
Pagi ini, seperti biasanya suasana rumah Nev selalu riuh akibat ulah ketiga anaknya.
Airish berlarian mencari Aarav yang sejak pagi buta sudah membuat ulah demi mengerjai sang Adik. Sementara Abrine harus marah karena Airish terdengar sangat berisik setiap paginya.
"Suaramu itu sudah cempreng! Jangan banyak teriak - teriak!" decak Abrine saat melihat Airish ngos - ngosan mengejar Aarav yang tidak mau mengalah.
"Sudahlah, Kak! Jangan mengomentari suaraku! Sudah seperti juri pencarian bakat saja!" Airish berujar sambil mengambil majalah disebelahnya dan melempar ke arah Aarav diseberang sana yang tampak mengejeknya.
Nev dan Raya turun bersamaan dan pemandangan itu mau tak mau nampak juga didepan mata mereka berdua.
"Kalian bertiga!" panggil Nev dengan tegas. "Duduk disana!" titahnya menunjuk ke arah sofa yang ada diruang keluarga
Ketiga anaknya beringsut dan bergerak pelan mengikuti langkah sang Ayah yang sudah berlalu lebih dulu.
Abrine dan Airish saling menyenggol bahu, ketakutan.
Sementara Aarav masih tampak tenang, karena yang Papanya lihat tadi adalah dia yang menjadi korban lemparan majalah oleh Airish.
"Apa lagi kali ini?" tanya Nev menatap ketiga anaknya. Raya yang duduk disamping Nev pun mengelus pelan tangan pria yang telah menjadi suaminya belasan tahun itu, Raya berniat meredam kemarahan Nev karena ulah anak-anaknya.
"Kak Aarav, menyembunyikan tas sekolahku, Pa!" adu Airish.
Nev menatap Aarav. "Apa kalau tidak mengerjai adikmu... kamu belum merasa senang, Aarav?"
"Dia melemparku dengan majalah, Pa!" kata Aarav mencoba membela diri.
Nev menggeleng, mendamaikan anak-anak memang tak semudah perkiraannya. Kadang mereka bersikeras tak salah padahal sudah jelas berbuat salah.
"Kalau Abrine, kenapa?"
"Aku tidak suka pagi - pagi sudah ribut. Aku hanya protes dengan suara Airish, Pa!" jawab Abrine tertunduk.
Nev menghela nafas panjang, kemudian menatap Raya disisinya. "Apa kamu punya solusi untuk ketiga anak kita, Sayang?" tanyanya pelan.
Raya mengangkat bahu. "Kamu saja yang mengajari mereka," jawabnya yakin.
"Baiklah, yang pertama Papa tidak mau ada keributan lagi di pagi - pagi selanjutnya! Kedua, semua biang kerok keributan ini adalah---"
"Kak Aarav!" potong Airish cepat dan Abrine terkekeh mendengar hal itu, begitupun Raya.
"Kok jadi aku?" Aarav menunjuk dirinya sendiri. "Aku justru korban disini, wajahku yang tampan terkena lemparan majalah!" protesnya kemudian.
"Itu karena kamu lebih dulu mengerjaiku, Kak! Jika tidak usil mana mungkin aku melempar majalah tanpa sebab!" kata Airish.
"Aarav! Minta maaf pada adikmu lalu kembalikan tasnya!" titah Nev.
Aarav beranjak sambil menggerutu.
"Mau kemana?" tanya Raya.
"Mau ambil tas adek, Ma!" sahut Aarav.
"Minta maaf dulu baru ambil tasnya!"
__ADS_1
"Dia juga harus minta maaf, dong!" keluh Aarav sembari menunjuk wajahnya sendiri.
"Ya sudah, saling minta maaf dan memaafkan!" kata Raya akhirnya.
Aarav mendekati Airish dan mereka berjabat tangan satu sama lain.
"Aku minta maaf, Dek!
"Aku juga minta maaf, Kak!"
