PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Status baru


__ADS_3

"Idih, cie .... cie .... pengantin baru," celetuk Abrine saat Rahelsa dan Aarav menuju meja makan yang sudah diisi penuh oleh Nev, Raya, Airish dan juga Abrine.


"Kenapa?" tanya Aarav cuek pada Abrine yang berniat menggodanya.


"Gak apa-apa, Kak. Kelihatannya seger bener yang udah ganti status jadi suami," timpal Airish tak mau kalah menggoda sang kakak.


Rahelsa hanya menunduk sambil mengulumm senyum. Sementara Aarav malah meladeni dua adiknya itu. Terbukti, Aarav justru menyahuti godaan Abrine dan Airish.


"Seger dong, namanya juga dimandiin istri...." jawabnya tanpa rasa sungkan.


Nev sampai tersedak, sementara Raya menepuk jidat mendengar ucapan gamblang puteranya. Secara cekatan, Raya mengambilkan Nev segelas air untuk meredakan batuk-batuk Nev yang tak kunjung usai.


"Aarav, ngomong sama adik-adik yang bener, dong!" protes Raya sambil berlagak memelototi Aarav.


Aarav menahan geli, "Kan, emang bener, Ma!" ucapnya santai.


Raya menghela nafas singkat sembari melirik Abrine dan Airish yang tertawa malu-malu mendengar ucapan sang kakak yang malah tak tahu malu.


”Kayaknya tiap hari bakal seger, nih!" celoteh Abrine lagi.


"Woya jelas .... kalau mau tahu, buruan nikah juga, kamu!" ejek Aarav disertai senyuman miringnya.


Abrine mencebik. "Nikah? Aku gak kepikiran tuh!" katanya santai. "Airish dulu kali, aku mah belakangan ...."


"Apa perlu dicariin jodohnya?" timpal Rahelsa sambil terkikik.


"Ih, ogah!"


"Udah, udah, sarapan dulu .... kenapa bahas nikahan segala, calonnya juga gak ada," jawab Airish sambil mengunyah sandwichnya.


"Kalo kamu mah ada, dek! Udah di DP juga...." kikik Abrine.


"Mana ada," jawab Airish polos.


"Kamu aja yang gak sadar-sadar! Polos, lugu, atau......" Abrine tak melanjutkan kalimatnya karena Nev sudah berdehem-dehem diujung sana.


"Ma---kan!" kata Nev sembari menatap ketiga anaknya dengan tatapan penuh intimidasi.


Seusai makan, mereka semua berkumpul diruang keluarga.


Nev dan Raya lebih dulu membuka suara untuk mengumumkan sesuatu.

__ADS_1


"Jadi, berhubung Aarav dan Rahel sudah menikah. Mama dan Papa sudah menyiapkan sebuah hadiah spesial untuk kalian berdua," kata Raya memulai.


"Ya, ini adalah kado pernikahan dari Mama dan Papa." Nev mengulurkan sebuah kotak kehadapan Rahelsa dan Aarav.


Aarav meminta Rahelsa membuka kotak itu, namun wanita yang sudah menjadi istrinya itu menggeleng sungkan.


"Kamu aja," kata Rahelsa yakin.


Akhirnya, Aarav membuka kotak hadiah pemberian kedua orangtuanya. Dalam hati, dia tidak bisa menebak apa-apa. Karena ia tahu pemikiran Mama dan Papanya akan sulit sekali ditebak.


"Apartmen?" Aarav berucap disertai raut terkejut yang amat jelas.


"Papa dan Mama memberi kami hadiah sebuah Apartmen?" tanya Aarav memastikan.


Raya dan Nev mengangguk.


"Ya, sudah seharusnya kalian memiliki kehidupan rumah tangga sendiri, bukan berarti Papa dan Mama tidak senang dengan kehadiran kalian disini tapi alangkah baiknya jika setelah menikah kalian membina rumah tangga berdua tanpa dicampuri oleh kami. Jadilah suami istri yang rukun, jika ada masalah bisa menghadapinya bersama-sama," ucap Nev penuh kebijaksanaan.


Raya mengangguki ucapan suaminya, kemudian menatap Aarav dan Rahelsa dengan tatapan penuh kasih.


"Mama berharap, kalian akan lebih nyaman disana. Memiliki privasi dan mendapatkan quality time yang baik," timpalnya.


Raya menatap Rahelsa seolah protes akan sesuatu. "Maksud Rahel, makasih banyak ya Ma, Pa," ucapnya sembari menatap Nev dan Raya bergantian.


