
Raya
Bukannya ia tidak tahu jika Nev hendak mengerjainya lagi kali ini. Ia sudah mewanti-wanti hal itu, sehingga berinisiatif membawa piring dan sendok sendiri.
"Aku tidak bisa makan dengan tanganku sendiri, suapi aku ya ..." kata Nev, membuat ia harus mengeluarkan sisa stok kesabarannya-- untuk yang kesekian kalinya.
Lagi-lagi Nev selalu punya alasan yang membuatnya mencebikkan bibir dan akhirnya, terbitlah senyuman tak ikhlas diwajahnya.
Ia mengambil piring makan Nev, menyendokkan lauk yang Nev tunjuk, kemudian mulailah ia menyuapi Tuan nya yang entah sejak kapan menjadi mendadak manja.
Sebelum Nev membuka mulut untuk menerima suapan darinya, ia tak sengaja melihat seringaian Nev yang puas mengerjainya, membuatnya semakin sebal.
"Ayo cepat makan, Tuan." ucapnya, dan Nev pun membuka mulut lalu mulai mengunyah makanan yang ia suapkan.
"Kenapa rasa makanannya hambar?" tanya Nev membuat dahinya mengernyit.
"Ah, tidak mungkin Bi Asih masak makanan yang hambar." jawabnya cepat dan yakin.
"Iya, coba saja." kata Nev.
Dan ia dengan cepat menyuap makanan yang sama dari piring Nev.
"Tidak hambar, Tuan..." jawabnya jujur.
Nev menggeleng, "Tidak mungkin, aku merasa itu hambar, pasti ada yang salah dengan lidahmu." jawab Nev lagi sembari meraih gelas dan meminum airnya sedikit.
Ia pun mencoba menyuap lagi dan masih merasakan hal yang sama terhadap makanannya, tidak hambar sama sekali.
Sepertinya yang bermasalah adalah lidah Nev bukan lidahnya.
"Ini tuh enak, Tuan." gumamnya sembari tetap mengunyah makanan yang sudah masuk kedalam mulut.
"Mungkin kamu merasa enak karena makan pakai sendokku." celetuk Nev sembari mengendikkan bahu, cuek.
What???
Raya baru tersadar, bahwa ia merasai makanan menggunakan sendok yang sama dengan saat ia menyuapi Nev tadi.
Nev pasti memang sengaja mengerjainya! Atau memang dirinya saja yang mudah dibodohi oleh Nev.
Sial... sial ... sial ...gerutunya dalam hati.
"Sekarang Tuan mau lanjut makan atau tidak?" tanyanya dengan nada yang mulai naik.
Nev tampak mengulumm senyum. "Ya makan lah, aku masih lapar. Baru juga makan sesuap." kata Nev datar, seolah tak terjadi apapun.
Ia berusaha menetralkan emosinya.
"Ya sudah, Tuan makan sendiri saja ya. Mungkin rasanya hambar karena efek dari suapan saya." katanya, ia mau mendengar sanggahan apa lagi yang akan dibuat Nev setelah ucapannya kali ini.
"Tapi, tanganku ini sakit, Raya." jawab Nev dengan wajah memelas.
"Saya baru mendengar kalau ada yang namanya radiasi berimbas pada kesehatan tangan." katanya mencoba mengeluarkan uneg-uneg dikepalanya-- tentang sakit Nev yang aneh.
"Ya sudahlah, kalau begitu aku tidak jadi makan." jawab Nev enteng.
Ia mencebik dan berusaha bersikap masa bodoh. Namun, Tuan Nev yang terhormat sepertinya tak mau diabaikan olehnya begitu saja.
"Paling kalau aku tidak makan, nanti jadi kelaparan." gumam Nev seperti minta dikasihani.
Ia tetap tak mengindahkan ucapan Nev, berpura-pura tak mendengar.
Ia pun mengambil piring yang satunya, yang masih bersih, yang seharusnya jadi piring makannya sendiri.
Kemudian ia mengambil nasi beserta lauk-pauknya, berusaha cuek dan makan makanannya sendiri dihadapan Nev.
"Bisa-bisanya kamu makan sementara aku tidak..." Nev berdecak.
__ADS_1
"Terus maunya gimana?" tanyanya.
