PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
49 - Lebih dari rasa suka


__ADS_3

Raya


Entah karena terhipnotis oleh pesona Nev, atau karena masih belum mengerti situasi yang terjadi, dengan bodohnya ia mengikuti langkah lebar pria itu yang tidak melepaskan genggaman tangannya sedikitpun.


Nev terlihat sangat tergesa-gesa, ia bahkan harus berlari kecil untuk bisa menyamakan langkah dengan pria itu.


"Kita mau kemana, Tuan?" tanyanya disela-sela langkah mereka yang hampir mencapai gerbang belakang cafe.


"Sudah ku bilang jangan memanggilku Tuan, Raya..." ucap Nev. Akhirnya ia memilih diam karena malas berdebat dijalan.


Nev membawanya menyebrang jalan, dan ia masih dengan kebodohannya mengikuti saja tanpa banyak protes.


Tidak berapa lama, mereka sampai pada sebuah taman kota yang terlihat ramai di Sabtu malam.


Nev membawanya duduk disebuah kursi besi khas taman yang tersedia disana. Mereka masih diam satu sama lain, dengan perlahan ia melepaskan tautan tangannya dari Nev karena genggaman itu tidak terlepas sejak di cafe tadi dan Nev membiarkan itu.


Ia masih mengatur nafasnya yang terasa ngos-ngosan, begitu pula dengan Nev yang terlihat masih diam walau pria itu tampak lebih tenang daripada saat awal pertemuan tadi.


Ia menatap kedepan, dimana banyak lampu-lampu taman yang berbaris rapi, memancarkan sinar redup yang tak menyilaukan.


Kemudian, ia melirik Nev, pria itu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu, kemudian melenguh panjang sembari mendongak untuk melihat ke langit yang sangat cerah malam ini.


Ia baru saja ingin membuka suara, demi menanyakan kabar Nev dan Feli, walau perasaannya saat ini terasa semraut akibat ulah yang dilakukan Nev beberapa menit lalu.


Tapi, suara ponsel Nev lebih dulu meraung-raung dan pria itu berdecak saat melihat layar ponselnya sendiri.


Ia tidak tahu siapa yang menghubungi Nev, tapi ia bisa mendengar apa yang Nev ucapkan pada si penelpon itu.


"Selesaikan semua, bawa pulang mobilku." kata Nev pada sambungan selulernya.


Ia hanya diam dan mendengar obrolan Nev itu tanpa bisa menyelah.


"Kau harus menjelaskan ini padaku, Bian. Kau pasti sudah tahu mengenai ini!"


Saat Nev menyebut nama Bian, barulah ia tahu jika yang menelepon Nev adalah sekretaris pria itu.


Nev langsung memutus panggilannya setelah mendengkus pelan.


"Sial..." umpat Nev entah pada siapa.


Nev mengadah kembali, menyandarkan punggungnya yang bidang ke sandaran kursi besi, lalu menatap langit malam yang mungkin bisa menenangkan.


"Bagaimana kabar Anda dan Feli?' tanyanya pelan, mencoba mengatur ritme jantungnya yang berdetak lebih kencang saat berada didekat Nev.


Oh tidak, jantungku mulai lagi seperti ini. Ku rasa hanya setiap dekat dengannya maka jantungku akan mengulah.-Raya.


"Kabarku baik, jangan menanyakan orang lain saat kita bersama," kata Nev dengan nada datar.


"Maksudnya?" Ia tidak mengerti yang dimaksud Nev dengan orang lain.

__ADS_1


"Sudahlah, intinya jangan membicarakan tentang orang lain selain kita berdua." ucap Nev tenang.


Ia menoleh saat Nev mengatakan hal itu, demi apapun rasanya ia sangat bahagia mendengar hal demikian dari mulut Nev, tapi apa itu mengartikan bahwa ia akan menjadi perusak rumah tangga Nev dan Feli?


"Tapi, aku rasa kamu memang perlu tahu soal ini... aku dan Feli sudah bercerai dan kami tinggal menunggu beberapa sidang lagi sampai ketuk palu," kata Nev menjelaskan.


Matanya membola, ia cukup terkejut mendengar fakta itu, ia fikir Nev sangat mencintai Feli dan setelah kepergiannya dari rumah itu, mereka bisa memperbaiki semuanya seperti harapan yang dikatakan oleh Nenek.


Ia tertunduk, ada perasaan bersalah menyelinap direlung hatinya.


"Kenapa?" Nev bertanya sembari merubah posisi menjadi menunduk juga-- demi melihat wajahnya yang tertekuk.


Ia membungkam wajah sembari menggeleng kuat-kuat.


"Kamu tidak senang aku dan Feli akan bercerai?" tanya Nev tiba-tiba, sontak hal itu membuatnya kembali menegakkan tubuh.


"Apa saya harus bahagia melihat orang lain berpisah?" tanyanya menatap Nev, suaranya naik satu oktaf dan Nev justru tersenyum menatapnya yang tampak marah.


"Begitulah," kata Nev mengangkat bahu.


"Apa semua ini karena saya?" tanyanya serius pada Nev.


Dan ia tak menyangka Nev justru mengangguki pertanyaannya. "Ini semua karenamu, dan kamu harus bertanggung jawab." kata Nev tersenyum licik.


Ia memutar bola mata malas karena melihat raut wajah Nev yang menjengkelkan, ia tahu Nev berkata demikian untuk menjahilinya. Masih saja ...


