PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
45 - Persidangan


__ADS_3

Nev tahu, urusan perceraiannya tidak mungkin langsung tuntas dan selesai begitu saja. Setelah penyerahan berkas, minimal 3 bulan lamanya barulah semua bisa selesai. Atau jika ada kendala dalam proses ini, dia bahkan harus menunggu sampai 6 bulan, untuk mendapatkan status dudanya.


Dia harus bolak-balik ke pengadilan Agama untuk ikut mengurus segalanya, karena ada beberapa hal yang memang harus menunggu kehadirannya dan tidak bisa diwakili oleh pengacaranya saja.


Dilain sisi, Bian sudah mengantongi identitas tetangga Raya yang sempat dicurigai oleh Nev.


Jelas saja Bian merasa pernah mengenal wanita berkulit eksotis itu, karena ternyata perempuan itu adalah asisten dari Nenek Nev. Dia adalah Niken Andhara, sang orang kepercayaan Nenek.


Pantaslah Bian seperti pernah mengenalnya, mereka pernah beberapa kali bertemu-- walau pertemuan itu bisa dihitung dengan jari.


Bian juga mengetahui jika Raya sudah bekerja menjadi penyanyi Cafe yang adalah cafe milik Nenek Nev.


Bian pun membaca situasi dengan cepat, mengerti bahwa ini adalah jalan yang diberikan Nenek untuk mempermudah hidup Raya. Nenek sengaja memberi Raya pekerjaan akhir pekan, sehingga jika Raya ada pekerjaan lain di hari kerja, wanita muda itu bisa mengambil job yang lainnya.


Bian tahu, Nenek berniat baik dalam hal ini, Nenek tidak melepaskan Raya begitu saja karena sejatinya Nenek tahu perasaan Nev pada Raya bukanlah main-main.


Tapi, Bian menjadi ragu menyampaikan fakta tentang Niken dan pekerjaan baru Raya ini pada Nev. Bian takut mengganggu alur yang sudah diatur oleh Nenek Atasannya itu.


Bian takut semua semakin semraut jika Nev mengetahui semua ini, walau Bian menangkap niat baik Nenek, tapi entahlah apa tanggapan Nev jika tahu pekerjaan baru Raya ini. Bian yakin Nev tak akan setuju.


Tapi, Bian tidak punya pilihan lain selain memberitahu Nev. Sehingga dia berniat memberitahu Nev tentang semuanya.


Sampai aksinya itu harus terhenti kala Nenek mengingatkannya dengan halus.


"Nev cukup mengetahui keadaan Raya yang baik-baik saja," kata Nenek, ternyata Nenek sudah tahu bahwa Bian dan Nev mengikuti jejak Raya beberapa hari ini.


"Jangan memberitahu Nev lebih lanjut, Bian... Nenek mohon padamu." Nenek sampai memohon padanya, walaupun Bian terkesan seperti tak punya nurani dan lebih condong berpihak pada Tuannya, tapi percayalah dia tidak mungkin mengabaikan ucapan seorang Nenek yang dia kenal dengan kebaikannya.


"Biar Nev mengurus soal perceraiannya dulu, sampai ini benar-benar tuntas, kau mengerti, Bian?" kata Nenek mengingatkannya tentang Nev yang memang tengah sibuk mengurus perceraiannya dengan Feli.


Dengan berat hati, akhirnya Bian menuruti permintaan Nenek, menutup mulut tentang siapa Niken dan pekerjaan sampingan Raya.


"Raya akan baik-baik saja, yakinkan Nev untuk fokus, jangan dulu menemui Raya, Nenek takut Raya tersangkut paut, kita tidak tahu apa rencana Feli, kan? Jika Raya benar-benar jodoh Nev, maka mereka akan tetap bersama suatu hari nanti." sambung Nenek lagi, membuat Bian sadar bahwa omongan orangtua terkadang ada benarnya dan Nenek selalu berkiblat pada takdir-- untuk menentukan jalan hidup seseorang.


Kalau sudah begini, Bian tidak mungkin melawan dan menyanggah perkataan Nenek, bukan?


Baiklah...


 


Untuk pertama kalinya setelah hampir tiga minggu-- Nev bertemu kembali dengan Feli, saat tahap mediasi.

__ADS_1


Proses itu tidak begitu memakan waktu, karena keduanya sepakat untuk saling melepaskan satu sama lain.


Nev sedikit tertegun karena sikap Feli yang terlihat pasrah dan tidak banyak menyangkal saat proses mediasi. Bahkan, Feli terlihat diam dengan mata yang menerawang.


Hingga hasil akhir menyatakan bahwa mereka memang sepakat untuk tidak melanjutkan pernikahan.


Setelah tahap ini, Nev dan Feli perlu menyelesaikan tahap selanjutnya sampai ikrar talak dibacakan, lalu palu terketuk dan menyatakan bahwa mereka resmi berpisah.


Tidak ada satupun pasangan yang menginginkan sebuah perceraian, begitu pula dengan Nev. Perceraian juga merupakan pantang dikeluarga besarnya.


Tapi, melanjutkan pernikahan dan menyelamatkan yang telah kandas hanyalah buaian yang percuma. Tidak akan ada hasilnya, karena pun kini hatinya telah berlabuh dihati yang lain.


