, Ma! Siapa juga yang mau berpelukan berempat." kata Aarav menyengir "Kalau berdua sama Rahel aja sih aku mau!" sambungnya pelan.
Mata Raya membola. "Nah, jangan macem - macem kamu!" katanya.
"Hehehe, enggak lah, Ma! Aku cuma bercanda. Lagian aku anggap Rahel itu udah kayak Abrine dan Airish, mereka semua adik-adik aku!" kata Aarav kemudian dengan senyum kaku.
__ADS_1
******