"Nah, begitu kan bagus!" kata Raya senang.
"Jika terjadi keributan lagi di pagi-pagi selanjutnya, Papa akan memasukkan kalian ke asrama!" ancam Nev tidak sepenuhnya serius.
Ketiga anaknya melongo dan Nev dengan cepat berbicara lagi.
"Ya sudah, sekarang kita sarapan, setelah itu kalian berangkat sekolah bersama Mang Deden." Nev beranjak dan menuju ruang makan untuk sarapan bersama.
Selesai sarapan, Nev dan Raya ingin memastikan ketiga anaknya menaiki mobil untuk berangkat ke Sekolah, barulah mereka berdua berangkat ke kantor masing -masing. Namun, kedatangan sebuah mobil asing ke rumah mereka menghentikan Aarav, Abrine dan Airish untuk naik ke dalam mobil yang sudah dinyalakan oleh Mang Deden.
Sepersekian detik berikutnya, sang pengemudi mobil asing itu turun hingga membuat Abrine tercekat karena menyadari itu adalah Wildan yang tersenyum kearahnya.
"Mati gue! Mau apa ini anak!" batin Abrine ketar - ketir.
"Selamat pagi Om, Tante...." Wildan menyapa Nev dan Raya yang memandangnya dengan tatapan penuh selidik.
"Pagi..." sahut Raya akhirnya, sementara Nev diam saja.
"Saya Wildan, temannya Abrine. Saya mau mengantar Abrine ke sekolah hari ini," ujar Wildan sopan namun membuat Abrine tercengang.
Aarav mengulumm senyum, begitu pula Airish yang tak mau ikut campur, mereka memilih menghindat dengan menaiki mobil yang sudah diisi oleh Mang Deden dibalik kemudinya.
"A-aku ikut Mang Deden, dong, Pa!" jawab Abrine. Kenapa Wildan nekat menjemputnya seperti ini? Ini mencari perkara namanya, sudah cukup kemarin ia menjadi bulan-bulanan Kakak dan Adiknya sebab diantar pulang oleh cowok ini, sekarang malah seenaknya ingin mengantar ke sekolah tanpa persetujuan Abrine sebelumnya.
"Tapi, teman kamu sudah menjemput, Sayang!" timpal Raya lembut.
"E--itu... Eh.. anu--" Abrine menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung harus bagaimana sekarang.
"Siapa tadi nama kamu?" Nev beralih ke pemuda didepannya.
"Wildan, Om..." jawab Wildan.
"Emm, begini Wildan. Maaf ya, anak - anak saya sudah saya fasilitasi sopir untuk mengantar kemanapun mereka pergi, termasuk Abrine juga, jadi kamu tidak perlu menjemput seperti ini kecuali kamu sopir taxi online yang dipesan anak saya, barulah kamu boleh mengantarnya," kata Nev tersenyum congkak. Raya disebelahnya menggeleng samar mendengar ucapan suaminya itu.
Wildan diam sembari tersenyum sopan, dia tidak menyahuti perkataan Ayah Abrine itu.
"Abrine... tunggu apa lagi? Ayo berangkat, nanti telat!" kata Nev beralih pada Abrine yang belum juga memasuki mobil seperti kedua saudaranya yang lain.
Abrine menatap Wildan sekilas dan cowok itu mengangguk pelan pada Abrine, lalu seketika itu juga Abrine memasuki mobil yang masih menunggunya, meninggalkan Wildan yang masih berada disana.
######
Sepanjang perjalanan, Abrine diam. Abrine memikirkan apa lagi yang akan dikatakan Papanya pada Wildan. Apa papanya akan mengusir Wildan secara terang - terangan? Ah, kenapa ia harus memikirkan nasib cowok itu?
__ADS_1
"Kak, cowok tadi itu... pacar kakak, ya?" celetuk Airish disamping Abrine.
