
Kesehatan Aarav semakin hari semakin membaik, sekarang ia sudah mulai bisa berjalan meskipun belum terlalu lancar. Aarav mulai belajar untuk memahami seluk-beluk dunia bisnis milik sang ayah. Di lain kesempatan, untuk mengisi waktu kosongnya, Aarav juga mengembangkan bakat melukisnya.
Rahelsa sendiri mendukung apapun yang suaminya lakukan. Disamping ia sibuk menyelesaikan kuliah di bidang designer busana. Ia tetap tak mau ketinggalan dalam hal memperhatikan keadaan dan perkembangan kesehatan suaminya. Apalagi, sekarang mereka tinggal terpisah dengan para orangtua, membuat mereka berdua semakin intens setiap hari.
"Els, aku mau tunjukin sesuatu buat kamu," celetuk Aarav saat Rahelsa tengah menekuri salah satu gambar design nya didalam kamar mereka.
"Nunjukin apa?" Rahelsa menoleh dan mendapati Aarav yang duduk di bibir ranjang.
"Ada deh, kejutan kecil buat kamu."
Rahelsa bangkit dengan antusias, didatanginya Aarav kemudian berdiri didepan sang suami.
"Apaan sih pake kejutan-kejutan segala!" ucapnya manja tapi sambil terkikik.
Aarav meraih kedua tangan Rahelsa lalu menggenggam jari jemari istrinya.
"Mau aku tunjukkin enggak?"
Rahelsa mengangguk. "Mau, dong!"
Aarav dibantu oleh Rahelsa mulai berdiri dan berjalan tertatih sambil dirangkul sang istri menuju sebuah ruangan yang biasa dijadikan Aarav sebagai studio melukis.
Sesampainya disana, Aarav memberikan Rahelsa sebuah hadiah berbentuk persegi yang langsung bisa Rahelsa tebak jika isi dari hadiah ini adalah sebuah lukisan-- jika dilihat dari bentuk dan ukurannya.
"Ayo, buka!"
Rahelsa menuruti, membuka kertas yang menjadi pembungkus kado itu sambil sesekali matanya melirik Aarav yang terus memperhatikan.
Dan setelah melihat isinya itu benar-benar sebuah lukisan yang membuat Rahelsa speechless.
"Sayang..." Rahelsa menutup mulutnya dengan kedua tangan sebab ini sebuah hadiah yang sangat manis menurutnya.
"Suka enggak?"
"Suka banget!"
Lukisan itu adalah lukisan wajah Rahelsa sendiri. Ternyata Aarav telah berhasil melukis wajah istrinya dengan mimik dan raut yang benar-benar mirip. Rahelsa memang tak pernah meragukan kemampuan suaminya ini.
Ternyata waktu yang terlewati tak membuat semuanya terbuang sia-sia, sebab Aarav menunjukkan bahwa dia bisa memiliki kemampuan disaat kondisinya masih sangat terbatas.
__ADS_1
"Makasih banyak, sayang!" Rahelsa melingkarkan kedua lengan di leher Aarav sebagai bentuk rasa senang sekaligus rasa terima kasihnya.
"Sebenarnya udah lama mau aku kasi ke kamu, tapi kok gak PD. Karena orang yang asli lebih cantik daripada yang ada dilukisan."
Rahelsa menggeleng-gelengkan kepalanya, ia sulit beeucap sekarang. Matanya memperhatikan hasil karya lukis sang suami yang benar-benar membuatnya kagum. Dua jempol di acungkan Rahelsa ke depan Aarav karena tak mampu berkata-kata lagi.
Rahelsa mengelus lukisan yang sudah berfigura itu. Sampai ia menyadari ada sebuah tulisan kecil yang ada disudut gambar.
-*My Els. Hatimu memberiku pintu untuk masuk, namun tidak memberiku pintu untuk keluar. Aku sudah tersesat didalamnya dan akan bernaung selama-lamanya disana*.
"Makasih, ini hadiah yang paling indah yang pernah aku terima." Rahelsa menitikkan airmata bahagia kemudian memeluk hangat suaminya.
Terkadang, hidup yang memiliki segalanya belum tentu berbahagia. Tapi, menjalani hidup yang terbatas bersama orang yang mau mengerti akan jauh lebih berarti. Karena apa? Karena setidaknya, dari triliunan manusia yang tercipta ada satu orang diantaranya yang mampu menerimamu apa-adanya dengan segala kekurangan yang kau punya. Maka, syukurilah.
Saat ada seseorang yang mencintaimu tanpa peduli bagaimanapun keadaanmu, baik saat kau susah, sakit, bahkan sedang terpuruk, maka jangan lepaskan dia.
Mencintai itu indah, dicintai jauh lebih indah. Itulah kenapa Tuhan menganugerahkan rasa sedemikian rupa untuk hambanya.
