PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
48 - Berhenti memanggilku 'Tuan'


__ADS_3

Nevan


Seperti biasanya, Ia hanya bermalas-malasan di akhir pekan. Tidak ada yang membuatnya tertarik untuk melakukan hal lebih.


Menjelang siang, Jimmy datang berkunjung, mereka menghabiskan waktu dengan bermain catur.


Ia harus kalah beberapa kali dari pria tengil itu hanya karena pikirannya yang tidak fokus. Pasti tahu kan dia memikirkan apa?😁


Alhasil, ia harus menerima ejekan dan cibiran dari mulut Jimmy yang adalah hal biasa baginya.


Seusai makan siang bersama, Jimmy pun meninggalkan kediamannya dan ia kembali merasa bosan, tiba-tiba ia teringat jadwal meetingnya yang kemarin sempat ia tanyakan pada Bian.


"Kenapa Bian belum memberitahuku perihal tempat meeting itu?" tanyanya pada diri sendiri.


Diambilnya ponsel dan segera menghubungi sang Sekretaris.


"Kau dimana? Bagaimana dengan meetingku hari ini? Dimana dan jam berapa?"


"I-iya, Tuan. Saya masih dirumah. Meetingnya jadi, cuma---" Bian terdengar ragu dari seberang sana.


"Cuma apa? Kirimkan saja lokasinya padaku, kau tidak perlu ikut jika kau punya acara di akhir pekan, aku bisa pergi bersama supir." ucapnya.


Lama ia menunggu Bian menjawab, sampai akhirnya pria diseberang sana memberi usul yang membuatnya mengernyit.


"Meetingnya sore sekali, Tuan. Saya saja yang akan mewakili Tuan untuk meeting kali ini, Tuan bisa melanjutkan aktifitas yang lain diakhir pekan," jawab Bian, membuatnya semakin terheran-heran.


"Aktifitas apa? Aku sedang bosan, aku akan datang ke pertemuan ini. Cepat kirimkan saja lokasinya atau katakan saja dimana tempat itu!" ucapnya masih tenang walau curiga dengan jawaban Bian.


"Ng...Tapi, Tuan. Saya--"


"Cepatlah Bian, kau bilang ini Klien penting, bukan? Kenapa kau aneh sekali? Tidak ada yang kau sembunyikan dariku, kan?"


"Ti--tidak Tuan, Saya akan kirim lokasinya." jawab Bian.


Panggilan pun terputus, ia menunggu beberapa saat sampai ia membaca pesan masuk dan itu dari Bian yang memberitahukan lokasi Meeting.


Ternyata lokasi meetingnya adalah tempat yang tidak asing baginya-- karena tempatnya di salah satu cabang cafe milik Neneknya.


Gegas ia meminta Nimas menyiapkan segala keperluannya.


Sementara itu, ia menuju ruang kerjanya untuk mengecek target dan pembahasan apa yang akan ia bicarakan dengan klien di dua jam kedepan.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Bian


Sebenarnya ia cukup terkejut karena mengetahui tempat meeting Tuan Nev hari ini adalah di cafe milik Nenek, ia bahkan membujuk Klien untuk menentukan tempat yang lain, bahkan ia memberikan refrensi beberapa tempat lain-- agar meeting kali ini tidak dilakukan di cafe milik Nenek.


Tapi, mau bagaimana lagi, permintaan Klien penting ini tidak bisa diganggu gugat. Ia ragu untuk menghubungi Tuan Nev karena ia tahu ini adalah hari Sabtu, hari dimana Raya akan manggung di cafe itu.


Apakah kali ini Tuan Nev akan bertemu dengan Raya?


Ia bingung sendiri, sampai akhirnya Tuan Nev meneleponnya dan menanyakan dimana tempat pertemuan dengan klien hari ini.


Membujuk Klien untuk pindah tempat sudah gagal ia lakukan, sekarang ia berniat membujuk Tuan Nev untuk tidak menghadiri meeting itu, ia bahkan menawarkan diri untuk mewakili Tuan Nev-nya dalam meeting kali ini.

__ADS_1


Tapi, ternyata Tuan Nev justru tertarik menemui klien hari ini, padahal kemarin beliau sendiri yang tak mau bertemu klien diluar jam kerjanya.


