
Raya sudah kembali ke kediamannya dan tidak menginap dirumah orangtuanya lagi, karena entah kenapa dia merindukan rumah, lebih tepatnya dia merindukan suaminya itu.
Renovasi rumah masih berlangsung, tapi Raya tidak mempermasalahkan hal itu karena setelah Nev pulang nanti, mereka memutuskan menginap di Resort keluarga Nev.
Sebenarnya Nev ingin mengajak Raya berlibur lagi setelah penat dengan pekerjaan, tapi kondisi Raya yang tengah hamil muda tidak memungkinkan.
Nenek masih sering menanyakan kabar cucu menantunya itu lewat sambungan telepon. Hubungan keduanya semakin akrab dan berakhir dengan perbincangan tentang resep dan makanan kesukaan Nev.
Begitupula hubungan Raya dengan Niken. Mantan tetangganya itu masih berkomunikasi dengan baik layaknya sahabat, walau pada akhirnya Raya tahu jika Niken adalah orang suruhan Nenek Nev untuk menjaga dan memberinya pekerjaan tempo lalu.
Raya dan Niken tetap sering melakukan sesi curhat melalui sambungan seluler, mengingat saat ini Niken mengurus cabang cafe yang berada diluar kota, jauh dari tempat tinggal Raya dan Nev.
Menjelang kepulangan Nev, Raya menyempatkan diri untuk membuat kue kering lagi, sepertinya itu menjadi hobi barunya akhir-akhir ini. Nev akan pulang besok dan Raya sudah tidak sabar menyambut kepulangan suaminya.
Selesai dengan kue keringnya, Raya memutuskan untuk mandi sore dan menyegarkan diri.
Saat ini Raya menempati kamar tamu dilantai bawah karena kamarnya yang biasa belum selesai di renovasi.
Raya berendam didalam air hangat yang dipenuhi busa-busa sabun dan aromatherapi.
Suasana itu sedikit merilekskan pikirannya. Sedikit banyak Raya masih memikirkan tentang wanita yang tak sengaja dia temui tempo hari, Luisa.
Raya belum menanyakan tentang Luisa pada Nev, dia akan menanyakannya saat Nev sudah tiba dirumah saja. Sedekat apa Nev dengan wanita bernama Luisa itu.
Selesai dengan urusan mandinya, Raya mengenakan pakaian rumahan yang ringan dan nyaman dengan nama tenar daster, pakaian favorit kaum hawa.
Raya membuka buku parenting yang sempat dibelinya kemarin dan mulai membaca hal-hal yang ingin diketahuinya.
Lambat laun dia mulai merasa mengantuk dan tertidur.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Nev keluar dari area Bandara sekitar pukul 16.00 WIB. Dia sengaja mengatakan pada Raya bahwa kepulangannya adalah esok hari, padahal sekarang dia sudah tiba dikota tempat tinggal mereka. Dia ingin memberikan kejutan pada sang istri.
Kurang lebih empat puluh lima menit kemudian, Nev sampai dikediamannya. Nev tahu Raya sudah berada dirumah dan sedang bermukim di kamar tamu sekarang.
Nev memasuki kamar dengan perlahan. Dia mengendap-endap seperti maling dirumahnya sendiri. Dia ingin Raya tidak mengetahui kepulangannya hari ini dan Raya akan terkejut senang begitu mendapatinya dikamar.
Namun sayangnya, saat Nev memasuki kamar justru melihat sang istri yang tertidur dengan nyenyak diatas ranjang.
Nev tidak tega membangunkan Raya, dia hanya tersenyum kecil melihat wajah pulas istrinya.
Nev memutuskan untuk mandi dan membersihkan diri saja. Sampai Nev selesai dengan urusan mandinya, belum ada tanda-tanda jika Raya akan bangun.
Nev mengenakan kaosnya dan ikut bergabung dengan Raya diatas ranjang. Dia memeluk tubuh Raya dari belakang dan menghirup aroma tubuh wanita yang sangat dia rindukan, tanpa sadar Nev ikut tertidur dalam posisi yang sama.
Dalam keadaan tertidur, Raya merasakan pelukan hangat suaminya. Alam bawah sadarnya mengatakan jika dia tengah bermimpi dan dia menikmati momen itu karena memang sangat merindukan Nev.
Namun tiba-tiba mata Raya terbuka seketika, merasakan pelukan Nev semakin nyata adanya, karena dia mendengar dengkuran halus yang khas milik suaminya.
Raya terperanjat seketika, saat merasakan ada kehangatan nafas dibelakang tengkuknya.
