PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Kecemburuan


__ADS_3

Rahelsa tidak bisa menutupi sakit hatinya karena sikap dingin dan penolakan Aarav. Ia bimbang untuk melanjutkan pernikahan, tetapi ia tidak mungkin membatalkan pernikahannya dengan Aarav begitu saja, ia begitu menyayangi Aarav selama ini sehingga rasa itu jualah yang melunturkan sakit dihatinya.


"Aku harus sabar menerima Aarav, jika pernikahan ini terjadi, itu berarti Aarav memanglah jodohku dan aku harus mempertahankannya," tekad Rahelsa.


Beberapa hari berlalu, Rahelsa menunggu kabar dari Raya, Nev ataupun kedua orangtuanya, barangkali akan ada dari mereka yang menyampaikan perihal batalnya pernikahan Rahelsa dengan Aarav.


Jika itu terjadi, artinya Aarav memang sudah membatalkannya sebelah pihak, namun nyatanya sampai detik ini tidak ada pemberitahuan mengenai batalnya pernikahan mereka. Aarav tidak pernah mengatakan pada kedua orangtuanya untuk membatalkan pernikahan ini, entah Aarav memang pengecut untuk mengakui keinginannya atau justru Aarav memiliki alasan lain sehingga membiarkan pernikahan ini tetap terjadi.


Seiring waktu, Rahelsa mulai masuk ke Universitas, ia menjadi Mahasiswa baru. Ia satu kampus lagi dengan Abrine dan Airish, hanya saja mereka bertiga mengambil jurusan yang berbeda.


Rahelsa mengambil jurusan desainer, ia ingin menjadi perancang busana seperti tantenya (kakak Jimmy).


Airish mengambil jurusan seni, sementara Abrine justru mengambil jurusan bisnis.


Dihari pertama Rahelsa masuk kuliah, ia sudah menjadi primadona kampus, padahal ia mengambil jurusan desainer untuk menghindari teman-teman pria, namun tampang Rahelsa yang oriental memang selalu menarik bagi kawan kampusnya yang mayoritas adalah bule Jerman.


"Rahel...."


Rahelsa menoleh dan mendapati seorang cowok berambut cokelat terang lah yang menyapanya.


(Anggap mereka berbicara dengan Bahasa Jerman yah, Guys)


"Kau memanggilku?" Rahelsa menunjuk dirinya sendiri. Ia tampak bingung karena ia merasa tidak mengenal cowok bermata biru itu. Cowok itu memang cukup tampan tapi Rahelsa tidak tertarik sama sekali.


Cowok itu pun mengangguk sembari tersenyum, ia mengulurkan tangan dan mengucapkan namanya.


"Zack..."


"Rahel," jawab Rahelsa kikuk. "Apa kita saling mengenal? Aku pikir semua teman sekelasku adalah para gadis," sambungnya.


"Sebelumnya tidak, tapi mari kita saling mengenal satu sama lain mulai dari sekarang," jawab Zack percaya diri.


"Untuk?"


"Kau akan memerlukanku nanti," ucap Zack yang terus mengumbar senyum.


Rahelsa tidak tahu apa maksud ucapan Zack, ia tidak memedulikannya dan langsung berlalu dari hadapan cowok bertubuh tinggi itu. Sebelum kepergiannya Rahelsa hanya memberikan senyuman perpisahan yang tipis pada Zakc, itupun hanya semata-mata untuk menunjukkan sikap welcome, sebab ia terbiasa sopan kepada orang lain.


Rahelsa kembali ke kelasnya yang mulai aktif dalam proses belajar. Rahelsa memiliki project baru dalam kegiatan kuliahnya yakni merancang busana untuk dikenakan oleh para model-model di kampusnya.


Inilah yang ia sukai dalam program study yang ia ambil, karena lebih banyak praktek daripada teori. Teori yang harus dia dalami paling hanya menggambar desain yang sudah terlintas dikepalanya. Selebihnya, ia akan turun langsung dan akan melakukan praktek untuk merancang busananya.


