PENGASUH TUAN LUMPUH

PENGASUH TUAN LUMPUH
76 - Prilaku aneh


__ADS_3

Tanpa terasa, pernikahan Raya dan Nev sudah memasuki bulan ketiga. Selama masa itu pula, Reka tak pernah lagi datang untuk berkunjung dan menemui Raya.


Sekarang Raya sudah ikut tinggal dikediaman suaminya. Jika dulu dia menjadi pengasuh Nev, sekarang dia sudah menjadi istri Nev didalam rumah itu.


Para ART memanggilnya Nyonya, tapi Raya tidak mau diberi panggilan seperti itu. Dia ingin semuanya biasa saja, layaknya kebiasaan lama. Tapi semua orang yang bekerja dirumah Nev tetap kekeuh memanggilnya dengan sebutan itu. Hingga akhirnya Raya hanya cuek dengan sebutan mereka untuk dirinya.


Untuk mengisi waktu kosong istrinya yang hanya dirumah saja, Nev membebaskan Raya untuk mengatur desain rumah mereka, karena Nev tahu jika selain memiliki kemampuan dibidang desain arsitektur, istrinya itu juga memiliki hobi yang sama.


Genap dua bulan sudah Raya tinggal dirumah Nev dan Rumah itu mengalami banyak perubahan dari segi tata letak hingga warna. Dan karena Nev telah mengizinkan, Raya pun memiliki project baru untuk rumah mereka. Jika dulu rumah itu didesain dengan model awal retro klasik, sekarang Raya ingin mendesain kediaman suaminya itu dengan desain monochrome minimalist.


Pemikiran itu datang begitu saja dibenak Raya, entah kenapa belakangan hari ini Raya sangat menyukai sesuatu yang maskulin. Mulai dari warna rumah, desain barang dan yang tidak terlewatkan adalah aroma khas tubuh suaminya.


Maka dari itu, menjelang gambar desainnya yang hampir dirampungkan, serta sambil menunggu pembicaraan lebih lanjut mengenai renovasi rumah, Raya selalu mencuri-curi kesempatan untuk menemui Nev dikantor.


"Sayang... kamu disini?" Nev mengadah pada Raya yang baru saja masuk ke dalam ruangannya di kantor.


Senyuman Raya terkembang dan dia langsung memeluk tubuh Nev yang terduduk dengan eratnya.


"Sayang, belakangan hari kamu suka sekali menyerangku lebih dulu," kekeh Nev sembari berdiri dari duduknya.


"Kenapa? Kamu gak suka?" tanya Raya memberengut.


Nev makin terkekeh melihat wajah Raya itu. "Bukan begitu, Sayang. Justru aku suka, jadi sering-seringlah," kata Nev mengelus pipi Raya dengan jemarinya.


"Baiklah," kata Raya mencoba membuka kancing jas suaminya.


Nev sedikit terkejut dengan ulah Raya itu, tapi dia mendiamkan saja aksi sang istri karena dia tak mau Raya berpikir negatif tentang protesnya nanti.


Raya terus melanjutkan kegiatannya, sekarang justru membantu Nev untuk membuka jas yang dipakai, secara paksa. Ya, secara paksa dan tergesa-gesa.


Setelah itu Raya membuka simpul dasi Nev, lagi dan lagi Nev menurut saja dengan ulah absurd istrinya ini.


Tapi, saat Raya sengaja membuka tiga kancing kemejanya, Nev tak kuasa menahan kata-kata protesnya.


"Sayang, apa yang kamu lakukan? Ini di kantor," bisik Nev ditelinga Raya, dia tidak menyangka jika istrinya yang sekarang berubah menjadi liar seperti ini, sampai tidak ingat tempat dan waktu. Bukannya dia tak suka, tapi Raya bersikap tak seperti biasanya.


"Sttssss... disini hanya kita berdua saja, kok," kata Raya terkekeh dan sekarang benar-benar membuat kemeja Nev tak terkancing seutuhnya.


"Sayang, aku bukan mau menolak, nanti saja di rumah ya. Ini dikantor, nanti gak enak kalau Bian kesini," kata Nev mendadak gugup dengan ulah Raya yang sudah mengendus-endus dadanya.


"Biarin..." kata Raya cuek, tak mengindahkan protes Nev.


"Ya sudah, ini kamu yang memintanya, ya..." kata Nev.


Kepalang tanggung, ulah Raya berhasil membuat Nev terpancing, akhirnya Nev mengangkat tubuh ramping istrinya keatas meja kerja.


Raya tertawa kencang, "Nev... apa yang kamu lakukan?" Sekarang justru Raya yang bertanya pada suaminya itu.

__ADS_1


Nev menatap Raya, "Kamu yang mau kan? Kamu lebih dulu menggodaku, Sayang ..." jawab Nev memainkan ujung rambut istrinya.


Raya mengulum senyum sembari menggeleng kuat. "Aku cuma mau mencium aroma tubuh kamu, bukan yang lain-lain," kata Raya dengan entengnya.


"Hah?" Nev melongo kemudian mengusap kasar wajahnya sendiri.


Nev menghela nafas panjang sambil menatapi Raya yang terus terkekeh di leher Nev.


"Lucu, ya?" tanya Nev pada Raya yang belum menghentikan kekehannya.


