
"Mau kemana lo?"
Abrine menoleh ke arah belakang, ia merasa ucapan yang didengarnya itu memang tertuju padanya. Abrine berdecak saat melihat Wildan sudah berdiri tak jauh dibelakangnya. Padahal ia baru saja ingin beranjak pulang setelah ekskul karate berakhir.
"Lo ngomong sama gue?" tanya Abrine berlagak bodohh sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ya iya, elo! Siapa lagi?" jawab Wildan sembari mengendikkan bahu.
"Mau kemana lo?" tanya Wildan lagi.
"Ya mau pulang lah! Gue gak mau nginep di gedung sekolahan, gak tahu sih kalo lo! Mungkin aja lo tertarik!" kata Abrine berbalik pergi.
"Ternyata lo benar - benar lupa sama gue, ya? Atau ... cuma pura - pura bodoh?" sarkas Wildan dan itu berhasil membuat Abrine menghentikan langkahnya.
"Maksud lo?" tanya Abrine.
"Lo lupa? Lo gak ingat sama gue?"
Abrine menggeleng cepat, dimemori ingatannya, tak menyimpan wajah cowok seperti Wildan.
"Kalo ini..." Wildan menunjuk dahinya yang tampak memiliki bekas luka. "Lo inget, gak?" lanjutnya.
Abrine mencoba mengingat, lalu tiba - tiba dia terkesiap seketika dengan mata yang membola saat mengingat siapa cowok ini sebenarnya.
"E--elo?" Abrine tak bisa melanjutkan kata, karena mendadak ia menjadi ciut. Baru sekali ini nyalinya berada di titik terendah kala menghadapi seseorang selain kedua orangtuanya tentunya.
"Nah, kayaknya lo udah ingat sama gue!" Wildan menyeringai tipis dan saat Abrine ingin melarikan diri, ia buru - buru menangkap tangan gadis itu.
"Jangan lari lo! Lo bilang, dulu lo mau tanggung jawab kan sama luka di pelipis gue ini? Tapi, nyatanya lo gak pernah balik lagi! Sekarang gue tagih tanggung jawab lo!"
"I-iya, waktu itu gue gak bisa nepati janji gue. Sorry... itu kan udah lama kejadiannya masa' lo masih ingat aja sih!" Abrine menyengir kuda, menunjukkan barisan gigi putihnya didepan Wildan.
"Gak ada alasan! Sekarang lo harus tanggung jawab!"
"Lukanya juga udah sembuh!"
"Ya, tapi ini berbekas! Lo liat sendiri, kan? Ini karena ulah lo yang sembarangan menendang kaleng kosong! Pelipis gue sampe dijahit 3 jahitan, biar lo tahu!" marah Wildan namun tetap tampak tenang.
"I-iya, sorry... lo kan udah balas gue, buktinya pas latihan tadi gue berkali - kali kalah dari lo!" kata Abrine tercekat.
__ADS_1
"Gak! Bukan pembalasan seperti itu yang gue mau!"
"Terus apa?" Abrine menatap Wildan takut - takut, bagaimana tidak takut jika lawan yang ada didepannya ini tak sepadan dengannya. Jika dulu Abrine bisa menghindar, sepertinya sekarang Wildan tak akan memberinya kesempatan untuk kabur lagi.
"Lo harus tanggung jawab karena itu ucapan lo sendiri waktu itu!" ucap Wildan menipiskan bibir.
#####
Airish dan Aarav tiba dirumah sedikit terlambat karena sempat mengantarkan Bu Siska ke kediamannya.
Mereka langsung membersihkan diri lalu berganti pakaian. Aarav lebih dulu siap dengan kegiatan itu dan dia menuju kamar sang Mama-- karena sudah mengetahui jika sang Mama sedang tak enak badan-- menyebabkan Papanya menjadi gagal menjemput mereka sepulang sekolah hari ini.
Setelah mengetuk pintu, dan diizinkan masuk oleh Nev dan Raya yang berada didalam kamar, Aarav segera merangsek masuk kedalam ruangan itu.
"Ma? Mama sakit apa?" tanya Aarav dengan raut khawatir.
Raya menatap Aarav dan tersenyum lembut. "Enggak ada, Mama cuma kecapean aja, Rav!"
"Mama gak usah kerja lagi deh! Kan udah ada Papa yang memenuhi kebutuhan kita semua!" protes Aarav dan Nev tersenyum kecil mendengar gerutuan anaknya itu.
"Kamu bilang deh sama Mama, Papa udah bujuk soal itu tadi ..." ucap Nev menepuk pundak Aarav dan beringsut menuju sofa yang masih berada dalam lingkup kamar.