"Aku menggugatnya karena merasa sudah berada dipuncak rasa lelah, dan dorongan yang menguatkan aku untuk berani mengambil keputusan itu, salah satunya karena kamu."


Ia menoleh lagi pada Nev, seolah menanyakan kenapa harus karena dia?


"Aku mengatakan kamu adalah salah satunya, Raya. Jadi ini semua bukan sepenuhnya karenamu, aku yang terlalu lelah dengan semua ulah Feli," terang Nev.


Keadaan kembali hening, senyap... hanya ada suara riuh dari orang-orang sekeliling yang juga berada ditempat yang sama. Sementara mereka berdua terlalu larut dalam pikiran masing-masing.


"Bagaimana kalau sekarang membahas soal kita, hmm?" Nev bicara dengan sangat pelan, nyaris berbisik, membuatnya menatap Nev lagi dan lagi karena tidak memahami maksud pria ini.


"Kita?" tanyanya.


"Iya, kita..."


"Memangnya kenapa dengan kita?"


Nev mengembuskan nafas perlahan, kemudian meraih jemarinya yang sejak tadi berada di pangkuan.


"Aku pernah mengatakan bahwa aku menyukaimu, Raya. Itu salah, benar-benar salah... karena yang aku rasakan selanjutnya, ternyata lebih dari rasa menyukai..." lirih Nev tepat disampingnya.


Ia tergugu, mungkin saat ini tangannya yang sedang digenggam Nev sudah dialiri oleh keringat dingin, rasa gugup menyeruak namun ia tak kuasa untuk mengeluarkan sepatah katapun.


Nev kembali bersuara.

__ADS_1


"Perasaan yang dapat aku artikan setelah kita terpisah oleh jarak dan waktu... aku menyadari bahwa, aku sudah jatuh cinta kepadamu, Raya."


Ia merasa genggaman tangan Nev semakin erat pada tangannya, sedangkan ia sendiri, merasakan jantungnya melemah saat mendengar ungkapan Nev itu.


Jika sekarang posisinya sedang berdiri, mungkin ia akan terduduk sangking terkejutnya dengan ucapan pria itu.


"Raya,"


"Y-ya?" ia tak berani menatap Nev lagi, perasaannya menjadi tak menentu. Senang? Tentu saja iya, karena ternyata perasaanya tak bertepuk sebelah tangan, perasaan yang disangkanya hanya sebelah pihak, nyatanya pria itu telah mengakui bahwa dia juga sudah jatuh cinta kepadanya.


Tapi, ada yang ia lupakan disini? Oh tidak... ia sudah lebih dulu menerima perjodohan dengan Reka kemarin.


"Kamu terkejut dengan ini?" Nev meraih pundaknya, agar ia berputar posisi untuk membalas tatapan pria itu.


Posisi duduknya memang berubah menjadi menghadap Nev, tapi kepalanya tertunduk sambil memejamkan matanya rapat-rapat, karena ia menyadari telah membuat kesalahan fatal.


"Aku gak akan memaksa kamu, Raya. Aku gak minta jawaban kamu, aku hanya mau kamu tahu, about my feelings... (tentang perasaanku ...)"


"Tuan, saya..."


"Panggil namaku, Raya..." kata Nev dengan sangat lembut.


Ia kembali menggelengkan kepala mendengar saran itu.


Nev tersenyum. "Oke, you wanna try? (Oke, kamu mau mencobanya?)" kata Nev terdengar semangat, sementara ia sudah lesu dengan kenyataan yang ada.


"Ayo, cobalah... Aku tidak memintamu menjawab soal perasaan, tapi aku memaksamu memanggil namaku tanpa sebutan Tuan lagi, oke?" Nev kembali memintanya menyebut nama pria itu agar terbiasa.


Ia menarik nafas dalam, sekarang bukan perkara menyebut nama Nev yang menjadi bebannya, tapi memikirkan bagaimana menjelaskan pada pria dihadapannya ini tentang statusnya-- yang menjadi pokok masalahnya.


Ia takut membuat senyuman yang tersungging dibibir Nev menjadi surut karena mengatakan yang sebenarnya, tapi ia juga tak berani mengecewakan orang-orang yang telah mengharapkannya dengan Reka.


"Ne--Nev..." ucapanya dan Nev semakin tersenyum lebar.


Ia menggeleng pelan, mencoba fokus mengatakan maksudnya, ia melepas tautan tangan Nev ditangannya. "Nev, Perasaanmu adalah milikmu. Saya, maksudnya aku... aku tidak berhak mengatur perasaanmu, tapi sebelumnya aku ingin menyampaikan sesuatu," lirihnya, kemudian ia memejamkan matanya, terlalu berat menyampaikan pada Nev tentang kenyataannya.


"Ya? Ada yang ingin kamu katakan mengenai kita?" tanya pria itu kemudian, masih dengan senyum yang sama.


"Sebaiknya, kamu jangan meneruskan perasaan itu..." katanya dengan pelan, sementara hatinya terasa menjerit-jerit untuk tak melanjutkan kalimat yang selanjutnya.


Benar saja, lengkungan senyum di bibir Nev, perlahan-lahan menghilang, berubah menjadi raut yang serius dan keheranan.


"Why? (Kenapa?)" tanya Nev lirih.


Ia menggeleng lagi, berusaha menahan airmata yang ingin merangsek keluar dihadapan pria ini.


"Karena, aku... aku akan menikah, du-dua bulan lagi." ucapnya dengan suara bergetar.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2