PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
SEASON II - Berita terbaru


__ADS_3

Berita mengenai penangkapan seorang komposer ternama--sedang santer di perbincangkan ditelevisi dalam Negeri. Komposer itu tak lain dan tak bukan adalah Mr. Rolland. Penangkapannya dilakukan karena adanya bukti mengenai sebuah tindakan pelecehan kepada seorang gadis. Dengan adanya kasus ini-- memicu para korban yang pernah hampir menjadi mangsanya turut angkat suara untuk mendukung penangkapannya.


Tentu saja dulu para korban itu tak ada yang berani melapor karena tak adanya bukti. Namun, dengan kejadian ini mereka semua antusias untuk menjadi saksi bahwa tindakan yang dituduhkan kepada Mr. Rolland adalah benar-benar terjadi dibalik naungan agensi. Pria bernama asli Rolland Smith itu berkedok ingin menjadikan banyak gadis menjadi penyanyi dan musisi ternama namun dibalik itu ia meminta 'upah' yang tidak ada kaitannya dengan popularitas itu sendiri.


"Yang melaporkannya pasti punya bukti konkrit dan akurat," gumam Airish sembari mengoles rotinya dengan selai cokelat.


"Mm...." Abrine hanya bergumam pelan, tak ingin menjelaskan hal lebih lanjut tentang dirinya lah yang menjadi pelapor kasus ini disertai bukti yang ia dapatkan. Tentu bukti itu disimpan pihak kepolisian dan pihak yang berwenang juga menjamin untuk menyembunyikan identitasnya sebagai korban.


"Papa cukup lega dengan hal ini...." Nev yang duduk diujung meja makan terdengar menghela nafas lega. Ia jadi tak perlu mengusut tuntas, karena ternyata sudah ada korban yang mempunyai bukti untuk melapor pada polisi tentang kebejatan sang komposer.


"Mama juga, Pa." Raya tersenyum lembut menatap dua anak gadisnya. Abrine tampak cuek seperti biasa, sedangkan Airish menatap kedua orangtuanya bergantian seolah ingin mengucapkan sesuatu.


"Ada apa, Rish?" tanya Raya yang melihat Airish mulai membuka mulut untuk berujar namun tampak ragu.


"Mama sama Papa tahu kan soal masalah yang sempat menimpa Airish?"


Raya mengangguk sementara Nev hanya tersenyum tipis.


"Sudahlah, yang penting semuanya sudah selesai." Nev berujar enteng, tentu karena berita yang baru saja mereka tonton di televisi.


"Rish, lain kali kalau ada masalah sebesar ini kamu cerita sama Mama dan Papa. Paling enggak, sama kakakmu. Gak semua masalah bisa kamu selesaikan sendiri. Apalagi hal ini, ini, tuh, bahaya Airish!" pungkas Raya menekankan kata menatap putrinya itu.


"Iya, Ma." Airish menunduk. Ia tahu seharusnya ia terbuka pada kedua orangtuanya, tapi ia terlalu malu untuk menceritakan tentang hal semacam ini-- karena walau bagaimanapun hal ini sangat memalukan. Ia bingung hendak memulai bicara darimana pada kedua orangtuanya.


Sarapan pagi mereka selesai bersamaan dengan bel pintu Apartmen yang terdengar berbunyi.


"Biar Airish aja, Ma." Airish mencegah Raya yang ingin beranjak, ia lebih dulu berdiri dari tempat duduknya untuk membukakan pintu.


Airish menekan monitor untuk melihat siapa tamu yang berkunjung ke Apartmen sepagi ini. Tampaklah dilayar seorang tamu dengan pakaian casual sudah berdiri di depan pintu, pemandangan itu cukup membuat Airish tersenyum sampai melengkungkan bibirnya riang.


Gegas Airish membuka pintu dan mendapati tamu yang memasang senyum paling menawan sedunia.


"Pagi, calon istri."


Duh, calon istri katanya.


"Pagi tukang gombal," sahut Airish sembari mengulumm senyum.