Aarav menatap Raya dengan lekat. "Tapi, Mama jadi sakit seperti ini, Ma..."
"Sakit itu manusiawi, semua orang bisa sakit."
Nev yang berada diujung hanya bisa menggeleng samar sambil tersenyum mendengar ulasan yang disampaikan Raya pada anak mereka.
Tak berapa lama, suara ketukan pintu kembali terdengar dan kepala Airish menyembul dari balik daun pintu.
"Masuk, Rish!" ucap Raya lembut.
"Mama..." Airish langsung memeluk Raya yang terbaring di tempat tidur, ia mengabaikan Aarav yang juga masih menggenggam jemari Raya.
"Mama, jangan sakit seperti ini, dong! Aku sedih kalau Mama sakit!" Airish menitikkan airmatanya, ia benar - benar merasa sedih dengan keadaan Maamnya yang terbaring lemah.
"Mama gak apa - apa, Sayang. Mama cuma perlu istirahat," ujar Raya membelai wajah cantik Airish.
"Ya udah, aku bakal jagain Mama terus... gak apa - apa aku bolos sekolah!" kata Airish.
__ADS_1
"No! Ada Papa yang menjaga Mama, Sayang. Kamu tetaplah sekolah setiap hari dan jangan bolos!" timpal Nev.
"Alasan aja tuh, Pa! Biar bisa gak sekolah, padahal biar terhindar dari makhluk culun!" ejek Aarav dan Airish menatap sang kakak dengan tatapan tajam, seakan ingin membuat perhitungan karena telah mengungkap hal ini dhadapan kedua orangtua mereka.
"Makhluk culun?" tanya Nev dan Raya hampir berbarengan.
"Iya, jadi disekolah Airish punya fans fanatik, Ma, Pa!" kekeh Aarav.
"Kakak!" protes Airish cepat, ia memelototi Aarav namun bukan Aarav namanya jika gentar begitu saja dalam hal mengerjai sang adik.
"Mana satu kelompok lagi!" ejek Aarav tak berkesudahan.
"Wajar aja sih, anak mama kan cantik pasti punya banyak penggemar!" timpal Raya menengahi.
"Ya kalau fans-nya normal - normal aja ya gak masalah, tapi---"
"Justru karena Zio normal makanya dia nge-fans sama aku! Gak kayak kamu yang nge-fans sama Bu Siska, Kak!" potong Airish telak, membuat Aarav mati kata.
"Bu Siska?" Nev bangkit dari duduknya. Pembahasan ini sudah merembet kemana - mana, ternyata anak-anaknya sudah mulai mengerti ketertarikan dengan lawan jenis, membuat Nev sedikit cemas dengan hal ini.
"Bu Siska itu guru pengganti di sekolah kita, Pa! Masih muda sih, sekitar 25 tahun. Cuma, masa Kak Aarav naksir dia!" adu Airish dengan wajah mencibir ke arah Aarav.
"Gak salah kok!" sahut Aarav cepat. "Bu Siska baik seperti Mama!" lanjutnya.
"Ya salah dong!" ujar Airish tak mau kalah.
"Sudah sudah, kenapa kalian jadi berdebat didepan Mama yang sedang butuh istirahat." Nev mencoba menengahi perdebatan antara kedua anaknya
"Begini, jika ada cowok yang tertarik pada Airish, itu wajar. Begitu pula jika Aarav tertarik pada seorang wanita, itu juga wajar. Yang tidak wajar adalah jika kalian tertarik pada yang sesama jenis, misal Aarav tertarik pada cowok atau Airish tertarik pada seorang gadis. Itu jangan sampai terjadi ya, Nak!" nasehat Nev.
"...jika Aarav tertarik pada gurunya, Papa harap itu hanya obsesi karena mungkin guru itu bersikap keibuan seperti Mama kalian."
"Tapi, Pa..." Aarav mencoba protes namun Nev sudah mengangkat tangannya tanda tak mai dibantah.
"Akan kurang pantas jika memang wanita itu berusia 25 tahun, Aarav! Lagipula kamu masih berusia 16 tahun, kehidupan dan masa depan kamu masih panjang, masih bisa berpindah untuk tertarik pada gadis lain," ucap Nev lagi.
"Mama justru berharap kalian tidak memikirkan hal ini dulu ya, Nak. Kalian masih muda, sekolah yang rajin dan raihlah dulu cita - cita kalian!" timpal Raya sembari mengelus rambut Airish yang mendekap perutnya.
*****
__ADS_1