
Senja sudah menyembunyikan cahaya jingga di peraduan, bergantikan dengan suasana gelap nan temaram. Langit juga tampak sangat indah karena dipenuhi ribuan bintang yang berkelip - kelip manis.
Suasana rumah Nev tampak ramai sejak kedatangan keluarga Jimmy siang tadi. Sekarang mereka melakukan barbeque di taman belakang rumah yang menghadap ke kolam ikan hias.
Semua alat - alat untuk barbeque sudah disediakan. Mulai dari alat panggangan serta makanan yang akan dibakar disana.
Aarav mengambil alih tugas untuk mengatur arang di panggangan.
Abrine dan Rahelsa sibuk menyusun makanan yang akan di jadikan beberapa tusukan. Daging sapi akan digabungkan dalam tusukan yang ada paprika saja karena daging sapi memiliki tekstur yang lebih tebal sehingga lebih lama untuk matang. Sedangkan untuk seafood seperti udang dan cumi, mereka kombinasikan dengan sosis dan juga marsmellow.
Tak lupa mereka menyediakan aluminium foil untuk menjaga beberapa makanan agar teksturnya tidak rusak.
Sementara itu, Airish juga sibuk membantu Bi Asih dan Mbak Yana untuk menata peralatan makan di meja yang sudah disediakan disana.
Mereka cuma barbeque-an tapi sudah seperti pesta taman saja sanking meriahnya karena ternyata Raya juga meminta dipasangkan lampu - lampu kecil disekitar taman sehingga malam ini taman belakang semakin tampak semarak.
Nev juga sengaja memasang layar fokus disisi lainnya sehingga mereka bisa makan sembari menonton film yang akan terpilih nantinya.
Disaat anak - anak sibuk dengan tugas masing - masing, tak jauh dari sana Nev, Raya, Jimmy, dan Nimas hanya mengobrol santai. Sebab, sesuai kesepakatan bersama, bahwa di pesta barbeque ini para orangtua akan tinggal makan saja tanpa turun tangan alias terima bersih. Hehehe...
"Ayo, panggangannya sudah siap!" kata Aarav pada Abrine dan Rahelsa. Kedua gadis itu pun mulai menyusun dan meletakkan tusukan sate diatas panggangan. Tidak perlu dikipasi karena sudah ada kipas listrik kecil yang sengaja dipasang Aarav disana.
"Aromanya enak... aku jadi laper," celetuk Airish yang datang menyempil ditengah - tengah Aarav, Rahelsa dan Abrine.
Airish pun memberikan piring lebar untuk tempat sate yang akan matang nantinya.
Sate seafood mereka lebih dulu matang karena itu memang tak membutuhkan waktu yang lama untuk memanggangnya.
Setelah keseruan memanggang sate - sate mereka usai, mereka semua bergabung di meja untuk menyantap makanan yang sudah mereka siapkan, begitu juga para orangtua yang ikut brrkumpul dalam satu meja yang sama.
"Jim, ku rasa kalian tinggal disini saja selama berada di Indonesia," kata Nev mengusulkan sambil mengunyah makanannya.
"Tidak, aku tidak mau menumpang terus. Aku juga punya tempat tinggal disini!" tolak Jimmy sambil terkekeh.
Nev berdecak lidah. "Bukan masalah menumpang! Selama di Indonesia kau akan sibuk karena ingin segera menyelesaikan pekerjaanmu, Nimas juga akan membantumu, kan? Coba kalian pikirkan bagaimana bosannya Rahel di Apartemenmu itu? Kalau disini setidaknya dia punya teman," ucap Nev memberi saran.
"Ya, lagipula di Indonesia Rahel tidak punya kegiatan, kan?" timpal Raya menatap Nimas.
"Aku sih terserah Mas Jimmy aja, Ray!" kata Nimas.
"Aku juga terserah Papa," celetuk Rahelsa.
"Pikirkanlah, Jim... Rumahku juga masih muat untuk kalian tempati." Nev tersenyum hangat.
__ADS_1
"Terima kasih atas kebaikanmu, kawan. Tapi, aku akan sangat merepotkan nanti, maaf... tapi jika Rahel ingin kesini nanti akan ku antarkan," kata Jimmy terkekeh. Jimmy merasa sungkan atas kebaikan Nev, lagipula Apartemennya masih ada jadi dia tidak perlu menginap terus dirumah Nev, lain hal jika disini ia tak memiliki tempat tinggal.
Selesai makan, mereka duduk berbaris untuk menyaksikan film yang akan mereka tonton.
Sebelumnya, mereka lebih dulu mengadakan semacam games untuk pemilihan tema film yang akan diputar.
Airish, Rahelsa dan Nimas memilih genre komedi. Nev dan Abrine memilih tema Action. Sementara Jimmy, Aarav dan Raya justru sepakat memilih film horor.
Jadi sudah ada tiga pilihan genre yang berbeda, mereka harus mengikuti games yang sudah dibuat--barulah request film itu dipenuhi sesuai dengan pilihan orang yang memenangkan games.
Games itu adalah meniup balon sebanyak - banyaknya. Tim siapa yang paling banyak meniup balon maka dialah yang menang.
Rahelsa, Abrine dan Aarav yang terpilih mewakili kubu masing-masing. Mereka bertiga harus bisa meniup balon sebanyak - banyaknya dan jika ada yang pecah selagi ditiup berarti kalah dan tak boleh melanjutkan meniup lagi.