"Nev ..." Raya terkesima mendapati suaminya yang tertidur nyenyak sambil memeluknya. Ini nyata dan bukan mimpi seperti yang terbersit dialam bawah sadarnya tadi.
Secara perlahan Nev mengerjap saat mendengar namanya disebut oleh Raya.
Sadar jika Raya telah terbangun, Nev kembali memejamkan mata kemudian berbisik lirih ditelinga sang istri. "Really miss you, Sayang ..." katanya semakin mengeratkan pelukan dipinggang Raya.
"Kenapa nggak bilang pulang lebih cepat?" tanya Raya pelan. Dia menikmati hangat nafas Nev yang menerpa kulit lehernya.
"Surprise..." celetuk Nev dengan entengnya.
Raya tersenyum kecil dan membalik posisinya untuk menatap Nev. Suaminya itu harus merelakan posisi nyamannya terganggu karena Raya sudah berbalik arah sekarang.
Nev kira Raya akan menyambut kepulangannya dengan ciuman hangat atau yang lebih dari itu. Tapi pernyataan Raya selanjutnya cukup membingungkan untuk pria itu.
__ADS_1
"Siapa Luisa?" tanya Raya dengan binar mata ingin tahunya yang polos.
Nev mengernyit, kenapa harus bertanya tentang wanita itu sekarang? Padahal Nev paling malas membahas tentang Luisa sekarang atau kapanpun. Tapi tunggu dulu, kenapa Raya bisa tahu tentang seorang wanita bernama Luisa?
"Siapa Luisa, Nev?" tanya Raya menangkup kedua sisi rahang Nev.
"Bukan siapa-siapa, tidak penting. Kenapa menanyakan dia?" kata Nev balik bertanya dengan nada sedikit kesal.
"Bukan siapa-siapa ya? Tapi kenapa dia tahu banyak tentang kamu? Dan dia juga bilang ... tahu tentangku dari kamu?" pungkas Raya, sudah terlalu lama dia menunggu untuk mendengar penjelasan dari Nev secara langsung, jadi dia tak menyia-nyiakan waktu dan langsung menanyakan saat Nev pulang.
"Dia bilang begitu?"
Raya mengangguk.
"Kapan?" tanya Nev masih dalam intonasi santai.
"Kemarin, di Restoran."
"Dia menemui kamu? Kalian bertemu?" Sekarang Nev mengganti posisi menjadi duduk di ranjang, suaranya mendadak naik.
Raya mengangguk lagi.
Nev mengusap wajahnya sendiri kemudian kembali menatap Raya dengan serius. "Jangan temui dia lagi, oke?" katanya lembut dan meyakinkan.
"Why?"
"Nope, aku hanya tidak menyukai hal itu."
"Sebenarnya, kami tidak sengaja bertemu di Restoran. Lalu setelah itu kami bertemu lagi di toko buku. Entah kenapa aku merasa dia mengikutiku, Nev..." kata Raya terus terang.
Nev menghela nafas panjang.
"Aku rasa dia mengikutiku setelah dari Restoran," sambung Raya.
Nev menggeleng. "Dia justru mengikuti kamu, sejak dari rumah." kata Nev yakin.
"Karena dia pernah melakukan hal serupa padaku," jawab Nev malas.
"Hah?"
"Luisa itu dulu tetanggaku waktu kami masih sama-sama tinggal dirumah orangtua," aku Nev terus terang.
"Lalu?"
"Ya begitu, nggak tahu kenapa dia mulai mengikuti kemanapun aku pergi. Jadi kamu gak usah heran kalau dia tahu hampir semua tentangku. Dan soal aku cerita tentang kamu sama dia, itu omong kosong sayang... aku gak sedekat itu sama dia," papar Nev panjang lebar.
"Jadi maksud kamu, dia cari tahu sendiri tentang aku?"
Nev mengangguk. "Maybe..."
Tiba-tiba Raya terbahak, membuat Nev terbengong keheranan.
"Kenapa?" tanya Nev.
"Gak apa-apa, cuma kaget aja ternyata suami aku punya fans fanatik," kata Raya tergelak.
Nev ikut terkekeh. Tapi kemudian dia memegang kedua pundak Raya dan menatapnya secara intens. "Yang jelas, kamu harus hati-hati sama Luisa, oke?"
"Kenapa begitu?"
"Ya aku takut aja, dia itu stalker sejatiku sejak dulu. Beberapa tahun ini memang sudah berhenti. Aku pikir, dia akan berhenti menguntitku selamanya, ternyata dia kumat lagi setelah melihat aku sembuh dan menikah dengan kamu."