"Rahel, kita bagi tugas menjadi dua. Bagaimana jika kau saja yang merancang baju pria dan aku yang akan mendesain pakaian wanita, agar cepat selesai," saran Alice, salah satu rekan dalam jobdesk mata kuliah mereka kali ini.


"Baiklah," jawab Rahelsa tanpa banyak protes. Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi Rahelsa karena ia terbiasa menggambar gaun untuk dikenakan wanita daripada pria. Rahelsa menyukai tantangan belajar seperti ini untuk menambah ilmunya.

__ADS_1


"Jika rancangan kita berhasil, maka kita akan turun langsung ke lantai fashion week kampus di minggu depan." Alice mengutarakan keantusiasannya mengenai project ini.


"Benarkah?"


"Ya, itu benar, Rahel!" timpal Deana. Deana sendiri akan bertugas merancang hiasan kepala dan accesories.


"Baiklah, kita harus selesaikan misi ini agar semuanya berjalan baik." Rahelsa tersenyum dengan penuh semangat yang membara.


Saat Rahelsa keluar dari ruang desain, langkahnya terhenti kala melihat Aarav yang ternyat berkunjung ke kampusnya. Sang tunangan datang bersama Airish yang mendorong kursi rodanya.


"Aarav, kamu disini?" tanya Rahelsa terkejut.


Aarav mengangguk. Ini pertemuan pertamanya dengan Rahelsa setelah pertengkaran terakhir mereka. Sejak itu, Rahelsa tidak pernah mengunjunginya namun Rahelsa juga tidak membatalkan pertunangan mereka. Jadi status mereka saat ini masihlah sepasang tunangan yang memang masih mengenakan cincin masing-masing.


"Hel, kak Aarav ingin bicara padamu. Aku tinggal dulu, ya. Aku ada kelas. Bye..." Airish berlalu setelah memastikan sang kakak bertemu dengan Rahelsa.


"Kamu sudah selesai kuliah?"


"Hmm," jawab Rahelsa berdehem dan segera berdiri dibelakang kursi roda Aarav.


Sebenarnya Rahelsa ingin bersorak riang atas kunjungan Aarav kekampusnya, karena tak bisa dipungkiri jika ia amat merindukan sosok cowok ini.


"Kenapa kamu kesini? Ada yang ingin dibicarakan?" tebak Rahelsa sembari mulai mendorong kursi roda Aarav.


"Kamu bisa mengikuti home scholling untuk menamatkan sesi Senior High School, lalu kamu bisa kuliah juga seperti aku dan kedua adikmu, Aarav."


"Otakku yang lemah gak akan bisa mencerna pelajaran, Els...." lirih Aarav.


Disaat bersamaan, mereka tiba di taman kampus yang memang jaraknya sangat dekat dengan ruang desain dekat kelas Rahelsa.


Rahelsa yang mendengar ucapan Aarav segera berjongkok didepan kursi roda Aarav, ia pun menatap lekat pada netra kecokelatan milik cowok itu.


"Kamu insecure dengan kemampuan kamu?"


Aarav hanya tersenyum tipis, ptaknya memang lemah sejak kecelakaan, berpikir berat saja langsung membuatnya kesakitan. "Gimana kuliah kamu? Lancar?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Semuanya lancar, kok. Apa yang sebenarnya mau kamu bicarakan, Aarav?" tanya Rahelsa yang mulai tertunduk, ia tidak tahu harus menyetok sabar sampai seberapa banyak untuk sikap sinis dan dingin Aarav kepadanya.


"Soal pernikahan kita--"


"Gak ada yang berusaha membatalkannya kan, termasuk kamu!" potong Rahelsa cepat.


Aarav mengangguk, tangannya terulur untuk menyentuh rambut Rahelsa yang terurai, namun belum sempat ia melakukan hal itu, tiba-tiba seseorang hadir diantara mereka.