Mungkin dia telah salah, jatuh hati pada wanita lain saat statusnya masih menjadi suami Feli, tapi dia benar-benar tidak menyangka bahwa perasaan itu datang begitu saja.


Dia juga bersalah dalam hal perasaan, dia mengakui itu. Tapi terlepas dari perasaannya, sikap Feli memang sudah lama membuatnya muak.


Bukannya dia mau melimpahkan semua kesalahan pada wanita yang pernah berstatus sebagai istrinya itu, tapi itulah kenyataanya, Feli tidak pernah menjaga perasaannya sampai perasaan itu benar-benar mati rasa terhadap wanita itu.


Sampai Raya-lah yang menghidupkan rasa itu kembali dihatinya, bahkan dia sempat tidak menyangka bahwa dia bisa merasakan perasaan seperti ini dihidupnya yang akan datang.


Setelah selesai dengan proses mediasi, Nev ingin mengunjungi Raya seperti biasanya sebelum dia kembali ke kantor.


Tapi, tidak seperti biasanya, kali ini Bian mencegah niat Nev itu.


"Kenapa? Kenapa hari ini aku tidak boleh melihat keadaan Raya? Sudah hampir seminggu aku tidak kesana karena sibuk dengan urusan pekerjaan dan perceraianku." Nev mendengkus sebal melihat Bian.


"Saya fikir, uruslah dulu soal perceraian Anda sampai tuntas. Tidak perlu mengunjungi Raya setiap hari," usul Bian.


Lagi-lagi Nev mendengkus, "Aku tidak menemuinya, Bian. Aku hanya melihatnya dari jauh seperti biasanya," kata Nev menyanggah perkataan Bian.


"Tuan, kita tidak tahu rencana apa yang akan dibuat Nyonya Feli setelah ini, dia tampak diam saja kan? Kita tidak tahu isi kepalanya, saya hanya takut dia merencanakan sesuatu jika Tuan terus-menerus begini,"


Nev diam mencerna ucapan Sekretaris pribadinya itu, Nev mengakui jika Bian kadang memiliki sudut pandang lain yang tidak terlintas dikepalanya. Jadi, kali ini dia membiarkan Bian dengan prasangka nya itu.


"Baiklah, kita kembali ke kantor," katanya pada Bian dengan nada datar.


"Setelah perpisahan Anda resmi, Anda akan bebas menemui Raya," kata Bian.


"Ya, ya, itupun kalau Raya masih menungguku." jawab Nev pesimis.


Maka, Bian pun melancarkan aksi bergantung takdir yang dikemukakan oleh Nenek Nev.

__ADS_1


"Bukankah jika jodoh tidak akan kemana-mana," kata Bian setengah terkekeh.


"Terserah kau saja," kata Nev dengan nada malas.


Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kantor.


Sampai dikantor, Nev seperti teringat sesuatu hal. Hal yang sempat dilupakannya karena kesibukannya belakangan hari. Sehingga baru kali inilah dia bekesempatan untuk menanyakan pada Bian.


"Bagaimana dengan tetangga Raya itu? Apa kau sudah tahu siapa dia?" tanya Nev serius.


Sebenarnya inilah pertanyaan Nev yang paling Bian hindari, karena dia juga takut jika Nev bisa membaca gelagat dan kebohongannya.


"Dia hanya tetangga biasa, Tuan." jawab Bian seadanya.


Nev mengadah pada Bian yang berdiri dihadapannya yang terduduk, mengernyit menatap Bian dan disaat itu juga Bian sadar bahwa Tuan Nevan yang terhormat tidak bisa dibodohi begitu saja.


"Kau membohongiku?" terka Nev.


"Tentu saja tidak, Tuan." sanggahnya secepat kilat namun mencoba tenang dalam mengambil sikap.


Nev masih menatapnya lekat, namun Bian membalas tatapan Nev dengan biasa saja sehingga Nev mengurungkan niat untuk curiga pada Bian.


"Kau harus ingat siapa Atasanmu, Bian." kata Nev lagi-lagi mengingatkan.


Bian mengangguk takzim, namun dia bergumam. "Justru itulah saya melindungi dan menjaga, Anda."


Nev tidak mendengar itu karena dia langsung sibuk pada setumpuk pekerjaannya.


"Apa besok aku harus menemui klien ini? Besok hari sabtu dan aku tidak tertarik menemui klien diluar jam kerjaku." kata Nev mengarah pada schedule pekerjaannya.


Bian melihat sekilas kearah jadwal yang Nev bacakan.


"Itu Klien penting, Tuan. Dia baru tiba dari Jerman beberapa hari lalu, jadi dia ingin menemui Anda dengan santai di akhir pekan," jawab Bian jujur.


"Oke, baiklah... besok aku menemuinya. Dia ingin bertemu dimana?" tanya Nev.


"Dia mengatakan akan mengirim shareloc jika sudah menemukan tempat yang cocok."


Nev berdecak lidah, namun kemudian dia memberi Bian pesan agar segera memberitahunya setelah sang Klien menentukan tempat yang dipilih.


"Baik, Tuan." kata Bian. Dia hendak cepat-cepat keluar dari ruangan Nev yang mendadak terasa hampa udara, membuatnya sulit bernafas karena rasa tegang.

__ADS_1


Sedangkan Nev, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dibulan ini, karena dia sudah memiliki target lain untuk bulan berikutnya.


...Bersambung ......


__ADS_2