Jangan lupakan konsep dalam mencintai. Mencintai bukanlah saling memberi dan menerima, bukan. Tetapi, konsep mencintai yang paling tinggi adalah selalu memberi dan memberi tanpa mengharap hal yang sama.
_______
*Dalam hidup, terkadang ada banyak hal yang tak sesuai dengan yang kita harapkan. Tak usah kecewa, sebab kita masih bisa mencobanya dilain kesempatan*.
Tapi, yang terjadi pada Airish justru sebaliknya. Ia tidak iri dengan kesuksesan Bianca malah ia ikut senang. Tetapi, kemauan Bianca yang selalu memintanya untuk menemani ke Agensi, membuatnya jadi bertemu dengan seorang komposer yang sempat berkenalan dengannya waktu itu.
Kenapa Airish merasa dipermainkan? Jadi, komposer itu benar-benar menawari Airish untuk bergabung dengan tim nya. Awalnya Airish tak tertarik meski ia sangat ingin. Ia sempat menolak dulu, tapi karena Bianca memaksanya mau tak mau Airish pun ingin mencoba.
Namun, apa yang didapatkannya? Kecewa dan merasa terhina.
Komposer itu bukan menilai kemampuannya. Melainkan berpikir yang sudah diluar nalarnya. Keluar jalur. Menawarinya hal yang tidak pantas. Membuatnya tak habis pikir kenapa komposer yang terbilang cukup terkenal ini ternyata punya pemikiran seperti itu pada Airish.
Tanpa basa-basi, sang komposer mengajak Airish untuk bersenang-senang dulu bahkan sebelum melihat kemampuan Airish. Jika Airish setuju, maka dia akan membantu untuk mendompleng kesuksesan dan kepopuleran Airish nantinya. Dia berjanji akan membuat nama Airish terkenal dengan kapasitas yang dia punya.
Komposer bernama Rolland itu, bahkan tak segan-segan menatap Airish dengan tatapan nakal, membuat Airish melotot dan langsung tegas menolak tawarannya.
"Jadi, Mr. Rolland mau mengajakmu melakukan hubungan satu malam?" Bianca langsung membungkam mulut dengan kedua tangan sebab benar-benar tercengang mendengar penuturan Airish barusan.
Airish masih saja menangis, entah kenapa rasanya harga dirinya seperti diinjak-injak. Bahkan Zio saja sangat menghargainya tapi kenapa orang yang baru dikenalnya bersikap seperti ini.
__ADS_1
"Tapi, dia tidak melakukan apapun padamu, kan?"
"Tidak, aku segera mengancamnya!"
Bianca kembali syok. "Kau mengancamnya?"
"Hmm, aku bilang aku bisa melaporkannya dengan tuduhan pelecehan. Bahkan tatapannya sangat menjijikkan."
Walaupun begitu, Airish tahu jika dia tak bisa melaporkan sebab memang Mr. Rolland belum sempat sedikitpun menyentuh dirinya. Dan lagi, Airish tak punya bukti untuk hal itu.
"Ah, seharusnya aku sudah bisa membaca gelagatnya dari awal. Maafkan aku Airish, aku tidak terpikir sampai kesana karena didepan banyak orang dia terlihat profesional." Bianca benar-benar menyesal. Ia merangkul Airish yang masih menangis. Bianca tahu Airish adalah gadis yang sangat lembut dan polos, berbeda dengan Abrine. Tapi, bagaimana jika Abrine tahu apa yang terjadi pada Airish hari ini ya?
"Aku ingin sekali menusuk matanya!" gerutu Airish sambil mengusap airmata dipipinya.
"Bagaimana kalau kau katakan hal ini pada Abrine. Pasti Abrine berani membalasnya!" usul Bianca.
Airish menoleh ke samping, menatap Bianca yang juga jadi geram karena curhatannya.
"Tidak, Kak Abrine baru saja menyelesaikan masalahnya kemarin. Dia sampai masuk kantor polisi. Aku tidak mau dia mendengar hal ini, dia bisa mendatangi pria genit itu dan mencongkel matanya."
Mendengar itu, Bianca yang langsung bergidik ngeri.
"Andai saja kau sedikit lebih berani, atau mempunyai setengah saja sifat Abrine, aku yakin Mr. Rolland sudah berada di rumah sakit sekarang.”
Airish mengangguki ucapan Bianca.
Disaat seperti itu, tiba-tiba ponsel Airish berdering. Zio meneleponnya. Parahnya, telepon itu adalah panggilan video.
Airish belum siap menunjukkan wajah sembabnya dihadapan Zio. Bagaimana ini?
"Zio?" tebak Bianca dan Airish mengangguk.
"Ya terima saja!"
"Aku gak mau dia lihat wajah aku habis nangis, Bia!"
"So?"
"Kamu terima aja panggilannya. Bilang aku lagi di toilet. Suruh dia telepon lagi nanti. Aku cuci muka dulu. Oke?"
__ADS_1
"Oke!"
******