"Kok, tukang gombal, sih?"


"Itu, bilang bilang calon istri segala."


"Loh, kan kenyataannya emang iya. Emang salahnya dimana?"


"Iya, juga, sih." Airish menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Udah siap?"


"Siap?" Airish mengulang kata.


"Siap jadi istri saya?"


"Eh?"


Zio tertawa pelan. "Maksud saya, kamu udah siap mau ke kampus?" tanyanya meralat.


"Hehehe .... udah, nih!"


Saling tatap dalam beberapa detik dengan hentakan irama jantung yang senada membuat keduanya terdiam meresapi.


"Eh, ada tamu. Kok, gak diajak masuk, Rish?" Suara Raya menginterupsi-- membuat sepasang insan yang saling tatap dalam keheningan itu tersadar seketika.


"Zio?" Rupanya Raya menghampiri karena tak ada sahutan dari putrinya. "Ya ampun, ini tamu jauh kok gak diajak masuk, nak!" Raya menatap Airish dengan kernyitan dalam.


"Hehehe...." Airish cuma nyengir sambil menggaruk pelipisnya sekilas.

__ADS_1


"Gak usah, Tante. Saya kesini izin mau jemput Airish aja, mau anterin ke kampus. Sama sekalian, entar malam Bunda sama Papi mau kesini." Zio berucap setelah menyalami tangan Raya dengan takzim.


"Oh, Mbak Hana sama Mas Ken di Jerman, Zi?"


"Iya, Ma. Kan, mau bicarain soal yang kemarin," terang Airish menyela.


"Yang kemarin?" Raya mengernyit, berlagak lupa, padahal dia mau menggoda puterinya.


"Iya, soal pernikahan Airish sama Zio." Airish berbisik ditelinga Raya, malu jika berujar terus terang didepan Zio.


"Oh, jadi bener anak gadis mama yang paling bontot udah mau menikah? Mama pikir cuma mimpi, Rish," kelakar Raya dengan suara kuat-- agar Zio ikut mendengar. Sontak saja Airish melotot sementara Zio terkekeh pelan mendengar candaan ibu dari calon istrinya itu.


"Ya udah deh, Ma. Airish berangkat dulu, ya. Takut telat!" potong Airish sebab ia malu dengan kelakaran sang Mama didepan Zio.


Airish mengambil tangan Raya kemudian menciumnya, disusul oleh Zio yang kembali melakukan hal serupa.


"Hati-hati, ya! Jangan lupa baca doa." ?raya terkekeh jahil menatap Airish.


"Baca doa atau berdoa, ma?"


"Eh?"


Airish nyengir kuda dan Raya tahu jika putrinya sedang membalas dengan sikap usil.


"Dasar kamu nih! Dosa, loh, usilin Mama."


Airish melambaikan tangannya dan dibalas dengan hal serupa oleh Raya.


Airish dan Zio meninggalkan Apartmen dan menuju kampus menggunakan mobil yang di rental Zio selama di Jerman.


Belum ada yang berucap diantara mereka sampai memasuki kabin mobil.


"Zi?"


"Ya?" Zio menoleh sekilas pada Airish sembari memasang sabuk pengaman.


"Kenapa, sih, kamu?"


"Gak ada."


"Serius?"


"Huuh..." Airish mengangguk-anggukkan kepalanya cepat.


"Lucu banget sih," gumam Zio sambil tersenyum. "Jangan bilang mau ngajak bolos kuliah lagi kayak waktu itu,"? sambungnya tak lagi bergumam.


Mata Airish membola. "Loh, kok?"


"Kok, apa? Kok tahu isi pikiran kamu..."? Zio terbahak. "Gampang ketebak, sih!"? lanjutnya.


Airish mengulumm senyum dan membuang pandangan ke luar jendela.


"Jadi, beneran mau bolos, nih?" pancing Zio dan Airish kembali menoleh padanya sembari mengangguk antusias, tentu saja Zio jadi kembali terbahak karena sikap gadisnya itu.