Keputusan Tuan Nev tidak bisa dirubahnya, karena itu akan membuat sang Tuan semakin curiga. Sehingga, mau tak mau ia pun memberitahukan tempat meeting itu-- yang tak lain dan tak bukan adalah salah satu Cafe milik Nenek--dimana Raya juga mengisi acara event disana.


"Tuan Nev pasti akan marah melihat Raya bekerja seperti itu... Pasti dia juga akan marah padaku karena menutupi ini darinya." gumamnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Haissshh... aku harus bagaimana?" gerutunya sembari kembali ke kamarnya karena tadi ia menerima panggilan Tuan Nev dibalkon kamar.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Nevan


Bian membantunya turun dari mobil, kemudian mereka memasuki cafe, suasana menjelang malam saat mereka tiba disana.


Kedatangannya disambut oleh beberapa pelayan yang mengenalnya, ia pun mengatakan ingin menemui klien yang sudah mereservasi tempat untuk pertemuan ini. Salah satu pelayan langsung bersedia untuk mengantarkannya pada ruang VIP yang sudah di booking sang klien.


Ia sempat melirik Band yang mengisi acara di cafe, penampilan mereka cukup menarik minat para pengunjung yang lain.


Tapi, tujuannya kesini bukanlah untuk bersantai menikmati penghiburan musik itu, ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya kali ini.


Bian membantu membuka pintu kaca yang menjadi akses keluar-masuk ruang VIP itu, kemudian Bian kembali mendorong kursi rodanya untuk masuk kedalam ruangan.


Ternyata Klien itu sudah datang kesana, seorang Pria setengah baya yang memiliki raut wajah jenaka serta bobot tubuh yang berisi.


"Selamat malam, Pak Nevan..." Pria itu berdiri dan menyambut kedatangannya dengan ramah, tepat seperti dugaannya-- bahwa pria ini bukanlah pria kaku yang serius, melainkan pria santai yang mungkin bisa diajak bercanda, maybe.


"Selamat malam, Pak William..." sapanya sembari menybut uluran tangan pria itu.


Pria bernama William itu pun menyalami Bian yang berdiri di belakang kursi rodanya, kemudian mereka semua duduk berhadap-hadapan.


"Maaf jika mengganggu waktu di akhir pekan Bapak, karena Senin saya harus kembali pergi ke Singapore.." kata pria itu.


Pria itu mengangguk dan mereka mulai larut dalam pembahasan profit keuntungan, merger, tender serta hal lain yang tidak merugikan kedua belah pihak. Kerjasama ini harus balance, bak simbiosis mutualisme yang akan saling menguntungkan satu sama lain.


Dalam fokusnya membahas pekerjaan dengan Pak William, sayup-sayup ia mendengar suara wanita yang mengingatkannya pada seseorang.


Namun, ia segera menepis itu karena ia harus berkonsentrasi dalam pertemuan ini. Suara itu sudah biasa terngiang di kepalanya jadi ia merasa ini hanya pikirannya yang merindukan suara itu tanpa kenal tempat dan waktu.


"Hemm, saya mendapat satu memo, baiklah... kita lihat ya, di memo ini tertulis lagu apa."


Begitulah sayup suara yang terdengar di indera pendengarannya, mengalihkan atensinya dari penjelasan Pak William mengenai topik pertemuan hari ini.


Ia menoleh ke arah panggung, dari posisinya, ia bisa melihat dengan jelas bahwa disana ada seorang wanita yang mulai memetik senar gitar. Walau ia berada diruang VIP, tapi ruangan ini masih bisa melihat karena hanya dibatasi dengan partisi kaca.


Jantungnya berdegup dengan kencang, suara Bian dan Pak William yang serius tak lagi menarik baginya, walau yang mereka bahas mengenai keuntungan puluhan bahkan ratusan juta, tidak bisa mengalihkan atensinya yang sekarang justru terfokus pada wanita siatas panggung.


Ia pikir ini hanyalah mimpi, ia berkedip beberapa kali, tapi ini benar-benar nyata dan ia meyakini itu.


"Tuan, apa Anda bisa mendengar saya?"