_______


Status baru yang disandang Rahelsa dan Aarav membuat mereka semakin dekat. Ditambah lagi mereka semakin sering bersama dan bersikap intens satu sama lain.


Meski tak jarang keduanya bersikap malu-malu, namun pada akhirnya ada saja diantara mereka yang mampu mengambil alih keadaan menjadi tak canggung.


"Kapan kamu mau pindah dan menempati Apartmen itu?" tanya Aarav sembari berpangku di pangkuan Rahelsa.


"Kapan kamu siap, aku bakal ikut kamu."


"Serius?" Aarav membelai wajah Rahelsa dari posisinya.


Rahelsa mengangguk. "Tapi, ada satu yang menjadi bahan pemikiran ku, Rav."


"Apa?" tanya Aarav.


"Aku gak tahu gimana caranya ninggalin kamu sendirian di Apartmen itu jika nanti aku sibuk kuliah."

__ADS_1


"Aku udah bisa sendiri, hanya hal-hal tertentu aja yang gak bisa aku lakuin sendiri. Apalagi sekarang ada kamu, aku makin manja deh...." aku Aarav terus terang.


Rahelsa membelai rambut Aarav dipangkuannya. "Aku gak masalah kamu manja terus, asal manjanya sama aku!" ucapnya disertai tawa renyah.


"Ya pastilah, emang mau manja sama siapa lagi. Sama Mama gak mungkin, soalnya Mama punya Papa yang posesif," kekeh Aarav.


"Ngomong-ngomong soal posesif, apa kamu juga bisa posesif kayak papa kamu?"


Aarav tertawa pelan. "Aku rasa, aku lebih parah. Hati-hati kamu...."


"Gak lah, aku gak perlu cemas dan hati-hati, kamu juga gak perlu posesifin aku.... gak akan ada yang bakal membuat kamu mencemburuiku secara berlebihan," kata Rahelsa pede.


Aarav berdecak sambil menggelengkan kepalanya. "Aku selalu cemburu, apalagi istriku cantik luar biasa," katanya menarik hidung mancung Rahelsa dengan gemas.


Rahelsa berlagak memekik, kemudian Aarav segera menarik leher Rahelsa agar wajahnya membungkuk tepat didepan wajah Aarav. Tanpa permisi, Aarav segera mengecup bibir Rahelsa secepat kilat, baru melepasnya setelah ********** habis.


Rahelsa memukul bahu Aarav singkat. "Kamu ih!"


"Apaan?" tanya Aarav berlagak bodoh. "Kamu kan yang deket-deket wajah aku," katanya mengelak.


"Kamu yang tarik leher aku biar aku merunduk kearah wajah kamu!" protes Rahelsa mencebik.


"Jadi gak seneng?" tanya Aarav.


"Enggak," jawab Rahelsa sembari melipat tangan didada sendiri.


Aarav tergelak, justru kembali menarik Rahelsa agar menatapnya. "Kenapa aku cinta kamu?" tanyanya.


"Mana aku tahu!" jawab Rahelsa cuek, ia tak berani menatap mata Aarav karena malu, padahal sekarang wajahnya sangat dekat dengan wajah lelaki itu.


"Karena kebersamaan kita selama ini, karena ketulusan kamu sama aku, dan karena gak ada yang lebih baik dari kamu. Kamu yang terbaik.... buat aku." Aarav menutup kalimatnya dengan sebuah ciuman lembut dibibir Rahelsa. Menyapunya pelan secara bergantian atas dan bawah, memberikan sesuatu yang lebih intens daripada ciuman yang sebelumnya. Yang kali ini, seakan menuntut lebih.


"Bisakah kita mengulanginya?" tanya Aarav dengan maksud yang Rahelsa pasti memahaminya.


Rahelsa mengangguk dengan wajah semerah tomat.


"My beloved my best partner," ucap Aarav menggoda.


*******


Maaf gak up-up.... othor kurang sehat. Tiga hari tiga malam sakit. Usahain Up di novel satunya, jadi yang ini belum bisa barengan up-nya... baru sempat up hari ini, kemarin-kemarin gak bisa mikir sama sekali... cuma bayangan wajah Nev aja yang muter2 dikepala, mungkin dia nuntut aku biar selesain nasib anak-anaknya kali ya😄🙏🙏🙏🙏 Mohon dukungan yah, tinggalkan like dan komentar deh paling enggak... heheh tetep ya kalo yang itu jangan ketinggalan🥰

__ADS_1


__ADS_2