"Rahel..."

__ADS_1


"Alice...?" Rahelsa mengernyit melihat Alice yang datang menghampirinya dengan sosok cowok yang baru saja ia kenal pagi tadi sebelum memasuki kelas, dia adalah Zack. Untuk apa Alice datang bersama Zack dan menyapanya sekarang?


"Dia siapa?"


"Dia siapa?"


Rahelsa dan Alice saling bertanya dengan serentak, Rahelsa menanyakan Zack siapanya Alice dan Alice pun menanyakan sosok cowok berkursi roda yang berada didekat Rahelsa.


"Ini, Zack... dia kakakku!" jawab Alice tersenyum dan Zack pun melakukan hal serupa.


"Kenalkan, ini Aarav. Dia tu--"


"Aku kerabat Els..." potong Aarav cepat sebelum Rahelsa menyelesaikan kalimatnya. Mata Rahelsa membola mendengar ucapan Aarav, padahal ia ingin Alice dan Zack tahu bahwa Aarav adalah tunangan dan calon suaminya, namun kenapa Aarav menjawab seperti itu?


"Hi... aku Alice," jawab Alice melambaikan tangan pada Aarav. Aarav hanya membalas dengan senyuman kecil. Sementara Zack, dia hanya diam dan matanya tampak memicing pada Aarav, seolah menyelidik pada sosok itu.


"Jadi dia kakakmu?" tanya Rahelsa mengarah pada Zack.


"Iya, Zack adalah kakak sepupuku. Kami memanng dekat dan dia mengetahui jika aku dan kau berteman sehingga dia sering menanyakan tentangmu padaku," terang Alice apa adanya.


"Oh..." Rahelsa mengangguk-anggukkan kepalanya, pantas saja Zack mengetahui namanya pagi tadi, pasti tahu dari Alice.


"Ada apa, Alice?" tanya Rahelsa kemudian.


"Begini, ini mengenai project baju pria yang sedang kamu kerjakan... kebetulan Zack adalah model kampus yang akan mengenakannya nanti di fashion week, aku harap kamu bisa bekerja sama dengan Zack agar desain kita yang terpilih. Kalau Zack nyaman dengan desainmu maka ada kemungkinan kita berhasil dengan project itu."


Alice tersenyum, begitu pula dengan Zack.


"Jadi, ini yang dimaksudkan Zack pagi tadi... bahwa aku akan memerlukannya. Ternyata mengenai project ini. Apa karena ini juga Alice memintaku yang menangani project pakaian pria?" batin Rahelsa menebak - nebak.


"Halloo... Rahel?" Alice mengibas-ngibaskan tangannya didepan Rahelsa yang termenung memikirkan tentang hal yang kebetulan ini.


"Eh, y-ya?" Rahelsa memaksakan untuk memasang senyum.


Zack mengulurkan tangannya pada Rahelsa. "Aku senang kita bisa bekerja sama mengenai hal ini," ucapnya dengan senyuman.


Sementara Aarav yang ada didekat Rahelsa justru berdecak lidah melihat senyuman yang dipamerkan oleh Zack. Ia jadi menyesal karena memperkenalkan diri sebagai kerabat Rahelsa. Seharusnya tadi dia mengatakan bahwa dia adalah tunangan Rahelsa saja.


Aarav langsung memutar kursi rodanya secara mandiri, ingin segera beranjak dari sana. Rahelsa pun jadi kebingungan melihat sikap Aarav itu.


Apa Aarav marah? Insecure? Atau justru cemburu?


"Ya, aku pergi dulu ya. Aku harus bicara dengan Aarav, bye..." Rahelsa melambaikan tangan pada Alice sembari berjalan mundur lalu berbalik arah untuk menyusul Aarav yang sudah sedikit berjarak darinya.


*****

__ADS_1


__ADS_2