
Seharian ini Nev dan Raya benar-benar tak keluar dari Villa, mereka menghabiskan waktu berdua. Sesekali Nev juga mengecek pekerjaannya yang sudah beberapa hari ditinggalkan.
Saat ini, Nev dan Raya tengah bermain ular tangga melalui aplikasi game ponsel, walau itu hanya kegiatan kecil, tapi mereka benar-benar senang dengan kedekatan mereka yang semakin intens setiap harinya.
"Yeay... aku menang lagi," ucap Raya semringah.
"Kamu curang sih, harusnya tadi kamu turun disini, kan digigit ularnya..." keluh Nev tak terima kecurangan Raya.
"Ya enggak dong, buktinya aku jalan terus. Ularnya gak gigit, Sayang... dia jinak." jawab Raya terkekeh.
Nev sedikit terperangah mendengar ucapan Raya itu, tapi kemudian dia terkekeh pelan.
"Ularnya gak gigit, tapi aku yang mau gigit kamu..." celetuk Nev tanpa bisa ditahan.
Raya hanya cekikikan menanggapi suaminya itu.
"Sayang, laper nih, kita belanja yuk. Nanti aku masakin kamu," saran Raya.
Nev mengelus dagunya sendiri sembari berpikir. "Aku mau aja dimasakin kamu, tapi apa kamu gak lelah? Kita makan diluar aja, gimana?" kata Nev balik memberi usul.
"Oke..." jawab Raya sembari menyatukan jari telunjuk dan jempolnya hingga membentuk huruf O, karena dia juga sudah bosan seharian didalam Villa.
Akhirnya, mereka keluar dari Villa untuk makan malam. Kali ini mereka makan di dalam restoran yang tidak menunjukkan view pantai.
Dalam perjalanan pulang kembali ke Villa, Nev menerima panggilan dari Bian.
Nev sempat heran, kenapa Bian meneleponnya di malam hari seperti saat ini, jika tidak ada hal yang penting, Bian tidak mungkin menghubunginya di malam hari, terlebih lagi Nev juga sedang dalam masa honeymoon bersama istrinya.
Perasaan Nev menjadi menerka-nerka hal apa yang hendak Bian bicarakan.
"Ada apa, Bian? Kenapa meneleponku?" tanya Nev pelan, sembari melirik Raya yang tertidur nyaman di bahunya. Mobil yang menyupiri mereka masih melaju membelah jalanan untuk kembali pulang ke Villa.
"Tuan, maaf mengganggu kegiatan Anda, tapi saya rasa Anda perlu tahu kabar ini..." suara Bian terdengar lesu dan hati-hati memilih kata.
"Ya, apa ada yang penting?" terka Nev.
"Saya ingin menyampaikan kabar mengenai Delia," kata Bian.
"Delia?" Nev langsung mengingat nama itu, karena Delia adalah saksi kunci perbuatan Feli dimasa silam. "Ada apa dengannya?" tanyanya.
"Delia baru saja meninggal, Tuan," jawab Bian dari seberang sana.
"Meninggal?" Nev terkejut, dia memejamkan mata karena memendam kekecewaannya perihal meninggalnya Delia.
Bagaimana tidak, Delia sang MUA saat Nev dan Feli menikah. Delia yang melihat kedatangan Andreas waktu itu, dan Delia yang mendengar rencana jahat Feli dan Andreas untuk menyelakai Nev. Selama ini, bukti yang Nev miliki adalah CCTV gedung yang memang menunjukkan jika Feli dan Andreas sempat bertemu. Namun, karena CCTV itu tak bisa meyajikan efek suara, jadilah Nev dan Bian mencari saksi kunci tentang siapa yang mendengar percakapan Feli dan Andreas waktu itu, dan orang itu adalah Delia, Delia mendengar dan melihat semuanya saat itu.
"Iya, Tuan. Delia mengalami gagal jantung, dan meninggal dunia satu jam yang lalu," terang Bian.