"Ya kan sudah ku bilang aku masih lapar, Raya. Tadi baru makan sesuap."
Astaga... demi apapun, rasanya ia ingin bangkit dan pergi berlalu meninggalkan Nev sendirian. Tapi, apalah dayanya jika Nev memang senang melihatnya dongkol seperti ini. Tidak mungkin ia melawan dan menyanggah Nev, bukan?
Seandainya saja dia bukan Bosku... ku pastikan akan membalas ucapannya yang menjengkelkan itu.-- Ia pun mengatai Nev dalam hati saja, karena hanya itulah yang bisa ia lakukan saat ini.
"Tuan, tadi katanya makanannya hambar. Apa mau saya ganti saja?" tawarnya mencoba terus menahan sabar.
Nev menggeleng. "Itu saja." kata Nev menunjuk piring makan yang sekarang ada ditangannya.
Oke, sabar Raya, sabar.
Ia pun kembali menyuapi Nev seperti keinginan awal pria itu.
"Gimana? Tetap hambar?" tanyanya dengan nada menyindir sang majikan.
Nev menggeleng. "Yang ini, lumayan." jawab Nev.
"Padahal makanannya sama saja dengan yang awal." gerutunya dan Nev tersenyum karena sudah pasti mendengar ucapannya itu.
"Tuan memang senang ya membuat orang lain jengkel?" tanyanya memberanikan diri, sambil menatapi Nev yang mulai mengunyah kembali.
Nev menggeleng. "Tidak terlalu senang, tapi melihat kamu jengkel memang semacam hiburan untukku." jawab pria itu pede.
Ia mencebik lagi. "Jadi Tuan mengaku sekarang, kalau Tuan memang sengaja mengerjai saya agar bisa melihat saya jengkel?" tuntutnya.
"Begitulah ..." jawab Nev absurd.
Ia pun semakin memasang wajah yang memberengut.
"Bibirmu jangan cemberut, Raya!" protes Nev tiba-tiba.
"Kenapa? Apa ini masalah untuk Tuan?" tanyanya menantang.
Nev mengangguk, "Tentu saja, wajahmu jadi seperti donald duck, aku tidak suka karakter itu." jawab Nev dengan datar, seperti tak berdosa sudah mengatainya.
Nev menatapnya dengan mata membulat. "Jadi kamu sudah berani memberiku nama lain?" tanya Nev.
"Maaf, Tuan. Saya tadi---" ia jadi menyesal mengucapkan itu.
Nev menggelengkan kepalanya sembari terkekeh kecil, membuatnya menghentikan kalimatnya sendiri, tak jadi memberi penjelasan lebih lanjut.
"Sulit diduga, ternyata sekarang aku punya nama lain. Apa tadi namanya?" tanya Nev serius padanya.
Ia menggeleng cepat. "Tidak, Tuan. Itu tadi saya hanya bercanda." kilahnya mencoba menyelamatkan diri dari kemarahan Nev.
Nev terkekeh, sepertinya Nev melihat wajahnya yang mungkin telah pias.
"Apa aku semanja itu? Apa nama itu cocok untukku, Raya?" kata Nev sambil terus terkekeh kecil.
"Sudahlah, lupakan itu, Tuan. Sekarang lanjutkan makannya, oke?"
Nev mengendikkan bahu, namun masih dengan senyuman yang tak surut.
Oh Tuan Manja, kenapa wajahmu terlihat senang sekali? Kau senang mendapat nama panggilan baru ya?
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Pagi-pagi sekali, Raya sudah bersiap. Dia menuju kamar Nev dan menyiapkan segala keperluan pria itu dipagi hari.
Setelah memastikan Nev selesai dengan sarapannya, Raya memberanikan diri untuk meminta izin pada Nev perihal keperluannya hari ini.
Nev sendiri, dia memperhatikan penampilan Raya yang terlihat rapi hari ini. Biasanya juga rapi, hanya saja baru kali ini dia melihat Raya berpenampilan seperti ini.
Sangat berbeda dikeseharian Raya yang selalu terlihat memakai T-shirt longgar.
__ADS_1
Lain dari biasanya, sekarang Raya mengenakan blus berwarna putih gading, celana denim, dan sepatu sneakers--sangat terlihat casual dan membuat Raya semakin cantik saja.