"Ya enggaklah, aku gak pernah pacar - pacaran! Aku mau sekolah dulu biar jadi orang!" kata Abrine pelan.
"Emang selama ini bukan orang?" timpal Aarav.
"Tauk!" sahut Abrine malas.
"Jadi, kalau dia bukan pacar kakak, siapa dong? Pake acara jemput kerumah segala, itu ciri - ciri lelaki gentle tau! Wajahnya juga ganteng... sebelas dua belas sama Giorgino Abraham... huahahahaa," Airih tertawa kencang sembari memegang perutnya sendiri.
"Gak salah kamu dek?" sarkas Aarav. "Gantengan juga Kakak!" sambungnya.
"Yeee... kalo kakak mah gak masuk dalam daftar cowok ganteng yang ada di list aku!" kata Airish.
"Udah deh kalian, berisik! Aku lagi pusing nih!" kata Abrine bersedekap dada kemudian memejamkan matanya karena saat ini dia benar - benar memikirkan cowok bernama Wildan yang sudah berani muncul dihadapan kedua orangtuanya.
######
Aarav kurang semangat belajar hari ini karena tidak ada mata pelajaran matematika membuatnya tak bisa bertemu Bu Siska secara langsung.
Abrine yang duduk disebelah Aarav juga tampak manyun dari jam pertama pelajaran. Mungkin masih memikirkan nasib Wildan yang sudah pasti diusir pergi oleh Nev.
Dikelas lain, Airish pun tidak konsentrasi belajar karena Zio terus menatapinya sepanjang hari membuatnya merasa risih dan semakin ilfeel dengan cowok bernama Zio.
Saat pulang sekolah, ketiganya kompak menunjukkan wajah yang ditekuk.
"Aku mau pindah sekolah aja!" celetuk Airish tiba - tiba.
Aarav menghela nafas panjang. "Aku justru gak pengen pindah, aku maunya tiap hari belajar matematika!"
Abrine menatap kedua saudaranya dengan tatapan jengah.
"Kayaknya kalian berdua perlu di ruqiah deh! Aku rasa kak Aarav udah kena sakit cinta! Dan kamu Rish, kayaknya kamu udah kena sakit aneh semacam kehilangan semangat gitu!"
"Kamu sendiri juga gak senang banget hari ini? Sakit patah hati ya?" ejek Aarav dan Airish pun ikut terkikik.
"Susah emang ngomong sama kalian berdua!" kata Abrine merajuk.
Mereka meninggalkan pekarangan sekolah dan menuju mobil yang sudah menjemput dipelataran parkir. Namun, mata Aarav mencuri pandang ke arah halte tempat dimana Bu Siska sering menunggu angkutan umum sepulang sekolah.
Seharian ini, Aarav belum melihat guru cantiknya itu jadi dia ingin menyapanya sekalian, barangkali Bu Siska mau diajakin nebeng lagi. Hehehe!
Tapi, Aarav tidak melihat Bu Siska ada disana, ia pun memutuskan untuk masuk kedalam mobil dan duduk di seat depan.
Beberapa meter mobil berjalan meninggalkan area sekolah, Aarav melihat Bu Siska dipinggir jalan---yang sepertinya tengah bertengkar dengan seorang pria.
"Mang, pelanin mobilnya, Mang!" pinta Aarav pada Mang Deden. Aarav melihat Bu Siska dipukul oleh pria itu, membuat Aarav melotot seketika.
"Mang berhenti, Mang!"
Mobil berhenti dan itu membuat kedua saudara kembar Aarav keheranan dengan tingkah sang kakak, belum sempat mereka bertanya ada apa, Aarav sudah keluar dari mobil dan menuju ke arah keributan yang terjadi antara Bu Siska dengan seorang pria.
Airish dan Abrine langsung tahu apa yang terjadi, namun mereka juga takut jika terjadi sesuatu dengan Aarav yang ikut campur urusan guru mereka itu.
__ADS_1
*****