Nev memijat pelipisnya. Jika Delia meninggal, otomatis dia tak bisa melaporkan Feli karena saksi kunci sudah tak ada, rekaman CCTV saja tidak akan cukup menjadi bukti akurat, karena tak ada yang tahu apa yang Feli dan Andreas rencanakan saat itu.
"Tuan, apa Anda masih mendengar saya?" tanya Bian dari seberang panggilan.
__ADS_1
"Ya, aku masih mendengarmu. Lalu sekarang bagaimana?" tanya Nev mulai tak bisa berfikir, karena kepalanya mendadak pening mendengar kabar yang Bian beritahukan.
"Sepertinya kita tidak bisa melaporkan Nyonya Feli, Tuan. Kasus itu sudah ditutup. Jika kita ingin memperkarakannya lagi, minimal kita harus punya bukti kongkrit ..."
"Sial.." umpat Nev dalam hati.
"Kalau kita tetap nekat melaporkan, tapi tak punya bukti kuat, pihak lawan bisa melaporkan balik dengan tuduhan pencemaran nama baik," jelas Bian lagi.
Hhhh.... Nev mendengkus pelan.
"Ya, ya aku paham. Sekarang aku minta pendapatmu, saja..." kata Nev.
"Menurut saya, kita tidak bisa melakukan apapun lagi, Tuan... jika kita memaksa Nyonya Feli untuk mengaku pasti dia tak akan pernah mengakuinya, lihat saja selama ini," jawab Bian.
"Ya, kau benar..." Nev menjawab lesu sembari mengelus kepala Raya yang terasa mulai bergerak.
Nev pun menyadari jika Raya telah terjaga dari tidurnya yang sesaat tadi, dia segera menghentikan panggilannya dengan Bian.
"Nev, ada apa?" tanya Raya seraya menguap panjang.
Nev menggeleng, dia bingung harus menceritakan hal ini pada Raya atau tidak, Nev juga belum menceritakan pada Raya, tentang ingin melaporkan Feli ke polisi.
Satu sisi, Nev ingin jujur dan terbuka pada istrinya, tapi disisi lain Nev pun tak ingin Raya menjadi banyak beban pikiran.
"Kamu abis nelpon siapa?" tanya Raya yang sempat mendengar sekilas jika Nev sedang menerima panggilan telepon tadi.
"Bian," jawab Nev singkat.
"Bian menyampaikan hal apa?" tanya Raya lagi.
"Yakin tidak ada masalah?"
Nev menggeleng lagi, kemudian menatap lampu-lampu jalanan dari balik jendela mobil.
"Kita sudah mau sampai," kata Nev mengalihkan topik.
Raya pun melihat jalanan dari jendela dan mengangguki ucapan Nev.
...______...
Sampai hari ketiga mereka berada di Bali, Nev sudah merasa pikirannya bercabang-cabang. Soal pekerjaan dia memang mengandalkan Bian, tapi perihal meninggalnya Delia benar-benar diluar prediksinya.
Bagaimana tidak, beberapa bulan lalu Delia sempat ingin membantu Nev untuk mengungkap niat licik Feli, karena Almarhum memang mendengar dengan jelas pembicaraan Feli dan Andreas di ruang make-up.
Tapi sekarang, semua rencana yang sudah Nev susun tidak bisa dilakukan karena kurangnya bukti spesifik yang menyebabkan tuduhannya pada Feli akan bersifat cacat logika.
"Sayang, kamu baik-baik aja?" Raya memegang pundak Nev yang nampak melamun.
"Aku gak apa-apa, aku baik-baik saja," jawab Nev.
"Kalau kamu sakit, kita tunda saja kepergian kita ke Maladewa, kita pesan tiket baru untuk pulang kerumah saja," kata Raya sungguh-sungguh.
__ADS_1
Nev menggeleng keras, "Tiket ke Maldives sudah disiapkan Nenek, kita tidak mungkin menundanya. Besok pagi kita langsung check in di Bandara," jawab Nev.