"Huum," Raya mengangguk-angguk, sekarang tangannya mengelus dada Nev secara perlahan.


"Astaga, kamu benar-benar menyiksaku jika begini ..." kata Nev frustrasi.


Raya terkikik geli, tapi terus saja melanjutkan aksinya pada dada Nev lalu mengendus-endus tubuh Nev secara berulang.


"Astaga sayang," keluh Nev dan Raya tak menpedulikan protes Nev itu.


Bagaimana tidak, Raya memancingnya dan seakan menggodanya padahal istrinya itu hanya ingin mengendus aroma tubuhnya, aneh bukan?


"Sayang, sepertinya ada yang aneh dengan kamu ..." kata Nev disela-sela kegiatan Raya yang berlanjut dan semakin membuat Nev resah.


"Apanya yang aneh? Aku cuma suka aroma tubuh kamu, kenapa bisa gini sih? Aku cobain pakai parfum kamu tapi aromanya gak kayak gini," kata Raya polos.


Tiba-tiba saja, pintu ruangan Nev terbuka, lalu dimasuki oleh Bian yang langsung kikuk seketika saat melihat keberadaan Raya diatas meja dan keadaan Nev yang sudah awut-awutan dengan kemejanya.


Menyadari kesalahannya, Bian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ma-maaf, Tuan ..." lirih Bian sembari menundukkan kepala. Seharusnya tadi dia mengetuk pintu dulu.


Nev berdehem-dehem pelan, kemudian berkata, "Bian, biasakanlah mengetuk pintu lebih dulu," kata Nev datar, lalu dia meraih jas nya yang ada di kursi.


"Ya, Tuan ... Saya akan kembali tiga puluh menit lagi," jawab Bian masih tertunduk.


Raya segera menyadari jika Bian gugup saat mendapati dirinya dan Nev sedang bersama dalam posisi intens tadi. Raya pun berdiri dan menatap Bian sekilas.


"Tidak usah, Bian. Kau bisa melanjutkan keperluanmu pada Nev sekarang," kata Raya.


"Ta-tapi..." Bian merasa tak enak hati.


"Tidak apa-apa, aku sudah selesai kok," jawab Raya tersenyum kecil.


"Apanya yang sudah selesai, belum juga mulai..." gerutu Nev yang masih bisa didengar Raya.


Raya mendelik pada Nev sebagai isyarat agar suaminya itu diam dan Nev mengacak rambutnya kemudian mengancing kemejanya lagi dengan wajah kesalnya.


"Aku pulang, ya... Kamu lanjutkan lagi bekerjanya," kata Raya menyalami tangan Nev.

__ADS_1


"Pulang? Sayang... kok pulang? Kita belum selesai, sayang..." kata Nev bingung.


"Bian sudah menunggu kamu, lagi pula apanya yang belum selesai? Aku sudah selesai kok," jawab Raya sambil mengecup pipi Nev sekilas lalu beranjak dari sana.


Seperginyaa Raya, Nev menatap Bian yang tampak mengulumm senyuman.


"Kenapa? Ada yang lucu?" tanya Nev pada Bian yang mulai mendekat ke meja kerjanya sembari menyerahkan beberapa map untuk ditanda tangani oleh Nev.


Bian menggeleng, "Tidak ada, Tuan," jawabnya.


"Katakan apa yang kau pikirkan didalam kepala bulatmu itu," kata Nev serius.


"Ng... tidak ada, Tuan."


"Jangan berpikir macam-macam, semua tidak seperti yang kau pikirkan itu!"


"Saya tidak berpikir yang macam-macam kok, Tuan. Hanya satu macam saja," cetus Bian terus terang.


Nev yang tengah fokus pada berkas yang baru Bian antar, menjadi mengalihkan pandangan ke arah Sekretarisnya itu akibat ucapan yang Bian lontarkan.


"Apa satu macam itu?" kernyit Nev.


"Bu-bukan apa-apa, Tuan." Bian menundukkan kepala.


Nev menggeleng, "Ini, sudah pergilah..." katanya.


Bian pun menerima berkas yang sudah dikembalikan oleh Nev, kemudian ingin segera pergi dari sana.


"Bian..." panggil Nev lagi.


Bian menoleh, "Ya, Tuan?"


"Apa istrimu pernah bersikap aneh?" tanya Nev serius.


Bian diam sejenak, seolah berpikir. "Aneh seperti apa, Tuan?" tanyanya kemudian.


Nev bingung menceritakannya pada Bian, tidak mungkin dia mengatakan jika sekarang Raya bersikap lebih agresif padanya.


"Emm, sudahlah lupakan saja..." kata Nev tak mau menjelaskan lebih lanjut.


"Istri saya tidak pernah bersikap aneh, Tuan. Hanya saja dia pernah meminta keinginan yang aneh diawal kehamilannya kemarin," kata Bian.


"Hamil ya?" ucap Nev.


Bian mengangguk, "Ya, waktu istri saya hamil muda dia banyak meminta hal aneh, dari mulai ingin makan rujak yang belinya diluar kota, sampai minta buah mangga yang diambil langsung dari pohonnya," terang Bian.


Nev mengangguk-angguk, apa mungkin perubahan Raya karena sekarang istrinya itu sedang hamil?

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2