Tapi, setiap hari Raya memang cantik, kan?
Raya juga terlihat menggunakan pemerah bibir dan make-up ringan.
Nev memperhatikan Raya dalam diam disetiap suapan sarapannya, hingga akhirnya dia pun selesai dengan kegiatan itu.
"Tuan, hari ini saya permisi ingin keluar." kata Raya.
Sebenarnya Nev tak begitu terkejut mendengar itu, karena ucapan Raya itu sekaligus menjawab pertanyaan dikepalanya-- kenapa Raya berpenampilan rapi seperti ini?-- ternyata wanita ini ingin keluar rumah.
"Mau kemana? Mau menjenguk Mama kamu?" tanya Nev datar seperti biasanya, sembari meraih ponsel diatas meja makan.
"Saya mau menjenguk Papa dan sekalian mencari kontrakan untuk Mama, karena besok Mama sudah bisa keluar dari rumah sakit." jawab Raya jujur.
Nev menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, Tuan." kata Raya.
"Pergi sendiri?" tanya Nev saat Raya sudah akan bangkit dari duduknya.
"Em, kebetulan sama pengacara Papa. Beliau akan menjemput saya kesini, tidak apa-apa kan, Tuan?" tanya Raya harap-harap cemas, takut majikannya marah karena kelancangannya yang telah memberi alamat kediaman Nev pada Reka.
"Hmmm..." hanya itu yang keluar dari mulut Nev dan Raya mulai melangkah untuk menuju pintu keluar.
Secara diam-diam, Nev menatapi kepergian Raya, bahkan ia mengikuti langkah Raya dengan mendorong kursi rodanya hingga ke teras.
"Belum datang jemputan kamu?" tanya Nev yang melihat Raya masih duduk di teras rumah sembari sesekali melihat arloji ditangan kirinya.
"Sebentar lagi, Tuan. Nah itu dia..." kata Raya sembari menunjuk sebuah mobil yang baru saja memasuki pekarangan rumah Nev yang luas.
Nev masih berpikir positif tentang pengacara Papa Raya-- mungkin seorang pria berwibawa yang usianya setara dengan Papa Raya sendiri, ataupun mungkin seorang wanita yang juga berusia paruh baya.
Sayangnya, ekspektasi Nev harus terpatahkan kala melihat pria muda dengan setelan casual-- baru saja keluar dari mobil yang berhenti tak jauh dari posisinya dan Raya.
Pria muda yang adalah Reka itu terlihat menyunggingkan senyum ramah pada Raya dan Raya juga langsung membalas senyuman itu.
Reka pun sampai diambang teras rumah yang asri, kemudian dia tersenyum ramah yang mengarah pada Nev.
"Selamat pagi," sapa Reka pada Raya, kemudian beralih lagi menatap Nev-- yang sudah memasang wajah tak senangnya. 😅
Kenapa pengacaranya semuda ini dan... tampan?
Nev bahkan sampai membandingkan pria dihadapannya dengan dirinya sendiri.
"Tuan, perkenalkan ini Reka, pengacara Papa saya." kata Raya--membuat kepala Nev mendadak pening.
Reka mengulurkan tangan ke arah Nev, dan mau tak mau, Nev pun menyambut uluran tangan pria itu.
"Saya Reka." kata Reka.
"Nev..." jawab Nev singkat, bahkan suaranya nyaris tak terdengar.
"Saya dan Reka pergi, ya, Tuan. Permisi." ucap Raya sembari memakai slingbag-nya
Nev terdiam, dia bingung bagaimana caranya menggagalkan kepergian Raya bersama Reka.
Perasaannya tak ikhlas melepas Raya pergi begitu saja bersama Reka.
Dan Mereka hanya pergi berdua. Damned!
Rasanya, Nev ingin ikut serta ditengah-tengah mereka Raya dan Reka.
Tapi, apakah itu mungkin? Bukankah itu sangat kekanak-kanakan? Lagi pula, Nev tidak ada hubungannya dengan urusan yang akan Raya lakukan hari ini?
Alasan apa yang harus dia buat sekarang?
__ADS_1
...Bersambung ......
...Jangan lupa like, komentar, vote dan hadiah ya. Jadikan favorite juga💕...