Raya menangkup sisi wajah suaminya. "Kamu yakin? Gak ada masalah?" tanya Raya, dia melihat sikap Nev yang kurang antusias dari kemarin.
"Yakin, Sayang ..." Nev tidak mau hanya karena masalah ini dia harus menunda bulan madunya. Biarlah dulu seperti ini, sepulangnya dari bulan madu di Maldives, dia akan memikirkan lagi bagaimana cara menjebloskan Feli ke penjara.
Nev merangkul tubuh Raya, "hari ini, hari terakhir kita di Bali, kamu mau kemana sekarang?" tanya Nev dengan senyumnya yang menawan.
Raya mengadah pada Nev, mengetuk-ngetukkan jari di depan bibirnya sendiri. "Kemana, ya?" gumam Raya tengah berpikir.
"Ke Pantai Kuta udah, ke Ubud juga udah. Terus, udah sempat ke Seminyak juga buat beli oleh-oleh. Aku jadi bingung---"
"Kalau ke Sawah mau, gak?" tanya Nev. Sebenarnya di Bali banyak sekali tempat lain yang bisa dikunjungi, Pantainya saja ada beberapa macam, belum lagi beberapa Pura yang terkenal sebagai pusat destinasi, tapi Raya mengatakan sudah pernah kesana dulu, begitupun dengan Nev, makanya Nev mengusulkan untuk ke sawah saja, mengingat Raya yang sudah lama berada di Luar Negeri, mungkin Raya akan tertarik melihat sawah.
Raya tersenyum kecil dan langsung mengangguk cepat. "Boleh banget, sesekali main di sawah," kata Raya terkekeh diujung kalimatnya.
Dan jawaban Raya itu, benar-benar membuat Nev terkikik geli, terkaan Nev benar, bukan? Jika Raya merindukan melihat sawah.
Anak kota turun ke sawah... begitulah batin Nev tertawa geli melihat Raya yang menyetujui usulnya.
Akhirnya, mereka pun melanjutkan kegiatan hari itu di pesawahan.
Sawah Terasering Tegalalang, nama tempat tujuan Nev dan Raya hari ini. Mereka tiba disana tidak terlalu siang.
Lokasi sawah terasering Tegalalang berdekatan dengan pusat area pariwisata Ubud Bali, membuat sawah terasering Tegalalang banyak dikunjungi wisatawan, semakin siang membuat tempat itu semakin ramai pengunjung.
Nev dan Raya berfoto ria dengan latar belakang sawah terasering. Kemudian, menjelang makan siang, mereka nongkrong di salah satu cafe dengan view sawah yang terbentang indah.
"Wah, bagus banget ya ngeliat pemandangan hijau-hijau begini," ucap Raya sembari menghirup udara pesawahan yang menyejukkan.
Nev terkekeh kecil mendengar celetukan Raya itu.
"Kenapa? Kok ketawa?" tanya Raya dengan mata memicing ke arah suaminya.
"Gak apa-apa," jawab Nev dengan senyuman usil, ternyata Raya memang anak kota turun kesawah seperti yang ada dipikirannya.
Raya langsung tahu jika dikepala sang suami sudah mulai mode on untuk mengerjainya sekarang.
"Jangan aneh-aneh, ya. Berani ngerjain istri nanti resikonya tanggung sendiri," kata Raya tak acuh.
Nev terperangah menatap Raya, bisa-bisanya Raya mengucapkan kalimat seperti itu.
"Kamu, mengancamku, ya?" kata Nev, namun dia tetap terkekeh.
"Iya lah, kamu pikir kamu aja yang bisa ngasih aku hukuman. Aku juga bisa," kata Raya pongah.
Nev berdecak berulang kali sembari menggelengkan pelan kepalanya.
__ADS_1
"Memangnya, kalau aku ngerjain, kamu mau apa?" tantang Nev dengan senyuman miring.
...Bersambung ......