Semuanya bersorak menyemangati perwakilan masing - masing, semuanya bersenang - senang malam itu dan tampak memancarkan suasana kekeluargaan yang hangat serta bahagia.
Rahelsa sudah kalah lebih dulu dari Abrine dan Aarav yang ternyata gerak cepat dalam hal seperti ini.
Sekarang tinggal Aarav dan Abrine yang akan melanjutkan misi.
Sayangnya, Abrine harus kalah dari Aarav karena nafas Aarav sungguh tidak lelah dalam misi meniup balon. Sialnya lagi, dari empat balon yang ditiup Aarav-- tidak satupun ada yang pecah. Sementara Abrine, balonnya meletus di balon yang ketiga.
Sesuai kesepakatan, karena Aarav yang menjadi pemenang maka, diputarlah film horor malam ini.
Abrine sudah bisa memastikan jika Airish akan kabur dalam pemutaran film kali ini dan benar saja, gadis itu berlagak izin ke toilet bahkan sebelum film dimulai.
Aarav dan Abrine terkikik geli melihat tingkah Airish.
Seperginya Airish, hanya menyisakan para orangtua yang duduk di dua sofa barisan depan.
Sementara, Rahelsa, Aarav dan Abrine duduk di satu sofa urutan paling belakang.
Mereka bersiap menatap layar yang sudah terpampang dihadapan mereka.
Film pun mulai diputar, horor kali ini adalah film yanv tak terlalu lawas-- the conjuring--yang menceritakan tentang kepindahan satu keluarga ke rumah yang baru mereka tempati, lalu mendapat teror dirumah yang sama.
Aarav dan Abrine sudah tak asing dengan film ini karena film ini berulang kali mereka putar disehari-hari, namun tidak pernah bosan.
Sampai dimenit entah keberapa, Aarav merasa jika bajunya ditarik dengan erat, menyebabkan Aarav menoleh ke samping dan mendapati Rahelsa yang memejamkan mata kerena ketakutan.
"Kamu takut?" bisik Aarav didekat Rahelsa.
Gadis itu pun membuka mata dan membalas tatapan Aarav. "Huum, aku penakut. Makanya aku gak berani tidur dikamar tamu sendirian," jawab Rahelsa polos dan Aarav tersenyum kecil karena tahu kelemahan cewek itu.
__ADS_1
"Ya udah, kalau takut masuk aja kedalam..." kata Aarav pelan.
Rahelsa menggeleng. "Ke dalam? Sama siapa? Aku takut, Rav!" katanya.
"Tapi kamu jago bela diri..." desis Aarav sedikit mengejek.
"Andai kemampuan bela diri bisa digunain buat nyerang setan aku pasti gak setakut ini, Rav! Kenapa sih harus nonton horor... Aaaaaa..." Rahelsa mengakhiri ucapannya dengan pekikan karena efek sound dari film horor yang kadang memang mengagetkan, padahal sebenarnya film-nya tidaklah semenakutkan efek suara yang ada.
Aarav terkesima saat Rahelsa justru merunduk didekat tubuhnya, posisi itu membuatnya seperti tengah mendekap Rahelsa, padahal tidak demikian.
"Hel... mau sampai kapan diposisi begini?" tanya Aarav pelan dan Rahelsa tak menggubris sama sekali.
"Hel..." Aarav menyentuh pundak Rahelsa dengan jemarinya, karena ia takut posisi ini membuat Rahel bisa mendengar detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan.
"Sebentar aja, Rav! Aku beneran takut!"
"Gak ada apa - apa juga!" kata Aarav meyakinkan.
"Itu... adiknya tidur masa' sampe jalan - jalan gitu!" kata Rahelsa sembari sesekali melirik ke arah layar namun sesekali berikutnya kembali menyurukkan badan di dekat dada Aarav.
"Kamu pernah tidur sambil jalan gitu?" tanya Aarav, ia menjadi punya ide jahil untuk mengerjai Rahelsa karena kini ia sadar dan semakin tahu kelemahan gadis ini.
"Enggak pernah lah, Rav!" kata Rahelsa yang kini semakin mendekap Aarav.
Ck! Kalau begini namanya beneran pelukan gak, ya? Kan gue gak meluk dia.-batin Aarav.
Aarav sebenarnya ingin semakin mengerjai Rahelsa, namun posisi ini membuatnya serba salah untuk melanjutkan misi jahilnya.
"Aaaa...." Rahelsa kembali menjerit histeris.
"Apaan yang serem?" bisik Aarav, sekarang ia sudah mulai terbiasa dengan posisi ini, atau justru nyaman??
"Itu... dilemarinya ada hantu, Rav!"
"Tapi katanya takut, masih juga ditonton!"
"Namanya juga penasaran!"
"Ya udah sih! Bilang aja mau peluk aku terus!" celetuk Aarav dan seketika itu juga Rahelsa seakan tersadar akan sesuatu, lalu melepas tangannya yang sejak tadi memegangi pinggiran baju Aarav, Rahelsa pun beringsut agak memberi jarak.
"Pacaran jangan berisik, iuh!" celetuk Abrine tiba-tiba yang berada disisi kiri Aarav.
Aarav hanya berdecak menanggapi protes Abrine itu, sementara Rahelsa tampak salah tingkah sekarang.
__ADS_1
*******