"Begitu ya, aku akan hati-hati mulai sekarang ..." kata Raya.
"Good girl. Nanti malam kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Nev menukar topik pembicaraan.
__ADS_1
Raya tampak berpikir sejenak sebelum kalimatnya meluncur. "Bakso..." katanya terkekeh kemudian.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Malam harinya, mereka keluar untuk makan malam. Nev membebaskan Raya untuk menunjuk tempat makan yang diinginkan istrinya itu dan ternyata Raya memilih makan di Night market tempat dulu mereka pernah menghabiskan waktu bersama.
"Kenapa makan disini?" tanya Nev terkekeh-kekeh.
"Gak apa-apa, tempat ini selalu ngingatin aku sama kamu," jawab Raya mendekap Nev sejenak kemudian mereka turun dari mobil secara bersamaan.
Setelah memesan makanan di stand, Nev meminta Raya duduk menunggu dan kali ini Nev yang akan membawakan makanannya ke meja mereka.
"Yakin kesini cuma makan bakso ini doang?" tanya Nev mengarah pada mangkuk makanan yanga da dihadapan mereka.
Raya mengangguk secara berulang dan Nev mengelus puncak kepalanya dengan kasih sayang.
"Ya udah, sekarang sayangku makan, Aaaa..." Seperti biasa Nev menyuapi Raya makan sampai makanan itu tandas tak tersisa.
Selesai dengan makanan, mereka berjalan-jalan mengelilingi pasar malam itu.
"Kamu ingat gak, pertama kita kesini waktu itu kita belum punya status," kata Nev.
"Salah, waktu itu kita punya status kok," sahut Raya.
"Status tak jelas..." cibir Nev dan Raya terkekeh.
"Bukan itu, status kita waktu itu sebagai Atasan dan pengasuh."
Nev tersenyum kecil. "Begitu ya?" tanyanya.
Raya mengangguk.
"Waktu itu aku masih di kursi roda, sekarang aku sudah berdiri tegak. Kamu tahu gak, selain kuasa Tuhan, semua ini juga berkat kamu..." kata Nev membelai pipi Raya yang mulai chubby.
Raya tersenyum, kemudian matanya menatap Biang lala yang ada dihadapannya.
"Sekarang udah bisa dong kita naik itu?" tanya Raya menunjuk biang lala dengan dagunya.
Nev tertawa. "Jadi keinginan naik itu belum kesampaian ya?" cibirnya.
Raya tak menjawab, justru menuntun Nev ke tempat pembelian karcis untuk naik biang lala.
Mereka menaiki biang lala yang ternyata ukurannya tak sepadan dengan tubuh Nev yang menjulang. Nev cukup tersiksa karena duduknya tidak nyaman didalam sana, namun melihat senyuman di bibir istrinya akhirnya dia tersenyum juga.
"Aku senang, akhirnya aku bisa kesini sama kamu," celetuk Raya.
"Aku lebih senang karena akhirnya akulah orang yang menemani kamu kesini lagi," kata Nev terkekeh. Impian istrinya begitu sederhana membuatnya sedikit geli dengan hal itu.
Biang lala itu mulai berputar dan mereka menikmati keindahan malam dari atasnya. Tanpa sengaja mata Nev menangkap pemandangan lampion yang mulai diterbangkan ke atas langit. Melihat itu, Nev menjadi ingat akan sesuatu.
"Sayang, sampai sekarang aku masih penasaran apa harapan yang kamu tulis di lampion saat malam itu," kata Nev pada Raya yang masih menikmati pemandangan sekitar dari atas biang lala yang berputar.
Raya terkekeh. Kemudian menggeleng beberapa kali.
"Aku gak pernah menulis harapan apa-apa disana," kata Raya.
"Lalu?"
"Aku hanya menuliskan nama kamu dan aku, lalu harapannya ada didalam sini," jawab Raya memegang dadanya sendiri.
Sudut bibir Nev tertarik, menyunggingkan senyuman yang paling menawan mendengar ulasan sang istri. Dia tidak menyangka ternyata sejak saat itu Raya sudah berharap padanya dengan menuliskan nama mereka berdua didalam lampion.
"Lalu apa harapan yang ada dihati kamu?" tanya Nev lagi.
"Harapanku sudah terwujud Nev, karena harapanku adalah kebersamaan kita dalam sebuah ikatan halal." ujar Raya.
__ADS_1
...Bersambung ......