______


Zio menunggui Airish di cafetaria kampus sebab ia tak mengizinkan gadis itu untuk kembali bolos kuliah. Lagipula, lebih baik jika Airish kuliah daripada nanti minta hal-hal aneh yang justru membuat Zio bingung. Masih ingat bukan, permintaan aneh Airish sebelum Zio kembali ke Indonesia waktu itu. Ya, gadis itu malah mau main ke kamar hotel yang Zio tempati. Zio tak mau lepas kendali lagi seperti waktu itu dan berakhir dengan mencium Airish.


Pernikahan mereka sebentar lagi jadi Zio tak mau melakukan kesalahan yang sama, ia harus bersabar sebentar lagi. Berpacaran setelah menikah tentu lebih indah ketimbang sekarang yang apa-apanya dibatasi oleh komitmen Zio sendiri yang tak mau melakukan kontak fisik berlebihan.


"Zio?"


Zio menoleh pada seorang yang memanggil namanya.


"Lo, Zio, kan?"

__ADS_1


"Eh, Ferdy. Apa kabar, Lo?" tanya Zio yang langsung mengenali lawan bicaranya. Ferdy adalah kawan kuliahnya di Singapore.


"Sehat gue! Ngapain Lo di jerman? Kalau liburan, kenapa mainnya di kampus?" tanya Ferdy dengan tampang semringah sebab bertemu kawan lamanya.


"Biasa, nunggu orang."


"Siapa? Someone?" Ferdy menaik-naikkan alisnya menggoda Zio.


"Calon istri," jawab Zio tersenyum kecil.


"Serius, Lo?"


"Iya."


"Kuliah disini calon Lo?"


"Iya," jawab Zio. "Lo sendiri ngapain?" tanyanya.


"Gue nyambung S3. Gak liat Lo kepala gue udah mau botak."


Zio terkekeh mendengar gurauan Ferdy, tapi ia senang karena pertemuan tak sengaja ini cukup membuatnya terhibur dan menghilangkan kejenuhannya menunggu jam kuliah Airish berakhir.


"Siapa calon Lo? Barangkali gue kenal, karena disini ada semacam himpunan mahasiswa yang berasal dari satu negara gitu, termasuk dari Indonesia."


"Airish."


"Airish? Serius Lo?"


"Kenal, Lo?"


"Gak kenal, tapi asli... serius Lo calon Lo si Airish?"


"Kenapa? Famous dia disini?" kekeh Zio.


"Gitulah, apalagi itu .... Abrine, kembarannya. Kenal juga Lo pasti."


"Gitulah."


"Gitulah apa? Kalo kenal, bisa lah Lo kenalin sama gue." Ferdy berucap sambil menyengir.


"Berani Lo deketin Abrine?" Zio tertawa pelan.


"Oh iya, dia agak brutal ya, Bro."


"Lagian dia gak suka sama yang hampir botak," kelakar Zio membuat Ferdy memegang kepalanya sendiri.


"Bang sat Lo! Balikin ucapan gue!"


Mereka terkekeh dengan akrab sampai akhirnya suara Airish menyela diantara keduanya.


"Zi?"


"Udah siap?" Zio menoleh pada Airish.


"Udah," jawab Airish yang kini menatap Ferdy. "Siapa, Zi?" tanyanya.


"Ini .... Ferdy temen aku pas kuliah di Singapore. Terus sekarang dia nyambung S3 disini."


Ferdy mengulurkan tangan pada Airish. "Ferdy," ucapnya memperkenalkan diri.


Airish mengulurkan tangan hendak menjabat tangan Ferdy, namun Zio yang lekas mengambil tangan gadis itu dengan gerak cepat, membuat Ferdy menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal sebab uluran tangannya tak bersambut.


"Santai napa, Bro! Cuma kenalan ini...." gerutu Ferdy.


Zio hanya mengendikkan bahu cuek dan Airish hanya menyengir tak enak hati pada Ferdy.

__ADS_1


Ternyata ke-absurd-an sikap Zio sudah mulai terlihat, pemirsah.


"


__ADS_2