Ya, ia mendengar suara Bian memanggilnya, tapi ia tak ingin menoleh sama sekali karena ia takut kehilangan jejak wanita di seberang sana.


Ia bagai terhipnotis oleh nyanyian wanita itu, sontak saja ia berdiri dan berjalan dengan langkah lebar.


Ia tak mempedulikan Bian yang meneriaki namanya berulang kali karena kini fokusnya adalah membawa wanita itu untuk turun.

__ADS_1


"Tuan..."


"Tuan..."


"Pak Nevan..."


Ia mengabaikan suara-suara itu, dan gegas melangkah menaiki panggung, menarik tangan wanita yang sedang bernyanyi dan tentu saja ia tahu jika wanita itu tengah diperhatikan banyak orang sekarang dan itulah yang membuatnya sedikit marah.


Ia tidak peduli suara sorakan para pengunjung padanya-- yang memaksa wanita itu untuk turun panggung.


Dengan tergesa, ia kemudian membawa sang wanita kearah berlawanan dari pintu masuk.


Sekarang, dalam kepalanya hanya ada satu nama yang sangat ingin ia teriaki didepan wanita ini secara langsung.


Raya, Raya, Raya...


Secara tiba-tiba, ia membalik badan dan menatap sang wanita


Wanita itu terdiam, seolah baru menyadari siapa dirinya, ia pun menatap wanita itu lekat-lekat.


Tapi, tunggu dulu... ada yang membuatnya terdiam selain menemukan wanita ini bernyanyi diatas panggung, ia baru sadar dengan sesuatu-- ia telah berlari secara spontan, melupakan kursi rodanya yang masih teronggok didalam ruang VIP tadi.


Ia mencoba mengabaikan kenyataan tentang kondisinya. Beralih fokus untuk kembali pada wanita dihadapannya. Ia tidak melepaskan pandangan pada wanita itu, ia pun menyadari bahwa wanita ini benar-benar Raya dan ia memang bukan bermimpi.


Sampai akhirnya, Raya yang lebih dulu berbicara.


"Tuan, Anda--Anda sudah bisa berjalan?" tanya Raya dengan ngos-ngosan, wajahnya tampak terkejut.


Ia diam dan tidak menjawab. Matanya tetap fokus pada Raya, Ia takut saat ia berkedip justru Raya juga hilang dari pandangannya.


"Tuan, sejak kapan Tuan bisa berjalan?" Raya kembali bertanya.


"Sejak sekarang," jawabnya datar, namun tetap fokus pada wanita dihadapannya. Ia tidak melepaskan genggaman tangannya pada Raya, karena ia menikmati sensasi ini, dimana tangannya terasa bergetar memegang tangan Raya yang juga terasa begitu.


Ia bisa melihat Raya yang terkesima akan jawabannya itu.


Raya sekarang tepat berdiri dihadapannya, tinggi wanita itu hanya sebatas dadanya dan itu membuatnya tersenyum kecil.


"Tuan, ada apa?" tanya Raya keheranan.


"Berhenti memanggilku Tuan!" senggaknya sedikit marah, ia tidak mau Raya memanggilnya dengan sebutan itu. (Jadi maunya sebutan apa banggg??πŸ˜†)


"Tapi,--"


"Kamu bukan pengasuhku lagi, Raya." katanya melanjutkan.


Sekarang, kepalanya hanya dipenuhi oleh hal nyeleneh karena kondisinya sekarang sangat menguntungkan untuk dirinya sendiri, tentu saja.


"Aku mau bicara denganmu..." ucapnya pada Raya


"Tapi, saya masih bekerja, Tuan. Saya bisa dimarahi jika meninggalkan jam kerja." kata Raya dengan wajahnya yang polos itu.


Ia menggeleng, tidak ingin Raya menghindar darinya.


"Aku akan bayar ganti ruginya. Atau jika kamu sudah menandatangani kontrak disini, aku akan membayar biaya finalty nya... yang penting kamu mau bicara denganku sekarang!"

__ADS_1


Ia tak menunggu Raya untuk menjawab karena ia langsung membawa Raya keluar dari pintu belakang cafe-- saat itu juga.


...Bersambung ......


__ADS_2